Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)

Perjanjian Pernikahan (Kisah Cinta Seorang Janda Cantik)
Part 72


__ADS_3

Arabella tiba di


Indonesia, dia segera menuju hotel. Setibanya di hotel dia menelfon Kaira.


“Mami.” Kata


Arabella.


“Iya sayang.”


Kata Kaira.


“Aku sedang di


Jakarta sekarang.” Kata Arabella.


“Benarkah? Mami


senang sekali mendengarnya. Mami akan kesana bersama papi. Kamu dimana


sekarang?” Tanya Kaira.


“Temui aku satu


jam lagi di kafe A ya.” Kata Arabella.


“Iya sayang,


terima kasih banyak ya.” Kata Kaira.


Lalu Kaira dan


Raffa bersiap-siap untuk segera menemui Arabella. Sedangkan Feya sedang sibuk


fitting baju untuk acara ulang tahunnya nanti malam.


**


Pesta ulang


tahun Feya.


Semua tamu


undangan dan keluarga telah hadir di acara tersebut. Feya dan Jerry juga telah


mengumumkan berita bahagia yaitu kehamilan Feya. Saat acara makan-makan,


Arabella datang lalu mengucapkan selamat kepada Feya dan Jerry.


“Selamat ya,


pasti kalian sangat bahagia menantikan kelahiran anak itu. Kalian benar-benar


luar biasa. Tapi kenapa ekspresimu seperti itu Feya?” Tanya Arabella.


“Terima kasih


telah datang kak, kakak apa kabar? Kakak baik-baik saja kan?” Tanya Feya.


“Kamu bisa lihat


sendiri bagaimana keadaanku saat ini seperti apa, tentu saja aku baik-baik


saja.” Kata Arabella.


“Terima kasih


atas ucapannya. Kapan kamu tiba di Indonesia?” Tanya Jerry.

__ADS_1


“Tadi siang, oh


iya terima kasih telah mengirimkan undangan acara ini padaku.” Kata Arabella,


lalu dia pergi untuk menemui Kaira.


“Kamu


mengirimkan undangan ke kak Arabella mas?” Tanya Feya.


“Iya, bukankah


kamu juga menginginkan dia untuk datang.” Kata Jerry.


“Kamu masih


sering komunikasi dengan dia mas? Apakah kamu juga sering mengirim pesan


padanya?” Tanya Feya curiga.


“Memangnya salah


jika aku ingin bersikap baik dengan kakak iparku?” Tanya Jerry.


“Jelas salah,


bagaimanapun juga dia adalah mantan pacar kamu mas, aku tidak suka jika kamu


sering mengirim pesan padanya.” Kata Feya.


“Jangan


khawatir, lagipula dia tidak pernah membalas pesanku, aku mengirim pesan


melalui email karena aku tidak tau nomor ponselnya maupun social medianya.”


“Tetap saja aku


tidak menyukainya mas.” Kata Feya.


“Haruskah kita


bertengkar di hari spesialmu? Jaga ucapanmu banyak tamu yang hadir.” Kata


Jerry.


Kemudian Feya


mengajak Arabella untuk berbicara di suatu tempat.


“Aku tunggu


diluar sekarang.” Bisik Feya.


“Bicara saja di


sini, aku tidak ingin tiba-tiba kamu mendorongku ke kolam renang sama seperti


saat kamu mendorong bunda dari atap.” Bisik Arabella.


“Ikut aku


sekarang juga.” Ajak Feya sambil menarik tangan Arabella.


“Lepaskan


tanganku.” Kata Arabella.


“Apa maksud

__ADS_1


ucapanmu barusan?” Tanya Feya.


“Kenapa? Apakah


ucapanku tadi benar?” Tanya Arabella.


“Itu tidak


benar.” Kata Feya.


“Ini kalungmu


kan? Bagaimana bisa kalung ini ada di saku baju milik bunda?” Tanya Arabella.


“Memangnya


kalung ini hanya aku yang memilikinya? Siapa tau itu milik bunda Viona. Aku tau


kamu merasa terpukul dan kehilangan sosok bunda tapi aku juga tidak suka jika


kamu mencurigaiku dengan mengatakan bahwa akulah yang mendorong bunda.” Kata


Feya.


“Buktikan jika


ini bukanlah milikmu. Sepertinya bunda ingin berbicara tapi dia menyimpan


kalung ini sebagai bukti. Haruskah aku membuka kasus ini kembali untuk


menyelidikinya?” Kata Arabella.


“Kasus itu sudah


ditutup, biarkan bunda istirahat dengan tenang dan jangan menuduh orang


sembarangan.” Kata Feya.


“Lalu kenapa


waktu itu tidak ada rekaman cctv? Apakah ada seseorang yang menghapusnya?”


Tanya Arabella.


“Apakah kamu


menuduhku melakukannya? Sepertinya kakak sudah tidak waras alhasil menuduh


orang sembarangan dan bahkan kakak sudah membuat bukti palsu. Mana buktinya


jika kalung itu disimpan di saku baju bunda? Apakah kakak bisa membuktikannya?


Lalu kenapa kakak sangat yakin bahwa kalung itu milikku?” Tanya Feya, Arabella


hanya diam saja karena dia tidak memiliki bukti bahwa kalung itu milik Feya.


“Kenapa diam saja? Kakak tidak memiliki buktinya


kan? Sudahlah kak biarkan bunda tenang dan mari kita doakan dia, bukan malah


kita saling menuduh satu sama lain.” Kata Feya sambil memeluk Arabella.


 


 


Info :


Jangan lupa like nya ya teman-teman pembaca dan pastikan kalian tidak ketinggalan dengan update episode selanjutnya dari cerita novel terbaruku yang berjudul "Terpaut Usia 15 Tahun". Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2