
Arabella mulai bisa beradaptasi dengan
pekerjaannya bahkan keterampilan baristanya juga semakin baik. Sehingga Sang
Hyun menjadi sangat mengapresiasi kerja Abel, mereka tampak sangat dekat dan
sering bercanda serta sering keluar bersama untuk sekedar berbelanja kebutuhan
di kafe. Hal ini membuat Jesi menjadi cemburu terhadap Abel.
“Nanti biar aku dan Abel saja yang berbelanja
kebutuhan di kafe.” Kata Sang Hyun.
“Tidak perlu, biar aku saja yang pergi dengan
Abel. Tolong kamu jaga kafe saja ya.” Kata Jesi.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Sang Hyun.
Jesi sibuk mengerjakan laporan keuangan sedangkan
Sang Hyun justru asyik bebincang dan bergurau dengan Abel. Jesi memperhatikan
kekasihnya yang tengah asyik berbincang dengan Abel.
“Kamu tau tidak pelanggan tadi itu pernah
membuatku tertawa hingga terbahak-bahak loh.” Kata Sang Hyun.
“Kenapa memangnya?” Tanya Abel.
“Dia pernah terpeleset lalu terbentur pintu
hahaha.” Kata Sang Hyun.
“Benarkah? Hahahaha pasti dia sangat malu.” Kata
Abel.
“Tentu saja, oh iya sepertinya kamu sekarang sudah
sangat profesional menjadi barista di kafe ini. Keterampilanmu semakin hari
semakin baik, padahal belajar menggunakan mesin kopi itu bukan perkara mudah
loh.” Kata Sang Hyun.
__ADS_1
“Sangat mudah kok jika terus berlatih, pasti kamu
tidak serius mempelajarinya kan haha.” Kata Abel.
“Enak saja, tentu saja sangat serius.” Kata Sang
Hyun.
“Bagaimana jika kita bertaruh? Kita berdua membuat
minuman dengan kreasi kita sendiri lalu siapa yang membuatnya paling enak maka
menu itu akan jadi menu andalan di kafe ini.” Kata Abel.
“Wah setuju, tapi siapa yang akan menilainya?”
Tanya Sang Hyun.
“Tentu saja pelanggan yang datang, nanti kita akan
memberikan tester lalu merekalah yang akan menilainya.” Kata Abel.
“Tapi akan memakan waktu yang lama.” Kata Sang
Hyun.
sekolah, bagaimana jika kita memberi tester kepada mereka?” Tanya Abel.
“Wah ide bagus, aku setuju. Jesi kamu setuju kan dengan
ide Abel?” Tanya Sang Hyun kepada Jesi.
“Tidak, itu akan membuang waktu saja. Tidak perlu
ada taruhan, Abel jika kamu sudah selesai dengan tugasmu, segera buang sampah di
dapur.” Kata Jesi.
“Biar aku saja yang membuangnya.” Kata Sang Hyun.
“Aku menyuruh Abel, bukan menyuruhmu.” Kata Jesi.
“Tidak apa-apa, biar aku saja.” Kata Abel.
__ADS_1
Lalu Abel segera membuang sampah dapur di tempat
pembuangan sampah, tepatnya di seberang kafe tempat ia bekerja.
Ketika dia membuang sampah tersebut, dia tidak
sengaja menabrak seorang siswa sekolah.
“Maaf saya tidak sengaja. Apakah kamu baik-baik
saja?” Tanya Abel.
“Kamu punya mata tidak? Lihat sampah itu mengenai
baju dan kamu bahkan menginjak sepatuku? Apakah kamu tau sepatuku ini sangat
mahal, bahkan gajimu saja tidak akan bisa membeli sepatuku. Cepat minta maaf
padaku dan berlututlah di depanku dan tean-temanku, katakan jika kamu sangat
menyesal karena menabrakku.” Kata siswa tersebut.
“Aku bahkan sudah meminta maaf padamu tadi, tapi
apakah tidak keterlaluan jika harus berlutut? Aku bahkan lebih tua darimu.”
Kata Abel membela diri.
“Kalau kamu tidak mau melakukannya, aku bisa
membuatmu dipecat dari tempat kerjamu bahkan aku bisa menutup kafe itu hanya
dengan satu panggilan saja.” Kata siswa tersebut.
“Aku tidak takut denganmu, kamu bahkan masih anak
SMA tapi kamu tidak memiliki sopan santun kepada orang yang lebih tua darimu.
Apakah orang tuamu tidak mengajarimu untuk bersikap lebih sopan kepada orang
lain?” Kata Abel kesal.
“Jadi kamu berani padaku? Baiklah aku akan
membuatmu menyesal dan memohon padaku.” Kata siswa tersebut.
“Silahkan lakukan apapun yang kamu inginkan, yang
penting aku sudah meminta maaf.” Kata Abel, lalu dia pergi meninggalkan siswa
__ADS_1
tersebut.