
Salah Kamar
Pagi hari, suasana kota tampak berjalan normal seperti biasa, tidak ada yang aneh dengan semua itu, tapi ada sesuatu yang menjadi topik panas di antara mereka, yaitu tetang musnahnya keluarga Handoko dalam satu malam.
Keluarga yang begitu kuat di antara keluarga besar lain yang berada di Kota Taraka musnah dalam satu malam, untuk warga bisa mungkin tidak berpengaruh banyak, tapi untuk para keluarga kelas atas sangat berpengaruh banyak bagi bisnis mereka, ketakutan… yah ketakutan sudah pasti menyelimuti hati semua orang dari keluarga kelas atas di Kota Taraka, karena keluarga yang paling kuat saja di hancurkan dalam 1 malam.
Para keluarga kelas atas sekarang sedang sibuk mencari informasi tetang siapa dan mempunyai latar belang apa yang bisa menghancurkan keluarga Handoko, keluarga terkuat di Kota Taraka. Mereka takut setelah keluarga Handoko sasaran berikutnya adalah keluarga mereka.
Disaat ini semua orang tengah sibuk mencari informasi tapi hasil yang mereka dapat, semua menemukan jalan buntu dan berujung kepada kepolisian, para keluarga tersebut terus mencari walau hasilnya tetap sama, karena mereka yakin bukan dari pihak kepolisian yang bertindak, jika memang benar, kenapa tidak dari dulu saja terjadi.
Semua orang tengah sibuk mencari informasi, di sebuah kamar hotel seorang laki-laki tengah tertidur pulas, dia adalah Viky.
"Treett…"
"Treett…"
"Treeet…"
Sebuah panggilan masuk dan membangun kan Viky dari tidurnya, Viky melihat layar ponsel tersebut, terlihat sebuah panggilan dari Rere, dia mengangkat telpon dari Rere dengan tubuh yang masih berbaring di kasur.
"Ada apa… kenapa menelpon pagi-pagi buta begini… apa ada hal penting…" Ucap Viky setelah panggilan tersebut tersambung.
"Pagi buta bagaimana, apa kamu tidak bisa melihat jam, sekarang sudah jam 9, kamu bilang ini masih pagi…apa semalam kamu bergadang…?" Jawab Rere di sebrang telpon dengan kesal, tapi masih terdengar lembut di telinga Viky.
"Iya… aku baru bisa tidur jam 4 pagi…" Jawab Viky
"Jam 4… kemana saja kamu…? apa kamu pergi dengan wanita lain…?" Tanya Rere kembali terdengar dari nadanya Rere terlihat sedikit cemburu.
"Tidak…Tidak… aku banyak urusan yang harus aku selesaikan, dan untuk apa aku pergi dengan wanita lain jika sudah ada wanita di dekatku…" Ucap Viky menggoda Rere. Viky tidak mungkin memberitahu Rere dengan apa yang terjadi sebenarnya semalam.
"Jadi kamu sekarang sedang bersama seorang wanita di dekat kamu…?" Ucap Rere dengan kesal.
"Tidak juga… wanita tersebut adalah kamu…" Jawab Viky kembali. Rere terdiam tidak menjawab ucapan dari Viky.
"Oh…iya… ada apa kamu menelpon, apa ada hal penting…?" Tanya Viky yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Tidak… tidak ada… jika kamu masih mengingat dengan ucapan aku yang semalam, kamu bisa pergi ke tempat aku sekarang… untuk lokasinya sudah aku kirim dari tadi…" Ucap Rere dengan sedikit malu-malu, dan wajah yang memerah
"Ucapan semalam…? memang apa yang kamu ucapkan…?" Tanya Viky sedikit bingung, karena dia masih belum sadar sepenuhnya dari tidurnya.
"Yah sudah… kalau kamu tidak mengingatnya tidak perlu kamu ingat-ingat kembali tetang perkataan aku kemarin malam…" Ucap Rere dengan lemas dan langsung menutup telpon.
Viky terdiam sesaat setelah telpon di matikan, dia bingung dan mencoba mengingat kembali ucapan dari Rere semalam.
"Memang apa yang dia ucapkan semalam…?" Gumam Viky yang masih bingung.
Beberapa saat Viky tersadar dan mengingat kembali dengan ucapan dari Rere, dia seperti terbang menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Viky dengan terburu-buru keluar dari hotel dan bergegas menuju pusat Kota Taraka dan menuju ke lokasi yang di kirim oleh Rere.
Sebuah mobil BMW Seri S.24 pergi ke arah pusat Kota Taraka dengan kecepatan yang sangat tinggi. membelah jalanan menuju kota.
Dengan kecepatan yang sangat tinggi, Viky hanya memerlukan beberapa menit untuk bisa sampai ke pusat Kota Taraka, dan sampai di lokasi tujuan yang di kirim oleh Rere.
Ketika Viky hendak memberitahu Rere bahwa dia sudah sampai, di layar ponselnya terdapat sebuah pesan dari Rere.
Tanpa pikir panjang, setelah memarkirkan mobilnya Viky bergegas menuju kamar 202, yang mana Rere sudah berada di sama.
Tapi entah itu sebuh kesialan atau keberuntungan Viky, dia masuk ke dalam kamar yang salah, ke kamar no 220
"Krek…" Ketika pintu kamar terbuka sebuah pemandangan yang sangat indah terlihat di depan mata, dua buah gunung kembar menjulang tinggi dengan puncaknya yang berwarna coklat muda. tidak jauh dari sana terlihat ada sebuah padang rumput berwarna hitam.
Viky yang melihat pemandangan yang sangat indah tersebut hanya bisa diam dan terus melihat tanpa berkedip sekali pun. pikiran Viky pun melayang-layang entah kemana, tanpa sadar Viky berjalan masuk ke dalam kamar tersebut.
Pemandangan yang indah tersebut adalah sebuah tubuh seorang wanita, tubuh wanita yang sangat bagus seperti gitar spanyol dan sangat indah untuk di pandang dengan berbagai aksesoris dan hiasan yang sangat strategis, wanita tersebut adalah Citra Epson.
Tubuh Citra bisa terlihat langsung oleh Viky tanpa terhalang apa pun, dengan kulit putih mulus, serta rambut yang masih basah setelah mandi, dan dua gunung kembar yang terlihat cukup berisi, dengan ukuran 34B dan di bagian bawah terlihat padang rumput berwarna hitam dengan rumput yang tidak terlalu panjang berwarna hitam.
Citra yang berada di dalam kamar hotel sendirian dengan tenang keluar dari kamar mandi tanpa memakai baju atau pun sebuah handuk untuk menutupi semua aset pribadinya, awalnya Citra hendak mengambil handuk yang mana dia lupa untuk dia bawa ke kamar mandi, tapi kejadian dimana Viky masuk tanpa mengetuk membuatnya kaget dan terdiam beberapa saat sebelum dia berteriak.
"aahhh…" Sebuah teriakan yang sangat nyaring tapi lembut terdengar dan menyadarkan Viky dari pikiran nya yang entah sudah sampai mana pikiran nya melayang.
__ADS_1
Setelah berteriak Citra dengan reflek segera menutupi aset pribadinya dengan kedua tangannya, dengan keadaan yang sangat panik Citra bergegas mencari handuk yang dia simpan di atas kasur.
Setelah Viky tahu bahwa wanita tersebut bukan lah Rere melainkan Citra, Viky hanya bisa diam mematung tanpa bergerak atau pun mengeluarkan suara.
Citra yang masih syok akan kejadian terebut pun hanya bisa diam, setelah dia mengenakan handuk di tubuhnya. di hati Citra ada sedikit ketakutan terhadap Viky, takut Viky berbuat sesuatu yang nekad dan melecehkan dia.
Terciptalah susana yang hening di ruangan tersebut serta suasana canggung di antar mereka, mereka berdua saling menatap dan menunggu satu sama lain, apa yang akan pihak lain perbuat setelah ini.
Tatapan Viky dan Citra saling bertemu, Wajah Citra tiba-tiba berubah merah karena malu. Bagi Citra selama ini jangankan ada seorang laki-laki yang melihat tubuhnya, bahkan hanya memegang tangannya pun belum pernah, bisa di bilang Citra adalah seorang wanita yang mempunyai status Jomblo sejati.
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
...Terima kasih🙏...
...R"Azk 🥇...
__ADS_1