Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Part 2


__ADS_3

Keesokan harinya di ruang tamu. Kedua ortuku sedang


bersantai nonton tv, karena hari ini hari minggu jadi kita hanya berdiam diri


di rumah.


“Ra, nanti malam kita di undang makan malam sama Pak


Adinataya, kamu harus dandan yang cantik ya, terus pakai tas sama sepatu yang


kemarin mama belikan. Okey, uda lah kamu ngga usah sedih, ini demi keluarga


kita, demi kamu juga nak. Mama dan papa ngga mau kamu menderita apalagi


kekurangan” kata mama sambil memelukku


“Baik ma” sahutku. Aku hanya bisa mengangguk. Karena


jika aku menolak keinginan ortuku, maka mereka akan mengatakan kalau aku anak


durhaka dan tidak patuh dengan ortu. Lagipula calon suamiku juga sudah jelas


latar belakangnya meskipun aku belom pernah bertemu sama sekali.Aku


hanya berharap semoga calon suamiku adalah orang yang baik, setia dan bisa


bertanggungjawab kepadaku.


**


Malam yang ditunggu-tunggu oleh kedua ortuku datang


juga. Rasanya gemetar sekali dan tidak ingin ikut dalam undangan makan malam


keluarga Pak Adinata. Tapi aku hanya bisa menuruti apa perkataan kedua ortuku


jika masih ingin dianggap anak berbakti.


“Ra, ayoo kita berangkat, jangan lelet” ajak papa


“Ra, nanti kamu harus senyum ya, kasih senyuman


paling manis buat keluarga Adinata dan juga calon suamimu, jangan bikin malu


keluarga kita yaa. Turuti kata-kata mama”


**


Setibanya di rumah keluarga Adinata


“Selamat datang pak arif, bu arif dan Kaira, ayo


silahkan masuk, anggap aja rumah sendiri ya karena sebentar lagi kita akan jadi


keluarga kan” sambut Bu Siska, istri Pak Adinata.


“Selamat malam semuanya, jangan sungkan-sungkan yaa”


sahut Pak Adinata


“Iya om, tante” sahutku. Gila rumahnya gede banget


kayak istana, di pojok ruang tamu ada lemari kaca yang berisi koleksi tas dan

__ADS_1


sepatu. Itu pasti nilainya milyaran batinku dalam hati.


“Wah rumahnya gede, bersih dan wangi sekali” sahut


mamaku


Lalu kami langsung menuju ke meja makan untuk makan


malam. Dan tiba saatnya sang panheran pujaan kedua ortuku turun dari lantai dua


sambil memakai kemeja warna biru dan celana jenas yang auranya uda kayak artis


top. Harum semerbak aroma parfumnya sungguh menggetarkan hati, namun aku tetap


merasa sedih dengan perjodohan ini karena kabar yang beredar dia memiliki sifat


yang dingin bak kulkas dengan seseorang. Hal ini yang membuatku sangat takut


dan khawatir akan jadi seperti apa nanti jika aku menikah dengan beliau.


“Raffa, kenalkan ini pak Arif dan bu Wulan, lalu ini


Kaira calon istri kamu. Dia gadis yang cantik, polos dan baik lagi” kata Bu


Siska.


“Malam semuanya, saya Raffa” kata si Raffa.


Dia hanya menatap wajah papa dan mamaku tanpa


menatap sedikitpun kepadaku, menoleh saja pun tidak. Aku semakin takut


bagaimana nasibku nanti setelah menikah dengan nya. Oh Tuhan apa benar dia


jodohku, aku takut sekali menatap mata si Raffa, sehingga aku hanya menunduk.


mamaku sambil senyum-senyum ngga jelas.


Kami langsung memakan makan malam tersebut dengan


bahagia, namun tidak denganku.


Jadi, keluarga Pak Adinata ini memiliki tiga orang


anak yaitu Raffa Adinata, Rasya Adinata dan anak terakhirnya bernama Renata


Adinata. Raffa dan Rasya hanya berjarak 2 tahun saja. Dia tinggal di Surabaya


karena dia mengelola hotel yang berlokasi disana. Sedangkan si bungsu yaitu


Renata tinggal di luar negeri untuk kuliah S1 tepatnya di New York.


**


Ditengah makan malam,


“Oh ya, kami berencana pernikahan Raffa dan Kaira


untuk dipercepat ya, minggu depan acara akad nikah dan dilanjutkan dengan


resepsi di hotel kami saja. Semua persiapan uda matang karena maminya Raffa


juga sudah mengatur semuanya. Jadi kalian tidak usah khawatir, semua sudah

__ADS_1


siap. Saya jamin acara resepsinya ini sangat mewah. Nanti juga kedua adik Raffa


yaitu Rasya dan Renata akan hadir di resepsi kalian” kata Pak Adinata


“Uhukk, Apa? Minggu depan om?” kataku sambil


tersedak makanan karena kaget dengan perkataan beliau. Jiwaku rasanya melayang


tidak karuan mendengar perkataan Pak Adinata. Betapa hatiku sangat hancur harus


menikah dengan seseorang yang belom aku kenal, dan bahkan berita yang beredar


dia memiliki sifat super dingin serta cuek dengan seseorang bahkan terkadang


kejam terhadap para bawahannya di kantor. Aku tau berita tersebut karena teman


smp ku ada yang bekerja di hotel milik Raffa Adinata.


“Kamu tidak usah khawatir dengan persiapan nya


Kaira, semua mami yang urus okey” Kata Bu Siska.


“Iya bu, tenang saja. Kaira pasti siap kok. Hehe ya


kan Kaira sayang” kata mamaku sambil memeluk tubuhku dan mengiyakan apa yang


dibilang oleh keluarga Adinata.


Setelah makan malam selesai dan pengumuman mendadak


tersebut, kami pun pamit pulang.


“Kami pamit pulang dulu ya pak bu” sahut papaku


“Kami sangat senang akhirnya kami bisa menjadi


keluarga yaa, kalian orang baik, saya yakin Kaira juga bisa menjadi istri yang


baik untuk anak kami Raffa” kata Pak Adinata.


“Tentu saja pak, anak saya ini setiap hari selalu


melakukan tugas rumah tangga dengan baik, karena selalu membantu pekerjaan saya


dirumah, iya kan nak?” sahut mamaku sambil tersenyum kepadaku.


Aku sedari kecil memang selalu diajarkan oleh kedua


ortuku untuk melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci dan memasak. Ya


mungkin karena aku anak tunggal dan seorang perempuan.


Dan betapa kagetnya aku, ketika si Raffa membisikkan


kata-kata kepadaku.


“Jangan harap kau akan menjadi seorang nyonya Raffa


Adinata, kalau bukan karena Papiku, aku tidak sudi menikahimu. Ingat itu” bisik


si Raffa di telingaku.


“Iya” kataku sambil

__ADS_1


menelan ludah dan air mataku hampir saja menetes. Namun aku menahan nya agar


tidak sampai jatuh air mataku.


__ADS_2