Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Part 9


__ADS_3

Setibanya aku dan Raffa di kamar hotel.


“Malam ini kamu tidur dibawah, karena aku adalah tuanmu jadi aku akan tidur diatas ranjang. Tuh ada selimut pakai buat alas tidurmu. Jangan pernah mimpi kamu akan tidur satu ranjang bersamaku. Aku muak dan jijik melihatmu. Aku capek mau istirahat, jangan berisik.” Ucap Raffa sambil mendorongku ke lantai.


Oh Tuhan, beri aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Sambil sesenggukan air mataku mulai membanjiri pipiku. Lalu aku membersihkan sisa makeup dan segera mandi lalu tidur dengan hanya


beralaskan selimut.


**


Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Aku terbangun dan aku


merasa badanku masih terasa capek sekali. Mungkin karena aku tidur dibawah. Aku


langsung bangun dan betapa terkejutnya aku karena Raffa tidak ada didalam


kamar. Lalu kutemukan sebuah note yang menempel dijidatku yang isinya adalah


“Segera mandi lalu turun menuju lantai 2, pakai baju


yang sudah aku siapkan didalam lemari. Kita akan sarapan bersama keluargaku.


Ingat jam 8 kau harus sudah di meja makan. Jangan bikin malu aku dan


keluargaku”


Aku segera mandi dan betapa terkejutnya ketika aku menemukan baju yang sudah disiapkan oleh Raffa. Dress


tersebut sangat minim sekali, bermotif flower dan aku sangat tidak PD untuk


memakainya. Dan ternyata masih terdapat label harganya. Saat kulihat harganya,


ternyata baju yang super mini tersebut adalah sebesar 10 juta rupiah. Waaah

__ADS_1


mahal sekali. Bajuku saja paling mahal nggak sampai sejuta. Kulihat jam masih


pukul 07.45 maka aku sempatkan untuk berselfie ria. Karena aku sudah lama ngga


berselfie. Maklum cewek paling doyan kalo berselfie.



Dimeja makan.


“Duh pengantin barunya pasti kecapekan nih bangunnya kesiangan” kata mami.


“Maaf mi Kaira terlambat.”


“Santai saja. Papi sama Mami sangat memakluminya kok.


Memangnya kalian semalem abis berapa ronde sih? Papi penasaran deh haha” Tanya Papi


“Haha, banyak dong Pi. Liat tuh muka capeknya istriku


kasih cucu kan.” Jawab Raffa. Dalam hatiku pintar sekali kau berkata-kata. Aku


hanya bisa tersenyum sambil menunduk diam.


Lalu aku duduk disamping kursi suamiku. Dan


disebelahku juga ada adik Raffa yaitu Rasya yang yah bisa dibilang tampan juga.


Tapi aku pun penasarn bagaimana sifat dan karakternya Rasya. Apakah mirip


dengan kelakuan kakaknya yaah.


“Oh iya, selesai acara kemarin kedua orang tua mu

__ADS_1


langsung pulang Ra. Katanya hari ini mereka akan menghadiri sebuah acara dimana


gitu, mami lupa. Lalu kalo si Renatta terbang ke Singapore bersama temannya. Ya


namanya anak muda pasti ingin berlibur. Oh ya kalian berdua akan pergi kemana


untuk honeymoon nya? Apa boleh Mami merekomendasikan suatu tempat kepada


kalian?” Tanya mami.


“Tidak perlu Mi, terimakasih.” Jawabku sambil malu-malu.


“Biar Raffa dan Kaira saja yang menentukan lokasinya Mi.” jawab Raffa.


Setelah sarapan, Mami dan Papi kembali pulang dan


Rasya kembali pulang juga ke rumah masing-masing. Jadi Raffa dan Rasya sudah


memiliki rumah masing-masing. Lokasinya juga berdekatan dengan rumah Pak


Adinata, hanya berbeda blok saja.


Aku dan Raffa juga kembali


pulang ke rumah. Jujur aku sangat penasaran dengan penampakan rumah dia. Karena


yang aku tau hanyalah rumah dari Papi dan Maminya saja. Jadi ini adalah pertama


kalinya aku ke rumah si Raffa. Bukan sebagai tamu melainkan nyonya dari rumah


tersebut, namun hanyalah seorang nyonya yang tidak akan pernah diangap sebagai


nyonya atau istri dari Raffa. Dan dirumah itulah kehidupan dan penderitaan ku

__ADS_1


dimulai.


__ADS_2