
Malam itu Mayang sedang gelisah tidak bisa tidur karena merindukan keluarganya di Indonesia. Akhirnya dia
menelfon suaminya.
“Hallo.” Kata Mayang.
“Sedang apa kau? Bagaimana majikanmu kali ini?” Tanya suami Mayang, suami Mayang bernama Agung.
“Ya lumayan jika dibandingkan yang sebelumnya. Bagaimana Aliya apakah sekolahnya lancar?” Tanya Mayang.
“Dia sedang tidur karena kelelahan, seharian dia pergi berlibur bersama neneknya.” Kata Agung.
“Wah senangnya, pergi kemana?” Tanya Mayang.
“Pergi ke pantai dekat sini saja kok. Kau kapan akan pulang? Aliya sangat merindukanmu.” Tanya Agung.
“Sepertinya akhir tahun, tadi majikanku bilang kalau akhir tahun mereka akan mengajakku pulang sekalian ke
Indonesia.” Kata Mayang.
“Wah bagus kalau begitu. Aku tunggu kedatanganmu.” Kata Agung.
“Aku tutup dulu ya kalau begitu, sudah malam disini. Aku mau istirahat karena besok pagi banyak pekerjaan yang
harus aku lakukan. Lagipula majikanku ini punya seorang bayi.” Kata Mayang lalu menutup telfon suaminya.
Setelah itu, dia keluar kamar untuk mengambil minum di dapur. Betapa terkejutnya dia melihat Raffa dan Kaira sedang bercinta di atas meja makan dengan mesranya. Mayang pun akhirnya tidak jadi keluar kamar dan mengintip dari balik pintu. Dia merasa kesal dan juga cemburu dengan kemesraan majikannya tersebut.
“Bisa-bisanya mereka bercinta disana, kenapa tidak didalam kamar sih. Apakah mereka tidak takut ketahuan
olehku apakah mereka tidak malu. Sudah lama aku tidak bercinta dengan suamiku aku jadi sangat merindukannya.” Kata Mayang dalam hati.
**
__ADS_1
Keesokan paginya.
“Selamat pagi.” Kata Kaira kepada Mayang.
“Selamat pagi nyonya. Kei sudah bangun belum?” Tanya Kaira.
“Sepertinya masih tertidur, tadi saya hanya melihatnya sebentar dan dia masih tertidur.” Kata Mayang.
“Kok tumben sekali ya biasanya dia sudah bangun. Aku lihat dulu saja kalau begitu. Oh ya tolong siapkan makanan untuk tuan ya, tolong buatkan nasi goreng saja sama telur dadar.” Kata Kaira.
“Baik nyonya.” Kata Mayang, kemudian dia segera membuatkan sarapan untuk Raffa.
Tiba-tiba Kaira berteriak.
“Mas mas tolong.” Teriak Kaira.
“Ada apa?” Tanya Raffa.
“Oh itu sudah biasa kok nyonya, kemarin Kei kan imunisasi. Nanti juga akan turun kok demamnya. Anak saya dulu
juga pernah seperti itu.” Kata Mayang.
“Benarkah? Apakah perlu dibawa ke rumah sakit?” Tanya Kaira.
“Tidak perlu nyonya, nanti juga akan turun demamnya. Bolehkah saya menggendongnya?” Tanya Mayang.
“Ah iya silahkan.” Kata Kaira. Kemudian Mayang segera menggendong Kei dengan penuh kasih sayang layaknya
anaknya sendiri.
Saat Mayang tengah asyik menggendong Kei, Kaira dan Raffa membicarakan Mayang.
“Mas kenapa ya Kei kalau digendong sama si Mayang anteng banget?” Tanya Kaira.
__ADS_1
“Memangnya kalau kau yang menggendong dia akan menangis terus?” Tanya Raffa.
“Iya, kemarin saja saat Kei menangis tiba-tiba saat digendong Mayang langsung diam.” Kata Kaira.
“Mungkin karena kau ibu baru sedangkan dia sudah menjadi ibu dan anaknya sudah besar. Tidak usah terlalu dipikirkan.” Kata Raffa.
“Mungkin juga ya mas.” Kata Kaira.
“Aku sarapan di kantor saja ya, kalau nunggu kau memasak sepertinya akan lama.” Kata Raffa.
“Aku buatkan sandwich sebentar ya.” Kata Kaira.
“Tuan ini sarapannya, tadi saya membuat roti bakar. Barangkali untuk sekedar mengganjal perut, permisi saya
kembali ke kamar baby Kei dulu.” Kata Mayang.
“Ah iya terimakasih ya.” Kata Raffa.
“Mayang kalau masak cepat sekali ya, cobain mas enak tidak buatan dia?” Kata Kaira.
“Lumayan enak juga kok.” Kata Raffa.
“Mulai besok kau tidak boleh makan masakan dia, aku istrimu jadi biar aku yang memasak untukmu.” Kata Kaira.
“Ya kalau begitu, kau bangunnya harus lebih pagi dan jangan alasan karena baby Kei.” Kata Raffa.
“Iya iya.” Jawab Kaira.
“Aku berangkat dulu ya. Oh ya nanti jadi tidak makan siang bersama?” Tanya Raffa.
“Jadi mas, nanti aku kabari ya.” Kata Kaira.
“Iya.” Kata Raffa lalu pamit berangkat kerja.
__ADS_1