
Bab 8
Helen terkejut melihat kondisi Sofyan. Ia langsung berlari mengambil tasnya dan mengambil mobil segera meninggalkan rumah. Setelah sampai di taman ia segera menelpon papanya untuk menenangkan diri.
Kemudian ia menelpon Dewi, satu-satunya teman dekat yang ia miliki selama kembali ke Indoesia. Padahal ia tidak tau, bahwa Dewi juga sudah lama menginginkan Pram. Ia janjian dengan Dewi untuk ke salon melakukan perawatan rutin. Dewi dengan senang hati menuruti kemauannya karena sudah pasti ia akan ditraktir Helen.
Dua jam kemudian ponsel Helen berbunyi. Dengan gugup ia menjawab panggilan dari Adi. “Ada apa, mas?”
“Kamu berada di mana sekarang?” tanya Adi dengan suara bergetar.
“Apa yang terjadi mas?” Helen berpura-pura khawatir mendengar suara Adi. “Aku masih di salon dengan Dewi.”
“Papa dibawa ke rumah sakit, mendadak serangan jantung.” Suara Adi terdengar penuh kekhawatiran. Ia tidak pernah menyangka akan mengalami peristiwa ini.
“Apa yang terjadi…”
“Bi Surti yang menemukan papa jatuh di ruang kerjanya. Sekarang papa di rumah sakit Pondok Indah.”
“Aku akan menyusul, mas.”
“Baiklah. Hati-hati di jalan.”
Helen sampai di rumah sakit dengan perasaan khawatir takut ketahuan. Sesampainya di sana ia terpaku melihat Adi yang terduduk di kursi rumah sakit sambil menahan airmatanya agar tidak tumpah. Sebagai anak lelaki satu-satunya ia harus kuat. Adi memeluk ibunya yang sudah menjerit menangis, ia berusaha menenangkan Linda yang tidak terima dengan kondisi suaminya yang kini terbujur kaku. Johan berdiri di sampingnya.
“Apa yang terjadi, mas?” Helen duduk di samping Adi yang masih memeluk mamanya. Ia mulai berpura-pura sedih sambil mengeluarkan air mata buayanya.
“Papa sudah meninggal…” lirih Adi. Ia menatap Helen dengan penuh kesedihan. Karena tidak menyangka akan mengalami kedukaan ini. Baru saja lima hari belum seminggu papanya kembali ke Indonesia tetapi Allah berkehendak lain.
Johan terpekur, ia mengingat ucapan Hanif saat sidang perceraian telah terjadi, bahwa orang yang akan menyakiti kakaknya dan anak-anaknya tidak akan mengalami kebahagiaan.
“Ini pasti gara-gara perempuan miskin itu.” Linda mengumpat dengan penuh kedukaan. “Dia yang menyebabkan suamiku meninggal dunia.”
“Mama tidak boleh berpikiran seperti itu. Ini memang sudah takdir Yang kuasa.” Adi berusaha menenangkan Linda yang masih terpukul dengan kematian suaminya.
“Aku akan menuntut perempuan itu.”
__ADS_1
“Mama…” Helen berusaha menenangkan mertuanya. “Tolong, mama tenang dulu.”
Adi segera bangkit dari kursinya dan berbicara dengan Johan untuk mengatur pemakaman papanya dan mempersiapkan segala sesuatunya di rumah. Ia ingin jenazah papanya langsung dimakamkan siang ini juga.
Hani menatap jasad yang terbujur kaku dengan penuh kesedihan. Hanya lelaki inilah yang mempercayai serta menyayanginya dan ketiga buah hatinya. Tetapi Allah berkehendak lain. Lelaki terbaik itu telah diambil oleh Allah. Ia teringat pertemuan terakhir mereka empat hari yang lalu, hingga Sofyan meninggalkan harta miliknya untuk mantan menantu dan cucu-cucunya.
Dengan tulus Hani mendoakan mantan mertuanya itu, agar mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia sangat merasa kehilangan sosok Sofyan yang sudah seperti ayahnya sendiri. Ia mendapat berita kematian Sofyan dari Johan.
“Apa yang telah kau lakukan disini. Cepat pergi. Aku tak ingin tubuh kotormu berada di rumah ini…” Tiba-tiba Linda melihat Hani diantara para pelayat dan ia langsung melabraknya. Tanpa mempedulikan tatapan tetangga dan relasinya Linda mengusir Hani.
Adi terperanjat melihat mamanya menarik Hani dan mengusirnya keluar. Ia beranjak mengikuti mamanya yang masih histeris. Adi memandang Hani dengan raut tajam penuh kebencian.
“Mama…” Adi menarik mamanya dan memeluknya dengan erat, “Pulanglah, kedatanganmu tidak diharapkan disini.”
Hani menahan nafasnya, berusaha menutupi kesedihan yang menggerogoti hatinya. Serendah itukah dirinya di mata Linda. Padahal ia hanya ikut berbela sungkawa terhadap Sofyan.
Helen menatap Hani dengan penuh kemenangan. Ia membimbing Linda untuk kembali ke dalam rumah, dan Adi mengikuti mereka dari belakang dan sempat menatap Hani dengan dingin. Ia merasa kesal melihat kedatangan Hani yang sangat tidak diharapkan.
Hani menggigit bibirnya menahan kepedihan. Ketiga orang itu telah mempermalukannya di depan warga yang juga sedang melayat. Dengan sedih Hani meninggalkan rumah megah itu dengan menggunakan ojek online yang masih menunggunya.
Sudah empat puluh hari semenjak kepergian Sofyan. Pagi itu Hani mendapatkan undangan dari Bernhart serta Rusdi yang merupakan pengacara almarhum Sofyan untuk datang ke rumahnya. Hani tidak berani datang ke rumah itu. Ia langsung teringat Johan dan menelponnya untuk datang ke rumahnya. Hani ingin mengembalikan sertifikat tanah dan bangunan yang ada di atasnya kepada Adi dan mamanya. Dengan mengembalikannya kepada mereka Hani harap tidak akan mempersulit mereka di masa depan.
Hani mengulurkan berkas ke tangan Johan, “Aku ingin kau mengembalikan barang ini pada tuanmu. Kami tidak berhak menerimanya. Aku tidak ingin mereka lebih membenciku. Aku sanggu menghidupi anak-anak walau tanpa uluran tangan mereka…”
“Apa ini?” Johan menatap Hani tak mengerti, dan ia tak berani membukanya. Ia menatap Hani berharap jawaban yang memuaskan.
“Sebelum papa meninggal, papa sempat datang kemari dan menyerahkan sertifikat kepemilikan rumah atas nama anak-anak.” Hani menghela nafas sesaat, “Melihat perlakuan mereka terhadapku, ku yakin lebih baik barang ini ku kembalikan. Aku tak ingin di masa depan mereka terus menggangguku.”
“Tapi kamu berhak, Han. Anak-anakmu adalah darah daging tuan Adi dan keturunan almarhum tuan Sofyan.” Johan bersikeras mengubah keputusan Hani.
“Aku tak seberani itu. Biarkan kami hidup sederhana. Aku ingin ketenangan demi anak-anakku.” ujar Hani lirih. “Bukankah bosmu tidak menginginkan anak-anakku. Jadi biarkan kami hidup tanpa bantuan keluarga mereka.”
Ia tak bisa membayangkan hidup di bawah bayang-bayang keluarga Aditama yang tidak pernah menginginkan ia dan anak-anaknya. Lebih baik mereka menjauh. Ia akan berusaha menghidupi putra-putrinya dengan kemampuan sendiri.
Pertemuan kedua pengacara sudah berjalan hampir setengah jam di ruang kerja Sofyan. Mereka tinggal menunggu kehadiran Hani yang sampai detik ini tidak nampak batang hidungnya. Linda mulai merasa kesal.
__ADS_1
“Memang perempuan tak tau diuntung,” maki Linda kesal. “Aku akan membuat perhitungan dengannya. Tak akan kubiarkan ia mendapatkan sesenpun dari hartaku.”
“Sabar, ma.” Helen menepuk lengan mertuanya dengan lembut. Padahal dalam hati ia bersorak kegirangan mendengar perkataan mertuanya.
Ketukan di pintu mengejutkan mereka. Bernhart sudah yakin bahwa Hani lah yang datang. Tapi dugaan mereka salah. Mereka melongo melihat Johan, karena dalam pertemuan itu tidak melibatkan Johan.
“Mengapa kau ada di sini? Apa ada masalah di kantor?” Adi mengerutkan keningnya penuh tanda tanya, tak biasanya assisten pribadinya itu berkeliaran di saat jam kerja.
“Tidak tuan.” Potong Johan cepat, “Sebelum saya kemari, saya di telpon mbak Hani. Ia menitipkan barang ini kepada saya dan ingin mengembalikannya.”
Adi menerima berkas yang dibungkus dalam kantong plastik. Dengan kening berkerut ia membuka kantong plastik itu. Ia terkejut sertifikat rumah yang sudah dipindahnamakan atas nama kedua anaknya kini kembali padanya.
Rusdi menatap tak percaya, bagaimana berkas yang baru dua bulan lalu ia proses kini sudah kembali ke pihak yang tidak berhak menerimanya. “Bagaimana bu Hani mengembalikan barang berharga ini?”
“Syukurlah perempuan miskin itu sadar diri.” tukas Linda cepat. Ia merampas sertifikat dari tangan Adi. Senyum lebar langsung tersungging di wajahnya yang kini semakin tirus. Di tinggal suaminya membuat Linda merasa terpuruk, selama ini ia selalu bergantung kepada suaminya hingga saat Sofyan pergi, ia merasakan kehilangan yang mendalam.
Helen tersenyum puas, saat melihat sertifikat itu sudah berada di tangan suaminya. Ia mendekati mertuanya dan duduk di sampingnya sambil mengerling sertifikat yang kini berada di genggaman Linda. Dengan kembalinya sertifikat itu, otomatis rumah ini kelak akan menjadi miliknya karena ia akan memiliki keturunan yang sangat mereka dambakan.
“Kita tidak bisa merampas apa yang sudah diwasiatkan tuan Sofyan.” Rusdi menyela ketiganya. Ia segera membuka berkas yang menumpuk di meja yang sejak tadi masih ia biarkan. Kemudian mengambil map yang berwarna kuning. “Tuan Sofyan juga telah menulis di dalam wasiatnya, bahwa beliau mewariskan saham di Mega Buana Corp sebesar 20 % untuk ketiga cucunya, selain rumah dan sertifikat yang kini dikembalikan. Kita tidak bisa merubah apa yang sudah tertulis di sini.”
“Aku sebagai istri sahnya tidak menerima keputusan ini.” Linda emosi mendengar ucapan Rusdi yang sudah puluhan tahun menjadi pengacara keluarga mereka. “Bagaimana dia telah memindahkan saham atas nama anak-anak perempuan miskin itu.”
“Anda tidak boleh serakah nyonya. Bukankah saham anda sebesar 35 % ditambah tuan Adi 15 %. Juga cabang perusahan yang tersebar di beberapa negara serta beberapa kota yang hasilnya tentu tidak sedikit jika diuangkan.”
“Enak betul perempuan miskin itu. Begitu diceraikan putraku ia akan menjadi seorang janda kaya.” Linda berkata dengan raut kebencian. “Aku tidak akan pernah rela memberikan hartaku walau sesenpun kepadanya.”
Adi memijit kepalanya yang sedikit agak pusing. Ia sendiri tidak pernah memikirkan biaya anak-anaknya, karena semua sudah diatur Helen sekretarisnya, yang kini telah jadi istrinya. Ia sendiri tidak tau, bahwa atas bujukan Linda, Helen sudah menghentikan biaya untuk kedua putranya semenjak ketok palu perceraian telah dipukul hakim.
“Tapi aku masih ingin mempertahankan rumah ini. Karena kenangan tentang suamiku ada di rumah ini. Dan aku tidak akan turun dari rumah ini.” Sela Linda cepat membuat perasaan bahagia membuncah di benak Helen. Kalau saja ia sendirian di ruangan itu, sudah pasti ia akan melompat-lompat kegirangan.
“Bagaimana kalau rumah ini kami beli kembali?” Adi menyampaikan opsi terakhirnya. Karena ia tau Helen juga masih menginginkan tinggal di rumah megah itu. “Aku ingin semua diproses secara legal, dan secepatnya diurus.”
Rusdi tercenung sesaat, ia memandang Johan yang masih berdiri tegak di sampingnya. Ia merasa keberatan mendengar saran Adi, tapi mau bagaimana lagi, karena tuan Sofyan telah tiada dan yang tersisa hanya manusia-manusia serakah.
Ia sendiri merasakan kesedihan, ketika diajak almarhum kliennya mengunjungi rumah mantan menantu bersama cucu-cucunya. Kehidupan mereka sangat memprihatinkan, hanya tinggal di rumah kecil tanpa kemewahan sedikitpun. Tidak adakah setitikpun terbersit di nurani mereka untuk berbagi dengan keluarga mereka sendiri. Dan ia melihat bossnya menangis begitu mereka meninggalkan kediaman Hani setelah memberikan berkas sertifikat rumah. Betapa kliennya itu mengakui sangat menyayangi cucu-cucunya, malaikat kecil tak berdosa, telah disia-siakan karena keserakahan manusia.
__ADS_1