
Alasan
Di saat Viky melihat isi pesan yang tertulis di kertas, raut wajah Viky berubah, kemudian dia berdiri dan melihat sekeliling siap tahu orang yang menulis surat tersebut masih ada di sina.
"Viky apa yang kamu cari…" Ucap Rere bertanya karena melihat Viky, yang melihat ke sana sini seperti mencari sesuatu yang penting.
"Tidak apa-apa… aku hanya sedang mencari orang yang memberikan anggur ini kepada kita…" Jawab Viky melihat ke arah Rere kemudian dia meremas kertas yang dia pegang.
Viky kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Aldo.
"Aldo… kamu cepat ke sini dan temani Rere pulang… aku berada di restoran yang tidak jauh dari Octa Grup…" Isi pesan Viky kepada Aldo.
Aldo yang berada di Octa Grup, setelah melihat isi pesan dari Viky, karena tidak biasanya Viky seperti ini jadi dia bergegas ke restoran dimana Viky berada. dan Aldo pun tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat sampai ke restoran, setelah melihat Viky yang berada di dalam restoran Aldo pun bergegas menghampiri Viky.
"Aldo… kamu temani Rere dan Herman pulang… dan nanti malam kamu bersama mereka berdua pergi ke kediaman keluarga Ma… aku dan Deky akan pergi terlebih dahulu…" Ucap Viky memerintahkan Aldo yang baru saja datang.
Aldo mengerti bahwa ada situasi yang mendesak, mungkin ada bahaya atau sesuatu yang tidak boleh di ketahui oleh Rere dan juga Herman, jadi dia tidak bertanya hal lain dan hanya menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti.
"Ini kamu gesek kartunya… dan bayar semua makanan di sini…" Ucap Viky melihat ke arah si pelayan dan memberikan kartu bank kepadanya.
Kemudian si pelayan melangkah pergi ke arah kasir setelah dia menerima kartu bank dari Viky.
"Tuan… biar aku saja yang bayar semua makanan ini…" Sahut Sulis yang tidak enak jika makanannya di bayar oleh Viky.
"Tidak usah Tuan Sulis… anggap ini sebagai acara tanda kesepakatan kita…" Jawab Viky kepada Sulis.
"Tapi Tuan…" Belum selesai Sulis berkata sudah di potong oleh Viky.
"Tidak ada kata tapi… toh kartunya juga sudah di bawa oleh si pelayan…" Potong Viky.
Sulis hanya diam tidak menjawab, karena dia bingung harus berkata apa lagi, lagian salah dia juga karena tidak dari awal dia memberikan kartu banknya kepada si pelayan.
Setelah beberapa saat, si pelayan pun kembali ke meja Viky dengan membawa kartu bank di tangannya.
__ADS_1
"Tuan Maaf… pembayarannya tidak dapat kami proses…" Ucap si pelayan dengan sopan, dan menyerahkan kartu bank kepada Viky.
"Kenapa…? apa kartunya rusak…?" Jawab Viky dengan mengernyitkan alisnya menatap ke arah si pelayan.
Kalau masalah limit sih tidak mungkin, tapi kalau masalah kartunya rusak bisa jadi, karena untuk membayar tagihan makan di sini jauh dari kata untuk mencapai limit kartu bank Viky.
"Bukan… Bukan itu masalahnya tuan… tapi sistem kami mendeteksi bahwa tidak boleh menerima pembayaran apa pun atas nama Tuan… Jika kami terus memaksa maka kami yang akan mendapatkan masalah tuan…" Ucap Si pelayan buru-buru menjelaskan kepada Viky, takut Viky salah paham dengan apa yang dia maksud.
"Kenapa bisa begitu…?" Jawab Viky, dengan sedikit heran melihat ke arah si pelayan.
"Kami tidak di beritahukan alasannya tuan… tadi kami menghubungi Manager kami, dan dia berpesan kepada saya, agar tuan tidak pergi dulu… namun itu juga jika tuan tidak keberatan…" Ucap si pelayan kembali menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu Manager kalian datang…" Jawab Viky, akhirnya dia punya alasan untuk tetap tinggal di sini sebentar, tadinya Viky sempat bingung alasan apa yang akan dia bilang kepada Rere jika dia tidak keluar berbarengan dengan yang lain.
"Rere… ayah… kalian pergilah terlebih dahulu dengan Aldo, aku akan menunggu Manager restoran ini dulu sebentar, dan menanyakan kenapa nama aku bisa tercantum di sini…" Ucap Viky melihat ke arah Rere dan Herman secara bergantian, walau sebenarnya tidak penting juga Viky tahu alasan kenapa namanya tercantum di sini, tapi ada hal lain yang perlu dia kerjakan.
Awalnya Rere sedikit menolak dan ingin menemani Viky di sana, tapi Herman yang mengerti situasinya membujuk Rere untuk ikut pulang bersamanya, mau tidak mau Rere pun ikut bersama Herman pulang.
"Tuan… kalau begitu, aku juga ijin pulang, dan mengabarkan kabar baik ini kepada semua keluargaku…" Ucap Sulis meminta ijin untuk pulang.
Sulis menganggukkan kepalanya setelah mendengar kata-kata dari Viky dan dia pergi meninggalkan Viky yang masih berada di meja restoran.
Setelah Sulis pergi, dari arah pintu masuk, terlihat seorang pria paruh baya berlari ke arah meja Viky.
"Tuan… hah…hah Maaf hah…hah…" Ucap pria paruh baya tersebut dengan napas yang masih ngos-ngosan.
"Kamu atur napas dulu, baru bicara…" Ucap Viky memotong ucapan dari si pria paruh baya tersebut.
Pria paruh baya tersebut pun mengatur napasnya terlebih dahulu, dan kembali berkata kepada Viky.
"Tuan… Maaf… aku tidak tahu bahwa tuan berada di sini… jika aku tahu dari awal aku akan kembali lebih cepat…" Ucap pria paruh baya setelah napasnya stabil.
"Maksud kamu… aku tidak mengerti sama sekali… dan apa hubungan kamu dengan aku…" Jawab Viky yang tidak paham dengan ucapan dari si pria paruh baya ini.
__ADS_1
"Aku adalah Manager di sini… dan restoran ini juga 50% sahamnya milik Octa Grup… Jadi hubungan tuan dengan restoran ini sangat dekat sekali… dan aku juga minta maaf, saat acara penyambutan tuan aku tidak bisa datang, karena saat itu istriku sakit dan masuk rumah sakit…" Ucap si pria paruh baya tersebut menjelaskan.
"Oh seperti itu… tapi aku tidak mau jika makan di sini tidak bayar, dan bukan cara aku seperti itu, walau setengah saham dari restoran ini milik Octa Grup, bisnis tetap bisnis… aku yah aku di saat tidak di Octa Grup aku pun sama seperti kalian…" Jawab Viky dengan nada sedikit marah. di kalimat terakhir dia menunjuk ke arah si pria paruh baya dan si pelayan.
Ekspresi wajah si pelayan berubah setelah mengetahui dengan identitas Viky, ada sedikit ketakutan di hatinya dan ada rasa lega karena dia melayani Viky dengan benar dan sesuai proses yang ada.
"Sudahlah… aku ada urusan lain, kamu urus pembayarannya sekarang, dan untuk kamu… jika kamu mau kamu bisa pergi ke Octa Grup, mintalah kerjaan kepada Deky, dan bilang padanya aku yang menyuruh kamu…" Ucap Viky memberikan kartu bank kepada si Manager, dan melihat ke arah si pelayan.
"Tuan… bukan aku bermaksud menolak tawaran dari tuan… tapi aku hanyalah orang biasa yang tidak mempunyai kemampuan lebih, sangat jauh bila di bandingkan dengan yang lain…" Jawab si pelayan dengan sopan, dan dia juga merasa tidak percaya diri, untuk dapat bersaing dengan yang lain.
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
...Terima kasih🙏...
__ADS_1
...R"Azk 🥇...