Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Part 41


__ADS_3

Raffa kembali dari kantor dan dia terlihat sangat kelelahan.


“Viona sedang apa?” Tanya Raffa.


“Nyonya sedang tidur tuan.” Kata ART.


“Oh iya, tolong buatkan aku kopi susu ya dan antarkan ke kamar. Viona sudah


minum obat belum?” Tanya Raffa.


“Sudah tuan, tadi nona Feya yang menyiapkan obat untuk nyonya Viona.” Kata


ART.


“Ok, cepat buatkan aku kopi.” Kata Raffa.


“Baik tuan.” Kata ART.


Raffa pergi menuju kamarnya, sedangkan Feya sedang memperhatikan ayahnya


dari balik kamar tidurnya.


“Kenapa papi masih peduli dengan Viona sih? Harusnya papi tinggalin dia dan


balik ke mami, aneh banget. Apa jangan-jangan papi mulai menyukai Viona? Aku


harus buat keluargaku kembali seperti dulu, aku ada ide aku undang saja mami


dan kak Kei untuk makan malam bersama dirumah ini biar si Viona sakit hati dan


terbakar cemburu hahahaha, kasian banget sudah sakit, tidak bisa bicara dan


terbakar cemburu.” Kata Feya dalam hati.


**


Didalam kamar, Raffa mengamati istrinya yang sedang tertidur pulas,


tiba-tiba Viona terbangun.


“Eh maaf kamu jadi terbangun. Bagaimana kondisimu baik-baik saja kan? Aku

__ADS_1


akan membantumu untuk berlatih berjalan dan berbicara.” Kata Raffa. Viona hanya


mengedipkan matanya satu kali pertanda dia menyukainya.


“Kamu harus rutin minum obat dan rutin melakukan terapi ya, pokoknya setiap


pagi aku akan menuntunmu berjalan dan membantumu berbicara. Kamu harus segera


sembuh.” Kata Raffa sambil menggenggam tangan Viona.


“Papi, aku pergi dulu. Aku mau ke pesta bersama Jerry.” Teriak Arabella


dari luar kamar.


“Iya, jangan pulang terlalu malam, hati-hati dijalan.” Kata Raffa.


“Papi tidak perlu menungguku, aku pasti pulang kok.” Kata Arabella.


**


Keesokan paginya, Raffa sedang makan pagi bersama kedua anaknya, sedangkan


“Pa, aku boleh meminta sesuatu tidak?” Tanya Feya.


“Pasti mau beli sepatu atau tas limited edition lagi.” Kata Arabella.


“Minta apa sih memangnya?” Tanya Raffa.


“Boleh tidak kalau aku mengundang mami dan kak Kei untuk makan malam bersama


kita dirumah ini?” Tanya Feya.


“Jangan dirumah ini, tidak enak sama bunda apalagi dia sedang sakit seperti


itu.” Kata Raffa.


“Papi selalu membela bunda, aku juga rindu dengan mami pa.” Kata Feya


dengan ekspresi sedih.


“Bukannya papi membela bunda tapi untuk saat ini tolong kamu bisa mengerti

__ADS_1


keadaan dong, bagaimana perasaan bunda jika kita bersenang-senang sedangkan dia


terbaring dikamar karena kesakitan.” Kata Raffa.


“Kamu nggak sayang sama bunda lagi ya? Ingat ya semua fasilitas yang kamu


dapatkan itu berasal dari bunda, bahkan kamu bisa masuk ke kampusku juga karena


kenalan bunda.” Kata Arabella.


“Bukannya aku tidak sayang padanya tapi papi juga harus bisa mengerti


bagaimana perasaan mami, papi jarang berkunjung ke rumah mami. Pasti mami juga


berharap papi bisa pergi kesana. Papi dan mami masih dalam ikatan pernikahan


loh.” Kata Feya.


“Ok ok baiklah papi akan menuruti kemauanmu tapi kita hanya makan malam


bersama, setelah itu mami harus kembali pulang.” Kata Raffa.


“Yes, akhirnya aku berhasil.” Kata Feya dalam hati.


“Terima kasih banyak ya pa, nanti aku akan menelfon mami.” Kata Feya.


“Kalian makan malam bersama saja, aku akan menemani bunda saja.” Kata


Arabella.


“Kakak jangan begitu dong, mami juga pasti rindu dengan kakak. Ini moment


yang sangat langka loh kak.” Kata Feya.


“Aku pergi dulu.” Kata Arabella.


“Mau pergi kemana kamu?” Tanya Raffa.


“Aku mau pergi bersama Jerry pa.” Kata Arabella.


“Baiklah, hati-hati kalau begitu.” Kata Raffa.

__ADS_1


__ADS_2