
Dengan cepat Hendra memacu mobilnya menuju rumah sakit Premiere Surabaya. Ia mempunyai kenalan yang bekerja di rumah sakit tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya segera menuju unit IGD untuk penanganan pertama pada pasien.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Hendra membawa Faiq untuk menemui seorang dokter penyakit dalam. Seorang perempuan parobaya sudah menunggu di dalam ruangannya.
“Selamat pagi, bu.” Sapa Hendra pada dr. Risma Dewanti yang sudah standby di kursi kerjanya. Hendra mengenal dr. Risma karena beliau adalah ibu dari teman dekatnya Kelvin yang juga berprofesi sebagai dokter bedah di rumah sakit tersebut.
“Ada yang bisa ibu bantu, nak Hendra?” dr. Risma tersenyum ramah pada keduanya. Baru kali ini ia melihat Hendra bersama lelaki muda itu.
“Ini bos saya, bu. Namanya Faiq Al FAreza, beliau dari Jakarta. Tapi sudah tiga hari ini mengalami mual dan muntah-muntah, hingga fisiknya lemah. Nafsu makannya juga berkurang.” Hendra menjelaskan kondisi Faiq yang hanya diam menyaksikan interaksi mereka.
“Baiklah, ibu periksa dulu ya nak Faiq…” Risma langsung meletakkan stetoskopnya di atas perut dan bergeser hingga ke dada Faiq, sambil mengecek tekanan darahnya. Keningnya berkerut berusaha mencari sesuatu dan menekan perut Faiq.
“Apa di sini terasa nyeri?” Ia menatap Faiq seksama.
“Tidak, dokter.” Faiq selalu menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dr. Risma.
Akhirnya dr. Risma mengakhiri pemeriksaannya. Ia kembali duduk di kursi kerjanya menunggu Faiq yang masih merapikan kemejanya.
“Penyakit apa yang saya alami, dokter?” Faiq bertanya dengan rasa penasaran melihat wajah dr. Risma yang tersenyum tipis. Selama ini ia tidak pernah mengeluh dengan kondisi tubuhnya. Dan ia tidak merasa mengidap penyakit apapun. Ia sangat khawatir sekarang.
“Nak Faiq sudah menikah?”
Faiq mengangguk cepat sambil tersenyum membayangkan wajah ayu sang istri yang tiba-tiba ia rindukan kehadirannya.
“Sebenarnya yang perlu dibawa periksa itu istri nak Faiq. Sudah berapa lama nak Faiq menikah?”
“Hampir empat bulan, dokter.”
“Wah, masih anget-angetnya. Tampaknya bibit nak Faiq emang joss tenan. Bawalah istrimu ke dokter kandungan. Nak Faiq mengalami couvade syndrome yang artinya hamil simpatik.”
“Maksudnya?” Faiq masih belum paham perkataan dr. Risma.
“Istri nak Faiq sedang hamil muda. Tapi yang merasakan mual-mual dan muntah itu nak Faiq. Itulah yang disebut hamil simpatik.”
“Alhamdulillah, ya Allah. Hani telah mengandung anakku.” Faiq mengucap syukur mendengar perkataan dr. Risma.
Ia langsung teringat seminggu yang lalu saat malam-malam Hani ingin mengajaknya makan di restoran Padang, tetapi Faiq menolaknya karena Hesti yang tiba-tiba terpeleset di kamar mandi, sehingga ia tidak menuruti keinginan Hani.
Kesedihan serta rasa bersalah tiba-tiba menggelayuti perasaan Faiq. Ia tidak mengetahui bahwa Hani sedang ngidam dan menginginkan makan nasi Padang.
“Kalau istri pengen sesuatu harus dituruti ya. Kan kasian…Itu bukan kemauan istri lho, tapi janin yang ada di dalam kandungan.”
“Terima kasih banyak, dokter.” Faiq hanya menyatukan tangannya ke dada saat dr. Risma ingin menyalaminya. “Saya akan ingat pesan dokter.”
Badannya yang tadi terasa lemah kembali bersemangat mengetahui bahwa Hani sedang mengandung janinnya. Calon buah hati yang sangat ia harapkan. Kerinduannya pada Hani membuncah tiba-tiba, mengingat di rahim Hani telah ada Faiq junior.
Kembali Faiq menghubungi ponsel Hani, untuk menanyakan kabarnya dan anak-anak. Kekecewaan kembali menghampirinya, nomor yang ia hubungi tetap berada di luar jangkauan.
“Mungkin Hani lagi ngambek…” Faiq berusaha menghibur dirinya. “Dan merasa cemburu pada Hesti, hingga tidak mengindahkan panggilanku…” Faiq menatap ponselnya.
__ADS_1
Kecemasan mulai mengganggu piikirannya. Sudah dua hari ia mencoba menghubungi ponsel Hani, jangankan di jawab, panggilan selalu berada di luar jangkauan. Faiq merasa resah. Tapi ia berusaha bersikap tenang.
Saat berjalan di lorong rumah sakit, Hendra menghentikan langkahnya melihat seorang gadis berhijab berjalan dengan seorang yang berpenampilan agamis.
“Assalamu’alaikum, Kiai.” Sapa Hendra dengan sopan saat mereka sudah berhadapan.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Kiai Solehuddin yang datang bersama putrinya yang bernama Hafizah menghentikan langkahnya melihat Hendra yang berjalan dengan seorang lelaki muda.
“Tuan Faiq, kenalkan beliau Kiai Solehuddin pimpinan salah satu ponpes di kota Surabaya ini.” Ujar Hendra. Matanya melirik Hafizah yang menundukkan muka tak berani menatapnya.
Faiq tersenyum sambil mengulurkan tangannya menyalami Kyai Solehuddin. Ia menyadari ada sesuatu yang terjadi antara Hendra dan putri sang kyai.
Saat menjabat tangan Faiq, Kiai Solehuddin merasakan hawa panas menyengat di tangannya. Ia memandang wajah Faiq dengan seksama. Ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya menyadari apa yang baru saja dilihat mata batinnya.
“Pak kiai ada keperluan apa datang kemari?” Hendra bertanya dengan sopan.
“Ada keluarga bapak yang sedang di rawat di sini.” Tatapan Kiai Solehuddin beralih pada Faiq, “Nak Hendra, sehabis Isya datanglah ke rumah bapak. Ajaklah temanmu. Bapak melihat ada energi negatif yang mengikutinya.”
“Baiklah kiai.” Hendra pamit undur diri yang diikuti Faiq dengan kerutan di jidatnya mendengar perkataan kiai Solehuddin.
Sesampai di kantornya Faiq langsung memasuki ruangan. Ia ingin segera beristirahat. Tetapi ia ingat, perutnya belum terisi apapun sejak muntah pagi tadi. Tiba-tiba makanan asli Surabaya muncul begitu saja di kepalanya.
“Hen, tolong carikan aku rujak cingur dua porsi, serta lontong balap.” Saat menyebut itu, saliva Faiq udah terasa meleleh di bibirnya.
“Wah, bos ngidam ini.” Hendra tersenyum, “Pesan apalagi bos?”
Faiq mengingat sejenak, “Bilang pada sekretarismu untuk menjaga jarak denganku. Aku tidak bisa mencium aroma parfumnya, sangat mengganggu.”
“Apa maksudmu?”
Hendra tertawa kecil, “Kemarin sore saat rapat, bos juga muntah saat didekati Celin, manajer pemasaran.”
Faiq tersenyum mendengar ucapan Hendra yang terdengar nggak masuk akal. Tapi ada benarnya juga. Lantas saat ia berciuman dengan Hesti, ia langsung muntah. Tapi kenapa saat berdekatan dengan Hani emosinya selalu meningkat? Apakah masuk akal?
Faiq sudah bersiap dengan baju santainya. Jam empat sore ia akan kembali ke Jakarta kerinduannya pada Hani dan ketiga buah hatinya udah sampai di ubun-ubun. Dengan langkah tegap ia keluar dari kamar hotel. Senyum terkembang di wajah tampannya.
Menggunakan mobil hotel yang membawanya menuju bandara, Faiq melangkah penuh semangat. Beberapa jam ke depan ia akan menemui keluarga tercintanya. Panggilan Hendra melalui ponsel yang tersimpan di dalam jaket kulitnya tak ia pedulikan. Setelah check in, Faiq memasuki ruang tunggu. Pesawat Sriwijaya akan berangkat tepat jam 4 sore.
Sambil menunggu keberangkatan sekitar 10 menit, Faiq membuka ponselnya. Ia membaca chat kantor serta beberapa pesan yang masuk. Satupun tidak ada pesan ataupun panggilan dari Hani. Sedangkan chat serta panggilan tak terjawab dari Hesti ada beberapa kali masuk namun ia biarkan. Untuk sementara berita kehamilan Hani membuatnya melupakan kalau ia juga mempunyai istri lain.
Faiq merasa kesal, mendengar informasi penerbangan ke Jakarta harus ditunda hingga 5 jam ke depan akibat pesawat yang hendak ia naiki tergelincir sehingga tidak bisa take off. Kalau tau begini mendingan ia minta dijemput pakai jet pribadi.
Dengan cepat ia menelpon Hendra untuk menjemputnya kembali. Besok pagi ia akan menghubungi Handoko asistennya yang di Jakarta untuk menjemputnya menggunakan jet pribadi. Tanpa suara Faiq mengikuti langkah Hendra menuju mobil perusahaan yang terparkir di lokasi bandara.
“Bos, kita langsung ke rumah kiai Solehuddin ya.” Hendra berusaha mengingatkan Faiq.
“Kalau nggak kesana emang ngapain?” Faiq memejamkan mata membayangkan wajah Hani dan buah hati mereka.
“Mungkin ada hal yang tak terduga yang ingin disampaikan kiai Solehuddin. Aku yakin bukan perkara sepele.”
__ADS_1
Faiq membuka matanya, “Baiklah. Anggap saja silaturahmi.” Ujar Faiq sambil menganggukkan kepala menyetujui usul Hendra. Ia sebenarnya tidak mempercayai ucapan kiai Solehuddin, tetapi ia menghargai undangan kiai kharismatik tersebut.
Memasuki pondok pesantren, azan Maghrib langsung terdengar. Hendra memarkirkan mobil di samping masjid. Para santriwan serta santriwati dengan riang berjalan menuju masjid.
Setelah melaksanakan salat Magrib, beberapa ustadz dan kiai Solehuddin masih duduk itikaf di masjid. Ada juga yang berbincang ringan masalah-masalah yang dialami pondok maupun persoalan santriwan dan santriwati.
Azan Isya telah berkumandang. Faiq dan Hendra langsung mengikuti salat Isya berjamaah dengan para ustadz serta santriwan dan santriwati yang kini sudah memenuhi masjid.
Faiq dan Hendra belum beranjak dari masjid saat salat Isya telah selesai. Mereka masih menunggu, hingga tak lama kemudian seorang santriwan menghampiri mereka, karena sudah ditunggu kiai Solehuddin di kediamannya.
“Assalamu’alaikum.” Faiq dan Hendra berbarengan memberi salam.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Suara berat kiai Solehuddin menyambut keduanya.
Faiq memandang sekelilingnya. Ruangan yang tidak terlalu besar, tetapi cukup adem. Ia melihat ada empat orang ustadz yang berada di dalam ruangan itu. Ia mengganggukkan kepala dengan takzim pada mereka.
“Perkenalkan nak Faiq. Ini ustadz Zaky, ustadz Romi, ustadz Azzam, dan ustadz Hikmal. Beliau berempat ini asisten saya.” Kiai Solehuddin memperkenalkan 4 lelaki muda yang seruangan dengan mereka.
Faiq tersenyum sambil mengulurkan tangannya bersalaman dengan keempatnya.
“Saya yakin nak Faiq tidak mempercayai ucapan saya siang tadi.” Kiai Solehuddin langsung ke pokok permasalahan membuat Faiq tidak enak hati.
“Maksud saya bukan seperti itu, kiai. Hanya saja saya tidak mempercayai masalah seperti itu. Di zaman serta instan ini, menurut saya tidak masuk akal…” Faiq berusaha menyampaikan pikirannya.
“Nak Faiq, segala yang terjadi pada masa nabi, semuanya akan terjadi lagi. Rasul kita sendiri pernah terkena sihir. Jadi kita harus percaya bahwa hal-hal seperti itu termasuk perkara yang gaib. Tinggal kita sendiri, bagaimana ikhtiar kita supaya terhindar dari hal-hal seperti itu.”
Faiq menganggukkan kepala. Ia tak ingin berdebat dengan kiai Solehuddin, karena itu bukanlah adab yang baik terhadap orang yang lebih tua. Apalagi kiai Solehuddin adalah pemuka agama dan dihormati di kalangan masyarakat.
“Apakah nak Faiq memiliki musuh?” Kiai Solehuddin langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
Faiq menggelengkan kepala, “Saya tidak mempunyai musuh, kiai. Dan saya mempercayakan semuanya kepada Allah untuk melindungi saya dan keluarga saya.”
“Betul sekali.” Kiai Solehuddin membenarkan pendapat Faiq. Ia mengambil segelas air putih, kemudian membacakan doa di atasnya langsung meniupkan ke dalam air. Beliau mengulurkan kepada Faiq, “Minumlah.”
Hendra menganggukkan kepala melihat keraguan di mata Faiq.
“Bismillahirrahmanirrahim.” Faiq meminumnya dengan sekali teguk.
Kiai Solehuddin menatap Faiq tanpa berkedip, “Ada yang berusaha mengganggu rumah tanggamu. Dan membuat nak Faiq berpisah dengan keluarga.”
“Astagfirullahaladjim.” Faiq terperanjat mendengar ucapan kiai Solehuddin. Ia sama sekali tak mempercayai semua itu, karena ia tak melihat kejanggalan dalam rumah tangganya.
“Saya melihat energi negatif dari tatapan mata nak Faiq. Kamu tidak betah berada di rumah. Dan sering bertikai dengan istrimu. Orang itu telah menanamkan kebencian nak Faiq terhadap istri dan keluarga nak Faiq.”
“Itu tidak mungkin…” Faiq menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Hubungannya dengan Hani baik-baik saja, dan sedang hangat-hangatnya. Walau harus ia akui, akhir-akhir ini memang ada yang mengganjal di pikirannya.
“Terserah nak Faiq mau percaya atau tidak. Mereka mengirimnya melalui makanan. Sihir mereka sangat kuat. Tapi karena nak Faiq sudah dua hari tidak mengonsumsi makanan dari mereka sihirnya menjadi lemah.”
__ADS_1