Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Part 10


__ADS_3

Sesampainya di rumah Raffa. Gerbang rumahnya aja


langsung kebuka sendiri, banyak mobil-mobil mewah juga di garasinya. Aku


langsung masuk kedalam rumah. Rumahnya benar-benar mewah dan super duper gede


banget. Disana ada banyak pembantu dan satpam juga.


“Kenalin ini istriku, namanya Kaira. Kalau butuh


sesuatu bilang saja sama mereka.” Kata Raffa kepada para pembantu dan kepadaku.


“Baik Tuan” Jawab para pembantu dengan kompaknya.


Lalu aku mengikuti Raffa ke lantai atas.


“Ini adalah kamar utama yaitu kamarku pribadi. Dan kau


tidak berhak untuk tinggal dikamar ini. Kamarmu ada dilantai satu. Oh ya aku


juga sudah bilang kepada seluruh pembantu dirumah ini bahwa kita hanyalah


sepasang suami istri pura-pura saja, dan kau bukanlah nyonya besar rumah ini


meskipun kau adalah istri sah ku. Kau juga tidak berhak untuk mengatur apa yang


ada dirumah ini. Ingat bahwa seluruh pembantu dirumah ini hanya tunduk dengan


perintahku dan hanya setia kepadaku. Sekarang kau kembali ke kamarmu dibawah


sana. Aku akan pergi hari ini jadi jangan menungguku dan jangan menggangguku.”


Kata Raffa.


“Baik Tuan.”


Aku turun kebawah menuju kamarku. Aku terus menerus


menangis. Dari dalam kamar terdengar suara mobil, pasti itu mobil Raffa yang


sedang keluar entah kemana. Hatiku benar-benar sakit sekali. Sampai kapan aku


terus diperlakukan kasar seperti ini? Bahkan dia juga dengan entengnya menampar


pipiku. Tiba-tiba ponselku berdering dan kulihat mamaku menelfon.


“Ra, gimana rasanya menempati rumah mewah dan jadi


nyonya besar dirumah itu? Pasti seneng kan. Oh iya mama sama papa lagi di Bali


ini, lagi liburan. Bapak mertua mu kemarin langsung transfer sejumlah uang ke


rekening papa kamu makanya kita berdua langsung berlibur ke Bali. Oh ya pesen

__ADS_1


dari papa, kamu mesti akur terus sama si Raffa ya. Karena tiap bulannya kami


juga dapat jatah uang banyak. Wah senengnya akhirnya kita bisa seneng-seneng


dan belanja apapun. Pokoknya mama sama papa pasti support kamu sama Raffa. Eh


uda dulu yaa mama mau makan siang romantic dulu di pinggir pantai. Kamu


hati-hati yaa disana dan cepet hamil. Karena kalau kamu punya anak pasti


keluarga Adinata makin saying sama kamu. Bye Kaira saying.” Yah itulah cerita


mama papaku yang bahagia diatas penderitaan anaknya. Belum berkata sepatah


katapun telfonnya sudah dimatikan pula. Sebenarnya sudah berkali-kali aku


bilang kepada mama papaku bahwa Raffa itu tidak mencintaiku dan sikapnya yang


kejam kepadaku. Namun mereka tidak percaya karena hatinya mungkin sudah


tertutup oleh harta milik Raffa, apalagi sekarang setiap bulannya Raffa dan Pak


Adinata akan memberikan sejumlah uang yang cukup besar.


**


Ketika aku mau keluar kamar, aku tidak sengaja


mendengar percakapan para pembantu.


pura-pura saja. Mereka kan terpaksa dijodohkan untuk menutupi aib Tuan Raffa.


Aku yakin Tuan tidak mencintai Bu Kaira.” Bisik Bi Ratih kepada para pembantu


lain.


“Uda stop jangan bahas ini. Nanti kalau Bu Kaira


denger gimana. Bisa gawat nih.” Bisik Bi Tutik.


“Kenapa mesti takut kan memang itu kenyataannya.


Lagipula bos kita kan Tuan Raffa bukan Bu Kaira. Kalau saya jadi Bu Kaira saya


akan habiskan uang Tuan Raffa. Saya kasian sih melihat nasib Bu Kaira. Apa


jangan-jangan dia mau menikahi Bu Kaira karena hartanya yaah.” Kata Bi Ratih.


“Jangan sok tau kamu. Lihat aja sepertinya Bu Kaira


orangnya sangat baik dan sopan. Semoga saja dia tidak tau maksud dari


pernikahan ini ya. Dan semoga saja Tuan Raffa bisa mencintai istrinya.” Jawab

__ADS_1


Bi Tutik.


“Mungkin Tuan Raffa bisa menerima Bu Kaira saat


wanita-wanita simpanannya telah meninggalkannya. Semoga Bu Kaira kuat


menghadapi kelakuan bejat suaminya ini.” Dengan entengnya Bi Ratih berkata


seperti itu.


“Uda lah, kita lanjut beres-beres rumah lagi aja.”


Ajak Bi Tutik kepada Bi Ratih.


“Iya. Oh yak ok mas Rasya nggak pernah kesini lagi ya?


Aku suka sekali dengan kepribadiannya mas Rasya. Uda baik, sopan, ganteng kaya


lagi. Beda banget sama kakaknya yaa.” Kata Bi Ratih.


“Haha iya ya padahal kakak adek tapi beda banget. Kalo


adeknya yang cewek si mbak Renata itu gimana? Apa dia sama baiknya dengan mas


Rasya atau kejam seperti Tuan Raffa? Dia kan nggak pernah kesini.” Tanya Bi


Tutik.


“Oh kalo mbak Renata itu gimana ya. Dia nggak banyak


omong sih dan memang dari wajahnya terlihat judes. Denger-denger sih dia itu


dingin sifatnya dan suka shoping gitu suka beli-beli barang mewah terus


pacarnya itu bule gitu. Aku tau dari pembantu dirumah Tuan Adinata sih. Tapi


mbak Renata itu judes tapi cantik banget ya mirip sama ibunya. Eh kok kita jadi


ngomongin keluarga Tuan Raffa sih. Hahaha uda lah nanti Ibu denger lagi.” Kata


Bi Ratih.


Aku benar-benar syok mendengar percakapan para


pembantu tersebut. Aku semakin curiga dengan Raffa yang dengan gampangnya dan


entengnya mau menikahi aku. Apa benar dia menikahiku hanya untuk menutupi


aibnya dan apa benar dia memiliki banyak wanita. Aku harus cari tau tentang


latar belakang si Raffa. Tanya kaira dalam hati.


 

__ADS_1


 


__ADS_2