
Rey dan Kasih tiba di rumah sakit tempat kerja Kasih yaitu Paradise Hospital.
“Jadi kamu satu tempat dengan mama ya?” Tanya Rey.
“Jangan bilang kamu baru tau mas? Aku sama mama beda divisi mas. Aku masuk dulu ya mas.” Kata Kasih.
“Tunggu dulu aku mau memastikan dulu.” Kata Rey.
“Ada apa lagi memangnya mas? Kamu mau memastikan apa?” Tanya Kasih.
“Kamu tidak marah lagi denganku kan?” Tanya Rey.
“Aku tidak ingin membahas masalah itu lagi mas.” Kata Kasih.
“Iya, tapi kamu sudah tidak marah lagi denganku kan? Jangan marah ya Kasih.” Goda Rey sambil mengedipkan matanya ke arah Kasih.
“Kamu apaan sih mas, iya aku tidak marah lagi.” Jawab Kasih sambil tersenyum.
Tiba-tiba datanglah beberapa rekan kerja Kasih.
“So sweet sekali sih kalian berdua.” Kata si A.
“Maklum namanya juga pasangan baru pasti pengennya berduaan terus deh.” Kata si B.
“Pasti kalian mau gandengan tangan kan? Tidak usah malu kali hehe.” Goda si A.
“Kalian ada-ada saja deh, cepat sana masuk.” Kata Kasih.
__ADS_1
“Kita duluan ya.” Kata si A dan B.
“Kamu pengen pegangan tangan ya?” Bisik Rey.
“Tidak kok, kamu apaan sih. Aku masuk dulu ya mas.” Kata Kasih.
“Iya semangat ya kerjanya.” Kata Rey sambil melambaikan tangannya ke arah Kasih.
“Cepat sana balik mas.” Kata Kasih sambil senyum-senyum.
**
Rey kembali pulang ke rumah. Namun Aura menelfon untuk menyuruhnya datang ke rumah sedangkan Rey sangat lelah setelah mengantar Kasih. Akhirnya Rey menelfonnya kembali.
“Hallo sayang sepertinya aku tidak bisa kesana hari ini, aku lelah sekali.” Kata Rey.
“Lelah? Memangnya kamu habis darimana sih sayang? Jadi kamu tidak sayang lagi ya sama aku?” Tanya Aura.
“Aku kurang mengerti apalagi sih mas, aku bahkan merelakanmu menikahi wanita yang saat ini menjadi istrimu.” Gerutu Aura.
“Itu beda cerita sayang, aku lelah sekali hari ini setelah terjebak macet mengantar dia.” Kata Rey.
“Terjebak macet? Oh jadi kamu mulai menyukainya dan perhatian kepadanya ya?” Tanya Aura.
“Bukan begitu, aku takut dia mengadu kepada orang tuaku dan mengusirku.” Kata Rey.
“Mengusirmu? Berani sekali mas, punya hak apa dia? Rumah itu kan milikmu mas.” Kata Aura.
__ADS_1
“Memang rumah ini pemberian dari orang tuaku tapi orang tuaku mengatasnamakan istriku tentu saja dia lebih berhak.” Kata Rey.
“Kalau begitu suruh dia tanda tangan balik nama atas nama kamu mas, bagaimanapun juga istri kan harus nurut dengan suami.” Kata Aura.
“Aku dan dia membuat kesepakatan untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadi.” Kata Rey.
“Aku benar-benar tidak mengerti dengan orang tuamu, bisa-bisanya mempercayai wanita itu. Bagaimana kalau dia diam-diam menjual rumah itu nanti setelah kamu menceraikannya lalu dia menikmati hasilnya sendiri, istrimu itu matrealistis mas.” Kata Aura.
“Dia tidak seperti itu, dia sangat baik dan sabar mana mungkin dia melakukan hal itu.” Kata Rey.
“Kenapa kamu jadi membelanya sih mas, aku kesal denganmu mas.” Kata Aura langsung menutup telfonnya.
“Hallo sayang sayang sayang, sial dia mematikan telfonnya lagi.” Gerutu Rey.
“Siapa pak yang bawa sial? Pasti selingkuhan bapak ya?” Tanya mbok Sri tiba-tiba lewat didepan Rey.
“Apaan sih mbok jangan sok tau deh.” Gerutu Rey.
“Tadi ibu menelfon saya katanya saya disuruh menyiapkan makan malam untuk bapak, soalnya ibu pulang malam.” Kata mbok Sri.
“Kenapa dia tidak menelfonku langsung sih mbok? Aku kan suaminya mbok.” Kata Rey.
“Suami pura-pura kan pak?” Tanya mbok Sri.
“Mbok kamu lama-lama menyebalkan ya, awas saja ya kamu nanti saya pecat loh ya.” Kata Rey.
“Silahkan saya tidak takut, pemilik rumah ini kan ibu weeeeekkkk.” Kata mbok Sri.
__ADS_1
“Aku harus menelfon Kasih sendiri tapi kenapa harus aku yang menelfonnya dulu, harusnya kan dia dulu.” Gerutu Rey.
“Suami istri kok gengsian sih pak pak.” Kata mbok Sri sambil cekikikan.