
Arka mengikuti
taxi Kaira. Namun Kaira tidak mengetahuinya.
Dalam hatinya, “Kenapa Kaira ke bandara? Apa dia mau pergi?
Tapi kemana ya? Atau dia mau ketemu seseorang ya, aku harus ikuti dia.”
Setibanya di
bandara, Kaira segera turun dari taxi dan segera menuju airport internasional. Dia
mencari-cari Raffa di sekeliling namun tak kunjung terlihat. Dia sangat cemas
dan gelisah serta takut tidak akan bisa bertemu dengan Raffa untuk selamanya. Tiba-tiba
dari belakang ada yang menepuk pundak Kaira.
“Hai.”
“Raffa?” Kata
Kaira dengan kaget.
Yang menepuk
pundak Kaira adalah Raffa. Raffa sangat senang karena Kaira datang untuk
menemuinya.
“Aku sangat
khawatir kalau kamu tidak datang kesini.” Kata Raffa.
“Memangnya kau
akan pergi kemana dan berapa lama disana?” Tanya Kaira.
“Aku akan pergi
ke Jepang, mungkin untuk selamanya. Aku ingin tinggal dengan tenang disana dan
membuka lembaran hidup baru, aku juga akan melupakan semua kejadian dan
kenangan buruk yang ada disini dan fokus menata masa depanku yang lebih baik
disana.” Kata Raffa.
“Termasuk aku?”
Tanya Kaira.
“Aku akan Tanya
untuk yang terakhir kalinya padamu. Apa kau tidak bisa memberiku kesempatan
__ADS_1
lagi?” Tanya Raffa.
“Aku tidak bisa
menjawab pertanyaanmu saat ini.” Kata Kaira.
“Lalu untuk apa
kau jauh-jauh datang kesini bahkan sampai berlarian?” Tanya Raffa.
“Aku hanya
mampir sebentar.” Kata Kaira.
“Aku masih
mencintaimu, benar-benar mencintaimu. Namun jika kamu tidak bisa memberiku
kesempatan atau kita memang benar-benar tidak bisa kembali aku akan mundur dan
merelakanmu hidup bahagia dengan orang lain dan aku janji aku tidak akan
mengganggumu lagi.” Kata Raffa.
“Aku aku aku”
Kata Kaira sambil terbata-bata.
“Aku harus
cincin pernikahan kita. Aku mencintaimu.” Bisik Raffa.
Lalu Raffa
segera pergi meninggalkan Kaira. Kaira masih terdiam dan termenung memikirkan
apakah dia harus kembali pulang atau mengatakan perasaan yang sejujurnya pada
Raffa.
Dalam hati Kaira, “Dia masih memakai cincin pernikahan itu
dan aku bisa melihat kesungguhan dirinya. Karena aku tau jika dia berkata jujur
matanya selalu berkaca-kaca dan jika dia berbohong matanya selalu membuatku
ketakutan. Yang kulihat tadi matanya sedang berkaca-kaca, berarti dia
benar-benar serius denganku. Aku juga masih sangat mencintainya bahkan ingin
kembali dengannya. Tunggu aku.”
Lalu Kaira
mengejar Raffa, namun sayangnya Raffa sudah masuk untuk melakukan boarding
__ADS_1
pass. Kaira menerobos masuk namun ditahan oleh security.
“Saya mohon
pak, saya ingin menemui seseorang. Laki-laki itu pak yang memakai kemeja biru. Saya
mohon pak sebentar saja. Kasih saya waktu 30 detik saja.”
“Maaf tidak
bisa bu.” Kata security.
Tiba-tiba Arka
datang menemui Kaira.
“Sudahlah, ayo
kita pergi dari sini.” Ajak Arka.
“AKu hanya
ingin bertemu sebentar saja.” Kata Kaira.
“Tapi kan tidak
bisa masuk. Ayo kita pulang saja.” Ajak Arka.
Dari kejauhan
Raffa melihat Kaira sedang bersama Arka. Dalam hatinya, “Ternyata dia lebih
memilih Arka. Semoga kau bahagia dengannya. Aku disini masih sangat mencintaimu
Kaira.”
Lalu Raffa
segera menuju gate pesawat sedangkan Kaira dan Arka kembali pulang. Sepanjang perjalanan,
Kaira terus saja menangis tanpa henti.
“Sudahlah. Apa kau
tidak bisa melupakannya?” Bentak Arka.
“Turunkan aku
disini.” Kata Kaira.
“Tidak. Sampai kapan
kau akan seperti ini. Tolong mengertilah bagaimana perasaanku.” Kata Arka.
Kaira hanya
__ADS_1
terdiam sambil menghapus air matanya.