Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 175 S2 (Sah)


__ADS_3

Semalaman Khaira tak bisa memejamkan mata, setelah percakapan yang terjadi antara ia dan Hasya. Air matanya terus mengalir menganak sungai saat MUA mulai menyapukan kuas ke wajahnya. Ia tidak bisa menutupi rasa sedihnya. Pembicaraan tadi malam dengan Hasya membuatnya agak terpukul. Ia tau, semua yang dikatakan Hasya adalah kebenaran. Walau  sejuta kali ia berusaha menolak, yang namanya perintah Allah dan Rasulullah adalah jelas dan pasti sudah menjadi ketetapan bagi setiap umat Islam.


Pihak MUA tidak bisa berkata apa pun, akhirnya setengah jam kemudian Khaira sudah bisa menguasai diri membuat tim MUA bisa bekerja secara maksimal. Dan mereka sangat puas dengan hasil kerja mereka sendiri.


Tepat pukul 8.30 rombongan Laras dan keluarga besarnya memasuki The Grand Horisson. Ballroom yang luas sudah disulap menjadi tempat pelaminan yang sangat indah dan megah. Setiap keluarga sudah diberikan akses untuk menginap di hotel mewah itu.


Ali terus berkoordinasi dengan pihak pengamanan hotel untuk melihat jika ada tanda-tanda yang mencurigakan sebelum acara pernikahan dimulai. Mereka menugaskan untuk mengecheck setiap tamu dan menyesuaikan dengan undangan yang diberikan.  Pada saat ijab qabul nanti, acara akan digelar secara tertutup dan hanya dihadiri kedua belah pihak keluarga besar saja tidak melibatkan orang luar.


Ivan menggunakan beskap putih gading dengan peci sewarna membuat penampilannya sangat sempurna. Wajahnya tampak segar. Setelah pengajian semalam selesai ia meminta Roni dan Hari  mengatur  pengamanan selama acara pernikahannya berlangsung. Ia tidak ingin peristiwa paling sakral dalam hidupnya mengalami gangguan dan drama yang tidak penting. Termasuk dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menggagalkan pernikahan mereka.


Ia memandang kursi yang disediakan untuk keluarga mempelai perempuan berusaha menemukan wajah yang sudah satu minggu tidak ia lihat, tapi hasilnya nihil. Wajah ayu itu belum kelihatan diantara para saudaranya.


“Sabar Ivan …. “ ia bermonolog sendiri.


Kini Ivan sudah duduk berhadapan dengan Fatih, yang akan menjadi wali nikah Khaira. Sedangkan saksi sudah disepakati untuk pihak  perempuan adalah  paman Hanif dan Om Sadewo yang akan mewakili pihak laki-laki.


MC segera mengoordinir acara dan meminta kedua belah pihak untuk segera mengisi tempat duduk yang telah disediakan panitia penyelenggara. Sebelum menuju acara inti, pembukaan diisi dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an, kemudian sepatah dua kata yang disampaikan oleh Ariq selalu tuan rumah yang menyelenggarakan acara pernikahan.


Acara dilanjutkan dengan penyerahan calon mempelai laki-laki beserta mas kawin kepada calon mempelai perempuan yang langsung disambut penerimaan pihak perempuan atas semua seserahan serta mas kawin yang dilanjutkan acara inti yaitu ijab qabul.


H. Ridwan selaku penghulu dari KUA sudah duduk berhadapan dengan Ivan dan Fatih, didampingi saksi dari kedua belah pihak.


Fatih segera menjabat tangan Ivan dengan erat. Ia menatap lelaki tegap yang tak lama lagi akan menjadi pemilik jiwa dan raga saudarinya. Kepadanya ia dan keluarga menyerahkan semua kehidupan Khaira di masa yang akan datang.


“Bismillahirrahmanirrahim, saudara Alexander Ivandra bin Hermanto, saya nikahkan dan kawinkan engkau  dengan saudari saya Khaira Althafunissa binti Faiq Al Fareza dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Khaira Althafunissa binti Faiq Al Fareza dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."


“Sah ….” Para saksi dengan kompak langsung menjawab begitu Ivan berhasi mengucapkan qabul dengan satu tarikan nafas.

__ADS_1


“Alhamdulillah …. “ wajah-wajah tegang dari pihak perempuan kini mulai mencair.


Marisa dan bu Ila merasa lega, karena kini Khaira telah memiliki pendamping yang akan menjaganya hingga hari tua, walaupun semua terjadi dengan berbagai peristiwa sedih di dalamnya.


“Nah, yang ditunggu sejak tadi sudah tiba,” H. Ridwan tersenyum melihat kedatangan pengantin perempuan, “Silakan salaman dulu dengan suaminya, sudah sah juga.”


Perasaan Ivan tersentuh melihat Khaira didampingi Ira  berjalan ke arahnya. Matanya tak berkedip melihat sang bidadari yang menundukkan wajah saat telah tiba di hadapannya.


Tanpa memandang wajah Ivan yang kini telah menjadi suaminya, Khaira meraih tangan Ivan yang sudah terulur di hadapannya. Khaira merasakan kehangatan mengalir di jemarinya saat berada dalam genggaman Ivan. Ia menciumnya dan meletakkan jemari kokoh itu sekejab di dahinya.


Ivan merasakan butiran hangat jatuh menetes di jemarinya saat Khaira mencium tangannya. Begitu jemari Khaira terlepas, kedua tangan Ivan langsung menangkup wajah bidadari ayu yang mulai detik ini telah menjadi miliknya.


Ivan terpana melihat kecantikan sempurna yang berada di hadapannya. Wajah keduanya sangat dekat, sehingga ia dapat melihat pantulan dirinya di mata bening yang tampak berbalut duka itu. Ivan berjanji akan menghapus duka yang masih tergambar jelas di sana.


Khaira tak kuasa membalas tatapan suaminya yang tampak teduh menenangkan. Belum sempat ia menundukkan kepala, ciuman hangat mendarat di keningnya. Khaira memejamkan mata bersamaan dengan air mata yang jatuh bercucuran.


Dengan cepat Ivan mengambil sapu tangan di saku beskap putihnya dan langsung menghapus air mata di pipi istrinya dengan lembut. Ia langsung memeluk tubuh Khaira yang kini mulai kelihatan berisi, terutama di bagian perut. Kehangatan mengaliri hati dan perasaannya, baru kali ini ia bisa menyentuh dan memeluk Khaira tanpa penolakan.


Khaira merasa sungkan atas perlakuan Ivan. Ia berusaha melepas genggaman tangan Ivan dijarinya. Tapi tangan kokoh itu semakin kuat menggenggamnya. Apa lagi saat sesi foto berdua dan bersama saudara serta keluarga kedua belah pihak, tangan Ivan tidak terlepas dari rangkulan di pinggangnya.


Setelah sesi foto selesai, para tamu dari kedua belah pihak segera menikmati hidangan yang disediakan. Khaira memeluk oma  yang masih duduk di kursi berdampingan dengan bu Ila yang kini telah menjadi mantan mertuanya dengan air mata yang sudah tidak mampu ia bendung. Bibirnya sudah tidak mampu berucap.


“Semoga kebahagiaan selalu bersamamu nak,” bu Ila mencium kening mantan menantunya dengan sejuta perasaan yang sukar dilukiskan.


“Semoga kalian berdua selalu berbahagia. Saling mencintai dan menyayangi. Tanggung jawab kalian sebagai suami istri dan calon ibu dan ayah semakin besar,” Laras memeluk menantunya dengan segenap perasaan bahagia.


Ivan terus mendampingi Khaira, yang masih menyalami dan berpelukan dengan mamanya. Ia pun turut menyalami satu demi satu iparnya dan istri mereka masing-masing.


“De, kamu istirahat dulu,” Hasya kini sudah berada di antara mereka, “Nanti malam acara resepsi kalian.”

__ADS_1


Tatapan Hasya beralih pada Ivan yang tak mengalihkan pandangan dari istrinya yang benar-benar kelihatan letih. Ia tersenyum melihat sikap adik iparnya dalam memperlakukan Khaira, ia yakin Khaira akan segera melupakan Abbas dan bisa mencintai Ivan yang sangat perhatian pada Khaira.


“Mas, ade langsung bawa istirahat sekarang. Kasian ia dan calon debaynya capek,” Hasya mencolek Ivan yang tak bergeming berdiri di samping Khaira yang masih memeluk Azkia.


Dengan cepat Ivan menganggukkan kepala. Dengan matanya ia memberi isyarat pada Roni untuk mendekat padanya.


Kini Roni sudah berada di hadapan mereka. Ia terpana melihat pengantin perempuan yang sangat cantik dan sempat bersemayam sesaat di hatinya. Tapi ia tersadar kembali.


“Selamat bos atas pernikahannya dan mbak Rara. Semoga selalu langgeng hingga aki-aki dan nini-nini,” ucapnya tulus.


Khaira akhirnya dapat tersenyum setelah melihat kehadiran Roni di antara mereka. Ia menyatukan kedua tangannya saat Roni hendak menyalaminya.


“Jangan sentuh istriku,” suara bariton Ivan membuatnya sadar kalau sang pemilik mulai menjada wilayah kekuasaannya.


“Wah bos, posesif amat. Baru satu jam menjadi suami,” Roni menggelengkan kepala melihat kelakuan bosnya.


“Aku memintamu mengantarkan makanan ke kamar kami,” Ivan langsung menyebut kamar president suite yang akan menjadi tempat mereka menghabiskan malam ini bersama.


“Deg!” Khaira melirik wajah Ivan dengan perasaan khawatir mulai merayap di hatinya.


“Baik bos,” Roni menganggukkan kepala dengan cepat.


Karena Ivan masih terlibat perbincangan dengan saudara dan iparnya, akhirnya Hasya dan Ira yang mengantarkan Khaira untuk beristirahat di kamar, karena masih ada acara resepsi nanti malam. Mereka ingin Khaira beristirahat dengan cukup, supaya memiliki kekuatan untuk nanti malam dalam acara resepsi pernikahan mereka yang akan melibatkan banyak tamu yang akan hadir dari kedua belah pihak.


Beberapa jam kemdian Ivan kembali ke kamar. Ia merasakan keheningan saat memasuki kamar president suite itu. Senyum mengembang di wajahnya saat melihat sesosok tubuh berbaring terlelap di tempat tidur berukuran king size tersebut.


Ivan berjalan mendekat. Di tatapnya wajah ayu yang kini tampak pulas dalam damai. Kini ia merasa bersyukur karena keinginannya untuk menyunting sang pujaan telah menjadi nyata. Dengan lembut Ivan mendaratkan ciuman di kening Khaira, perempuan yang selama ini telah membuat dunianya menjadi berwarna. Perempuan yang telah bersemayam dengan kuat di hatinya dan kini akan memberinya seorang anak. Kebahagiaan sempurna akan segera menjadi miliknya. Dan Ivan berharap Khaira akan segera membalas cintanya.


 

__ADS_1


Yang udah siap datang ke resepsi tetap jaga protokol kesehatan ya. Author duduknya agak di pojokan, sambil cari inspirasi biar bisa update lebih banyak. Selamat bermalam minggu. Happy always dan love you forever .....


__ADS_2