
Adena Bianca Calandra, janda
cantik berusia 31 tahun yang bekerja sebagai kepala divisi di salah satu
perusahaan bergengsi di ibukota. Kedudukan dan posisinya di kantornya memang
menjadi incaran para pegawai, selain karena gaji dan tunjangannya, juga
seringkali melakukan perjalanan baik dalam negri maupun luar negri. Parasnya yang
cantik dan tubuhnya yang ideal juga menjadi incaran para laki-laki di kantornya
namun Adena enggan membuka hatinya karena telah gagal berumah tangga
sebelumnya. Dia tinggal seorang diri karena anaknya dengan mantan suami
pertamanya tinggal bersama neneknya (ibunya Adena), sejak kecil memang anaknya
lebih sering bersama ibunya sehingga anaknya lebih memilih untuk tinggal
bersama neneknya.
Pagi itu Adena sedang memasak
untuk sarapan dan bekal untuk makan siang di kantornya, selain itu dia juga
sambil menelfon anak laki-lakinya yang bernama Abercio Alteza Putra.
“Pagi ma, Aber sudah makan belum?”
Tanya Adena.
“Dia sarapan, hari ini dia ingin
sarapan sereal.” Jawab Meylinda, ibunda Adena.
“Minggu besok Andre ingin bertemu
dengan Abercio, aku takut ma kalau Andre akan bersikap kasar kepada Abercio.”
Kata Adena.
“Tidak mungkin, dia akan ayahnya
mana mungkin dia bersikap kasar kepada anaknya sendiri. Lebih baik temani saja
saat Andre bertemu dengan Abercio.” Kata Meylinda.
“Aku tidak yakin Abercio mau
__ADS_1
bertemu dengan daddy nya. Hmmmmm jumat malam aku akan menjemput Abercio ya ma.”
Kata Adena.
“Iya, mama perlu ikut juga tidak?”
Tanya Meylinda.
“Tidak usah ma, mumpung Abercio
tinggal denganku, ini saatnya mama dan papa berquality time.” Kata Adena.
“Benar juga ya, oh iya adikmu
carikan kerja ya. Mama tidak suka melihat dia setiap malam selalu pergi bersama
teman-temannya, sepertinya dia pergi clubbing deh, bajunya saja seperti itu.
Mama juga sudah lelah menasehatinya, tolong carikan kerja untuk adikmu ya.” Kata Meylinda.
“Kemarin Aleya menelfonku memang
ingin bekerja dan memintaku mencarikan kerja ma, nanti aku coba carikan ya ma, oh
iya bagaimana kabar kak Bastian ma? Dia baik-baik saja kan ma? Kemarin istrinya
rumahnya.” Kata Adena.
“Bastian setiap hari pulang ke
rumah mama, katanya dia tidak tahan dengan istrinya si Amel itu. Katanya setiap
hari kerjaannya marah-marah saja dan selalu memarahi kakakmu bahkan tidak
peduli lagi dengan kakakmu, mama pusing melihatnya. Papa kamu sudah menyuruhnya
pulang tapi katanya nanti dulu.” Kata Meylinda.
“Kasihan sekali kak Bastian, tapi
aku lebih kasihan lagi dengan anaknya kak Bastian ma.” Kata Adena.
“Kakakmu membawa anaknya, jadi
setiap hari mama harus mengurusi dua cucu mama, anakmu dan juga anaknya kakakmu
rasanya luar biasa.” Kata Meylinda.
“Oh, aku kira anaknya kak Bastian
__ADS_1
sama kak Amel.” Kata Adena.
“Si Amel itu kan memang tidak
terlalu peduli dengan anaknya, padahal anaknya sendiri. Kamu tidak terlambat
kerja?” Tanya Meylinda.
“Belum juga aku bicara dengan
Abercio ma, tolong sambungkan telfonnya ke Abercio ya ma.” Kata Adena.
“Tunggu sebentar ya.” Kata
Meylinda.
“Mami.” Panggil Abercio.
“Hai sayang, anak gantengnya mami.
Mami rindu sekali sayang.” Kata Adena.
“Cio juga rindu sama mami, kapan mami
jemput Cio?” Tanya Abercio.
“Hari jumat ya sayang, Abercio
mau dibelikan apa?” Tanya Adena.
“Mainan yang banyak ya.” Kata
Abercio.
“Siap, tapi menginap dirumah mami
ya.” Kata Adena.
“Iya mami, Cio berangkat sekolah
dulu ya mami.” Kata Abercio.
“Iya sayang, sekolah yang rajin
ya.” Kata Adena.
Abercio saat ini berusia tiga
tahun dan sekolah di paud dekat rumah ibunya.
__ADS_1