
1 bulan setelah
pernikahan Adena dan Aidan.
Adena tengah
menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Saat makanan sudah matang semua,
terlihat Abercio tampak masih mengantuk dan tidak ingin masuk sekolah, hal ini
membuat Aidan marah kepada Abercio.
“Sarapan sudah
siap.” Kata Adena.
“Cepat makan
sarapanmu, terus berangkat sekolah. Pasti semalam kamu habis main game kan dari
tadi papa perhatikan kamu menguap terus.” Kata Aidan.
“Mama suapin
ya, setelah itu mama yang antar Abercio pergi ke sekolah.” Kata Adena.
“Jangan terlalu
memanjakan Abercio nanti dia jadi anak yang malas dan manja ujung-ujungnya jadi
anak nakal.” Kata Aidan.
“Mami, boleh
tidak hari ini Cio tidak masuk sekolah. Cio lelah sekali mami.” Kata Abercio.
“Tidak bisa,
kamu harus sekolah. Biaya sekolah kamu itu sangat mahal, enak saja kamu bolos
sekolah. Yang membiayai sekolah kamu itu papa jadi kamu harus nurut sama papa.”
Kata Aidan.
“Mas jangan
memarahi Abercio.” Bisik Adena kepada suaminya.
“Anak kamu itu
pemalas manja dan sukanya bermain game terus jadi harus tegas sama dia.” Kata
Aidan.
“Biar aku yang
mengantar Cio ke sekolah dan aku yang menasehatinya.” Kata Adena.
__ADS_1
“Aku ini
suamimu jadi aku berhak mengatur anakmu, lagipula aku yang membiayai biaya
hidup kalian, kamu juga saat ini tidak bekerja kan, siapa lagi yang membiayai
hidup kalian kalau bukan aku.” Kata Aidan.
“Sebenarnya aku
masih ingin bekerja namun kamu melarangku mas, kenapa sih kamu sepertinya tidak
menyukai Cio, sejak awal kita menikah aku sudah mengatakan bahwasanya jika kamu
mencintaiku maka cintailah juga anakku, dan jika kamu menikahiku maka
sayangilah juga anakku mas seperti anakmu sendiri.” Kata Adena.
“Sampai
kapanpun Cio itu adalah anakmu, aku hanya ayah tiri saja dank arena kebaikanku
yang membiayai hidup anakmu itu, jadi kalian harus menuruti peraturanku.” Kata Aidan.
“Kalau saja aku
tau ternyata kamu seperti ini mas, lebih baik aku memilih untuk tidak menikah
denganmu mas. Kita bahkan baru menikah satu bulan yang lalu tapi kamu sudah
suka dengan hal itu.” Kata Adena.
“Kalau begitu
kembalikan saja Cio kepada ibumu biar ibumu yang merawat dan membesarkan
anakmu, lalu kita bisa fokus dengan rumah tangga kita.” Kata Aidan.
“Anakku adalah
tanggung jawabku mas.” Kata Adena.
“Jangan sakiti
mamiku.” Teriak Abercio yang berusaha melindungi Adena.
“Hei kamu itu
hanya anak kecil tau apa kamu, ibumu itu milikku ingat itu.” Kata Aidan sambil
mendorong Abercio.
“Jangan sakiti
anakku mas.” Kata Adena.
“Ayo sayang
__ADS_1
kita berangkat sekolah.” Kata Adena mengajak Abercio pergi ke sekolah.
“Aku belum
selesai bicara ya, lihat saja nanti kalau kalian datang.” Kata Aidan.
“Mami aku takut
sama om Aidan.” Kata Abercio.
“Tenang saja,
ada mami yang akan selalu melindungi Cio.” Kata Adena sambil memeluk erat
anaknya.
Di perjalanan
menuju sekolahnya Abercio.
Adena menangis
sambil menyetir mobil memikirkan rumah tangganya, tiba-tiba Abercio menggenggam
tangan ibunya.
“Mami jangan
menangis kan mami punya Abercio, Abercio pasti akan selalu bersama mami.” Kata Abercio
sambil tersenyum.
“Mami tidak
menangis kok sayang, mami sayang sekali sama Abercio, maafkan mami ya sayang.” Kata
Adena.
“Mami kan tidak
bersalah, mami harus selalu tersenyum ya.” Kata Abercio.
“Iya sayang
pasti.” Kata Adena.
“Ya Tuhan
apakah aku salah lagi dalam memilih seorang suami, ku kira dia laki-laki yang
aku cari selama ini tapi kenapa dia tidak bisa menerima keadaanku dan
menyayangi anakku layaknya anaknya sendiri. Hidup ini terasa tidak adil
untukku. Apa yang harus aku lakukan, sedangkan aku baru saja menikah, apakah
aku harus berpisah lagi untuk yang ketiga kalinya.” Kata Adena dalam hati.
__ADS_1