
Seharian ini dihabiskan Ivan berkumpul bersama keluarga Khaira. Ia mengikuti Valdo dan Ariq yang mendampingi anak-anak mereka bermain di taman samping rumah oma Marisa yang lapang dan rindang.
Ivan mendengarkan cerita Ariq tentang kisah masa kecil mereka. Baru sekarang ia mengerti hubungan persaudaraan antara Ariq dan Khaira yang memiliki ayah yang berbeda. Ia menyimak dengan serius cerita Ariq.
Ia memang pernah mendengar cerita almarhum ayahnya tentang kedua pengusaha terkenal di masanya, Aditama Prayoga dan Faiq Al Fareza. Semua orang mengenal mereka yang bergerak di bidang yang berbeda tetapi sukses dan memiliki cabang di berbagai tempat.
“Setelah ini, mungkin kita akan jarang bertemu,” Ariq menatap Ivan yang duduk di hadapannya, “Aku titip Rara padamu.”
Valdo hanya mendengar pembicaraan keduanya tanpa bermaksud mengomentari. Saat ia menikah dengan Hasya pun kedua belah pihak keluarga telah membekalinya dengan berbagai nasehat, apalagi statusnya yang seorang duda.
“Ku harap kata-kata oma tidak akan pernah terjadi dalam hidup kalian,” Ariq berkata sambil menghela nafas berat, “Aku percaya padamu.”
Ivan menatap Khaira yang juga memandangnya dari jarak 6 meter. Ia tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ariq melihat kelakuan keduanya sambil tersenyum tipis menatap Valdo yang juga melihat kejadian itu.
Hasya, Ira bersama oma dan Khaira duduk santai di gazebo yang tidak terlalu jauh letaknya dari tempat Ivan dan iparnya bersantai. Walaupun meladeni percakapan mereka tetapi pandangannya terus mengarah pada Khaira yang tampak berselonjor sambil merasakan tiupan angin sepoi-sepoi.
Saat Azan Zuhur bergema di masjid yang berada di kompleks perumahan oma, Ariq segera mengajak ipar-iparnya untuk melaksanakan salat Zuhur bersama di masjid. Ivan mengikuti semua rutinitas keseharian yang dilakukan saudara iparnya di rumah oma Marisa.
Sepulangnya dari masjid, semuanya langsung menuju meja makan. Ivan tidak melihat keberadaan Hasya dan Khaira di antara mereka. Ia memandang Ira yang melayani Ariq dan oma.
“Istrimu lagi pengen makanan Western. Tuh, lagi dibikinin sama Sasya di belakang,” ujar Ira sambil mengarahkan pandangan ke arah dapur.
Ivan kembali ke kamar untuk mengganti baju kokonya dengan kaos santai dan celana pendek. Ia pamit ke belakang untuk melihat Hasya dan istrinya yang sedang menghadapi kompor dengan teflon yang sudah di hangatkan.
“Masak apa mbak?” tanpa sungkan Ivan mendekati keduanya yang berdiri menunggu teflon yang mulai panas.
“Nih, debaynya pengen makan steak. Kita bikin ala rumahan aja ya …. “ Hasya tersenyum menatap Ivan yang melihat potongan daging segar yang sudah disiapkan dengan bumbu yang sudah dihaluskan.
__ADS_1
“Biar aku saja mbak,” dengan sigap Ivan mengambil alih semua yang sudah berada di hadapannya, “Aku sudah terbiasa membuat steak pada saat kuliah. Kebetulan hari ini aku juga pengen makan steak.”
“Dasar anak dan bapak janjian,” Hasya tersenyum mendengar perkataan Ivan, “Mbak tinggal ya, mau buatin Babby A MP-ASI.”
Khaira merasa tidak nyaman karena Hasya bergegas ke depan untuk melayani suami dan anaknya makan siang. Ia hendak beranjak menyusul Hasya ke ruang makan, tapi pelukan di pinggangnya menahan langkah Khaira.
“Aku ingin kamu di sini menemaniku,” ujar Ivan pelan tanpa melepaskan pelukannya, “Seharian ini aku sangat merindukanmu.”
Khaira menggelengkan kepala mendengarkan ucapan Ivan. Dengan pelan ia melepas tangan kokoh Ivan di pinggangnya. Kali ini Ivan tidak memaksanya, Khaira akhirnya duduk di meja pantry menghadapi Ivan yang mulai memasak steak di teflon yang sudah di bubuhi margarin yang telah cair.
Ia penasaran dengan cara masak steak ala rumahan tapi dengan kualitas rasa restoran. Entah kenapa siang ini ia pengen menikmati menu Western tersebut, apa ini juga keinginan janin yang ada di dperutnya? Padahal selama ini ia paling tidak suka dengan makanan yang berbahan dasar daging segar, kecuali yang sudah diolah jadi rendang.
Karena penasaran akhirnya Khaira bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Ivan yang masih membalik steak yang sudah matang sebelahnya. Aroma wangi daging yang dibakar membuat Khaira menghirupnya dengan perasaan senang.
“Anak papa pengen makan steak ya?” Ivan mengelus kepala Khaira yang berdiri di sampingnya melihat proses pematangan steak.
Khaira tak menjawab. Ia malas menanggapi perkataan Ivan. Melihat steak yang sudah dihidangkan di hadapannya Khaira terdiam.
Ia segera mengambil garpu, dan menusuk steak menggunakan garpu langsung mengarahkan pada Khaira yang masih termangu.
“Makanlah …. “ Ivan meminta Khaira membuka mulut.
Selera makan Khaira hilang seketika. Ia hanya ingin mencium aromanya yang wangi tanpa ada niat untuk memakannya.
“Kamu pengen makan apa?” Ivan bertanya penuh perhatian.
Saat berbicara dengan Ariq dan Valdo tadi, keduanya sempat menceritakan masa-masa istrinya yang mengidam. Ivan dengan antusias mendengarnya, ia jadi paham dengan kondisi ibu hamil yang mood-nya akan berubah dengan cepat.
__ADS_1
Mata Khaira melihat bungkus mie kaldu milik art yang tersimpan di laci atas dekat dengan lemari bumbu. Ia bangkit dari kursi dan berjalan pelan menuju lemari kaca yang berada tak jauh dari tempat Ivan berdiri.
Ia berusaha meraih yang ia inginkan, tapi tangannya tidak berhasil menjangkau mie yang letaknya agak menjorok ke dalam tersebut.
Ivan tersenyum melihat kelakuan istrinya. Dengan sigap ia berdiri di belakang Khaira dengan tubuh menempel di belakangnya. Tangannya sebelah kiri merangkul pinggang Khaira sedangkan tangan kanannya meraih mie yang diinginkan istrinya.
Jantung Khaira berdetak cepat menyadari perlakuan Ivan terhadapnya. Ia ingin menjauh, tapi rangkulan Ivan begitu kuat.
“Kirain masih bikin steak, eh nyatanya bermesraan,” guyon Hasya yang tiba-tiba mengejutkan keduanya yang masih dalam posisi menempel.
Khaira langsung bergeser menjauhi Ivan yang tersenyum sambil menunjukkan bungkus mie instant yang berada di tangannya.
“Si jabang bayi udah nggak pengen makan steak mbak. Pengennya makan mie instant,” dengan santai Ivan menunjukkan mie instant yang ada di tangannya sambil mengedipkan mata pada Khaira yang melotot memandangnya.
“Eh, ibu hamil nggak boleh sering-sering makan mie instant lho …. “ Hasya terkejut melihat Ivan yang kini sudah merebus air untuk memasak mie.
“Aku makannya baru kali ini mbak,” Khaira langsung cemberut melihat Hasya yang memperingatkannya untuk tidak memakan makanan instant.
“Hanya kali ini mbak. Untuk selanjutnya aku akan mengontrol semua asupan nutrisi untuk bayi kami,” Ivan menengahi keduanya.
“Baiklah … ku percayakan padamu,” Hasya mengacungkan jempol ke arah Ivan, “Jangan lupa bawa ade kontrol ke dokter kandungan seepatnya.”
Khaira mendelik mendengar perkataan suami dan saudarinya yang tak memberinya ruang untuk menjawab.
Tanpa banyak bicara keduanya makan bersama di dapur. Khaira merasa senang menikmati mie yang telah dibuatkan suaminya dengan sepenuh hati. Sementara Ivan memakan steak yang telah ia buat dengan susah payah.
Kebahagiaan tak bisa ia sembunyikan, karena Khaira mulai bisa menerima kehadirannya walau pun dengan sikapnya yang masih acuh tapi butuh. Selama berada di rumah oma dan bersama dengan saudara Khaira yang lain membuat Ivan bisa menjadi lebih dekat dengan Khaira. Dan untuk hal-hal kecil yang ia lakukan tidak ada lagi penolakan berarti membuat Ivan merasa mulai mendapat angin segar.
__ADS_1
***Happy weekend. Dukung author terus ya. ***