Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Janda Cantik Episode 8


__ADS_3

Adena kembali ke kamar karena


ibunya menelfon.


“Hallo ma ada apa?” Tanya Adena.


“Cepat kesini anakmu demam.” Kata


Meylinda.


“Apa? Abercio demam? Kenapa bisa


demam ma? Aku barusan selesai, aku kesana sekarang ma.” Kata Adena panik. Adena


pun segera berlari menuju kamar dan langsung membawa anaknya ke rumah sakit.


Di lobby hotel, dia kesusahan


mencari transport.


“Cepat pesan taksi online.” Kata


Meylinda.


“Aduh kenapa sih ini kenapa tidak


ada ya ma drivernya, aku dari tadi memesan tapi belum juga ada yang menerima pesanan


aku ma, aduh bagaimana ini ma.” Kata Adena.


Tiba-tiba Aidan lewat di depan


lobby dan berhenti di depan Adena dan keluarganya.


“Cepat masuklah kedalam.” Kata


Aidan. Tentu saja Adena sangat kaget melihat Aidan tiba-tiba muncul di saat


yang sangat tepat, tanpa basa-basi akhirnya Adena segera naik kedalam mobil


Aidan sedangkan ibu dan ayahnya Adena sedang menunggu taksi yang telah


dipesankan oleh Aidan.


Di dalam mobil, Adena menggendong


Abercio sambil menenangkan perasaan Abercio.


“Badanku panas mami.” Kata


Abercio.


“Iya sabar ya sayang sebentar


lagi kita sampai kok.” Kata Adena.


“Aku mau pulang saja mami, ayo

__ADS_1


kita kembali ke Jakarta saja mami.” Kata Abercio.


“Kita periksa dulu ya baru balik


ke Jakarta ya sayang.” Kata Adena.


“Iya mami.” Kata Abercio.


“Tahan dulu ya sayang, om


sebenarnya ingin mengemudi dengan cepat tapi om khawatir denganmu dan mami kamu


jadi tahan dulu ya sabar ya.” Kata Aidan.


“Om siapa?” Tanya Abercio.


“Om adalah atasan mami kamu di


kantor, tadi kebetulan om dan mami kamu ditugaskan ikut acara di Bali.” Kata Aidan.


“Om namanya siapa?” Tanya


Abercio.


“Aidan, kamu bisa panggil om


Aidan.” Kata Aidan.


“Oh, perkenalkan namaku Abercio


“Cio jangan banyak bicara nanti


malah semakin sakit loh.” Kata Adena.


“Cio kan ingin tau siapa yang


sedang dekat dengan mami.” Kata Abercio.


“Husss sudah jangan banyak


bicara.” Bisik Adena.


“Tidak apa-apa, Abercio bisa


tanya apapun kepada om Aidan tapi nanti setelah Abercio periksa dan sehat ya.”


Kata Aidan.


“Memangnya om Aidan mau


mengajakku keluar bersama ya?” Tanya Abercio.


“Kalau Abercio tidak keberatan om


Aidan dengan senang hati mengajak Abercio dan pastinya mami kamu juga harus


ikut.” Kata Aidan.

__ADS_1


“Kita sudah sampai, ayo nak kita


turun dulu.” Kata Adena langsung membuka pintu mobil Aidan, namun Aidan dengan


sigap langsung menghampiri Adena dan membantu menggendong Abercio.


“Biar aku gendong saja.” Kata


Aidan.


“Tidak usah pak, dia berat loh. Berikan


saja kepadaku.” Kata Adena.


“Lebih berat maminya.” Bisik


Aidan yang membuat Adena salah tingkah.


“Mami mami.” Panggil Abercio.


“Ah iya I ya iya sayang ada apa?”


Tanya Adena salah tingkah.


“Jadi aku digendong siapa?” Tanya


Abercio.


“Om saja yang menggendong Abercio


ya.” Kata Aidan.


“Terima kasih banyak ya om,


sepertinya om Aidan orang baik dan perhatian.” Kata Abercio.


“Cio katanya kamu sakit tapi


kenapa banyak bicara sih.” Gerutu Adena.


“Maaf mami.” Kata Abercio.


“Tidak apa-apa, justru om Aidan


senang loh kalau bisa dekat dengan Abercio.” Kata Aidan.


“Nanti setelah Cio diperiksa sama


dokter, kita main-main yuk om, ajak Cio ke pantai ya om.” Kata Abercio.


“Wah ide bagus tuh, pasti mami


kamu kegirangan.” Kata Aidan sambil melirik Adena.


“Siapa juga yang kegirangan ke


pantai sama atasan, yang ada justru membosankan.” Gerutu Adena.

__ADS_1


__ADS_2