Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Janda Cantik Episode 9


__ADS_3

H-1 sebelum Adena kembali ke


Jakarta.


Adena sedang mengemasi


barang-barangnya kedalam koper.


“Mami kita kapan kembali ke


Jakarta?” Tanya Abercio.


“Besok pagi jam 9, kenapa


sayang?” Tanya Adena.


“Terus kita ke pantai sama om


Aidan kapan mami? Hari ini ya mami?” Tanya Abercio.


“Cio sayang, om Aidan tidak


bersungguh-sungguh mengajak Abercio ke pantai, dia hanya bercanda saja kok.


Kalau pun memang Cio sangat ingin pergi ke pantai, nanti kita pergi bersama


ya.” Kata Adena.


“Sepertinya om Aidan serius deh,


coba mami telfon om Aidan sekarang.” Kata Abercio.


“Om Aidan sibuk sayang, lagipula


kita juga harus mengemasi baju loh, ayo cepat masukkan bajumu kedalam koper.”


Kata Adena.


“Please mami telfon om Aidan dulu


ya please mami.” Kata Abercio sambil memeluk erat ibunya.


“Ok ok mami akan menelfon om


Aidan tapi Abercio yang bicara ya.” Kata Adena.


“Iya mami.” Kata Abercio sangat


bersemangat.


Akhirnya Adena pun menelfon


Aidan.


“Hallo pak Aidan.” Kata Adena.


“Hallo, maaf pemilik ponsel ini

__ADS_1


sedang dirawat dirumah sakit, apakah ini kerabat dekatnya?” Kata seorang wanita


tak dikenal. Adena pun saat itu juga langsung pergi ke rumah sakit bersama Abercio.


Setibanya dirumah sakit.


“Permisi, pasien atas nama Aidan


apakah dirawat dirumah sakit ini?” Tanya Adena sangat panic.


“Iya benar sekali, kebetulan


pasien baru saja dipindahkan ke ruang inap, di lantai 3 ruang melati nomor 5.”


Kata perawat.


“Baiklah, terima kasih banyak.”


Kata Adena.


“Mami tunggu Cio.” Kata Abercio.


“Ah iya maaf sayang, mami gendong


kamu saja ya.” Kata Adena sambil berlari dan menggendong anaknya menuju kamar


inap Aidan.


Adena dan anaknya tiba di depan


kamar inap Aidan, dia mengetuk pintu namun tidak ada suara akhirnya dia segera


terbaring lemas dengan jarum infuse di tangannya.


“Pak Aidan bangun pak, ini pasti


gara-gara semalam kan pak, maafkan saya ya pak.” Kata Adena.


“Mami om Aidan kenapa? Dia sakit


apa mami?” Tanya Abercio.


“Mami juga tidak tau sayang, kita


doakan saja ya semoga om Aidan cepat sembuh.” Kata Adena.


Tiba-tiba ada seorang wanita


masuk kedalam kamar inap Aidan.


“Maaf anda siapa ya?” Tanya


wanita tersebut.


“Saya Adena, bawahan pak Aidan di


kantor. Kebetulan dia saat ini menjadi atasan saya, dia baru saja dipindahkan

__ADS_1


di kantor pusat. Maaf dengan siapa saya berbicara ya?” Tanya Adena.


“Saya Marsela, istrinya pak


Aidan. Salam kenal sebelumnya.” Kata Marsela.


“Istrinya? Bukannya pak Aidan itu


seorang duda ya, apa mungkin mereka rujuk kembali.” Tanya Adena dalam hati.


“Salam kenal juga bu.” Kata


Adena.


“Silahkan duduk, maaf bagaimana


anda bisa tau kalau suami saya sedang dirawat dirumah sakit?” Tanya Marsela.


“Tadi saya menelfon bapak


kemudian yang menerima adalah suster, lalu suster tersebut memberitahu saya dan


saya langsung berlari kesini.” Kata Adena.


“Sepertinya anda sangat kaget ya


dan terburu-buru sampai memakai sepatu dan sandal.” Kata Marsela.


“Astaga aduh kenapa aku bisa


seperti ini sih, saya khawatir kalau bapak sakit parah bu.” Kata Adena.


“Saya juga baru datang tadi pagi


dan saat saya menelfon bapak ternyata yang menerima juga suster lalu saya


langsung datang kesini. Nanti saya akan membawa suami saya ke Jakarta biar


lebih mudah mengurusnya, kalau tidak keberatan lebih baik anda kembali saja,


nanti akan saya sampaikan ke bapak kalau anda datang kesini.” Kata Marsela.


“Tapi om Aidan berjanji mau


mengajak Cio dan mami ke pantai.” Kata Abercio keceplosan.


“Sayang shutttt.” Kata Adena


membungkam mulut anaknya.


“Ke Pantai? Suami saya mengajak


kalian ke pantai? Dalam rangka apa ya kalau boleh saya tau?” Tanya Marsela.


“Tidak ada kok bu, kalau begitu


saya permisi dulu ya bu, permisi.” Kata Adena langsung pergi bersama anaknya

__ADS_1


dengan perasaan kecewa.


__ADS_2