Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 19


__ADS_3

Seharian ini kepala Adi terasa berat. Semalam-malaman ia tak bisa tidur. Kerinduannya terhadap si kembar  serta si mungil begitu menyesakkan dadanya, ditambah lagi omongan mamanya yang membuat ia kesulitan bernafas. Dengan berpisahnya ia dan Hani, Adi pikir akan membuat hubungan mamanya dan Helen semakin baik, tapi kenyataan setiap terlibat percakapan keduanya hanya mendatangkan emosi bagi kedua belah pihak. Ia benar-benar pusing memikirkannya.


Ia dan Johan baru kembali dari Bandung melihat progress pembangunan hotelnya di sana. Setelah Johan mengambil mobil di kantor, ia meneruskan perjalanan seorang diri. Diliriknya  jam di pergelangan tangan, yang menunjukkan pukul empat sore.


Di pinggiran kota ia melihat taman hijau yang dipenuhi dengan bocah-bocah kecil. Entah bisikan dari mana yang membuatnya menepikan mobil dan berjalan mendekati sepasang bocah yang sedang bermain bola. Matanya membulat sempurna, ternyata itu adalah si kembar Ariq dan Ali yang asyik bermain bola. Matanya tak berkedip memandang kedua bocah itu.


Adi merasa sedih sendiri, ia berjalan menghampiri keduanya. Tetapi si kembar  tidak menghiraukan kehadirannya, tetap asyik bermain saling mengoper dan menendang. Adi hanya memandang mereka dari jarak 4 meter untuk mengurangi rasa rindu yang semakin hari semakin membuncah hingga terasa menyesakkan dada.


“Papa cini…” suara cempreng membuat Adi memutar kepalanya. Tampak Hasya sedang bermain dengan seorang lelaki muda yang masih menggunakan baju ASNnya.


Adi terpaku melihat Faiq yang berjalan sambil menggandeng tangan  Hasya yang menggenggam jemarinya dengan kuat sambil membawakan sekeranjang buah-buahan di tangan kiri. Mereka berdua menghampiri Ariq dan Ali.


“Mas Ariq, mas Ali pulang yok. Udah sore, ntar bunda marah lo…” Ia berjongkok di hadapan si kembar sambil melirik jam di pergelangan tangannya, “Minggu besok kita main lagi ke sini. Papa janji.”


“Mas puyang. Bunda nanti mayah-mayah…” si mungil ikut membujuk sodaranya, membuat Faiq tertawa kecil, ia mengacak-acak rambut kriwil Hasya dan mengecup keningnya penuh sayang.


Hati Adi tercekat melihat perlakuan Faiq pada ketiga anaknya. Ia sebagai ayah kandung, tapi tidak pernah memberikan sentuhan ataupun  belaian kasih sayang yang tulus seperti pria muda itu lakukan pada ketiga anaknya.


“Tuan …” suara bariton yang sangat ia kenal begitu dekat di sampingnya.


Adi berjalan agak menjauh dari keberadaan mereka. Ia menoleh, “Jo, apa yang kamu lakukan di sini?”


“Maafkan saya, karena perjanjian kerja tadi terbawa di dalam tas kerja saya.”  Johan menatap Adi yang tidak fokus mendengar omongannya. Ia mengikuti arah mata Adi. Kini ia paham bahwa bossnya itu sedang menatap ketiga bocah kecil dengan seorang laki-laki dewasa yang bermain bola dengan jarak 5 meter di depan mereka. “Saya pikir mungkin Tuan ingin memeriksanya saat di rumah nanti.”


“Jo, lihatlah betapa miris nasibku. Anak-anakku tidak mengenalku, dan mereka lebih nyaman bermain dengan orang asing.” Adi berkata dengan nada lirih. “Aku ingin memeluk mereka. Aku sangat merindukan mereka hingga menyesakkan dadaku.”

__ADS_1


Johan terpana, kini ia tahu apa yang mempengaruhi pemikiran bossnya. Ia merasa mengenali lelaki yang bersama anak-anak bossnya itu. Ia berusaha mengingatnya...


“Aku mengenal lelaki itu. Dia adalah Faiq Al Fareza, putra tunggal om  Darmawan, pemilik Horisson Corp.  Tampaknya dia memiliki hubungan khusus dengan Hani…”


Johan ingat sesuatu, “Dia adalah hakim yang memutus kasus perceraian anda dan nyonya Hani.”  Mata Johan tak lepas memandang mereka berempat yang kini mengakhiri permainan mereka. Ia melihat Faiq yang membereskan bola dan memasukkan ke dalam tas punggungnya.


Adi terperangah, “Benarkah itu?” Adi berpikir keras, “Berarti dia sudah lama mengenal Hani dan anak-anak?”


“Saya kurang paham, Tuan. Semoga nyonya Hani segera menemukan jodohnya.”


“Apa maksudmu?” Adi tak senang mendengar perkataan asisstennya.


“Kasihan juga kan, tuan. Nyonya Hani masih muda, anak-anaknya memerlukan figur seorang ayah.”


Adi terdiam. Apakah ia rela jika Hani dan anak-anaknya segera menemukan pengganti dirinya. Ia tidak pernah bahkan belum memikirkan sampai ke sana.


Adi dan Johan terdiam melihat Faiq sudah berdiri di hadapan mereka, sambil mengiringi si kembar dengan Hasya yang berada dalam gendongannya.


“Selamat sore juga tuan Faiq. Wah, menyenangkan sekali bawa anak-anak main di taman sore hari begini.” Johan membalas sapaan Faiq.


Faiq menganggukkan kepala sambil tersenyum ramah, “Saya sudah janjian sama anak-anak, paling tidak seminggu sekali bawa mereka bermain di sini. Biar mereka tidak bosan di rumah. Selain itu baik juga agar mereka bisa bersosialisasi dengan lingkungan.”


“Papa, ayo pulang.” Ariq menarik-narik celana Faiq agar segera beranjak dari sana. Ia merasa tidak nyaman melihat pandangan Adi yang terus mengarah kepada mereka tanpa berkedip.


“Sini kenalan dulu sama temen papa.” Faiq berusaha membujuk Ariq dan Ali yang sudah tidak sabaran menuju mobil. Faiq dapat melihat perubahan muka Adi saat menatap ketiga anaknya yang merasa asing dengan kehadiran ayah kandung mereka.

__ADS_1


Si kembar langsung mengulurkan tangannya ke arah Adi dan Johan, “Selamat sore, om.” Keduanya menyapa Adi berbarengan.


Dada Adi terasa diiris dengan sembilu mendengar darah dagingnya memanggilnya om. Matanya memerah menahan kepedihan yang tanpa kompromi hinggap di hatinya.


Hasya yang berada di gendongan Faiq melihat Adi tanpa berkedip. Matanya yang bulat dan jeli seperti mata boneka barbie, membuat Adi ingin menggendong dan menciumnya dengan segenap jiwa.


Adi menghela nafas melihat ketiga anaknya. Mereka tumbuh begitu sehat. Wajah Ariq sangat mirip dengan Hani, tetapi matanya identik mata Adi yang tajam bagaikan elang. Sedangkan Ali perpaduan sempurna antara Adi dan Hani. Ia memandang Hasya, si mungil yang dari awal telah mencuri hatinya. Dadanya bergemuruh ingin merengkuh ketiganya ke dalam pelukan. Dadanya terasa sesak menahan rindu yang terasa berat.


“Ayo, main sama om…” Johan berusaha mengambil Hasya di gendongan Faiq. Ia menyadari Adi ingin menggendong si kecil, tapi berusaha menahan keinginannya. Dan ia ingin mewujudkan keinginan Adi untuk menggendong dan memeluk si mungil.


“Ndak mahu. Dedek mahu itut papa puyang.” Ia menolak tangan Johan yang terulur padanya. Mata bulatnya menatap Johan dan Adi bergantian.


Adi menelan ludahnya dengan getir. Ia  tak bisa berkata apa-apa melihat penolakan anak-anaknya. Dadanya bergemuruh, merasakan kesedihan yang melingkupi hatinya. Matanya berkaca-kaca memandang Hasya yang memeluk leher Faiq dengan erat.


“Papa, puyang…” Hasya berbisik ke telinga Faiq.


“Maafkan anak-anak. Mereka tidak terbiasa dengan orang asing.” Faiq langsung berjalan meninggalkan mereka berdua. “Kami permisi dulu. Hari sudah sore, kalau kemalaman mandi bundanya bisa marah.” Faiq menyunggingkan senyum pada keduanya.


Ucapan Faiq semakin menghujam jantung Adi seperti belati yang menancap dengan kuat. Bagaimana ia dianggap orang asing, sementara ketiganya adalah darah dagingnya sendiri. Sedangkan Faiq yang tidak ada hubungan darah begitu dekat dengan ketiganya, dan telah mengisi kekosongan yang telah ia ciptakan bagi ketiga buah hatinya.


Pandangannya nanar menatap Faiq dan kedua malaikat kecil yang berlari dengan riang, sementara Hasya dengan riang nangkring di atas bahu Faiq. Suara tawa keempatnya masih terdengar mendayu di telinga Adi.


Kehampaan menyelimuti hati Adi. Apa yang kini ia harapkan. Ia menghenyakkan tubuhnya di kursi taman. Tulang belulangnya terasa lemah. Melihat pemandangan di depannya membuat ia ingin memutar ulang waktu, di mana ia akan lebih memperhatikan Hani dan si kembar, serta Hasya yang begitu kuat mengikat hatinya. Pikiran Adi benar-benar kalut.


Setelah beberapa saat terdiam di kursi taman, akhirnya dengan langkah gontai, Adi berjalan meninggalkan taman yang mulai sepi, karena matahari sudah mulai turun ke peraduannya. Johan  memandang bossnya dengan perasaan miris.

__ADS_1


 


 


__ADS_2