
Khaira duduk di teras rumahnya menemani Anwar yang datang berkunjung. Ia membawakan paper bag yang berisikan mainan buat si kembar.
“Bilang makasih sama om Anwar,” Khaira membelai kepala Embun yang duduk di pangkuannya.
“Telima kacih Om,” Embun menghampiri Anwar dan menyalaminya sambil mencium tangan Anwar.
Fajar pun berjalan menghampiri Anwar dan ikut bersalaman. Matanya berbinar melihat mainan mobil robot edisi terbaru.
Keduanya saling melempar senyum melihat kebahagiaan si kembar karena mendapat mainan baru.
“Siapa yang bangun rumah di sampingmu?” tanya Anwar heran melihat kesibukan di tanah kosong yang mulai berdiri bangunan permanen yang nampaknya terdiri dari dua lantai.
“Nggak tau juga sih. Tapi menurut mbak Fatimah kliennya ustadz Hanan,” ujar Khaira pelan.
Ia pun melayangkan pandangannya ke samping. Rumah sudah 90 persen berdiri. Sampai saat ini ia belum pernah bertemu sang pemilik.
“Aku heran ada orang kaya yang mau membuat rumah di lokasi yang sangat jauh dari keramaian pusat kota .... “ Anwar berkata dan bangkit dari kursi yang didudukinya.
Pandangan Anwar mengarah pada rumah samping yang masih dipenuhi pekerja bangunan. Sudah tiga minggu pembangunan berjalan.
Mereka berdua melihat mobil memasuki pekarangan rumah yang posisinya tepat di samping rumah.
Danu turun dari mobil. Matanya memandang ke segala arah. Hingga tatapannya beralih pada Khaira dan Anwar yang juga menatap ke arahnya. Dengan santai Danu berjalan menghampiri keduanya.
“Assalamu’alaikum .... “ Danu memberi salam pada mereka yang masih tetap berada di posisi masing-masing.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi,” Anwar dan Khaira menjawab berbarengan.
“Kenalkan nama saya Handanu Prasetyo. Saya tetangga baru di sini,” dengan ramah Danu memperkenalkan diri pada keduanya.
Anwar menyambut uluran tangan Danu yang terarah padanya, “Anwar .... “ ujarnya sambil menggenggam tangan Danu dengan erat.
“Silakan duduk,” Khaira mempersilakan Danu duduk di kursi yang ada di beranda rumahnya.
“Pak Anwar sudah lama tinggal di sini?” Danu langsung melemparkan pertanyaan begitu keduanya duduk berdampingan.
“Panggil Anwar saja, kurasa aku belum terlalu tua dan belum menikah jika dipanggil bapak,” Anwar berkata pelan sambil menyunggingkan senyum.
Danu memandang Khaira dan Anwar bergantian. Ia merasa heran mendengar perkataan Anwar. Keduanya bukan suami istri. Jadi apa hubungan antara keduanya?
Apakah ini berkaitan dengan sikap bosnya ketika mereka berdua memasuki pekarangan rumah, wajah Ivan sudah kesal saat melayangkan pandangan di samping rumahnya yang sedang dibangun. Danu tidak berani bertanya penyebab kekesalan si bos.
Hingga Ivan menyuruhnya bertamu ke tetangga baru mereka. Sedangkan ia sendiri begitu turun dari mobil langsung memasuki rumah yang masih dalam proses pengerjaan. Danu jadi bingung apa yang harus ia katakan saat bermain di rumah tetangga mereka.
“Bung Anwar tinggal di sini?” akhirnya Danu mulai mencoba mengakrabkan diri dengan Anwar. Ia merasa tidak enak memanggil nama tanpa embel-embel.
“Tidak. Aku tinggal di komplek puskesmas,” jawab Anwar santai, “Sekitar satu tahun bertugas di puskesmas itu.”
Danu manggut-manggut mendengar perkataan Anwar. Tatapannya beralih pada Khaira yang masih meladeni si kembar.
__ADS_1
“Pak Danu mau minum apa?” Khaira merasa tidak enak tidak menjamu tamunya.
Danu memandang perempuan yang kini menatapnya. Suara lembut Khaira membuatnya terpukau. Ia dapat melihat dibalik kacamata tersimpan tatapan teduh dan bening. Ia mulai berpikir apakah ada hubungan antara si bos dengan perempuan bermata indah tersebut.
“Pak .... “ panggilan Khaira mengejutkan lamunan Danu.
“Ngga usah Mbak,” dengan cepat Danu menolak.
Pesan masuk di ponselnya. Dengan cepat Danu membaca. Pandangannya otomatis ke samping menoleh ke lantai dua bangunan baru di samping tempatnya berada saat ini. Ia melihat sosok Ivan berdiri bercekak pinggang di sana.
“Permisi bung Anwar, Mbak .... “
“Aisya .... “ sambil menyunggingkan senyum Khaira menatap Danu yang kini telah berdiri di hadapannya.
Tatapan Danu beralih pada kedua bocah kembar yang asyik bermain di bale-bale yang tersedia di teras. Tatapannya beralih pada bocah perempuan mungil yang bermain boneka. Ia menajamkan penglihatannya. Rasa-rasanya ia melihat kemiripan antara si bos dengan bocah cantik itu. Mata yang tajam, hidung mancung dengan bulu mata yang panjang.
Ponselnya kembali berdering. Pandangan Danu kembali mengarah ke lantai atas rumah samping. Ivan masih berdiri di sana.
“Assalamu’alaikum .... “ Danu akhirnya meninggalkan kediaman rumah Khaira karena melihat Ivan yang memberi isyarat agar ia segera kembali.
Ivan dan Danu kini berjalan menuju teras belakang rumah memandang para pekerja yang menyelesaikan pembuatan kolam renang.
“Apa yang kamu lihat di sana?” kejar Ivan begitu Danu menghempaskan tubuh di hadapannya.
“Saya berkenalan dengan seorang lelaki yang bernama Anwar yang kebetulan ada di rumah itu Bos. Apa dia suaminya?” Danu menatap Ivan penuh tanya.
“Mereka hanya berteman,” ujar Ivan sambil memandang kejauhan.
Danu mengerutkan jidatnya mendengar ucapan Ivan. Tapi ia tak berani untuk bertanya lebih lanjut. Walau setitik kecurigaan muncul di hatinya melihat sikap Ivan yang begitu berbeda saat melihat gambar perempuan bercadar yang baru ia temui di rumahnya tadi.
“Aku ingin membuat pengakuan padamu,” Ivan berkata pelan sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Danu duduk dan mulai memasang telinga untuk mendengar semua perkataan Ivan. Ia tidak ingin terlalu lama dalam teka-teki Ivan tentang keluarganya. Rasa penasaran begitu besar ia rasakan mendengar perkataan bosnya.
“Perempuan itu adalah istriku. Dan si kembar adalah anak-anakku,” pungkas Ivan seketika.
Langsung Danu terperangah tak percaya mendengar pengakuan Ivan. Sesuatu yang sangat mengejutkan. Bagaimana semua bisa terjadi dan apa iya ?
Danu menahan rasa ingin tahunya yang sangat besar akan kehidupan masa lalu bosnya. Ia berusaha menahan mulutnya untuk tidak bertanya penyebab semuanya. Ia yakin pasti ada masalah besar yang terjadi sehingga keluarga bosnya bisa terpisah seperti ini.
“Aku telah melakukan kesalahan sehingga kami tercerai berai seperti ini. Bahkan aku baru mengetahui bahwa si kembar adalah darah dagingku,” suara Ivan terdengar sedih.
Setiap mengingat perpisahan yang terjadi antara dirinya dan Khaira membuat Ivan merasa jadi pribadi yang lemah dan cengeng. Ia terlalu menyesali semua yang ia lakukan di masa lalu.
Tanpa diminta Danu, ia langsung menceritakan semua kejadian di masa lalu antara ia dan Khaira tanpa menyembunyikan apa pun. Nada getir yang penuh kesedihan tergambar jelas dari suara Ivan saat berkata. Danu melongo tak percaya dengan kejadian yang dialami si bos.
Saat Ivan mengakhiri ceritanya tampak matanya memerah menahan kedukaan yang kini ia alami dan sudah ia alami selama tiga tahun terakhir.
“Aku mencintai Rara. Aku ingin segera berkumpul bersama dengannya dan si kembar,” Ivan mengusar rambutnya dan berkata dengan perasaan sedih, “Rasanya sedetikpun aku tidak ingin berjauhan dengan mereka lagi.”
__ADS_1
Danu terdiam tidak mampu mengatakan apa pun. Ia turut merasakan penderitaan yang dialami si bos. Tapi mau bagaimana lagi, setiap perbuatan pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung akibat pilihan yang salah.
“Aku sanggup menukar semua yang ku miliki asalkan mereka selalu berada di dekatku,” Ivan berkata pelan,
Matanya menyeberang ke samping rumah yang dibatasi dengan tembok rendah pagar rumah Khaira.
“Sudah tiga tahun belakangan ini aku mencari keberadaan Rara,” Ivan menarik nafas dan membuangnya dengan pelan bersama rasa gundah yang hadir di hatinya, “Saat bertemu dengannya ternyata dia telah melahirkan si kembar. Aku baru mengetahuinya saat ke rumah sakit mengantarkan Fajar saat kecelakaan kecil itu.”
Danu terkejut mendengar cerita Ivan lebih lanjut tentang bagaimana ia mengetahui bahwa Fajar dan Embun adalah darah dagingnya yang selama ini telah ditutupi darinya dan keluarganya.
“Aku sangat menyesal terlambat mengetahui semua ini. Bahkan pernikahanku sendiri telah dibatalkan. Kini tidak ada ikatan apa pun antara aku dan Rara. Dan nama almarhum temanku yang sudah meninggal yang menjadi nama ayah anak kandungku sendiri,” Ivan berkata sedih.
Danu tidak bisa berkata apa pun setelah mendengar kisah masa lalu yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga Ivan. Permasalahan yang sangat kompleks dan melibatkan banyak pihak didalamnya dan tentu saja uang dan kekuasaan sangat berperan di dalamnya.
“Aku akan berjuang kembali untuk keluargaku. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka.”
“Jadi karena semua ini Bos membangun rumah di kompleks pondok ini?” otak Danu baru mulai bekerja setelah beberapa menit mendengar semua curahan hati Ivan tentang keluarganya.
“Benar,” tukas Ivan cepat, “Karena itulah aku menyelesaikan urusan proyek padamu dan Baron. Aku akan fokus pada Rara dan anak-anak.”
“Bagaimana dengan lelaki yang saya lihat di rumahnya Bos?” Danu teringat kembali dengan Anwar yang begitu dekat dengan si kembar, “Dia sangat perhatian pada si kembar.
Ivan memandang Danu seketika. Ia yakin Anwar bukanlah tandingan baginya. Ia tau, dimata Khaira Anwar hanya seorang teman yang baik tidak lebih.
“Aku malah khawatir dengan ustadz Hanan. Beliau sudah dua kali melamar Rara dan berniat memperistrinya.”
Danu terkejut mendengar perkataan Ivan, “Lho, bukannya ustadz Hanan suaminya ustadzah Fatimah.”
“Mereka belum mempunyai keturunan. Karena itulah ustadzah Fatimah menginginkan Rara menjadi madunya,” Ivan berkata sambil menggelengkan kepala.
Bagaimana mungkin ia rela melepaskan Khaira untuk menikah dengan temannya bahkan menjadi istri keduanya lagi. Ia akan memperjuangkan Khaira dan anak-anaknya walau apa pun yang terjadi. Sudah tidak ada kata berhenti untuknya yang telah memulai.
“Pantas saja selama ini, jika bundanya si kembar lewat ustadz Hanan selalu memperhatikannya dengan serius,” ujar Danu serius.
“Kapan itu?” Ivan bertanya dengan cepat.
“Empat hari yang lalu,” Danu menjawab dengan santai, “Saya dan ustadz Hanan hendak pergi bersama mau melihat progress pembangunan rumah sakit. Saat itu bundanya si kembar lewat di depan mobil kami. Beliau melarang saya menghidupkan mesin hingga bundanya si kembar menjauh.”
Ivan menggelengkan kepala mendengar cerita Danu. Ia tak bisa mengingkarinya bahwa apa yang dikatakan Danu memang benar. Tatapan ustadz Hanan terhadap si kembar dapat menggambarkan semuanya.
“Aku akan mengakui semuanya pada ustadz Hanan,” ujar Ivan beberapa saat kemudian.
“Maksud Bos?” Danu menatap Ivan tak mengerti.
“Seperti apa yang ku katakan padamu,” Ivan berkata dengan penuh keyakinan, “Aku tau, semua memang perlu waktu. Tapi semua waktu yang ada akan ku gunakan untuk memperjuangkan mereka kembali.”
“Benar Bos, sulit bukan berarti tidak mungkin. Saya akan membantu Bos memperjuangkan ini semua,” Danu berkata dengan penuh keyakinan, “Semoga Allah meridoi apa yang menjadi keinginan Bos dan memberikan yang terbaik agar Bos dan keluarga bisa bersatu kembali.”
Ivan tersenyum puas mendengar perkataan Danu. Ia merasa tenang karena Danu dapat ia percayai dan mendukung semua yang akan ia lakukan untuk menyatukan kembali keluarganya yang telah tercerai berai.
__ADS_1