
Di kantor.
Didalam lift, dia satu lift
dengan bawahannya yang seringkali menatap Adena sehingga membuat Adena menjadi
risih.
“Selamat pagi miss Adena.” Kata
Reno.
“Di kantor tidak ada panggilan
miss, yang ada itu ibu dan bapak. Kamu ini tidak sopan sekali ya.” Gerutu
Adena.
“Hehehe maaf ya bu cantik, oh iya
bu Adena tadi dari rumah berangkat jam berapa? Aku dengar jarak rumah ibu
dengan kantor lumayan jauh ya.” Kata Reno.
“Bukan urusanmu, siapkan laporan
meeting untuk nanti siang, saya tunggu di meja saya jam 9.” Kata Adena lalu
langsung keluar lift.
“Baik bu.” Jawab Reno.
“Sialan, lagi-lagi dikerjain sama
seorang janda.” Gerutu Reno.
“Hush nanti kedengaran bu Adena
bisa-bisa kamu dipindah ke divisi lain loh ya.” Kata Meta rekan kerja Reno yang
juga bawahan Adena.
“Realitanya kan seperti itu Met,
sayang sekali ya wanita secantik bu Adena saja diceraikan sama suaminya, kurang
apa coba bu Adena itu, seandainya aku lahir lebih dahulu dan aku cukup kaya
pasti aku akan menikahinya, pegawai biasa sepertiku mana bisa mendapatkan bu Adena.
Bu Adena sudah punya anak belum sih?” Tanya Reno kepada Meta.
“Sudah, aku kan berteman dengan
bu Adena di social media. Dia sering kok mengunggah foto berdua bersama
__ADS_1
anaknya, anaknya ganteng putih banget lagi.” Kata Meta.
“Sudah besar ya anaknya?” Tanya
Reno.
“Paling umur 3 tahunan deh, dia
sering menunggah status juga kok, kadang keluar sama anaknya atau sama
keluarganya, ya layaknya keluarga yang paling harmonis.” Kata Meta.
“Oh begitu, oh iya kenapa sih bu
Adena sampai bercerai dua kali?” Tanya Reno.
“Kalau masalah itu aku tidak
tau.” Kata Meta.
“Ayo kita siap-siap untuk
meeting, bantu aku menyiapkan bahan untuk meeting ya.” Kata Reno.
“Traktir aku makan siang hari ini
dan besok ya.” Kata Meta.
“Hmmm mini namanya pemerasan.”
“Kalau begitu aku tidak mau
membantumu.” Ancam Meta.
“Iya deh iya, tapi besok minum
saja ya, tanggal tua nih.” Kata Reno.
“Hmmmm baiklah.” Kata Meta.
**
Meeting.
Meeting kali ini dihadiri oleh
beberapa direksi termasuk anak buahnya Adena, Meta dan Reno pun juga ikut.
Meeting berjalan dengan lancar karena memang persiapan dari tim nya Adena
sangat baik. Ada salah satu rekan kerja Adena yang sangat ingin mengincar posisi
Adena, awalnya dia dulunya dipromosikan menjadi kepala divisi namun karena
kinerja Adena jauh lebih baik dan juga Adena lebih berpengalaman serta
__ADS_1
seringkali berhasil dalam proyek yang dia pimpin sehingga Adena lah yang
menjadi kepala divisi. Selesai Meeting, lagi-lagi rekan kerja Adena tersebut
mengganggu Adena dengan menyindir dan menghina Adena.
“Hai, lama tak bertemu denganmu
Ibu Adena.” Sapa Eva.
“Siang bu Eva, saya permisi dulu
ya, sudah jam istirahat saatnya makan siang juga.” Kata Adena yang sudah sangat
malas meladeni si Eva.
“Kenapa buru-buru sih bu? Santai
saja dong, lagipula ibu saat jam istirahat juga pasti hanya makan saja kan? Mau
telfon suami eh sekarang jadi janda alias dicerai sama suami ups.” Kata Eva,
seketika para pekerja lain yang masih ada di ruangan tersebut pun tercengang.
“Memangnya kenapa kalau saya
janda? Yang penting saya happy dan yang paling penting lagi yaitu anak saya
sehat dan bahagia.” Jawab Adena.
“Jangan marah, aku kan hanya
bercanda bu. Oh iya tidak ada rencana buat menikah lagi nih bu? Mumpung masih
muda loh, nanti kalau sudah tua mana ada laki-laki yang mau sama ibu ups.” Kata
Eva.
“Saya mau menikah lagi atau tidak
juga bukan urusan anda ya, lagipula saya tidak menikah dengan sembarang laki-laki,
tidak seperti anda yang yah semua orang juga tau kalau ibu adalah istri kedua
kan ups.” Kata Adena lalu dia langsung pergi sambil memberikan senyuman sinis
kepada Eva.
“Dasar kurang ajar, lihat saja
nanti ya.” Kata Eva.
“Dia tidak akan seperti itu jika
ibu tidak memulainya duluan.” Kata salah satu rekan kerja.
__ADS_1