
Usia si kembar kini sudah satu tahun. Suasana rumah benar-benar diramaikan dengan suara anak-anak. Faiq merasa sudah saatnya ia dan Hani belajar mandiri. Tanpa sepengetahuan Hani Faiq telah menyiapkan rumah yang tak kalah besar dengan kepunyaan orang tuanya. Hanya Faiq belum memiliki waktu yang tepat menyampaikan keinginannya pada Marisa dan Darmawan untuk pindah menempati rumah sendiri yang telah dibelinya sejak 6 bulan yang lalu.
Rumah yang dibelinya berdasarkan rekomendasi dari Rudi masih perlu direnovasi, khususnya di bagian kamar utama dan kamar anak-anak. Setelah direnovasi ulang, Faiq merasa sangat puas. Ia berdiskusi dengan Hani tentang keinginannya untuk pindah ke rumah baru mereka. Hani tidak berani berkomentar, saat Faiq mengajaknya melihat rumah yang bakal mereka tempati perasaannya tak bisa dilukiskan. Ia merasa bahagia, karena Faiq mengutamakan kenyamanannya dalam merenovasi dan mendekorasi interior maupun eksterior rumah yang bakal mereka tempati bersama.
Ariq dan Ali kini sudah kelas 2 Sekolah Dasar, sedangkan Hasya mulai memasuki PAUD. Faiq tidak mengizinkan Hani untuk meninggalkan rumah, walaupun hanya untuk mengontrol usaha lamanya yang kini berkembang pesat.
Lina pun telah menikah dengan teman SMAnya. Walaupun demikian ia tetap bekerja pada Hani, karena perasaan sayangnya pada Hasya juga Ariq dan Ali.
Malam ini saat makan malam, Faiq mulai menyampaikan keinginannya pada ibu dan ayahnya untuk menempati rumah mereka.
“Apa kamu nggak kasian sama ayah dan ibu jika harus pergi dari rumah ini?” Marisa mempertanyakan keinginan Faiq yang ingin memboyong istri dan anak-anaknya ke rumah baru mereka.
“Aku dan Rara sudah mendiskusikannya. Kami juga ingin mandiri, bu …. “ ujar Faiq tenang.
“Ibu nggak setuju kalian pindah dari rumah ini.” Marisa memandang Faiq dengan tajam, “Ibu akan kesepian jika cucu-cucu ibu tidak ada di rumah ini. Ayah dan ibu sudah semakin tua. Hanya mereka yang bisa memberikan kebahagiaan pada kami.”
Pandangan Marisa beralih ke ruang keluarga menyaksikan cucu-cucunya yang sedang menonton tv. Sedangkan Faqih dan Khaira sudah tidur sejak satu jam yang lalu.
Raut wajah Marisa mendadak sedih. Ia tidak bisa jauh dari cucu-cucunya, apalagi Faqih dan Khaira yang sedang lucu-lucunya.
Melihat mertuanya yang tampak sedih, akhirnya Hani pun mengeluarkan suara. Ia memandang Faiq dengan lembut.
“Mas, tidak bisakah kita memenuhi keinginan ibu?” Hani menyentuh tangan Faiq yang masih berada di atas meja makan.
Melihat wajah istrinya yang memohon penuh harap, manalah mungkin Faiq menolaknya. Ia menggenggam jemari Hani.
“Baiklah sayang, kita tetap akan tinggal di sini.” Faiq berkata seketika.
Senyum cerah terbit di wajah Marisa. Ia memandang suaminya dengan raut bahagia. Ia tidak siap jika ditinggalkan Faiq beserta menantu dan cucu-cucunya.
Akhirnya keinginan Faiq tidak menjadi kenyataan. Ia harus bersabar menghadapi keinginan Marisa yang tidak ingin berjauhan dengan cucu-cucunya.
Saat si kembar Fatih dan Khaira terlelap di dalam box bayinya, Faiq segera beranjak naik ke peraduan. Ia masih menunggu Hani yang masih berada di kamar Ariq dan Ali serta Hasya yang semakin cerewet di usianya yang memasuki empat tahun.
__ADS_1
“Apa anak-anak sudah tidur?” wajah Faiq kelihatan lega melihat Hani sudah berada di sampingnya.
Hani menganggukkan kepala sambil menyunggingkan senyumnya. Ia sudah melihat sorot suaminya yang begitu mendamba. Walau pun ingatan masa lalu tidak kembali, tetapi perasaan cinta dan sayang terhadap suaminya telah tumbuh bahkan semakin subur setiap hari.
“Yang, apa kamu nggak keberatan kalau kita memberi adik untuk anak-anak?” pertanyaan Faiq membuat Hani mengerutkan jidatnya.
“Tapi si kembar baru satu tahun lho mas …. “
Tangan Faiq sudah mulai bergerilya mencari spot favoritnya. Ia mengelus perut Hani yang masih terasa bergaris bekas sesar si kembar.
“Mas sangat menyenangi bayi. Mereka sangat lucu dan menggemaskan.” Tangan Faiq mulai berpindah sasaran.
“Kalau hamil, aku akan gendut lagi. Nanti mas bosan liat aku yang tiap tahun gendut …. “ Hani mengerucutkan bibirnya membuat Faiq gemes.
“Justru pada saat hamil, kamu semakin cantik.” Jemari Faiq mulai bermain-main di area favoritnya.
“Mas …. “ Tangan Hani menahan tangan Faiq yang bergerak semakin turun, “Benarkah setiap lelaki akan mendapatkan bidadari di surga nanti?”
“Bagaimana denganku? Aku merasa minder jika harus bersaing dengan bidadari untuk merebut cintamu …. “
Faiq merasa senang mendengar pengakuan cinta dari istrinya yang sudah lama sangat ia harapkan.
“Sayang, umpama bidadari surga seorang pelayan di surga-Nya nanti, seorang istri yang shaleha yang selalu menyenangkan suami dan membuat rumah tangga menjadi surga bagi anak-anak dan suaminya maka ia-lah yang akan menjadi ratu di surga-Nya Allah.”
Mendengar jawaban suaminya Hani merasa tergetar. Ia menggenggam jemari Faiq yang membelai rambutnya.
“Tahukah kamu apa yang membuat bidadari surga cemburu?” Faiq menatap lekat wajah ayu istrinya yang selalu ia pandang setiap saat, dan tak akan membuatnya merasa bosan.
“Tentu mas lebih tau jawabannya.”
Faiq mengecup keningnya sekilas. Tatapan mata bening Hani selalu membuatnya jatuh semakin dalam dan tak bisa mengalihkan pandangan pada yang lain.
“Para istri shaleha yang memberikan keturunan shaleh-shaleha pada suaminya di dunia. Itulah yang menjadi kecemburuan para bidadari penghuni surga. Jadi apa lagi yang kamu sangsikan pada mas?”
__ADS_1
Hani merasa malu ditatap Faiq begitu intens. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Faiq. Dan memeluk tubuh kekar suaminya dengan erat.
Faiq menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan singkat, hingga akhirnya Hani pasrah dalam kungkungan suaminya. Hingga malam yang diguyur hujan lebat tidak dirasakan lagi dinginnya, karena olahraga malam yang mereka lakukan dengan penuh cinta yang menggelora di dada masing-masing.
Rapat bulanan yang diagendakan pukul 3 sore ternyata diundur hingga jam 5. Alhasil Faiq yang seharusnya jam 5 sore sudah sampai di rumah hingga jam 7 malam baru bersiap untuk kembali ke rumah. Tiap satu jam ia selalu chat dengan Hani untuk menanyakan kabar semua anak-anaknya, sekalian kabar istri tentunya.
Dengan perasaan bahagia Faiq keluar dari ruang rapat didampingi Rudi yang setia mengikutinya. Badannya sudah terasa penat. Rapat berjalan dengan alot, berkaitan dengan pengalihan jabatan posisi CEO yang kemaren sempat dipegang Darmawan dikembalikan pada Faiq. Ia berusaha menolak, karena beban kerja dan pikirannya akan tersita habis untuk mobilitas dan keberlangsungan hotel serta usaha lain di bawahnya.
Tapi Darmawan tidak menerima kata penolakan. Ia merasa setelah satu tahun menjabat manajer pemasaran, Faiq dapat membuktikan bahwa ia sanggup mengejar segala ketinggalan dan mampu menaikkan popularitas hotel sehingga konsumen merasa puas.
Pada saat Faiq berjalan memasuki lift yang akan membawanya ke basement matanya menangkap sepasang perempuan dan laki-laki yang tanpa malu-malu berciuman di dalam lift tersebut. Faiq merasa tidak nyaman berada di sana. Untuk keluar dari dalam lift sudah tidak bisa lagi karena beberapa orang juga memasuki lift yang sama.
Menyadari bahwa bukan hanya mereka yang berada di dalam lift tersebut akhirnya pasangan itu melepaskan diri.
“Tuan Al Fareza …. “ seorang lelaki muda menyapa Faiq dengan perasaan tidak nyaman setelah melihatnya berdiri di samping mereka.
“Selamat malam dr. Fahmi, dr. Valerie …. “ Faiq membalas sapaan Fahmi dengan senyum tipisnya.
Sontak saja dr. Valerie merasa malu, menyadari perbuatannya dengan dr. Fahmi telah dilihat oleh orang lain, apalagi Faiq yang sempat menjadi targetnya di masa depan.
“Kamu mengenalnya?” Fahmi menatap Valerie dengan wajah terkejut.
“Istrinya sempat menjadi pasienku …. “ dr. Valerie berkata dengan suara tercekat.
Tring ….
Lift telah sampai ke basement. Semua yang di dalamnya segera berpencar keluar menuju kendaraan masing-masing.
Faiq merasa tenang sudah berada di dalam mobil yang akan membawanya kembali ke rumah. Ia akan segera berkumpul dengan istri dan anak-anaknya.
__ADS_1