Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 202 Perempuan Yang Langka


__ADS_3

Perempuan Yang Langka


"Yah sudahlah terserah kamu saja… sulit berdebat dengan kamu, tidak akan menang sampai kapan pun… kamu tidak mau mengalah dengan aku…" Jawab Rere dengan nada yang sedikit kesal kepada Viky.


"Bukan masalah tidak mau mengalah… tapi semua yang aku lakukan ini adalah untuk orang-orang yang aku sayang… jadi jika orang-orang yang aku sayang tidak menikmati hasilnya, terus untuk apa semua yang aku lakukan ini…" Jawab Viky memberikan pengertian kepada Rere.


"Nyonya Rere ini sangat rendah hati… sudah tahu bahwa calon suaminya adalah orang yang mempunyai kekayaan yang berlimpah tapi Nyonya tetap ingin membelikan perhiasan untuk mamahnya dengan uang dia sendiri… sungguh seorang wanita yang sangat langka… mungkin di Kota Taraka ini bisa di hitung dengan jari orang yang seperti Nyonya Rere…" Ucap Ria keceplosan, dengan nada yang pelan, melihat ke arah Rere dengan raut wajahnya yang terlihat sangat mengangumi Rere.


"Oopp… Maaf, aku keceplosan…" Lanjut Ria berkata dengan tangan yang menutup mulutnya dan langsung menundukkan kepalanya.


Raut wajah si Manajer berubah sangat tegang setelah mendengar kata-kata dari Ria, dia dengan buru-buru berkata


"Tuan maaf… Ria ini sangat polos dan…" belum selesai si Manajer berkata, kata-katanya sudah terhentikan dengan tawa yang keluar dari Viky,


"He… he… he… kamu sungguh sangat polos… perkataan yang tidak di sengaja itu pasti berasal dari hati dan sangat tulus… dan memang benar bahwa Rere ini tipe perempuan yang sangat langka…" Ucap Viky dengan tertawa melihat kearah Ria yang terdiam menundukkan kepalanya.


Si Manajer sangat bingung dengan perkataan Viky… sebab yang di tahu dan pernah dia alami jika terjadi hal seperti ini orang yang mempunyai status tinggi akan tersinggung tapi ini malah tertawa.


"Terus saja tertawa… terus, dan memang aku adalah wanita yang langka… bahkan sangat langka, jadi kamu harusnya bersyukur bisa mendapatkan aku…" Jawab Rere dengan nada yang kesal kepada Viky, dan dia merasa tersendiri oleh kata-kata dari Viky.


"Tuan… maaf, aku tadi tidak sengaja… tolong tuan jangan menganggap hal ini serius…" Ucap Ria tiba-tiba meminta maaf, karena dia tahu bahwa hal yang dia ucapkan tadi sangat tidak sopan.


"Iya tuan… tolong maafkan Ria ini… aku sudah sering memperingatkan dia untuk selalu berhati-hati dalam berkata, karena dia ini menderita penyakit latah…" Timpal si Manajer membela Ria, karena dia tidak mau terjadi sesuatu kepada Ria.


"Untuk apa aku memaafkan kamu… toh kamu tidak melakukan kesalahan…" Jawab Viky dengan santai menanggapi perkataan dari si Manajer dan Ria.


Baik itu si Manajer atau Ria mereka ber 2 bisa bernapas lega, mendengar ucapan dari Viky, dengan raut wajah mereka kembali seperti semula.


"Rere… jadi bagaimana, apa kamu mau memesan perhiasan untuk mamah sekarang atau nanti kamu dan mamah pergi sendiri ke toko dan memilihi perhiasan di sama…" Lanjut Viky bertanya kepada Rere dengan melihat ke arah Rere yang berada di sampingnya.


"Nanti saja lah aku datang ke toko sendiri… agar bisa memilih perhiasan yang bagus di sana, kali aja ada perhiasan yang membuat aku tertarik, tapi itu juga jika kamu ijinkan…" Jawab Rere.


"Yah terserah kamu… mau pesan di sini atau nanti kamu pergi ke sana toh ke 2 2 nya sama saja… kamu juga bebas membeli perhiasan apa saja yang kamu inginkan…" Jawab Viky.


"Tuan… Nyonya… jika tidak ada hal lain, kami ber 2 mohon untuk pamit…" Ucap si Manajer meminta ijin untuk pergi, karena dia rasa urusan dia sudah selesai di sini.

__ADS_1


"Yah sudah kalian ber 2 bisa pergi dari sini… untuk pembayaran semua perhiasan ini, nanti akan aku transfer yah…" Jawab Viky.


"Baik tuan… kalau begitu kami ber 2 pamit pergi dulu…" Jawab si Manajer, kemudian mereka ber 2 meninggalkan ruangan Viky.


"Rere bahan obat untuk menyembuhkan penyakit kamu sudah ada, apa boleh aku memintanya, untuk aku racik dengan bahan-bahan yang lain…" Ucap Viky setelah si Manajer dan Ria pergi dari ruangan tersebut.


"Bahan obatnya ada di rumah… tidak aku bawa ke sini…" Jawab Rere.


"Yah sudah… kalau begitu nanti malam aku akan pergi ke rumah kamu dan meracik obatnya di sana… dan aku juga sudah sangat merindukan masakan Mamah kamu yang seper lezat itu…" Jawab Viky, namun di kata-kata terakhirnya nada Viky terdengar sangat bahagia.


"Yah sudah… kalau begitu aku akan menghubungi Mamah untuk memasak makanan yang banyak untuk kamu… jika kamu sudah makan masakan ibu, kamu seperti orang yang belum makan 1 minggu…" Jawab Rere dengan sedikit menyindir Viky.


"Bagaimana tidak… masakan Mamah kamu sangat lezat sekali… apa kamu bisa memasak makanan yang sama seperti mamah…?" Ucap Viky bertanya.


"Yah bisalah… seorang perempuan tidak bisa memasak berarti perempuan tersebut belum bisa di sebut perempuan sejati…" Jawab Rere dengan percaya diri.


"Baiklah… aku sangat menantikan rasa masakan yang akan kamu masak nanti dan aku harap masakan kamu akan sangat lezat, tidak perlu sama tapi cukup mendekati saja…" Ucap Viky dengan sedikit menggoda Rere.


"Hemm…" Rere hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Deky kamu pergi ke ruangan aku sekarang, ada hal yang perlu kamu kerjakan…" Ucap Viky setelah panggilan dengan Deky tersambung.


"Baik tuan…" Jawab Deky dengan sopan di lain telpon, kemudian Viky memasukan ponselnya kembali ke dalam sakunya.


Rere juga mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mamahnya untuk memberitahukan bahwa Viky nanti malam akan pergi ke rumahnya dan akan makan di sana.


Tidak lama setelah Viky menutup telponnya Deky sudah sampai di ruangan Viky, dan Deky berjalan mendekat ke arah Viky.


"Tuan… hal apa yang harus aku kerjakan…?" Ucap Deky setelah berada dekat Viky.


"Kamu cari tahu apa surat ijin ini asli atau palsu…" Jawab Viky dengan memberikan selembar kertas dan memerintahkan Deky untuk mencari tahu tentang keaslian kertas tersebut.


"Baik tuan…" Jawab Deky dengan mengambil kertas yang di berikan oleh Viky.


"Jika surat itu asli, kamu tolong buat janji dengan orang ini… tapi jangan besok, karena aku akan pergi ke Divisi perang Kota Taraka…" Lanjut Viky dengan menyerahkan sebuah kartu nama kepada Deky.

__ADS_1


"Baik Tuan… ada ada hal lain yang harus saja kerjakan tuan…?" Jawab Deky kembali dan mengambil kartu nama yang Viky berikan, dan bertanya kepada Viky.


"Tidak… untuk sekarang, mungkin hanya itu saja… " Jawab Viky.


"Baiklah… kalau begitu saya ijin pergi untuk mengecek ke aslan dari surat ini…" Jawab Deky meminta ijin untuk pergi.


"Heemm…" Jawab Viky dengan menganggukkan kepalanya.


Kemudian Deky segera keluar dari ruangan Viky untuk mengecek keaslian dari surat tersebut, setelah mendapat ijin dari Viky.


#Hari ini satu bab dulu yah… ada sedikit masalah yang harus author bereskan terlebih dahulu 🙏🙏


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2