
Adena kembali ke kamar karena
ibunya menelfon.
“Hallo ma ada apa?” Tanya Adena.
“Cepat kesini anakmu demam.” Kata
Meylinda.
“Apa? Abercio demam? Kenapa bisa
demam ma? Aku barusan selesai, aku kesana sekarang ma.” Kata Adena panik. Adena
pun segera berlari menuju kamar dan langsung membawa anaknya ke rumah sakit.
Di lobby hotel, dia kesusahan
mencari transport.
“Cepat pesan taksi online.” Kata
Meylinda.
“Aduh kenapa sih ini kenapa tidak
ada ya ma drivernya, aku dari tadi memesan tapi belum juga ada yang menerima pesanan
aku ma, aduh bagaimana ini ma.” Kata Adena.
Tiba-tiba Aidan lewat di depan
lobby dan berhenti di depan Adena dan keluarganya.
“Cepat masuklah kedalam.” Kata
Aidan. Tentu saja Adena sangat kaget melihat Aidan tiba-tiba muncul di saat
yang sangat tepat, tanpa basa-basi akhirnya Adena segera naik kedalam mobil
Aidan sedangkan ibu dan ayahnya Adena sedang menunggu taksi yang telah
dipesankan oleh Aidan.
Di dalam mobil, Adena menggendong
Abercio sambil menenangkan perasaan Abercio.
“Badanku panas mami.” Kata
Abercio.
“Iya sabar ya sayang sebentar
lagi kita sampai kok.” Kata Adena.
“Aku mau pulang saja mami, ayo
__ADS_1
kita kembali ke Jakarta saja mami.” Kata Abercio.
“Kita periksa dulu ya baru balik
ke Jakarta ya sayang.” Kata Adena.
“Iya mami.” Kata Abercio.
“Tahan dulu ya sayang, om
sebenarnya ingin mengemudi dengan cepat tapi om khawatir denganmu dan mami kamu
jadi tahan dulu ya sabar ya.” Kata Aidan.
“Om siapa?” Tanya Abercio.
“Om adalah atasan mami kamu di
kantor, tadi kebetulan om dan mami kamu ditugaskan ikut acara di Bali.” Kata Aidan.
“Om namanya siapa?” Tanya
Abercio.
“Aidan, kamu bisa panggil om
Aidan.” Kata Aidan.
“Oh, perkenalkan namaku Abercio
“Cio jangan banyak bicara nanti
malah semakin sakit loh.” Kata Adena.
“Cio kan ingin tau siapa yang
sedang dekat dengan mami.” Kata Abercio.
“Husss sudah jangan banyak
bicara.” Bisik Adena.
“Tidak apa-apa, Abercio bisa
tanya apapun kepada om Aidan tapi nanti setelah Abercio periksa dan sehat ya.”
Kata Aidan.
“Memangnya om Aidan mau
mengajakku keluar bersama ya?” Tanya Abercio.
“Kalau Abercio tidak keberatan om
Aidan dengan senang hati mengajak Abercio dan pastinya mami kamu juga harus
ikut.” Kata Aidan.
__ADS_1
“Kita sudah sampai, ayo nak kita
turun dulu.” Kata Adena langsung membuka pintu mobil Aidan, namun Aidan dengan
sigap langsung menghampiri Adena dan membantu menggendong Abercio.
“Biar aku gendong saja.” Kata
Aidan.
“Tidak usah pak, dia berat loh. Berikan
saja kepadaku.” Kata Adena.
“Lebih berat maminya.” Bisik
Aidan yang membuat Adena salah tingkah.
“Mami mami.” Panggil Abercio.
“Ah iya I ya iya sayang ada apa?”
Tanya Adena salah tingkah.
“Jadi aku digendong siapa?” Tanya
Abercio.
“Om saja yang menggendong Abercio
ya.” Kata Aidan.
“Terima kasih banyak ya om,
sepertinya om Aidan orang baik dan perhatian.” Kata Abercio.
“Cio katanya kamu sakit tapi
kenapa banyak bicara sih.” Gerutu Adena.
“Maaf mami.” Kata Abercio.
“Tidak apa-apa, justru om Aidan
senang loh kalau bisa dekat dengan Abercio.” Kata Aidan.
“Nanti setelah Cio diperiksa sama
dokter, kita main-main yuk om, ajak Cio ke pantai ya om.” Kata Abercio.
“Wah ide bagus tuh, pasti mami
kamu kegirangan.” Kata Aidan sambil melirik Adena.
“Siapa juga yang kegirangan ke
pantai sama atasan, yang ada justru membosankan.” Gerutu Adena.
__ADS_1