
Setibanya di bandara Ngurah Rai
Bali.
Adena kerepotan karena dia harus
membawa banyak barang dan ditambah lagi anaknya tertidur. Akhirnya dia terpaksa
menggendong anaknya sambil mendorong koper dan juga membawa tas jinjingnya. Dia
pun segera menuju ke hotel dengan mengendarai taksi online, namun dia tidak
sengaja menabrak seorang laki-laki berbadan tegap. Alhasil Abercio pun ikut
terjatuh dan terbangun.
“Mami.” Rengek Abercio.
“Maaf sayang, Abercio terbangun
ya.” Kata Adena.
“Biar saya bantu membawa
kopernya, maaf tadi saya terburu-buru dan tidak sengaja menabrak Anda dan anak
Anda.” Kata laki-laki tersebut.
“Saya juga minta maaf, maaf saya
juga terburu-buru dan tidak perlu repot-repot membantu saya, saya bisa
membawanya sendiri.” Kata Adena.
“Mami Abercio bisa jalan sendiri
kok.” Kata Abercio.
“Iya, ayo kita pergi nak.” Kata
Adena.
Namun laki-laki tersebut tetap
ingin membantu, laki-laki tersebut langsung membawa koper milik Adena dan
menggandeng tangan Abercio. Abercio pun tampak kebingungan sambil
memanggil-manggil ibunya.
“Mami help me.” Kata Abercio.
“Tolong lepaskan anak saya, saya
bisa sendiri.” Kata Adena langsung menarik tangan Abercio.
Kemudian laki-laki tersebut
menjelaskan bahwa dirinya bukanlah orang jahat.
“Saya Aidan Winata, saya ke Bali
__ADS_1
untuk menghadiri undangan, untuk menghadiri acara di kantor. Ini kartu nama
saya.” Kata Aidan, tanpa melihat kartu nama Aidan, Adena pun langsung berlari
pergi begitu saja.
Didalam taksi.
“Dasar laki-laki pasti dia hanya
ingin menggodaku saja.” Gerutu Adena.
“Mami kita kemana sekarang?”
Tanya Abercio.
“Kita ke hotel sayang, oh iya
nanti oma sama opa akan menyusul kok jadi bisa nemenin Abercio saat mami
bekerja besok.” Kata Adena.
“Wah kita ke hotel, Cio nanti mau
renang ya mami.” Kata Abercio.
“Iya sayang, sebelum renang harus
makan dulu ya.” Kata Adena.
“Ok mami.” Kata Abercio.
Keesokan harinya.
Adena bangun kesiangan, jam
menunjukkan pukul 08.00 waktu setempat. Dia pun langsung bangun dan hanya
mencuci muka saja lalu langsung ganti baju dan berdandan.
“Aaaaa sial sekali hari ini, mana
sempat aku mandi. Tidak apa-apa tidak mandi yang penting dandan tetaplah nomor
satu.” Kata Adena sambil menyisir rambutnya. Lalu dia menelfon ibunya yang ada
di kamar sebelah.
“Hallo ma, cepat ke kamarku ya
ma. Aku bangun kesiangan dan Abercio masih tidur.” Kata Adena.
“Iya sebentar, mama masih
menyiapkan bajunya papa kamu. Nanti berikan kunci kamarmu ke mama saja ya.”
Kata Meylinda.
“Iya ma, aku bahkan tidak sempat
menelfon resepsionis untuk mengantarkan sarapan ke kamar.” Kata Adena.
__ADS_1
“Hmmmm kamu sih bangun kesiangan.
Biar mama yang membangunkan Abercio.” Kata Meylinda.
Setelah Adena selesai berdandan,
dia pun langsung ke ruang pertemuan di hotel tersebut, tepatnya di lantai 3. Dia
pun bergegas berlari ke lift dan betapa terkejutnya dia bertemu dengan Aidan.
“Selamat pagi nona.” Kata Aidan.
“Kenapa kamu bisa ada disini? Kamu
mengikuti saya ya?” Tanya Adena.
“Saya disini ada kepentingan,
jangan-jangan kamu yang mengikuti saya.” Kata Aidan.
“Apa? Mana mungkin, saya juga ada
acara disini.” Kata Adena.
“Kenapa diam saja di depan lift? Mau
masuk atau tidak? Bukannya kamu terburu-buru ya?” Tanya Aidan.
“Jangan sok tau ya.” Kata Adena
lalu langsung masuk kedalam lift.
“Kalau tidak terburu-buru kenapa
roll rambut masih terpasang? Lupa ya belum dilepas.” Kata Aidan sambil cekikikan.
Adena pun tersipu malu dan
langsung mengambil roll rambutnya, dia pun terdiam karena tersipu malu.
Tak lama kemudian, tibalah di
lantai 3. Aidan pun langsung keluar, begitu juga dengan Adena.
“Kamu benar-benar mengikuti saya
ya?” Tanya Adena.
“Enak saja, kamu justru yang
mengikuti saya.” Kata Aidan.
“Tapi saya ada acara di hotel
ini.” Kata Adena.
“Saya juga, dan mereka sudah
menunggu kedatangan saya.” Kata Aidan, lalu dia langsung berlari meninggalkan
Adena yang masih tampak kebingungan.
__ADS_1