
Keesokan paginya, Kaira masih
terjaga di kafe tersebut kemudian dia pergi dan kali ini dia menuju ke rumah
suster Hana. Sesampainya dirumah suster Hana.
“Hana aku didepan rumahmu.” Kata Kaira menelfon suster Hana.
“Aku sedang di rumah sakit Ra, ada apa? Kenapa tidak bilang kalau ingin ke rumah?” Tanya Hana.
“Oh lagi di rumah sakit ya, yauda
lain kali saja aku mampir ke rumahmu ya. Maaf ya kalau mengganggu.” Kata Kaira
lalu menutup telfon.
“Baiklah sepertinya aku memang harus kembali ke rumah.” Kata Kaira.
Lalu Kaira kembali ke rumah.
“Kau dari mana saja?” Tanya Raffa.
“Bukan urusanmu.” Kata Kaira lalu dia masuk kedalam kamar namun Raffa menahannya.
“Jawab aku kau darimana? Semalam
kau kemana? Apa kau lupa kalau kau sekarang memiliki suami, istri keluar malam
tanpa mengabari suami pula.” Kata Raffa kesal.
“Stop, aku hanya ingin menenangkan diri dan aku tidak ingin diganggu.” Bentak Kaira.
“Lalu kau mau aku melakukan apa
jika aku saja tidak mengetahui apa yang terjadi. Kau kenapa sih tiba-tiba
berubah seperti ini?” Tanya Raffa.
“Tanyakan pada dirimu sendiri mas
dan coba kau ingat kesalahan apa yang kau lakukan?” Kata Kaira lalu menutup pintu
__ADS_1
kamar.
“Hei buka pintunya mari kita
bicara sayang, tolong buka pintunya atau aku akan dobrak.” Teriak Raffa. Namun
Kaira tidak menjawab perkataan Raffa, akhirnya Raffa terpaksa mendobrak pintu
kamar tersebut.
“Kau sudah gila ya? Apa maksudmu sampai mendobrak pintu seperti ini?” Kata Kaira kesal.
“Biarlah, sekarang kita bicara baik-baik apa yang sebenarnya terjadi.” Kata Raffa.
“Coba kau jujur padaku sejauh apa hubunganmu dengan Angel?” Tanya Kaira.
“Untuk apa bahas masa lalu?
Bukankah kita sudah sepakat memulai semuanya dari awal lagi dan melupakan masa
lalu, lagipula setiap orang pasti memiliki masa lalu. Kau juga jangan hanya
menyalahkan diriku atau memojokkan diriku sayang. Bagaimana denganmu dulu
Rasya dan juga si Arka. Lalu apa bedanya denganku yang juga sering menemui
mantan-mantan pacarku, kau bahkan pernah berdua di hotel dengan Rasya, kalau
saja aku tidak datang waktu itu kau pasti sudah tidur dengannya, intinya kita
itu sama saja memiliki masa lalu yang buruk jadi aku mohon mari lupakan masa
lalu kita masing-masing dan fokus dengan kita berdua.” Jelas Raffa. Kaira
sejenak terdiam dan sadar bahwa dirinya pun pernah bersalah.
“Jadi kau menyalahkanku?” Tanya Kaira.
“Aku tidak menyalahkanmu tapi
sudahlah mari kita lupakan masa lalu kita dahulu dan kita fokus dengan rumah
__ADS_1
tangga kita. Bagaimana kita bisa segera mendapatkan baby kalau baru beberapa
hari menikah kau sudah marah-marah padaku seperti ini.” Kata Raffa.
“Lebih baik lupakan semua
perkataan Rasya, jangan-jangan apa yang dikatakan Rasya tidak benar. Sudah seharusnya
aku mempercayai suamiku.” Kata Kaira dalam hati.
“Kenapa sekarang malah diam? Jawab dong.” Tanya Raffa.
“Aku harus berkata apalagi?” Tanya balik Kaira.
“Lain kali kalau ada masalah kita
bicarakan baik-baik ya jangan tiba-tiba pergi seperti itu.” Kata Raffa.
“Hmmm iya.” Kata Kaira.
“Sayang apa kau sudah selesai datang bulan?” Tanya Raffa sambil senyum-senyum.
“Belum.” Jawab Kaira singkat.
“Kapan selesainya?” Tanya Raffa antusias.
“Sabar makanya, baru juga tiga hari.” Kata Kaira.
“Aku sudah tidak sabar tau.” Goda Raffa.
“Apaan sih, minggir aku lelah
ingin istirahat.” Kata Kaira. Lalu Kaira merebahkan dirinya diatas ranjang dan
Raffa menutupinya dengan selimut.
“Aku buatkan bubur ya, kau pasti
ingin makanan yang lembut dan hangat kan.” Kata Raffa perhatian.
“Iya boleh deh.” Jawab Kaira.
__ADS_1
Kemudian Raffa segera ke dapur membuatkan bubur untuk istrinya.