
Adena bersiap-siap untuk pulang ke
rumah, dia pun segera menuju ke tempat parkir mobil. Betapa terkejutnya dia
karena spion kaca mobil miliknya rusak seperti tertabrak oleh mobil lain.
“Astaga kenapa spion mobilku?
Kenapa bisa pecah begini, aduh siapa sih yang menabrak spion mobilku, mana
sudah malam lagi.” Gerutu Adena.
Sialnya lagi ternyata ban mobilnya
bocor sehingga harus diganti dengan ban cadangan.
“Sial banget aku hari ini, spion
mobil pecah ditambah lagi ban mobil bocor lagi. Aku minta tolong pak satpam
saja lah untuk mengganti ban mobilku tapi jam segini dimana ya bengkel mobil
yang masih buka, sudah jam 9 malam lagi.” Kata Adena sangat marah.
Tiba-tiba ada klakson berbunyi.
“Ini lagi siapa sih, bikin kesal
saja.” Gerutu Adena. Ternyata itu mobil milik Aidan.
“Bukannya itu mobil milik pak
Aidan, bukannya dia tadi pulang satu jam sebelumku kenapa dia masih disini ya.”
Kata Adena dalam hati.
Mobil Aidan pun menghampiri Adena.
“Kenapa mobilmu?” Tanya Aidan.
“Sepertinya ada yang menabrak
spion mobil saya pak, sialnya lagi ban mobil saya bocor. Bukannya bapak sudah
pulang dari tadi ya, kenapa masih disini pak.” Kata Adena.
“Barang saya ada yang tertinggal
di lobby, masuklah kedalam. Aku akan mengantarmu pulang.” Kata Aidan.
“Tidak perlu pak, saya hanya butuh
seseorang untuk mengganti ban mobil saya saja, saya tidak butuh tumpangan.”
Kata Adena menolak bantuan Aidan dengan tegas.
“Nanti aku akan menyuruh supir
__ADS_1
pribadiku untuk mengurus mobilmu, lagipula ini sudah malam jadi cepatlah masuk
kedalam mobil.” Kata Aidan.
“Bagaimana ini? Aku tidak mau ada
gosip baru apalagi sampai jatuh hati sama pak Aidan tapi aku juga ingin segera
kembali pulang.” Kata Adena dalam hati.
“Ayo cepat masuk.” Kata Aidan.
“Lalu mobil saya bagaimana pak?”
Tanya Adena.
“Besok kamu naik taksi online
saja, tawaranku tidak bertahan lama loh. Masuk atau tidak? Setelah ini parkiran
mobil akan dimatikan lampunya loh.” Kata Aidan.
Tanpa berkata-kata akhirnya Adena
pun masuk kedalam mobil Aidan.
Di perjalanan
Adena hanya diam saja, begitu pula
“Kamu sudah makan belum?” Tanya
Aidan.
“Saya makan dirumah nanti pak.”
Kata Adena.
“Oh iya? Kamu setiap hari masak
atau art yang memasak?” Tanya Aidan.
“Saya sendiri yang masak, saya
harus masak karena ada anak dirumah.” Kata Adena.
“Oh iya, berarti sekarang Abercio
dirumah sendiri?” Tanya Aidan.
“Ada art yang menjaga dia pak,
kadang juga ibu saya ke rumah untuk menjaga Abercio.” Kata Adena.
“Lalu sekolahnya? Kamu sendiri
yang mengantar jemput?” Tanya Aidan.
__ADS_1
“Ada mobil untuk antar jemput
sekolah pak.” Jawab Adena singkat.
“Oh begitu, aduh perutku lapar
sekali sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sampai rumah.” Kata Aidan.
“Biar saya saja yang mengemudi
pak, saya antarkan bapak sampai rumah bapak, setelah itu saya akan naik taksi
online untuk pulang.” Kata Adena.
“Tidak tidak, kita lebih baik
makan dulu saja, kita ke restoran ya.” Kata Aidan.
“Tidak perlu repot-repot pak,
kalau begitu saya turun disini saja pak, saya bisa naik taksi online. Terima kasih
banyak ya pak.” Kata Adena.
“Jadi seperti ini caramu berterima
kasih?” Kata Aidan.
“Saya tidak meminta bantuan bapak
tapi bapak yang menawari saya.” Kata Adena.
“Tapi kamu naik mobilku dan bahkan
aku membantu membenahi mobilmu dengan mengirim supirku.” Kata Aidan.
“Maaf tapi saya harus segera
pulang pak karena anak saya menunggu saya dirumah pak, saya harap bapak bisa
mengerti.” Kata Adena.
“Tapi kamu juga harus
bertanggungjawab dengan perut saya.” Kata Aidan.
“Kalau bapak mau, dirumah saya ada
banyak makanan, karena tadi saya masak banyak.” Kata Adena.
“Kalau begitu buatkan aku makan
malam yang enak.” Kata Aidan.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Adena
sambil menghela nafas panjang karena menahan amarah.
__ADS_1