Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Perjanjian Pernikahan Episode 13


__ADS_3

Pesanan Rey akhirnya datang.


“Kasih cepat keluar, makannya sudah datang.” Teriak Rey. Tak lama kemudian Kasih keluar kamar tanpa memakai kerudung, tentu saja Rey kaget melihat penampilan Kasih.


“Kenapa mas? Kok seperti itu melihatnya?” Tanya Kasih tersipu malu.


“Cantik.” Kata Rey.


“Siapa yang cantik mas?” Tanya Kasih.


“Kamu, cepat duduk.” Kata Rey.


“Kamu pesan nasi goreng berapa mas?” Tanya Kasih.


“Pesan 1 karena porsinya jumbo.” Kata Rey.


“Oh aku ambil piring satu lagi ya kalau begitu.” Kata Kasih.


“Tidak usah, aku sudah mengambil piring.” Kata Rey.


“Tapi piringnya cuma satu mas.” Kata Kasih.


“Sesekali kita makan satu piring berdua.” Kata Rey.


“Apa? Sepiring berdua? Jangan mas.” Kata Kasih tampak malu.


“Kita kan suami istri.” Kata Rey.


“Iya baiklah.” Kata Kasih. Mereka berdua pun makan sepiring berdua namun tampak sangat canggung.


“Enak tidak nasi gorengnya?” Tanya Rey.


“Enak mas.” Kata Kasih.


“Makan yang banyak.” Kata Rey.


“Kalau malam aku tidak boleh makan terlalu banyak mas.” Kata Kasih.

__ADS_1


“Kamu diet ya?” Tanya Rey.


“Tidak mas, aku hanya menjaga pola makanku saja dan juga agar berat badanku tetap seimbang.” Kata Kasih sambil menyantap makanannya.


“Berat badanmu berapa memangnya?” Tanya Rey.


“Terakhir kali aku timbang sih sekitar 50kg mas tapi untungnya tinggiku lumayan jadi tidak terlihat gemuk.” Kata Kasih.


“Kamu menjaga berat badanmu memangnya untuk siapa sih?” Goda Rey.


“Untuk diriku mas.” Kata Kasih.


“Yakin hanya untuk dirimu saja? Bukan untuk suamimu juga?” Goda Rey sambil mendekat ke arah Kasih.


“Kamu apaan sih mas, geser sana mas.” Kata Kasih. Tiba-tiba Rey semakin mendekati Kasih dan membelai rambutnya.


“Kita suami istri kan? Kamu sudah pernah melakukan itu belum?” Tanya Rey.


“Ya tidak pernah lah mas, berhubungan intim diluar nikah itu hukumnya dosa mas dan termasuk perbuatan zina.” Kata Kasih.


“Tapi kan kita sudah menikah.” Kata Rey.


“Berdosa loh kalau menolak perintah suami, ayo kita ke kamar.” Kata Rey.


“Tapi mas.” Kata Kasih.


“Kenapa lagi? Kamu datang bulan ya?” Tanya Rey.


“Bukan mas, aku baru selesai datang bulan malah mas.” Kata Kasih.


“Wah kesempatan emas, ayo kita ke kamarku.” Kata Rey.


“Tapi mas.” Kata Kasih.


“Aku tidak ingin mendengar kata tapi lagi darimu.” Kata Rey, kemudian Rey menggendong Kasih dan membawanya kedalam kamarnya.


**

__ADS_1


Keesokan paginya.


Kasih keluar dari kamar Rey dengan handuk terbungkus di kepalanya.


“Loh loh apa-apaan ini?” Tanya mbok Sri.


“Kenapa sih mbok pagi-pagi sudah heboh.” Kata Kasih.


“Kok ibu keluar kamar dari kamarnya bapak, rambutnya basah lagi. Semalam berapa ronde nih bu?” Goda mbok Sri.


“Apaan sih mbok, tolong siapkan sarapan ya mbok.” Kata Kasih.


“Wah sebentar lagi bakal ada bayi nih dirumah ini.” Kata mbok Sri.


“Pagi mbok.” Kata Rey dari kamarnya.


“Pagi pak, tumben ya bapak mengucapkan salam sama si mbok. Mbok tau pasti karena semalam habis main kuda-kudaan kan makanya aura bapak sama ibu jadi bahagia dan adem sekali haha.” Kata mbok Sri.


“Oh iya dong mbok.” Kata Rey.


“Yang jadi kudanya siapa pak?” Goda mbok Sri.


“Gantian dong mbok, jangan bilang mbok iri kan sama saya? Makanya mbok cari suami lagi sana biar bisa kuda-kudaan lagi.” Kata Rey.


“Hmmmm mbok sudah tua cucunya mbok juga sudah besar mana mungkin mbok menikah lagi pak pak, tapi kalau bapak mau mencarikan suami buat mbok ya mbok tidak keberatan loh pak.” Kata mbok Sri.


“Tapi bapak kan tidak punya teman yang seusia mbok Sri.” Kata Kasih.


“Sekarang lagi jamannya berondong semakin di depan loh bu hehe.” Kata Rey.


“Astaga mbok mbok, cepat siapkan sarapan untuk saya dan bapak ya mbok.” Kata Kasih.


“Siap bu. Oh iya bu setelah saya memasak, saya pindahkan barang-barang ibu ke kamar bapak ya. Kan ibu tidur dikamar bapak terus mulai sekarang.” Kata mbok Sri.


“Tidak usah mbok, biar bapak saja yang mengurusnya.” Bisik Kasih sambil tersenyum.


“Siap bu, mbok selalu mendoakan yang terbaik untuk bapak dan ibu. Jangan khawatir kalau misalnya siluman itu datang pasti mbok usir dan kalau perlu mbok siram pakai air dingin.” Kata mbok Sri.

__ADS_1


“Hehe terima kasih banyak ya mbok.” Kata Kasih.


__ADS_2