Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 36


__ADS_3

Adi menatap Gilang dan Helen dengan penuh amarah, “Mama tau, sampai kapanpun Helen tidak akan bisa memberikan mama seorang cucu. Rahimnya cacat karena pernah melakukan aborsi karena perbuatannya di masa lalu bersama Gilang.”


“Ya, Allah. Apa kesalahan dan dosaku hingga kau beri cobaan seberat ini?” Linda menepuk dadanya yang tiba-tiba sesak. Tubuhnya terasa lemah tak bertulang. Ia berusaha mencari pegangan menahan tubuhnya yang mau tumbang.


“Tante…” Gilang berusaha meraihnya.


“Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu.” Linda mendorong Gilang.


“Adi, aku dan Helen hanya masa lalu. Dia sangat mencintaimu…dan aku tau kau juga sangat mencintainya.” Gilang berusaha membujuk Adi, karena ia juga tau, sebesar apa cinta Adi pada istrinya itu.


Adi menatap Gilang nanar, “Kau tau Gilang, karena kesalahan kalian di masa lalu jadi masalah besar seumur hidupku. Sejak dr. Sarinah mengatakan kalau Helen pernah melakukan 2 kali aborsi di waktu remaja, rasa cintaku telah hilang. Dia telah menghancurkan harga diriku.”


“Mas, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu….” Helen berkata dengan lirih.


“Aku tidak menyangka Helen. Inilah kebohongan terbesar yang telah kau ciptakan untukku. Aku sangat bangga mengetahui, bahwa aku lelaki pertama yang menyentuhmu, tapi kenyataannya…” pandangan Adi menerawang jauh.


Ingatannya kembali pada  Hani, gadis polos yang dijodohkan almarhum papanya. Ia yang telah merenggut kesuciannya, menjadikannya mesin pencetak anak, tanpa pernah melibatkan setitik rasa cinta diantara mereka. Tetapi pengabdian Hani sebagai istri telah ia sia-siakan, hanya untuk mengejar cinta masa lalu yang ternyata hanya berisi kebohongan.


Linda tidak bisa menahan berat tubuhnya. Ia tiba-tiba jatuh pingsan mengetahui masa lalu menantu kesayangannya.


Para tamu yang sebagian mulai meninggalkan ballroom tempat pelaksanaan resepsi terkejut melihat ada yang pingsan, sejenak lobby hotel mendadak heboh.


“Maafkan saya. Saya harus membawa mama saya ke rumah sakit.” Dengan cepat Adi menahan tubuh mamanya menerobos kerumunan para tamu yang ingin melihat keadaan Linda. Ia langsung  membawanya ke luar dari lobby hotel menuju mobil tanpa memperdulikan  Gilang dan Helen yang terpaksa mengikuti langkah Adi.

__ADS_1


Sesampai di rumah sakit terdekat, Adi kembali membopong tubuh mamanya yang semakin ringkih di makan usia. Para medis dengan cepat menangani Linda, karena mereka telah mengenal sosok keluarga pengusaha terkenal tersebut.


Kini Linda telah dipindahkan ke ruangan VVIP. Adi tidak mempedulikan wajah Gilang dan Helen yang dipenuhi kecemasan saat mengikutinya  ke rumah sakit. Adi menahan langkah keduanya yang berusaha mengikuti langkahnya menuju ruang perawatan Linda.


“Ku harap untuk beberapa hari ke depan, aku tidak melihat wajah kalian berdua di sini.” Adi meninggalkan mereka memasuki lift yang akan membawanya ke lantai 3 tempat perawatan ibunya.


Dengan raut sedih, Adi memandang wajah Linda yang kini tampak tenang, karena sudah dipasang infus serta diberi suntikan lewat selang infus yang terpasang di tangannya. Rasa kecewa dan marah bergolak di dadanya. Ia menatap ponsel dan segera menghubungi Johan untuk datang ke rumah sakit.


Perasaan Adi kini benar-benar terluka. Ia tak menyangka rasa bangga karena telah menjadi lelaki pertama dalam kehidupan Helen adalah nonse. Ia telah dibohongi dan dibutakan rasa cinta. Bukan hanya ego dan harga dirinya yang terluka, tetapi hancur sudah rasa percaya serta cinta dan sayang yang telah ia pupuk dan pelihara terhadap Helen.


Bayangan wajah sendu Hani menari-nari di pelupuk matanya. Tapi saat di pelaminan tadi, tiada lagi kesenduan yang tergambar. Mata indah itu begitu berbinar, seperti memancarkan kejora, yang tak pernah ia lihat saat mereka bersama. membuat siapapun akan terpukau melihatnya.


Terbayang kembali, bagaimana pengabdian Hani sebagai seorang istri saat mereka masih bersama. Ia tak pernah sedikitpun mengeluh atas beban pekerjaan di rumah khususnya menyiapkan makanan serta keperluan suaminya yang lain. Sementara ia harus mengurus si kembar seorang diri, tanpa dibantu babby sitter.


Penyesalan itu kini telah datang. Tak akan ada kesempatan kedua dalam hidupnya. Hani dan ketiga anaknya telah ada dalam kekuasaan Faiq.


“Adi…” Linda membuka matanya secara perlahan. Ia memandang sekelilingnya. Linda mengerutkan kening, berusaha mengingat kembali kejadian yang membuatnya berada di tempat ini. Bayangan pertengkaran Adi, Gilang dan Helen bermain di pelupuk matanya.


“Mama sudah sadar?” Adi bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri tempat tidur Linda.


Air mata Linda mengalir tiba-tiba, menyadari kesalahan yang telah ia perbuat terhadap putra semata wayangnya dan mantan menantunya.


“Mama nggak usah mikir macam-macam. Semua akan baik-baik saja.”

__ADS_1


“Maafkan mama…” Air mata Linda semakin deras mengalir, mengingat perbuatan yang selama ini telah ia lakukan terhadap mantan menantu dan cucu-cucunya.


“Mama nggak usah banyak pikiran. Aku nggak ingin mama sakit.” Adi mengusap bahu Linda dengan lembut. Ia paham maksud perkataan Linda. Tapi ia tak ingin membebani Linda dengan berbagai perkataan yang membuat Linda akan semakin sedih.


Linda menatap wajah Adi. Ia tau, semenjak kepergian Hani dan si kembar dari rumah, tiada lagi keceriaan yang terjadi. Setiap memandang wajah putranya, yang tampak hanya kesepian yang tergambar di mata hitamnya. Linda  menekan dadanya yang terasa nyeri.


Ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Adi berjalan menuju pintu. Ia yakin bahwa Johan yang akan datang, tapi ternyata ia keliru, Helen kini terpaku di hadapannya dengan wajah sedih dengan berurai air mata.


“Bukankah aku sudah bilang, aku tidak ingin melihatmu “ Adi berkata dengan kesal.


“Mas, tidak dapatkah kau memaafkanku. Itu hanyalah masa lalu. Aku sangat mencintaimu…” Helen berkata dengan lirih.


Adi diam tak menjawab perkataan Helen. Ia sedang berperang batin di dalam hatinya. Rasa cinta telah berubah menjadi kebencian, tetapi naluri kemanusiaan masih tersimpan dengan baik di sana. “Justru karena kesalahan di masa lalumu telah menghancurkan pernikahan kita. Kamu tau sendiri aku dan mama mengharapkan anak yang lahir dari rahimmu, hingga aku menelantarkan darah dagingku sendiri.”


“Aku akan merawat anak-anakmu, asal aku tetap di sampingmu aku rela, mas…” Helen masih berusaha membujuk Adi. Ia  sudah memikirkan  langkah yang akan ia ambil. Ia tau, keberadaan putra-putri Adi yang lain mungkin akan membuatnya bertahan di sisi Adi.


Adi menatap Helen dengan tajam, “Aku akan memperjuangkan keluargaku kembali. Mulai hari ini kau bisa menghubungi Johan untuk mengurus segala keperluanmu. Aku juga akan menggaji seorang perawat untuk melayanimu selama masa pemulihan.” Adi berlalu meninggalkan Helen tanpa menoleh ke belakang lagi.


Helen tercekat. Perkataan Adi telah meruntuhkan kepercayaan diri yang semenjak tadi berusaha ia bangun. Ia menangis meraung-raung meratapi nasib malang yang kini menimpa dirinya. Ia tak tau harus mengadu kepada siapa. Selama ini Adi begitu memanjakannya. Kedatangan Gilang telah memporak porandakan rencana masa depan serta kebahagiaan yang baru tiga tahun ia jalani. Kini Helen hanya pasrah dengan keadaan yang akan terjadi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2