Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Part 39


__ADS_3

Hari itu Viona


sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah namun dia tetap belum bisa bicara,


beruntungnya dia masih bisa berjalan sedikit demi sedikit. Raffa, Arabella dan


Feya menjemputnya, setibanya dirumah mereka.


“Kamu istirahat


dulu ya, aku akan mengantarmu ke kamar.” Kata Raffa. Namun Viona menolaknya dan


menggenggam tangan Raffa serta mengedipkan matanya seakan dia ingin bersama


dengan Raffa.


“Ada apa? Apa


yang kamu inginkan? Apakah kamu ingin aku tetap disampingmu?” Tanya Raffa,


Viona pun mengangguk.


Raffa pun


menuruti kemauan Viona, Viona tiduran dipelukan suaminya. Dia hanya bisa diam


dan tidak berkata apapun.



“Kamu cepat


sembuh, kamu juga harus sabar. Aku akan menjagamu, jangan khawatir.” Kata


Raffa.


“Anakmu yang


membuatku seperti ini, aku harus membalas kelakuan Feya. Dia benar-benar


membuatku tak berdaya seperti ini.” Kata Viona dalam hati.


“Pa, aku ingin


mendaftar kuliah di kampus yang sama dengan kak Arabella dan kak Kei, boleh


kan?” Tanya Feya.


“Tentu saja


boleh sayang, kapan pendaftarannya?” Tanya Raffa.


“Aku sudah


mendaftar, untuk tes tulisnya bulan depan pa.” Kata Feya.


“Belajarlah


dengan giat agar bisa diterima di kampus yang kamu inginkan.” Kata Raffa.


“Iya pa, papi


harus bantu aku agar aku bisa masuk di kampus itu, bukankah papi atau mungkin


bunda punya kenalan orang yang berpengaruh di kampus itu? Tolong bantu aku pa,


aku harus kuliah di kampus itu pokoknya pa.” Kata Feya.


“Kamu harus


berusaha, papi tidak mau kamu masuk kampus dengan jalan pintas seperti itu.”

__ADS_1


Kata Raffa.


“Ayolah pa, Feya


mohon kali ini saja. Papi dan bunda punya banyak uang dan banyak kenalan juga


jadi tolong bantulah aku ya pa.” Kata Feya.


“Aku mohon


bunda, bantulah aku.” Kata Feya sambil mencengkeram lengan Viona. Viona pun


mengangguk ke arah Raffa, Raffa pun akhirnya menyetujuinya.


“Baiklah papi


akan usahakan, tapi kamu juga harus belajar dengan giat dan jangan


bermalas-malasan.” Kata Raffa.


“Iya pa, terima


kasih banyak ya pa.” Kata Feya.


**


Keesokan


harinya, Feya sedang dirumah bersama Viona. Sedangkan Raffa bekerja dan


Arabella pergi bersama teman-temannya.


“Bunda, aku


minta kartu kredit.” Kata Feya, namun Viona tidak memperdulikannya.


“Aku akan


cepat berikan kartu kredit milik bunda.” Paksa Feya sambil mengancam akan membuang


obat milik Viona. Akhirnya Viona pun menuruti keinginan Feya, Viona menunjuk ke


arah lemari dan Feya segera membuka lemari tersebut dan mengambil kartu kredit


milik Viona.


“Bunda baik


banget deh, ini obat bunda. Obat ini luar biasa banget ya, berkat obat ini aku


bisa memerintah dan mengancam bunda hahaha. I love u bunda.” Kata Feya sambil


mencium kening Viona.


Setelah Feya


pergi, Viona perlahan berjalan menuju meja dan menuliskan sesuatu di sebuah


kertas. Dia berusaha menggerakkan jarinya namun gagal dan menjatuhkan alat


tulisnya.


**


Feya pergi


bersama teman-temannya.


“Feya bros kamu


bagus banget, beli dimana? Tas baru, sepatu baru dan semuanya bermerk lagi,

__ADS_1


pasti Bunda kamu ya yang membelikannya?” Tanya Ariana.


“Tentu saja


bunda tirinya yang membelikannya, maminya kan sekarang tidak sekaya dulu,


pantas saja papi kamu menikahi bundamu, karena bundamu jauh lebih tajir, cantik, kaya raya lagi.” Kata Aleya.


“Gila bunda kamu


tuh tajir banget, cantik banget, kaya raya lagi. Beruntung banget kamu punya


dia, kamu bisa tetap hidup enak berkat bunda kamu.” Kata Laura.


“Hati-hati aja,


bisa-bisa bunda tirimu itu mengambil dan menguasai papi kamu terus kamu di


buang deh karena kamu kan hanyalah anak tiri, untung saja kamu tinggal bersama


papi kamu.” Kata Maretha.


“Kalau aku jadi


kamu, aku akan memanfaatkannya, aku akan meminta uang sebanyak mungkin hahaha.


Tapi aku dengar bunda kamu terjatuh dari kantornya dari atap ya, kok bisa sih


Fe?” Tanya Ariana.


“Katanya ada


yang mendorongnya.” Kata Aleya.


“Wah banyak


banget yang ingin mencelakainya. Jangan-jangan mami kamu lagi yang mendorong


bunda kamu, waw anak pembunuh dong haha.” Kata Maretha.


“Berisik banget


sih, kenapa sih kalian ingin tau sekali tentang kehidupan pribadiku? Kalian iri


kan denganku?” Tanya Feya.


“Untuk apa iri


denganmu? Aku tidak mau punya ibu tiri meskipun jauh lebih kaya.” Kata Laura.


“Keluargamu tuh


berantakan banget ya, papi kamu menikah berapa kali sih Fe?” Tanya Maretha.


“Hei, jaga ya


kalau bicara, jangan sembarangan menuduh ya. Masih mending aku, daripada kalian


semua sukanya menjilat orang-orang kaya saja, kalian suka sekali mencari


kesalahan orang dan meremehkan orang lain. Dulu saat papi aku susah kalian


menjauh sekarang giliran keluargaku sudah membaik kalian mendekat, dasar


penjilat. Aku muak melihat kalian semua.” Kata Feya.


Tiba-tiba Jerry


datang menghampiri Feya dan mengajak Feya pergi.


“Jangan berani

__ADS_1


mengganggu kekasihku.” Kata Jerry. Lalu Jerry mengajak Feya pergi.


__ADS_2