
Hari itu Viona
sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah namun dia tetap belum bisa bicara,
beruntungnya dia masih bisa berjalan sedikit demi sedikit. Raffa, Arabella dan
Feya menjemputnya, setibanya dirumah mereka.
“Kamu istirahat
dulu ya, aku akan mengantarmu ke kamar.” Kata Raffa. Namun Viona menolaknya dan
menggenggam tangan Raffa serta mengedipkan matanya seakan dia ingin bersama
dengan Raffa.
“Ada apa? Apa
yang kamu inginkan? Apakah kamu ingin aku tetap disampingmu?” Tanya Raffa,
Viona pun mengangguk.
Raffa pun
menuruti kemauan Viona, Viona tiduran dipelukan suaminya. Dia hanya bisa diam
dan tidak berkata apapun.
“Kamu cepat
sembuh, kamu juga harus sabar. Aku akan menjagamu, jangan khawatir.” Kata
Raffa.
“Anakmu yang
membuatku seperti ini, aku harus membalas kelakuan Feya. Dia benar-benar
membuatku tak berdaya seperti ini.” Kata Viona dalam hati.
“Pa, aku ingin
mendaftar kuliah di kampus yang sama dengan kak Arabella dan kak Kei, boleh
kan?” Tanya Feya.
“Tentu saja
boleh sayang, kapan pendaftarannya?” Tanya Raffa.
“Aku sudah
mendaftar, untuk tes tulisnya bulan depan pa.” Kata Feya.
“Belajarlah
dengan giat agar bisa diterima di kampus yang kamu inginkan.” Kata Raffa.
“Iya pa, papi
harus bantu aku agar aku bisa masuk di kampus itu, bukankah papi atau mungkin
bunda punya kenalan orang yang berpengaruh di kampus itu? Tolong bantu aku pa,
aku harus kuliah di kampus itu pokoknya pa.” Kata Feya.
“Kamu harus
berusaha, papi tidak mau kamu masuk kampus dengan jalan pintas seperti itu.”
__ADS_1
Kata Raffa.
“Ayolah pa, Feya
mohon kali ini saja. Papi dan bunda punya banyak uang dan banyak kenalan juga
jadi tolong bantulah aku ya pa.” Kata Feya.
“Aku mohon
bunda, bantulah aku.” Kata Feya sambil mencengkeram lengan Viona. Viona pun
mengangguk ke arah Raffa, Raffa pun akhirnya menyetujuinya.
“Baiklah papi
akan usahakan, tapi kamu juga harus belajar dengan giat dan jangan
bermalas-malasan.” Kata Raffa.
“Iya pa, terima
kasih banyak ya pa.” Kata Feya.
**
Keesokan
harinya, Feya sedang dirumah bersama Viona. Sedangkan Raffa bekerja dan
Arabella pergi bersama teman-temannya.
“Bunda, aku
minta kartu kredit.” Kata Feya, namun Viona tidak memperdulikannya.
“Aku akan
cepat berikan kartu kredit milik bunda.” Paksa Feya sambil mengancam akan membuang
obat milik Viona. Akhirnya Viona pun menuruti keinginan Feya, Viona menunjuk ke
arah lemari dan Feya segera membuka lemari tersebut dan mengambil kartu kredit
milik Viona.
“Bunda baik
banget deh, ini obat bunda. Obat ini luar biasa banget ya, berkat obat ini aku
bisa memerintah dan mengancam bunda hahaha. I love u bunda.” Kata Feya sambil
mencium kening Viona.
Setelah Feya
pergi, Viona perlahan berjalan menuju meja dan menuliskan sesuatu di sebuah
kertas. Dia berusaha menggerakkan jarinya namun gagal dan menjatuhkan alat
tulisnya.
**
Feya pergi
bersama teman-temannya.
“Feya bros kamu
bagus banget, beli dimana? Tas baru, sepatu baru dan semuanya bermerk lagi,
__ADS_1
pasti Bunda kamu ya yang membelikannya?” Tanya Ariana.
“Tentu saja
bunda tirinya yang membelikannya, maminya kan sekarang tidak sekaya dulu,
pantas saja papi kamu menikahi bundamu, karena bundamu jauh lebih tajir, cantik, kaya raya lagi.” Kata Aleya.
“Gila bunda kamu
tuh tajir banget, cantik banget, kaya raya lagi. Beruntung banget kamu punya
dia, kamu bisa tetap hidup enak berkat bunda kamu.” Kata Laura.
“Hati-hati aja,
bisa-bisa bunda tirimu itu mengambil dan menguasai papi kamu terus kamu di
buang deh karena kamu kan hanyalah anak tiri, untung saja kamu tinggal bersama
papi kamu.” Kata Maretha.
“Kalau aku jadi
kamu, aku akan memanfaatkannya, aku akan meminta uang sebanyak mungkin hahaha.
Tapi aku dengar bunda kamu terjatuh dari kantornya dari atap ya, kok bisa sih
Fe?” Tanya Ariana.
“Katanya ada
yang mendorongnya.” Kata Aleya.
“Wah banyak
banget yang ingin mencelakainya. Jangan-jangan mami kamu lagi yang mendorong
bunda kamu, waw anak pembunuh dong haha.” Kata Maretha.
“Berisik banget
sih, kenapa sih kalian ingin tau sekali tentang kehidupan pribadiku? Kalian iri
kan denganku?” Tanya Feya.
“Untuk apa iri
denganmu? Aku tidak mau punya ibu tiri meskipun jauh lebih kaya.” Kata Laura.
“Keluargamu tuh
berantakan banget ya, papi kamu menikah berapa kali sih Fe?” Tanya Maretha.
“Hei, jaga ya
kalau bicara, jangan sembarangan menuduh ya. Masih mending aku, daripada kalian
semua sukanya menjilat orang-orang kaya saja, kalian suka sekali mencari
kesalahan orang dan meremehkan orang lain. Dulu saat papi aku susah kalian
menjauh sekarang giliran keluargaku sudah membaik kalian mendekat, dasar
penjilat. Aku muak melihat kalian semua.” Kata Feya.
Tiba-tiba Jerry
datang menghampiri Feya dan mengajak Feya pergi.
“Jangan berani
__ADS_1
mengganggu kekasihku.” Kata Jerry. Lalu Jerry mengajak Feya pergi.