
Kaira sedang merias diri sebelum
pergi ke kondangan bersama suaminya.
“Sayang.” Kata Raffa.
“Ada apa mas?” Tanya Kaira.
“Kenapa ya aku epikiran dengan
ucapan si Rasya kemarin.” Kata Raffa.
“Masalah dokter Intan ya?” Tanya
Kaira.
“Iya, apa sebaiknya kau pindah ke
dokter lain saja. Aku khawatir sekali soalnya.” Kata Raffa.
“Baiklah kalau begitu, besok aku
akan mencari dokter kandungan baru.” Kata Kaira.
“Coba kau tanya ke Renata saja.”
Kata Raffa.
“Iya mas, aku nanti akan bertanya
padanya.” Kata Kaira.
“Aku tunggu diluar ya, kau lama
sekali kalau dandan.” Kata Raffa.
“Iya sebentar mas, aku sudah
selesai dandan kok, tinggal menata rambutku saja.” Kata Kaira.
“Aku tunggu di kamarnya Kei.”
Kata Raffa.
“Baiklah mas.” Jawab Kaira.
Setelah selesai mereka segera pergi
ke kondangan teman Raffa. Setibanya disana, Raffa asyik ngobrol dengan temannya
sedangkan Kaira menikmati makanan yang ada. Tiba-tiba ada wanita yang datang
menghampiri Kaira.
“Kau istri Raffa ya?” Tanya
wanita itu.
“Ah iya, namaku Kaira. Kalau
kamu?” Tanya Kaira.
“Aku cindy, aku teman SMA nya
Raffa dulu. Wah kau sedang hamil ya, hamil anak yang ke berapa?” Tanya Cindy.
“Hamil anak keduaku, sekarang
__ADS_1
memasuki bulan ke lima.” Kata Kaira.
“Wah selamat ya, semoga sehat
selalu sampai persalinan nanti ya. Oh ya dokter kandunganmu siapa kalau boleh
tau?” Tanya Cindy.
“Dokter kandunganku adalah dokter
Intan.” Kata Kaira.
“Dokter Intan dari rumah sakit
kasih bunda ya?” Tanya Cindy.
“Iya benar sekali, kau
mengenalnya?” Tanya Kaira.
“Tidak, dulu temanku pernah periksa
ke dokter Intan juga tapi akhirnya dia beralih ke dokter lain.” Kata Cindy.
“Loh memangnya kenapa?” Tanya
Kaira.
“Lebih baik kau beralih ke dokter
lain saja.” Kata Cindy.
“Memangnya kenapa? Tolong
beritahu aku.” Kata Kaira.
aku tidak enak jika menceritakan aib orang lain apalagi aib seorang dokter.”
Kata Cindy.
“Aku mohon beritau aku.” Kata
Kaira.
“Maaf ya aku tidak bisa, tapi
saranku lebih baik kau pindah ke dokter lainnya saja. Oh ya anak pertamamu ikut
juga?” Tanya Cindy.
“Tidak, dia sedang dirumah, dia
asyik bermain makanya tidak ikut.” Kata Kaira.
“Kalau begitu lanjutkan makanmu,
aku mau kesana dulu ya.” Kata Cindy.
“Iya, terimakasih banyak
sebelumnya.” Kata Kaira.
**
Kaira dan Raffa kembali pulang ke
rumah.
“Mas, Cindy itu teman SMA kamu
__ADS_1
ya?” Tanya Kaira.
“Iya, kenapa?” Tanya Raffa.
“Tadi dia menyapaku lalu kita
saling bertanya dan bercerita. Ternyata dia mengenal dokter Intan juga mas.” Kata
Kaira.
“Benarkah? Lalu apa katanya?”
Tanya Raffa.
“Temannya dulu periksa kandungan
ke dokter Intan tapi lama-lama beralih ke dokter lain. Waktu aku tanya
alasannya apa, Cindy tidak mau memberitahuku. Tapi dia menyarankanku untuk
beralih juga ke dokter lain. Aku jadi curiga sebenarnya ada apa dengan dokter
Intan? Apa yang salah dengannya ya?” Tanya Kaira heran.
“Mungkin dokter Intan memiliki
reputasi yang buruk di rumah sakitnya.” Kata Raffa.
“Lalu bagaimana menurutmu mas? Apakah
aku harus beralih ke dokter lain?” Tanya Kaira.
“Kalau kamu memang ragu dengan
dokter Intan ya lebih baik beralih saja sayang. Kita tidak ingin ada kejadian
lain yang bisa mengakibatkan kesehatanmu dan bayi kita.” Kata Raffa.
“Lalu apakah aku harus bicara
juga ke dokter Intan kalau aku beralih ke dokter lain?” Tanya Kaira.
“Tidak usah, langsung saja
beralih ke dokter lain. Kau coba tanya ke Renata ya.” Kata Raffa.
“Baiklah mas, aku jadi takut dan
khawatir mas, aku juga jadi curiga dengan dokter Intan. Sebaiknya aku cari tau
saja deh.” Kata Kaira.
“Tidak usah sayang, sudahlah
fokus saja dengan kesehatanmu dan bayi yang ada didalam perutmu.” Kata Raffa.
“Hmmm iya deh. Tidur yuk mas,
badanku lelah sekali.” Kata Kaira.
“Aku pijitin ya.” Kata Raffa.
“Boleh mas, tolong pijitin kakiku
dulu mas, di bagian telapak kakiku rasanya lelah sekali.” Kata Kaira.
“Oke.” Kata Raffa. Lalu Raffa
memijit istrinya dengan perlahan.
__ADS_1