Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 20


__ADS_3

Hani bersama Mawar dan beberapa orang pegawainya sedang mempersiapkan sebuah acara lamaran di sebuah restoran mewah. Hani merasa puas dengan kinerja pegawainya. Ia tersenyum sambil melihat catatan Mawar yang masih menceklist segala keperluan penunjang yang sudah sesuai dengan perencanaan.


Manajer restoran yang bernama Halim mendampingi Hani sekedar untuk berbicara, karena ia tertarik dengan dekorasi yang dibuat Hani dan pegawainya.


Senyum Hani tak terlepas dari bibir mungilnya mengimbangi percakapan Halim. Ia mengangguk menyetujui jika Halim menyampaikan saran-saran untuk memperindah dekorasi yang telah mereka buat.


Siang itu Faiq dan rekan-rekannya sedang menikmati makan siang di restoran tersebut.  Restoran yang mereka kunjungi termasuk kelas menengah, biasa di sewa sebagai acara pertunangan maupun pernikahan.  Faiq bersama rekan-rekannya sering menikmati makan siang di restoran ini, karena menunya juga enak. Ia pun mengenal Halim, karena teman sekolahnya saat SMA.


Dari jarak 10 meter, Faiq melihat bayangan Hani. Ia yakin perasaanya tidak salah. Begitu hidangan di piringnya telah habis, Faiq berbisik pada Darwin untuk  menemui temannya. Hesti yang berada satu meja dengannya merasa heran melihat tingkah Faiq.


“Mau kemana, pak?” Anggi tak bisa menahan rasa ingin taunya melihat gelagat Faiq yang kelihatan terburu-buru.


“Ada keperluan sebentar.” Ia menyunggingkan senyum tipis pada ketiga rekan di depannya, dan langsung berjalan meninggalkan mereka.


Hesti tak mengalihkan pandangannya dari Faiq, hingga ia melihat keberadaan Faiq bersama dengan Halim dan seorang perempuan.


“Bukankah itu janda yang mereka perbincangkan dulu?”  batin Hesti tak senang  mengetahui Faiq menemui mereka.


Sementara itu Faiq yang berada di belakang Halim dan Hani langsung menyapanya, dengan menampilkan senyum terbaiknya.


“Assalamu’alaikum…” sapa Faiq.


Halim dan Hani serempak menoleh arah suara, dan menjawab dengan kompak, “Waalaikumussalam.”


“Wah, sudah lama kita nggak bertemu…” Halim langsung mengulurkan tangannya pada Faiq yang menyambutnya dengan cepat. “Apa kabarmu?”


“Permisi, saya akan melanjutkan pekerjaan.” Hani bermaksud mengundurkan diri dari hadapan keduanya. Ia merasa tidak enak hati mengganggu mereka, karena ia tidak ada hubungan dengan keduanya.


“Biar disini saja. Aku ingin memperkenalkanmu dengan Halim.” Faiq menahan langkah Hani. “Halim adalah sobat dekatku saat SMA. Kami bersama hingga tamat. Syukur alhamdulillah hari ini Allah mempertemukan kami kembali.”


Halim menatap Faiq dan Hani bergantian, “Jangan bilang kamu ada hubungan dengan perempuan ini…”


“Tepat sekali.” Faiq membenarkan ucapan Halim, “Dia adalah perempuan masa depanku. Calon ibu dari anak-anakku.”


Hani terpaku mendengar penegasan Faiq di depan orang yang tak ia kenal. Ia menatap Faiq dengan sorot tajam, yang dibalas Faiq dengan kedipan mata dan senyum manisnya. Terpaksa ia menghentikan langkahnya dan berdiri di samping Faiq.


“Selamat ya.” Halim menepuk bahu Faiq dengan tulus. “Ku tunggu undangan pernikahan kalian.”


Faiq tersenyum bahagia, “Kamu sendiri?”


Halim menatap wajah Hani sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya pada Faiq, “Aku sudah menikah, dan mempunyai dua orang anak laki-laki. Istriku meninggal setahun yang lalu saat melahirkan putraku yang terkecil.”


“Aku turut berduka cita  atas meninggalnya istrimu.” Faiq menepuk pundak Halim untuk menguatkan sahabatnya itu. “Maafkan aku karena tidak mengetahui itu sejak awal.”


“Kapan kalian akan menikah? Sesuatu yang baik tidak boleh ditunda-tunda. Ntar ditikung yang lain lho.” Halim memandang Faiq yang tersenyum pada Hani.


“Aku akan menikungnya di sepertiga malam. Insya Allah secepatnya aku akan menghalalkan perempuan ini.”


“Mas, rekanmu menunggu.” Hani merasa tidak nyaman atas keterusterangan Faiq. Tatapan Hani melihat  teman-teman Faiq yang kelihatan gelisah menunggunya yang tidak ada pergerakan.

__ADS_1


Faiq baru sadar kalau ia tidak datang sendirian. Rasanya berat ia meninggalkan Hani hanya berdua dengan Halim, apalagi ia tau statusnya sekarang.


“Mas, pulang yok. Udah jam ngantor nih.” Suara manja Hesti hadir mengejutkan mereka bertiga.


Hani mengerutkan kening melihat sikap teman Faiq. Ia mengingatnya sekilas saat berada di pengadilan. Berdasarkan pengamatannya sebagai sesama perempuan, ia yakin perempuan itu memiliki perasaan khusus pada Faiq.


Faiq akhirnya menyudahi percakapan mereka, “Pulang kerja aku mampir. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.”


“Baiklah.” Hani tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia tidak ingin berburuk sangka terhadap rekan wanita Faiq. Ia yakin Allah Maha pembolak balik hati, karena ia juga berusaha menjaga hatinya hanya untuk seseorang yang penting bagi dirinya serta anak-anaknya.


“Duh… manisnya.” Batin Faiq saat melihat senyum Hani.  Dengan berat hati ia mengikuti langkah Hesti berlalu dari hadapan Hani dan Halim untuk kembali ke kantor bersama rekannya.


Jam baru menunjukkan pukul 4 sore. Si kembar sudah wangi duduk di depan tv menonton acara kesayangannya si kembar dari Malaysia Ipin dan Upin. Hasya masih asyik bermain barbie dengan Lina tetapi matanya juga menyaksikan tingkah si kembar di tv.


Bell berdentang mengejutkan mereka. Tak biasanya tamu datang di sore menjelang malam. Sari segera membukakan pintu.


“Pak Faiq.” Ia menyapa Faiq dengan sopan. Terus terang Sari terkejut tak menyangka melihat lelaki muda itu datang berkunjung di waktu senja ini. “Mari silakan masuk.”


“Assalamua’alaikum.” Faiq mengucapkan salam sambil mengulurkan keranjang buah di tangannya pada Sari.


“Waalaikumussalam.” Dengan cepat Sari menjawab dan menyambut keranjang buah dari tangan Faiq.


Kebetulan saat pulang dari kantor Faiq menyempatkan diri untuk mampir ke toko buah. Rasanya tak enak ia mampir ke rumah sang pemilik hati tanpa membawa buah tangan. Akhirnya ia memilih untuk membeli buah-buahan segar yang bisa dinikmati para penghuni rumah. Dengan senyum bahagia ia mengikuti langkah Sari memasuki rumah.


Mata Faiq melihat pemandangan yang menyejukkan mata ketika si kembar dan si mungil duduk dengan anteng menonton tv dengan serius.


“Assalamu’alaikum…” Faiq menyapa mereka dengan lembut, dan langsung menghenyakkan tubuhnya  di samping Hasya yang kini terbaring sambil minum susu dari botolnya.


“Papa…” Hasya langsung bangun begitu melihat Faiq duduk di sampingnya. Dengan manja ia menempatkan diri di atas pangkuan Faiq.


“Wah, asyik nontonnya. Nggak salim papa dulu nih…” Faiq menegur si kembar yang asyik menonton sehingga tak mempedulikan keadaan sekelilingnya.


“Mas Ariq, mas Ali…” Sari mengingatkan keduanya.


Akhirnya Ariq dan Ali menghampiri Faiq dan segera mencium tangannya yang dibalas Faiq mencium kepala keduanya dengan penuh kasih.


“Dua jagoan papa, makin ganteng aja.”  Faiq tersenyum sumringah melihat mereka.


“Bunda mana sayang?” Faiq memandang sekelilingnya karena tidak melihat keberadaan Hasya di ruangan itu.


“Ibu sedang menyiapkan masakan untuk anak-anak, pak.”  Lina menjawab dengan sopan. “Anak-anak nggak mau makan kalau bukan bundanya yang masak.”


“Yok kita lihat bunda, sayang.” Faiq menaikkan Hasya ke bahunya dan berjalan menuju dapur untuk menemui sang pujaan.


Perasaan Faiq tak menentu melihat Hani yang asyik dengan peralatan memasaknya. Ia tertegun membayangkan saat mereka nanti berumah tangga pemandangan ini akan menjadi keindahan setiap harinya. Faiq meletakkan jari di bibirnya agar Hasya tetap diam.


Dengan pelan Faiq membawa Hasya duduk di meja makan. Dan matanya tak lepas dari Hani yang meneruskan memasak. Si kembar sangat menyukai ayam goreng, sedangkan si mungil lebih senang sosis pake telur. Namun Hani tetap membiasakan ketiga buah hatinya untuk memakan sayur serta buah-buahan.


Pemandangan itu sangat membahagiakan bagi Faiq. Rasanya tak sabar ia segera menghalalkan si pemilik mata bening itu untuk menemani hari-harinya yang akan datang.

__ADS_1


“Astagfirullahaladjim!” Hani menekan jantungnya saat berbalik begitu melihat Faiq sudah duduk dengan manis di kursi makan bersama dengan Hasya yang masih menggigit botol susunya.


“Ha ha ha…” Faiq tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi lucu yang ditampilkan Hani. Tapi melihat wajah masam Hani ia segera minta maaf, “Mohon maafin yah. Rasanya adem banget liat calon istri yang lagi masak di dapur…”


Dengan raut kesal, Hani memindahkan ayam goreng ke dalam piring. Ia sama sekali tidak menyapa Faiq, masih mode cemberut.


“Dek, tuh liat bunda lagi ngambek sama papa.” Faiq berkata pelan pada Hasya yang kini sudah melepaskan botol susu dan duduk dengan manis menghadap sosis telur yang telah dihidangkan  Hani.


“Unda mayah tama papa?” Hasya menatap Hani dengan mata bulat menggemaskannya, karena ia melihat Hani sama sekali tidak menegur Faiq.


“Tidak sayang.” Hani langsung mencium pipi Hasya dengan lembut. Matanya melirik Faiq sekilas. Sebenarnya Hani tidak marah, hanya ia terkejut karena tidak menyangka Faiq akan menemuinya langsung ke dapur tanpa konfirmasi akan kedatangannya.


“Wah, dede dicium bunda. Sini papa balas cium.” Faiq langsung mencium pipi Hasya sambil melirik Hani yang tersenyum kecil melihat kelakuan Faiq.


“Wah ayam goreng…” si kembar langsung rebutan duduk di kursi begitu melihat makanan kegemaran mereka sudah terhidang di meja makan.


Hani memang membiasakan anak-anaknya untuk makan di sore hari. Jika malam tiba, mereka tinggal minum susu bermain sebentar dan langsung tidur. Ia tidak ingin merepotkan bu Sumi asisten rumah tangganya untuk menyiapkan makan malam karena usianya juga sudah sepuh dan di malam hari waktu mereka untuk beristirahat.


“Mas mau ikut makan sekalian?” Hani menawari Faiq yang masih berinteraksi dengan ketiga buah hatinya.


“Apa kamu nggak marah lagi?” pancing Faiq. Ia senang melihat wajah cemberut Hani membuatnya ingin menggoda lebih lama. Tapi melihat pelototan Hani membuatnya langsung tersenyum, “Boleh, apapun yang dimakan anak-anak, mas ikut saja.”


Akhirnya senyum manis tersungging di bibir Hani. Ia segera mengambil piring dan melayani Faiq bersama ketiga anaknya. Makan sore itu sangat berarti bagi Faiq. Karena selama ini di apartemen ia hanya makan sendiri dengan pesan online.


“Mas kenapa nggak telpon dulu kalo mau mampir kemari?” Hani memandang Faiq yang masih mencuci tangan di wastafel begitu selesai makan.


“Aku menepati janji siang tadi. Dan kebetulan juga udah kangen sama kamu dan anak-anak.” Ujar Faiq membuat pipi Hani langsung merona  mendengar keterus terangan Faiq, dan Faiq sangat menikmatinya.


“Apa mas nggak gerah memakai pakaian kantor. Mungkin mas ingin mandi dan berganti pakaian di kamar Hanif.  Pakaiannya ku rasa pas buat mas. Tinggal pilih saja di lemari pakaian.” Hani merasa kasihan melihat Faiq yang nampak berkeringat sesudah makan bersama.


“Apa nggak masalah?” Faiq merasa tawaran Hani sangat membantunya mengatasi keringat yang mulai mengalir di tubuhnya. Tak nyaman dengan pakaian dinas yang sudah digunakan seharian. “Mas Ariq antar papa ke kamar paman ya…”


Ariq menganggukkan kepala sambil digandeng Faiq mereka menuju kamar Hanif yang berada di ruang depan berhadapan dengan ruang keluarga.


Setelah mandi Faiq merasa segar. Ia memilih baju kaos polos dan celana training panjang yang tersusun dengan rapi di lemari itu. Kamar Hanif lumayan besar. Tidak banyak perabotan yang berada di sana. Mungkin karena si empunya jarang berada di tempat, sehingga kamar itu sangat rapi dan bersih.


Faiq melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Setelah membereskan baju kerjanya dan memasukkan dalam paper bag yang diberikan Hani ia segera pamit pulang.


“Terima kasih atas jamuan makannya. “Besok malam, bersiap-siaplah. Aku ingin membawamu ke suatu tempat.” Ujar Faiq saat Hani mengantarnya sampai di depan pintu.


“Kemana?” Hani berusaha mencari tau.


“Persiapkan dirimu. Aku menunggu.” Faiq tersenyum lembut. “Aku pamit. Jaga dirimu dan anak-anak. Assalamu’alaikum.” Ia melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2