
Kasih masih kesal dengan suaminya sehingga dia pergi bekerja tanpa ijin suaminya. Namun Rey berusaha ingin mengantar Kasih ke tempat kerjanya.
“Kasih.” Panggil Rey.
“Ada apa sih mas? Aku pergi dulu.” Kata Kasih.
“Aku antar ya hari ini.” Kata Rey.
“Tidak usah, aku bisa pergi sendiri.” Kata Kasih.
“Jangan marah dong padaku, aku saja tidak tau salahku apa.” Kata Rey.
“Pikirkan lagi apa kesalahanmu mas, aku tidak akan pernah memberitahumu kesalahan apa yang membuatku kesal denganmu mas.” Kata Kasih.
“Dosa loh marah sama suami itu.” Kata Rey.
“Dosa loh mas memiliki hubungan dengan wanita lain padahal kamu sudah memiliki istri.” Kata Kasih.
“Tapi kan kita dijodohkan dan saat itu aku sudah memiliki tunangan.” Kata Rey.
“Kalau begitu pilih salah satu mas, kamu memilih istrimu yang sudah sah atau dengan wanita itu yang tidak sah dan haram untukmu mas.” Kata Kasih.
“Tidak bisa begitu Kasih, aku mohon jangan seperti ini padaku, jangan memberiku pilihan yang sulit padaku.” Kata Rey.
“Aku lelah mas menjadi istri pura-pura, aku juga ingin diperlakukan layaknya seorang istri, aku bahkan telah memberikan semuanya untukmu.” Kata Kasih tiba-tiba meneteskan air matanya. Kemudian Rey mendekati dan memeluk istrinya.
“Maafkan aku telah membuatmu menangis, tapi tolong beri aku waktu untuk memikirkan masalah ini ya. Aku tidak bisa memutuskan wanita itu begitu saja, dia banyak berjuang untukku tapi aku juga tidak ingin membuatmu bersedih.” Kata Rey.
Tiba-tiba ponsel Kasih berdering.
“Aku harus menerima panggilan ini mas.” Kata Kasih.
“Siapa sih pagi-pagi begini menelfonmu?” Tanya Rey.
“Dia temanku kuliah sekaligus rekan kerjaku mas.” Kata Kasih.
__ADS_1
“Laki-laki atau perempuan?” Tanya Rey.
“Laki-laki, kenapa memangnya?” Tanya Kasih.
“Loudspeaker kalau begitu.” Kata Rey.
“Kita sepakat untuk tidak saling ikut campur dalam masalah pekerjaan mas.” Kata Kasih lalu menerima panggilan tersebut, tampaknya Rey cemburu melihat istrinya menerima panggilan dari rekan kerjanya.
Tak lama kemudian Kasih selesai menerima panggilan dari rekan kerjanya.
“Bahagia sekali setelah menelfon dia.” Kata Rey.
“Tentu saja, minggir mas aku mau masuk mobil.” Kata Kasih.
“Kenapa kamu tidak ganti mobil saja? Mobilmu jelek dan lihat tahun berapa mobilmu itu, apa kamu tidak malu?” Kata Rey.
“Tidak, aku membeli mobil ini dari hasil kerja kerasku mas dan mobilnya masih layak untuk dipakai bahkan perjalanan jauh sekalipun.” Kata Kasih.
“Mobilmu itu sudah waktunya ganti, aku antar saja biar bisa ngebut.” Kata Rey.
**
Setibanya di tempat kerja Kasih.
“Aku turun dulu mas.” Kata Kasih.
“Kamu ada seminar kan? Berarti aku boleh hadir dong.” Kata Rey.
“Boleh saja tapi kamu tidak kerja mas?” Tanya Kasih.
“Aku hari ini libur, aku juga ingin mengetahui caramu bekerja.” Kata Rey.
“Kamu cemburu ya mas gara-gara rekan kerjaku menelfonku tadi makanya kamu ingin mengawasiku?” Tanya Kasih.
“Aku cemburu? Mana mungkin aku cemburu, sama sekali tidak. Dimana tempat seminarnya? Tunjukkan jalannya.” Kata Rey.
__ADS_1
“Hmmmm gengsi banget mengakui kalau kamu cemburu mas mas.” Kata Kasih.
Tiba-tiba rekan kerja Kasih datang menghampiri Kasih.
“Kasih Assalamualaikum.” Kata Dava.
“Walaikumsalam Dava.” Kata Kasih.
“Dia siapa?” Bisik Dava.
“Oh kenalkan ini suamiku namanya mas Rey.” Kata Kasih.
“Hai aku Rey suaminya Kasih.” Kata Rey sambil menggandeng tangan Kasih.
“Oh iya aku Dava rekan kerja sekaligus teman kuliah Kasih.” Kata Dava sambil tersenyum melihat kelakuan Rey.
“Hmmmm suamimu cemburuan ternyata, kabur dulu ah.” Bisik Dava lalu pergi.
“Jangan sok akrab dengannya, aku tidak suka.” Kata Rey.
“Dia itu sahabatku mas, lagipula dia sebentar lagi menikah kok mas.” Kata Kasih.
“Tetap saja aku tidak suka dengannya, dia seperti cari perhatian kepadaku.” Kata Rey.
“Dia bukan cari perhatian mas tapi kamu yang cemburuan.” Kata Kasih sambil cekikikan.
Hai semuanya
author mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri ya.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Selamat berkumpul dengan keluarga.
Ditunggu like nya ya, terima kasih.
__ADS_1