Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Bagian 6


__ADS_3


Arabella mulai bisa beradaptasi dengan


pekerjaannya bahkan keterampilan baristanya juga semakin baik. Sehingga Sang


Hyun menjadi sangat mengapresiasi kerja Abel, mereka tampak sangat dekat dan


sering bercanda serta sering keluar bersama untuk sekedar berbelanja kebutuhan


di kafe. Hal ini membuat Jesi menjadi cemburu terhadap Abel.



“Nanti biar aku dan Abel saja yang berbelanja


kebutuhan di kafe.” Kata Sang Hyun.



“Tidak perlu, biar aku saja yang pergi dengan


Abel. Tolong kamu jaga kafe saja ya.” Kata Jesi.



“Baiklah kalau begitu.” Kata Sang Hyun.



Jesi sibuk mengerjakan laporan keuangan sedangkan


Sang Hyun justru asyik bebincang dan bergurau dengan Abel. Jesi memperhatikan


kekasihnya yang tengah asyik berbincang dengan Abel.



“Kamu tau tidak pelanggan tadi itu pernah


membuatku tertawa hingga terbahak-bahak loh.” Kata Sang Hyun.



“Kenapa memangnya?” Tanya Abel.



“Dia pernah terpeleset lalu terbentur pintu


hahaha.” Kata Sang Hyun.



“Benarkah? Hahahaha pasti dia sangat malu.” Kata


Abel.



“Tentu saja, oh iya sepertinya kamu sekarang sudah


sangat profesional menjadi barista di kafe ini. Keterampilanmu semakin hari


semakin baik, padahal belajar menggunakan mesin kopi itu bukan perkara mudah


loh.” Kata Sang Hyun.

__ADS_1



“Sangat mudah kok jika terus berlatih, pasti kamu


tidak serius mempelajarinya kan haha.” Kata Abel.



“Enak saja, tentu saja sangat serius.” Kata Sang


Hyun.



“Bagaimana jika kita bertaruh? Kita berdua membuat


minuman dengan kreasi kita sendiri lalu siapa yang membuatnya paling enak maka


menu itu akan jadi menu andalan di kafe ini.” Kata Abel.



“Wah setuju, tapi siapa yang akan menilainya?”


Tanya Sang Hyun.



“Tentu saja pelanggan yang datang, nanti kita akan


memberikan tester lalu merekalah yang akan menilainya.” Kata Abel.



“Tapi akan memakan waktu yang lama.” Kata Sang


Hyun.



sekolah, bagaimana jika kita memberi tester kepada mereka?” Tanya Abel.



“Wah ide bagus, aku setuju. Jesi kamu setuju kan dengan


ide Abel?” Tanya Sang Hyun kepada Jesi.



“Tidak, itu akan membuang waktu saja. Tidak perlu


ada taruhan, Abel jika kamu sudah selesai dengan tugasmu, segera buang sampah di


dapur.” Kata Jesi.



“Biar aku saja yang membuangnya.” Kata Sang Hyun.



“Aku menyuruh Abel, bukan menyuruhmu.” Kata Jesi.



“Tidak apa-apa, biar aku saja.” Kata Abel.

__ADS_1



Lalu Abel segera membuang sampah dapur di tempat


pembuangan sampah, tepatnya di seberang kafe tempat ia bekerja.



Ketika dia membuang sampah tersebut, dia tidak


sengaja menabrak seorang siswa sekolah.



“Maaf saya tidak sengaja. Apakah kamu baik-baik


saja?” Tanya Abel.



“Kamu punya mata tidak? Lihat sampah itu mengenai


baju dan kamu bahkan menginjak sepatuku? Apakah kamu tau sepatuku ini sangat


mahal, bahkan gajimu saja tidak akan bisa membeli sepatuku. Cepat minta maaf


padaku dan berlututlah di depanku dan tean-temanku, katakan jika kamu sangat


menyesal karena menabrakku.” Kata siswa tersebut.



“Aku bahkan sudah meminta maaf padamu tadi, tapi


apakah tidak keterlaluan jika harus berlutut? Aku bahkan lebih tua darimu.”


Kata Abel membela diri.



“Kalau kamu tidak mau melakukannya, aku bisa


membuatmu dipecat dari tempat kerjamu bahkan aku bisa menutup kafe itu hanya


dengan satu panggilan saja.” Kata siswa tersebut.



“Aku tidak takut denganmu, kamu bahkan masih anak


SMA tapi kamu tidak memiliki sopan santun kepada orang yang lebih tua darimu.


Apakah orang tuamu tidak mengajarimu untuk bersikap lebih sopan kepada orang


lain?” Kata Abel kesal.



“Jadi kamu berani padaku? Baiklah aku akan


membuatmu menyesal dan memohon padaku.” Kata siswa tersebut.



“Silahkan lakukan apapun yang kamu inginkan, yang


penting aku sudah meminta maaf.” Kata Abel, lalu dia pergi meninggalkan siswa

__ADS_1


tersebut.


__ADS_2