Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Part 5


__ADS_3

Tiba-tiba pertanyaan Dika membuatku gemetaran


“Kau hari ini tidak kerja ya, kok jam segini minta ketemuan sih yang? Terus waktu


aku telfon tadi kenapa tidak di angkat?”


“Em em aku capek yang makanya ambil ijin cuti sehari saja. Em em maaf tadi aku lagi


di jalan jadi nggak tau kalau kamu telfon sayang” jawabku sambil memikirkan


alasan yang pas agar dia tidak curiga kepadaku.


Tiba-tiba makanan kami datang. Waktu yang sangat pas sekali karena dengan makan dia pasti


tidak akan bertanya lagi.


Setelah makan, percakapan kami pun berlanjut


“Sayang, kita pacaran kan sudah lama. Apa nggak sebaiknya kita menuju ke jenjang yang


lebih serius saja ya? Akhir-akhir ini ibuku selalu menanyakan mu yang dan


sepertinya ibuku juga ingin kita cepat menikah yang. Bagaimana menurutmu?”


Aku syok mendengar pertanyaan Dika. Jujur aku sangat takut bahkan tidak siap


menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku takut Dika kecewa padaku dan aku


takut dia pergi meninggalkanku bahkan membenciku. Aku tidak ingin seperti itu.


Karena aku sangat mencintainya dan kami pun juga saling mencintai.


“Ehm gimana ya yang. Aku masih belum siap untuk menikah. Aku masih ingin berkarir

__ADS_1


dulu, lagipula kedua ortuku juga belom menginginkan aku untuk menikah” jawabku


dengan sangat gugup.


“Lalu kapan kamu akan siap sayang? Jangan terlalu lama pacaran sayang. Kau tidak usah


khawatir aku pasti bisa mencukupi kebutuhan kamu dan pasti selalu


membahagiakanmu kok. Aku juga sudah punya tabungan yang cukup untuk biaya


pernikahan kita nanti. Lagipula adikku sebentar lagi lulus SMA, jadi aku bisa


fokus dengan kita saja sayang. Atau bagaimana kalau kita tunangan dulu sayang,


bagaimana menurut kamu?” tanya dia dengan antusias.


“Aku masih belom tau sayang. Tolong kasih aku waktu dulu ya. Nanti kalau aku sudah


siap pasti aku akan bilang ke kamu kok” jawabku.


menyuruhku cepat pulang.


“Sayang, mamaku menyuruhku untuk pulang. Kita pulang sekarang yuk” aku pun langsung


berdiri untuk siap-siap pulang.


“Baiklah, aku akan antar kamu pulang”


“Tidak usah sayang, aku bisa pulang sendiri kok. Aku mau mampir ke supermarket


sebentar soalnya. Bye, aku pulang” aku langsung melarikan diri dan memilih


untuk kabur pergi pulang. Bisa gawat kalo aku diantar Dika pulang, bisa-bisa

__ADS_1


akan ada perang dunia lagi nih batinku.


**


Sesampainya dirumah


“Darimana saja kau?” tanya papaku


“Ya kan Kaira dari fitting baju pengantin pa sama foto prewedding dengan si Raffa”


jawabku.


“Uda kamu jawab jujur saja Ra, tadi si Raffa menelfon papa kamu. Dia bilang kalau


kamu mau bertemu dengan pacar kamu, lalu Raffa bilang ke papa kamu kalau kami


tidak usah khawatir dan tidak perlu marah ke kamu karena si Raffa memang sudah


mengijinkanmu bahkan dia juga bilang kalau dia sangat khawatir bahkan sangat


mencintai calon istrinya. Kenapa juga sih kamu mesti ketemu sama Dika, gimana


dengan perasaan si Raffa. Uda lah kamu bilang jujur aja ke Dika kalo kamu akan


menikah dan putuskan saja dia, beres kan” kata mamaku.


Dalam hatiku, dasar licik kau Raffa kau berhasil menguasai kepercayaan ortuku. Bahkan


sekarang ortuku jauh lebih percaya kepada Raffa dibandingkan dengan aku anaknya


sendiri. Ya Tuhan tolonglah hamba.


“Maafkan Kaira ma pa. Yang penting kan aku mau menikah dengan si Raffa” jawabku.

__ADS_1


Lalu aku langsung masuk ke kamar untuk istirahat. Sebelum istirahat aku mandi dulu.


__ADS_2