
Malam itu dirumah sakit. Raffa masih setia menjaga Kaira dirumah sakit. Suasana saat itu
sangat canggung sehingga mereka berdua hanya diam sibuk dengan ponselnya.
“Eh apa kau lapar? Mau makan tidak?” Tanya Raffa.
“Tidak.” Jawab Kaira.
“Kau bosan ya dirumah sakit terus? Apa kau ingin keluar atau duduk-duduk di sekitar taman?”
Tanya Raffa.
“Boleh deh.” Jawab Kaira. Raffa dengan semangatnya menggandeng tangan Kaira karena tubuh
Kaira masih lemas.
“Aku bisa jalan sendiri, lepaskan tanganmu.” Bentak Kaira.
“Kau ini keras kepala deh, sudahlah nurut saja. Aku khawatir sama kamu.” Kata Raffa.
Sesampainya di taman rumah sakit, mereka duduk sambil memandang langit cerah dan bintang yang
bertaburan.
“Udaranya sejuk sekali disini.” Kata Kaira.
“Pakai jaketku biar kau tidak kedinginan.” Kata Raffa sambil memakaikan jaket ke tubuh Kaira.
“Ah iya terimakasih.” Jawab Kaira.
“Apakah orang tuamu tau kalau kau sedang dirawat dirumah sakit?” Tanya Raffa.
“Tidak, aku memang sengaja tidak memberitahu mereka, lagipula jika mereka tau pasti mereka
akan menyalahkanku karena kurang berhati-hati.” Jawab Kaira.
“Maafkan aku ya.” Kata Raffa.
“Maaf untuk apa?” Tanya Kaira.
“Untuk semuanya terutama aku minta maaf karena memintamu datang ke taman itu. Jika
saja aku tidak menyuruhmu untuk datang kesana pasti kau tidak akan terluka
seperti ini. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku.” Kata Raffa.
“Sudahlah
lupakan saja. Aku juga minta maaf karena tidak segera menuju ke taman itu.
__ADS_1
Pasti kau menungguku sangat lama?” Tanya Kaira.
“Aku sudah bilang kan bahwa aku akan menunggumu di taman itu.” Kata Raffa.
“Memangnya ada yang ingin kau sampaikan kepadaku ditempat itu?” Tanya Kaira.
“Tentu ada.” Jawab Raffa.
“Apa?” Tanya Kaira.
“Harusnya aku
akan menyampaikan di tempat favorit kamu tapi kenapa malah aku ungkapkan
dirumah sakit.” Kata Raffa.
“Tidak apa-apa. Ada apa sebenarnya?” Tanya Kaira.
“Aku akan sampaikan semuanya saat kamu sudah sembuh saja.” Kata Raffa.
“Ih bikin
penasaran saja. Lagipula nanti saat aku sudah sembuh aku akan segera kembali ke
Indonesia.” Jawab Kaira.
“Tinggal
disini? Untuk apa aku tinggal disini. Sekarang aku sudah bekerja di restoran
dan aku hanya ingin fokus dengan masa depanku saja, aku ingin hidup tenang dan
bisa menikmati hidupku yang seharusnya bisa kunikmati dengan bahagia. Aku tidak
ingin terlalu lama terpuruk dengan semua masa laluku. Jadi aku mohon lupakan
aku ikhlaskan saja aku jangan berharap lebih kepadaku. Kita punya kehidupan
masing-masing.” Jelas Kaira.
“Bagaimana aku
bisa melupakan dan mengikhlaskanmu? Aku saja selalu terbayang-bayang akan
kehadiranmu, mungkin ini hukuman untukku dari Tuhan yang telah menyia-nyiakanmu
selama ini sehingga aku sulit melupakanmu, aku ingin selalu bersamamu
disampingmu Kaira. Aku bukanlah seperti Raffa yang dulu bukan Raffa yang kejam
__ADS_1
bukan Raffa yang suka mempermainkan wanita seperti dulu. Aku tidak bisa hidup
tanpamu. Mungkin pertemuan kita ini sudah digariskan oleh Tuhan.” Kata Raffa.
“Setiap
pertemuan pasti aka nada perpisahan. Aku berusaha menjauh darimu bahkan sudah
mengikhlaskan dirimu tapi kenapa kau kini justru hadir kembali?” Kata Kaira.
“Jujurlah
padaku, apa kau masih ada rasa untukku? Apa kau masih mencintaiku atau
mengasihaniku? Karena perasaanku saat ini tulus, sangat tulus mencintaimu
Kaira.” Kata Raffa.
Kaira hanya diam saja sambil menunduk.
“Kenapa kau
hanya diam? Jawab aku Kaira.” Kata Raffa. Lalu Kaira meneteskan air matanya dan
segera berdiri dan berjalan meninggalkan Raffa. Namun Raffa berhasil
mengejarnya dan menarik tangannya lalu memeluknya dengan erat. Kaira justru
semakin menangis tersedu-sedu sambil sesekali memukul dada dan lengan Raffa.
“Sakit sakit, lepaskan.” Pinta Kaira.
“Ada apa kau justru malah menangis?” Tanya Raffa.
“Dasar bodoh
kamu jahat kamu bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu huhuhu. Selama
ini aku aku aku” Kata Kaira sambil terus memukul dada Raffa. Raffa pun
tersenyum senang mendengar perkataan Kaira.
“Maafkan aku,
aku janji akan selalu membahagiakanmu. Sudah dong jangan nangis lagi ya, kita
ke kamar sekarang yuk udaranya makin dingin.” Kata Raffa sedangkan Kaira hanya
mengangguk.
__ADS_1