
H-1 sebelum Adena kembali ke
Jakarta.
Adena sedang mengemasi
barang-barangnya kedalam koper.
“Mami kita kapan kembali ke
Jakarta?” Tanya Abercio.
“Besok pagi jam 9, kenapa
sayang?” Tanya Adena.
“Terus kita ke pantai sama om
Aidan kapan mami? Hari ini ya mami?” Tanya Abercio.
“Cio sayang, om Aidan tidak
bersungguh-sungguh mengajak Abercio ke pantai, dia hanya bercanda saja kok.
Kalau pun memang Cio sangat ingin pergi ke pantai, nanti kita pergi bersama
ya.” Kata Adena.
“Sepertinya om Aidan serius deh,
coba mami telfon om Aidan sekarang.” Kata Abercio.
“Om Aidan sibuk sayang, lagipula
kita juga harus mengemasi baju loh, ayo cepat masukkan bajumu kedalam koper.”
Kata Adena.
“Please mami telfon om Aidan dulu
ya please mami.” Kata Abercio sambil memeluk erat ibunya.
“Ok ok mami akan menelfon om
Aidan tapi Abercio yang bicara ya.” Kata Adena.
“Iya mami.” Kata Abercio sangat
bersemangat.
Akhirnya Adena pun menelfon
Aidan.
“Hallo pak Aidan.” Kata Adena.
“Hallo, maaf pemilik ponsel ini
__ADS_1
sedang dirawat dirumah sakit, apakah ini kerabat dekatnya?” Kata seorang wanita
tak dikenal. Adena pun saat itu juga langsung pergi ke rumah sakit bersama Abercio.
Setibanya dirumah sakit.
“Permisi, pasien atas nama Aidan
apakah dirawat dirumah sakit ini?” Tanya Adena sangat panic.
“Iya benar sekali, kebetulan
pasien baru saja dipindahkan ke ruang inap, di lantai 3 ruang melati nomor 5.”
Kata perawat.
“Baiklah, terima kasih banyak.”
Kata Adena.
“Mami tunggu Cio.” Kata Abercio.
“Ah iya maaf sayang, mami gendong
kamu saja ya.” Kata Adena sambil berlari dan menggendong anaknya menuju kamar
inap Aidan.
Adena dan anaknya tiba di depan
kamar inap Aidan, dia mengetuk pintu namun tidak ada suara akhirnya dia segera
terbaring lemas dengan jarum infuse di tangannya.
“Pak Aidan bangun pak, ini pasti
gara-gara semalam kan pak, maafkan saya ya pak.” Kata Adena.
“Mami om Aidan kenapa? Dia sakit
apa mami?” Tanya Abercio.
“Mami juga tidak tau sayang, kita
doakan saja ya semoga om Aidan cepat sembuh.” Kata Adena.
Tiba-tiba ada seorang wanita
masuk kedalam kamar inap Aidan.
“Maaf anda siapa ya?” Tanya
wanita tersebut.
“Saya Adena, bawahan pak Aidan di
kantor. Kebetulan dia saat ini menjadi atasan saya, dia baru saja dipindahkan
__ADS_1
di kantor pusat. Maaf dengan siapa saya berbicara ya?” Tanya Adena.
“Saya Marsela, istrinya pak
Aidan. Salam kenal sebelumnya.” Kata Marsela.
“Istrinya? Bukannya pak Aidan itu
seorang duda ya, apa mungkin mereka rujuk kembali.” Tanya Adena dalam hati.
“Salam kenal juga bu.” Kata
Adena.
“Silahkan duduk, maaf bagaimana
anda bisa tau kalau suami saya sedang dirawat dirumah sakit?” Tanya Marsela.
“Tadi saya menelfon bapak
kemudian yang menerima adalah suster, lalu suster tersebut memberitahu saya dan
saya langsung berlari kesini.” Kata Adena.
“Sepertinya anda sangat kaget ya
dan terburu-buru sampai memakai sepatu dan sandal.” Kata Marsela.
“Astaga aduh kenapa aku bisa
seperti ini sih, saya khawatir kalau bapak sakit parah bu.” Kata Adena.
“Saya juga baru datang tadi pagi
dan saat saya menelfon bapak ternyata yang menerima juga suster lalu saya
langsung datang kesini. Nanti saya akan membawa suami saya ke Jakarta biar
lebih mudah mengurusnya, kalau tidak keberatan lebih baik anda kembali saja,
nanti akan saya sampaikan ke bapak kalau anda datang kesini.” Kata Marsela.
“Tapi om Aidan berjanji mau
mengajak Cio dan mami ke pantai.” Kata Abercio keceplosan.
“Sayang shutttt.” Kata Adena
membungkam mulut anaknya.
“Ke Pantai? Suami saya mengajak
kalian ke pantai? Dalam rangka apa ya kalau boleh saya tau?” Tanya Marsela.
“Tidak ada kok bu, kalau begitu
saya permisi dulu ya bu, permisi.” Kata Adena langsung pergi bersama anaknya
__ADS_1
dengan perasaan kecewa.