Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 92


__ADS_3

Karena menyadari kerepotan yang akan dirasakan menantunya dalam merawat si kembar yang kini sudah berumur 3 bulan lebih, Marisa atas persetujuan Faiq mempekerjakan 2 orang babby sitter untuk membantu Hani. Keduanya berusia sekitar 40 tahun, yaitu Wati dan Diah. Keduanya sangat senang saat Marisa datang ke tempat penyaluran tenaga babby sitter, apalagi gaji yang ditawarkan Marisa sangat menjanjikan. Kini keduanya mulai menjalankan tugas masing-masing dengan menidurkan si kembar yang masih ditempatkan satu ruangan di kamar Hani.


Ariq dan Ali tidak mau jauh dari Hani, begitu keluarga yang lain sudah memasuki kamar tamu yang sudah disediakan tuan rumah. Malam sudah semakin larut, Hani masih duduk bercengkrama bersama si kembar.


“Bunda kenapa baru pulang sekarang?” Ali menggenggam tangan kiri Hani karena tangan kanannya sedang membelai rambut Hasya yang kini tertidur pulas dengan berbantalkan pahanya.


“Bunda masih dalam perawatan, sayang.” Jawab Hani lembut.


Rasanya belum puas ia menghabiskan waktu bersama si kembar yang sangat ia rindukan. Begitu pun si mungil yang sangat menyita perhatiannya. Ia berusaha menggali ingatan tentang si mungil yang tidak mau lepas darinya begitu kelelahan bermain.


Ia memandang bocah kembar yang kini duduk di samping kiri dan kanannya. Entah berapa lama waktu yang ia lewatkan, Hani membelai rambut Ariq yang menatapnya dengan sayu.


“Maafkan bunda yang telah melewatkan masa pertumbuhan kalian. Bunda sangat menyayangi  mas Ariq dan mas Ali.”


“Apakah kita akan tinggal di sini bersama?” Ariq memandang Hani penuh tanda tanya.


“Memangnya selama bunda di rumah sakit kalian tinggal bersama siapa?” Hani jadi penasaran dengan ketiga buah hatinya.


“Kita ikut ayah tinggal di rumah  eyang.” Ujar Ariq sambil  merebahkan kepalanya di paha Hani.


Sejenak Hani termenung. Sejak kapan Adi dan Linda dekat dengan anak-anaknya. Ia merasa seperti baru terbangun dari tidur, dan menyadari bahwa telah banyak waktu yang ia lewatkan.


Suasana terasa hening. Hani menatap ketiga buah hatinya yang kini tertidur dengan tenang. Wajah-wajah polos tanpa dosa membuatnya menitikkan air mata.


“Sayang…” Faiq kini berjongkok di hadapannya.


Sejak satu jam yang lalu Faiq dengan setia mengamati segala interaksi yang terjadi antara Hani dan anak-anaknya. Ia yakin, banyak hal yang ingin diketahui istrinya. Raut kebingungan yang Faiq rasakan adalah saat Hani menatap Hasya. Matanya tak lepas dari putri kecil yang imut dan menggemaskan itu.

__ADS_1


“Mas, bagaimana dengan si kembar. Apa mereka sudah tidur?”


Faiq menganggukkan kepala, “Sekarang saatnya kamu beristirahat. Mas akan memindahkan anak-anak ke kamar.”


Dengan cekatan Faiq mengangkat satu demi satu anak-anaknya menuju kamar mereka yang terletak di lantai atas sambil meminta Lina dan Diah yang kebetulan masih mengobrol di kamar si kembar yang berdampingan dengan kamar Hasya.


Saat Faiq kembali ke kamar ia melihat Hani masih melaksanakan salat Isya. Dengan cepat ia membersihkan diri, karena seharian bercengkrama bersama keluarga besarnya membuat tubuh Faiq terasa lengket dengan keringat.


Setelah membersihkan diri, Faiq langsung mengambil wudu untuk melaksanakan salat Isya. Saat ia keluar kamar mandi Hani sudah merapikan mukena dan menyimpannya dengan rapi.


Hani masih memandang bayi kembarnya yang tertidur dengan pulas di dalam box bayi yang berada di kamar mereka. Bayi yang sangat menggemaskan. Jemarinya membelai pipi chubby bayi perempuannya yang tampak tersenyum dalam tidur.


“Dia sangat cantik seperti bundanya…” sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang.


Hani menahan nafasnya merasakan kehangatan rengkuhan suaminya. Faiq menumpukan dagunya di pundak Hani merasakan aroma wangi rambut istrinya. Naluri kelakiannya telah terbangun, tapi ia berusaha menahannya. Ia tidak ingin memaksa Hani.


Jemari Faiq mengangkat dagu Hani yang tertunduk, “Mas akan cerita sepenggal kisah yang mungkin ingin kamu ketahui, dan mas nggak mau kamu mendapat informasi itu dari orang lain.”


Ia menggenggam jemari Hani dan membawanya duduk di sofa yang berada di dalam kamar mereka.


“Mas tau, kamu bingung dengan keberadaan Sasya…” Faiq menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya, “Sasya adalah putri yang kamu lahirkan setelah perpisahanmu dengan Aditama.”


Hani tertegun. Matanya berkaca-kaca. Masa kelam yang berusaha ia lupakan kini muncul lagi dalam benaknya.


“Sayang, semuanya telah berlalu. Kamu dan anak-anak harus bahagia. Ada mas juga bayi kita yang sangat membutuhkanmu.” Faiq mengusap punggung istrinya dengan lembut.


“Bagaimana kita bisa menikah?”  pertanyaan yang sejak beberapa hari menggantung di kepalanya akhirnya dapat ia ungkapkan.

__ADS_1


Faiq meraih kedua tangan Hani dan mengecup jemarinya dengan lembut. Ia memandang mata bening yang begitu menghanyutkan. Kecupan ringan Faiq daratkan di kening istrinya.


“Mas lah yang telah memutus perkara perceraian antara kamu dan mantan suamimu,” ujar Faiq sambil membelai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang, “Kita menikah dua tahun kemudian, disaat kamu sudah mulai bisa membuka hatimu untuk mas, hingga lahirlah anak-anak kita.”


Hani ingin menanyakan penyebab ia mengalami amnesia. Tapi bibirnya terasa berat menanyakan itu. Biarlah waktu saja yang akan menjawabnya.  Ia tidak ingin berpikir terlalu berat. Suatu saat pasti ia akan mengetahui dengan sendirinya.


Hani merasakan sesuatu yang berat di atas perutnya. Ia melihat tangan Faiq melingkar di tubuhnya. Nafas Faiq terdengar teratur. Hani menatap dalam-dalam wajah tampan di depannya. Ia ingin mengingat bagaimana kedekatan mereka, bagaimana ia bisa menjatuhkan hati pada lelaki yang kini telah memberinya sepasang bayi kembar.


Jemarinya membelai alis tebal Faiq yang seperti  semut berjalan beriringan. Jarinya kini beralih pada hidung suaminya yang tinggi seperti perosotan. Sungguh ciptaan Allah yang sangat sempurna. Hani memandang wajah suaminya dengan lekat.


Hani terkejut ketika tangan Faiq tiba-tiba menahan jemarinya yang masih membelai rambut hitam tebal suaminya.


Mata Faiq kini terbuka dengan lebar, ia mengecup jemari Hani yang kini berada dalam genggamannya. Tatapan matanya menyiratkan sesuatu.


“Maafkan aku…” ujar Hani lirih.


Ia merasa malu karena Faiq mengetahui perbuatannya yang telah lancang menyentuh wajahnya.


“Semuanya adalah milikmu sayang. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan.” Faiq mulai menuntun jemari Hani ke bibirnya. “Mas tau, mungkin perasaanmu masih bimbang terhadap mas. Tapi perasaan yang mas miliki terhadapmu tak akan berubah sampai kapanpun.”


Hani menatap mata Faiq dengan wajah merona. Ia menyadari tatapan suami mengandung sesuatu yang menuntut lebih.


Faiq mendekatkan wajahnya pada Hani, dan mulai menyapu bibirnya dengan lembut. Tiada penolakan dari Hani. Ciuman Faiq semakin menuntut. Jemarinya mulai membelai punggung istrinya.


Hani teringat nasehat yang diucapkan Astri padanya siang tadi. Ia kini pasrah dengan semua yang dilakukan Faiq terhadap dirinya. Bukankah menyenangkan suami adalah ladang amal dan mendatangkan pahala bagi seorang istri.


Walau Hani belum merasakan apapun terhadap suaminya, tapi ia dapat merasakan perlakuan Faiq yang sangat lembut dan begitu memanjakan dirirnya juga sangat memuja tubuhnya. Ia tak bisa menahan desahan yang keluar dari bibirnya saat Faiq telah membawanya menggapai nirwana.

__ADS_1


__ADS_2