
Rey benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan, akhirnya dia memilih berdamai dan membuat kesepakatan dengan istrinya. Esok harinya, dia menghampiri istrinya yang sedang sibuk di dapur.
“Kasih.” Kata Rey namun Kasih tidak memperdulikannya.
“Bapak tumben didapur? Mau menemani ibu memasak atau ingin memarahi ibu?” Tanya mbok Sri.
“Apaan sih mbok ganggu saja. Cepat pergi sana ke balakang.” Kata Rey.
“Tugas saya kan membantu melakukan pekerjaan rumah, eh bapak malah mengusir saya.” Kata mbok Sri.
“Mbok itu tandanya bapak ingin bicara berdua sama saya.” Kata Kasih.
“Oh begitu ya, baik bu saya ke belakang dulu, kalau bapak jahat sama ibu panggil si mbok ya.” Kata mbok Sri.
“Sejak kapan saya jahat mbok? Mbok jangan mengada-ngada ya, aku pecat baru tau rasa loh ya.” Kata Rey.
“Yang berhak memecat saya itu cuma ibu.” Kata mbok Sri, lalu dia segera pergi ke halaman rumah dan Rey mulai bicara dengan Kasih.
“Kasih aku ingin bicara denganmu.” Kata Rey.
“Ada apa mas? Aku buru-buru karena ada meeting dengan dokter yang lain.” Kata Kasih.
“Sebentar saja, please.” Kata Rey.
“Kalau kamu membahas wanita itu maaf mas aku tidak ada waktu. Sarapannya sudah siap, silahkan dimakan mas, aku harus berangkat ke rumah sakit sekarang juga.” Kata Kasih.
“Istri harus ijin dulu sama suami loh dan haram hukumnya kalau bersikap cuek kepada suami.” Kata Rey.
__ADS_1
“Lalu hukumnya suami menemui wanita lain yang bukan muhrimnya bahkan saling berpelukan apa dong mas?” Tanya balik Kasih.
“Tidak sengaja itu.” Kata Rey.
“Mana ada berpelukan tidak sengaja mas mas, sudahlah aku mau pergi sekarang biar tidak terlambat.” Kata Kasih.
“Aku antar saja ya.” Kata Rey.
“Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri.” Jawab Kasih.
“Aku ini suamimu loh.” Gerutu Rey karena merasa tidak diperhatikan.
“Aku tau mas, tapi kesepakatan yang kamu buat adalah kita dirumah ini melakukan kesibukan kita masing-masing dan tidak ikut campur dengan masalah pribadi.” Kata Kasih.
“Pokoknya hari ini aku yang akan mengantarmu.” Gerutu Rey lalu dia langsung bergegas ke kamarnya untuk ganti pakaian, Kasih tersenyum melihat tingkah suaminya tersebut.
“Dasar suami kelakuannya kayak anak kecil lucu banget sih.” Kata Kasih dalam hati.
Rey dan Kasih terjebak macet.
“Aduh bagaimana ini mas, aku bisa terlambat kalau seperti ini.” Kata Kasih.
“Ya sabar dong, mobilku juga tidak bisa jalan ini karena terjebak macet.” Kata Rey.
“Aku turun saja mas, aku mau naik kereta komuter saja biar cepat sampai.” Kata Kasih.
“Tunggu, aku ikut juga.” Kata Rey.
__ADS_1
“Terus mobilmu bagaimana mas?” Tanya Kasih.
“Aku parkir di rest area saja, terus kita ke stasiun bareng.” Kata Rey.
“Aku bisa sendiri kok mas, beneran deh.” Kata Kasih.
“Tapi aku khawatir denganmu Kasih.” Bentak Rey yang membuat Kasih tersenyum.
“Sejak kapan kamu khawatir denganku mas?” Tanya Kasih.
“Jangan banyak bicara deh.” Kata Rey.
“Kamu khawatir atau takut aku akan mengusirmu dari rumah?” Tanya Kasih.
“Takut diusir dari rumah lah, lagian kenapa juga sih papa memberi rumah tapi atas nama kamu.” Kata Rey.
“Karena papa dan mama sangat mempercayaiku mas, mungkin mereka takut jika kamu memperlakukanku dengan buruk makanya rumah itu atas nama aku.” Kata Kasih.
Beberapa menit kemudian, Rey berhasil memarkir mobilnya di rest area setelah itu dia dan Kasih berlari menuju ke stasiun. Kasih yang terbiasa mengendarai kereta komuter tampak biasa dan segera membeli tiket sedangkan Rey tampak kebingungan.
“Ayo mas kita ke jalur 3, kita lewat lift sebelah sana.” Kata Kasih.
“Keren sekali di stasiun ada lift nya segala.” Kata Rey tampak heran.
“Memangnya kamu belum pernah naik kereta mas?” Tanya Kasih.
“Terakhir kali aku naik kereta itu kelas 6 SD.” Kata Rey.
__ADS_1
“Hmmm sudah banyak perubahan kalau sekarang mas. Ayo kita kita naik lift dulu.” Kata Kasih langsung berlari menuju ke lift sedangkan Rey masih mondar-mandir memandangi sekeliling.
“Kasih tunggu aku Kasih Kasih.” Teriak Rey.