Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Janda Cantik Episode 14


__ADS_3

1 bulan setelah


pernikahan Adena dan Aidan.


Adena tengah


menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Saat makanan sudah matang semua,


terlihat Abercio tampak masih mengantuk dan tidak ingin masuk sekolah, hal ini


membuat Aidan marah kepada Abercio.


“Sarapan sudah


siap.” Kata Adena.


“Cepat makan


sarapanmu, terus berangkat sekolah. Pasti semalam kamu habis main game kan dari


tadi papa perhatikan kamu menguap terus.” Kata Aidan.


“Mama suapin


ya, setelah itu mama yang antar Abercio pergi ke sekolah.” Kata Adena.


“Jangan terlalu


memanjakan Abercio nanti dia jadi anak yang malas dan manja ujung-ujungnya jadi


anak nakal.” Kata Aidan.


“Mami, boleh


tidak hari ini Cio tidak masuk sekolah. Cio lelah sekali mami.” Kata Abercio.


“Tidak bisa,


kamu harus sekolah. Biaya sekolah kamu itu sangat mahal, enak saja kamu bolos


sekolah. Yang membiayai sekolah kamu itu papa jadi kamu harus nurut sama papa.”


Kata Aidan.


“Mas jangan


memarahi Abercio.” Bisik Adena kepada suaminya.


“Anak kamu itu


pemalas manja dan sukanya bermain game terus jadi harus tegas sama dia.” Kata


Aidan.


“Biar aku yang


mengantar Cio ke sekolah dan aku yang menasehatinya.” Kata Adena.

__ADS_1


“Aku ini


suamimu jadi aku berhak mengatur anakmu, lagipula aku yang membiayai biaya


hidup kalian, kamu juga saat ini tidak bekerja kan, siapa lagi yang membiayai


hidup kalian kalau bukan aku.” Kata Aidan.


“Sebenarnya aku


masih ingin bekerja namun kamu melarangku mas, kenapa sih kamu sepertinya tidak


menyukai Cio, sejak awal kita menikah aku sudah mengatakan bahwasanya jika kamu


mencintaiku maka cintailah juga anakku, dan jika kamu menikahiku maka


sayangilah juga anakku mas seperti anakmu sendiri.” Kata Adena.


“Sampai


kapanpun Cio itu adalah anakmu, aku hanya ayah tiri saja dank arena kebaikanku


yang membiayai hidup anakmu itu, jadi kalian harus menuruti peraturanku.” Kata Aidan.


“Kalau saja aku


tau ternyata kamu seperti ini mas, lebih baik aku memilih untuk tidak menikah


denganmu mas. Kita bahkan baru menikah satu bulan yang lalu tapi kamu sudah


suka dengan hal itu.” Kata Adena.


“Kalau begitu


kembalikan saja Cio kepada ibumu biar ibumu yang merawat dan membesarkan


anakmu, lalu kita bisa fokus dengan rumah tangga kita.” Kata Aidan.


“Anakku adalah


tanggung jawabku mas.” Kata Adena.


“Jangan sakiti


mamiku.” Teriak Abercio yang berusaha melindungi Adena.


“Hei kamu itu


hanya anak kecil tau apa kamu, ibumu itu milikku ingat itu.” Kata Aidan sambil


mendorong Abercio.


“Jangan sakiti


anakku mas.” Kata Adena.


“Ayo sayang

__ADS_1


kita berangkat sekolah.” Kata Adena mengajak Abercio pergi ke sekolah.


“Aku belum


selesai bicara ya, lihat saja nanti kalau kalian datang.” Kata Aidan.


“Mami aku takut


sama om Aidan.” Kata Abercio.


“Tenang saja,


ada mami yang akan selalu melindungi Cio.” Kata Adena sambil memeluk erat


anaknya.


Di perjalanan


menuju sekolahnya Abercio.


Adena menangis


sambil menyetir mobil memikirkan rumah tangganya, tiba-tiba Abercio menggenggam


tangan ibunya.


“Mami jangan


menangis kan mami punya Abercio, Abercio pasti akan selalu bersama mami.” Kata Abercio


sambil tersenyum.


“Mami tidak


menangis kok sayang, mami sayang sekali sama Abercio, maafkan mami ya sayang.” Kata


Adena.


“Mami kan tidak


bersalah, mami harus selalu tersenyum ya.” Kata Abercio.


“Iya sayang


pasti.” Kata Adena.


“Ya Tuhan


apakah aku salah lagi dalam memilih seorang suami, ku kira dia laki-laki yang


aku cari selama ini tapi kenapa dia tidak bisa menerima keadaanku dan


menyayangi anakku layaknya anaknya sendiri. Hidup ini terasa tidak adil


untukku. Apa yang harus aku lakukan, sedangkan aku baru saja menikah, apakah


aku harus berpisah lagi untuk yang ketiga kalinya.” Kata Adena dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2