Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 213 Serangan Bertubi-tubi


__ADS_3

Serangan Bertubi-tubi


"Yah sudah… ayo kita istirahat… kamu pasti lelah setelah seharian kerja… mau aku pijit…?" Ucap Novi dengan nada manja dan berjalan ke arah Herman yang masih berdiri di dekat pintu, memang nada Novi terdengar sangat manja untuk orang lain, tapi untuk Herman itu seperti sebuah ancaman perang tiada akhir baginya.


Novi menutup pintu, kemudian dia merangkul lengan Herman dan menyandarkan kepalanya di pundak Herman, Novi sedikit menarik Herman untuk mengikutinya berjalan menuju ke arah kamar… Herman walau dengan sedikit enggan, dia mau tidak mau harus mengikuti langkah dari Novi, jika tidak, maka selamanya dia tidak akan mendapatkan jatah dari Novi.


"Novi… besok aku ada kerjaan penting yang harus aku kerjakan di Octa Grup… jadi untuk malam ini, cukup 2 atau 3 ronde saja yah…" Ucap Herman sedikit merayu Novi, karena dia yakin jika Novi seperti ini, Novi pasti memaksanya bermain sampai pagi, bukan dia tidak mau, tapi terakhir kali dia bermain sampai pagi, walau dia sangat puas tapi senjata Herman terasa sakit sampai 3 hari, dan hal itu menyebabkan dia tidak fokus untuk bekerja.


Novi tidak menjawab perkataan dari Herman dan terus berjalan membawa Herman ke arah kamar.


"Aku ganti baju dulu, dengan baju perang… kamu tunggu saja di atas tempat tidur dan bersiap-siap saja menahan gempurannya…" Ucap Novi dengan nada yang sedikit aneh, sambil tersenyum manis ke arah Herman dan berjalan ke arah kamar mandi.


"Gluk…" Herman menelan ludah kasar setelah mendengar kata-kata dari Novi, dan melihat senyum manis penuh makna dari Novi.


"Jika sudah memakai baju perangnya… aku yakin pasti akan di gempur sampai pagi… aku belum mempersiapkan diri untuk menahan gempuran dari Novi… bagaimana ini… aku bisa di hajar habis-habisan oleh Novi… jika ini sampai terjadi besok aku tidak akan fokus mengurus kerjaan di Octa Grup… mana kerjaannya penting banget lagi…" Gumam Herman dengan bingung dan memikirkan cara untuk bisa terlepas dari gempuran Novi yang sangat hebat dan tiada henti sampai matahari terbit, tapi dia juga sambil membuka baju dan celananya, karena jika tidak seperti itu maka Novi akan menggempurnya lebih habis-habisan.


Setelah semua pakai yang di pakai oleh Herman di lepaskan… dia berjalan dan naik ke atas tempat tidur, sambil menunggu Novi sambil memikirkan bagaimana caranya untuk meredakan agar Novi tidak mengerahkan semua kekuatan tempurnya, dan dia juga berpikir hal apa yang membuat Novi melakukan ini untuk ke dua kalinya… untuk yang pertama karena dia berhasil membalaskan perbuatan keluarga Neo, tapi untuk yang ke 2 ini, Herman tidak tahu kenapa, tapi dia yakin bahwa Novi sedang marah kepadanya, karena dari pagi tidak ada kabar baik yang dia ceritakan kepada Novi.


Herman dengan berbaring di tempat tidur sambil berpikir kesalahan apa yang dia lakukan, tapi tidak lama pintu kamar mandi terbuka, dan Novi keluar dari kamar mandi memakai pakaian tempurnya yang terlihat sangat transparan berwarna putih, dan tidak memakai kacamata kuda serta segitiga pengaman lagi di dalamnya, bisa di bilang bahwa Novi seperti tidak memakai baju.


Terlihat Dua buah bukit yang cukup besar, serta terlihat kenyal seperti Jelly, dan juga ada sebuah rawa hitam di penuhi dengan rumput hidup. semua aset yang di miliki oleh Novi itu hanya di lapisi oleh sebuah kain berwarna putih transparan.


Herman yang melihat pemandangan yang sangat indah, tanpa terasa gejolak di dalam dirinya mulai naik, dan juga senjata kesayangannya pun mulai bergerak dan akan menerobos melewati selimut yang menutupi tubuhnya.


Novi dengan cantiknya berjalan ke arah Herman yang tertidur di tempat tidur, Novi berjalan lenggak-lenggok seperti di atas catwalk dengan penuh gaya, serta dua buah bukit kembar Novi ikut naik turun karena sudah tidak ada tali pengamannya, menjadikan gejolak di dalam diri Herman menjadi lebih naik lagi.

__ADS_1


"Tidak… Tidak… aku tidak boleh terbawa suasana, aku harus bisa menenangkan Novi… jika seperti ini, aku akan di hajar habis-habisan oleh Novi…" Gumam Herman yang sedikit menurunkan gejolak di dalam dirinya.


"Herman… aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu… tapi tidak ada cara untuk mengurungkan niat aku… kamu bersiaplah menerima serangan dari aku…" Ucap Novi yang sudah berada di dekat tempat tidur, kemudian dia naik ke atas tempat tidur kemudian dia mengibaskan selimut yang menutupi tubuh Herman.


"Kamu lihat kan… senjata kamu saja tidak bisa berbohong… dia sudah sangat bersemangat, jadi tidak perlu menunggu lagi…" Lanjut Novi berkata setelah melihat senjata Herman yang berdiri tegak menantang.


Tanpa basa-basi serta pemanasan, dengan ganasnya Novi segera menerkam ke arah Herman, Herman yang awalnya sedikit enggan, dia akhirnya menikmati serangan dari Novi, perlahan dia juga mengikuti irama yang Novi mainkan.


Karena gejolak di dalam diri Herman sudak memuncak, kemudian dia mengganti posisinya, sekarang Novi yang berada di bawah dan Herman yang berada di atas.


Berbagai gaya mereka ber 2 lakukan, seperti gaya gergaji, gaya naik turun, gaya kodok berenang, dan sampai pada titik dimana ke 2 nya menemukan titik akhir dari sebuah serangan, mereka ber 2 berteriak lepas, karena di sana juga tidak ada Rere, jadi mereka ber 2 merasa bebas mengekpresikan akhir dari serangan mereka.


Mereka ber 2 terkulai lemas, di atas tempat tidur, serta tubuh mereka sudah di basahi dengan air keringat, entah keringat siapa yang ada di tubuh mereka masing-masing.


Hanya berselang 1 menit, Novi kembali melancarkan serangan ke 2 nya, Herman pun tidak menolaknya, dan menanggapi serangan dari Novi, Ronde ke 2 pun di mulai, mereka melakukan gaya yang sama seperti ronde pertama, dan Ronde ke 2 pun berakhir sama dan teriakan ke 2 orang tersebut lebih kencang lagi.


"Novi… sudah cukup… aku sudah sangat lelah sekali, aku mau istirahat, dan juga senjata aku sudah mulai merasa sedikit sakit…" Ucap Herman ketika ronde ke 3 selesai, karena dia takut jika Novi kembali melancarkan serangan ke 4 nya… dan jika itu terjadi, maka kejadian beberapa hari yang lalu akan terulang kembali.


"Tidak… kamu sudah membuat kesalahan, kamu harus menerima hukumannya, jika kamu tidak mau, maka selamanya aku tidak akan memberikan jatah kepada kamu…" Jawab Novi dengan sedikit mengancam kepada Herman dan dia juga melancarkan kembali serangan ke 4 nya.


Setelah serangan ke 4 selesai, tanpa memberikan Herman kesempatan untuk beristirahat, Novi kembali melakukan serangan ke 5, namun di serangan ke 5 ini yang terdengar hanya teriakan kesakitan dari Herman.


"Kamu jangan berbuat aneh-aneh jika tidak mau seperti ini lagi…" Ucap Novi setelah serangan ke 5 berakhir.


Novi berbaring di tempat tidur dengan tubuh yang penuh dengan keringat, sebuah senyum penuh kemenangan terukir di wajahnya, tapi berbeda dengan Herman, yang berbaring di sampingnya, wajah Herman sangat kusut dan menahan sakit di bagian bawahnya.

__ADS_1


Karena Novi merasa sangat lelah dia akhirnya tertidur dengan sangat lelap, Herman pun juga sama, walau tidak terlalu lelap karena merasakan sakit yang amat sangat di bagian bawahnya.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2