Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 203 S2 (Pergi Ke Lombok)


__ADS_3

Bayangan wajah Khaira saat bibirnya mengucap I love you too masih terbayang jelas di benak Ivan, hingga  akhirnya ia menutup wajah dengan selimut membuat Ivan merasa terbang ke langit ke tujuh. Rasanya ingin ia dekap dan tidak ia lepaskan seharian. Kesabarannya akhirnya berbuah manis. Khaira telah membalas cinta dan perasaan tulus yang ia miliki selama ini.


Ia membolak-balikkan badan di tempat tidur berusaha mencari posisi yang nyaman dalam tidurnya. Kebiasaan tidur bersama sang istri membuatnya susah memejamkan mata. Akhirnya Ivan membuka galeri ponsel dan mulai melihat-lihat foto Khaira yang ia simpan untuk menghilangkan rasa rindu karena berjauhan.


Sementara itu di tempat yang berbeda Khaira masih merasakan debaran jantungnya yang berdetak cepat. Ia tak bisa melepaskan pandangan dari wajah sang suami saat ia membalas ucapan suaminya dengan kata-kata yang sama dan langsung menyembunyikan wajah ke dalam selimut.


Malam ini ia seperti terhipnotis saat melihat wajah Ivan di ponsel. Ia merindukan semua sentuhan-sentuhan ringan yang selalu dilakukan suaminya saat kebersamaan mereka. Khaira menyentuh bibirnya sambil membayangkan wajah Ivan. Ia jadi malu sendiri, dan kulitnya meremang mengingat beberapa kali sentuhan suaminya mulai menyerempat ke area sensitif.


Ia mulai membaca-baca artikel tentang bagaimana menciptakan keluarga sakinah, mawahdah dan warahmah sehingga menjadikan rumah sebagai baiti jannati, dan yang tak kalah penting adalah cara membahagiakan suami. Khaira merasa malu saat membaca artikel demi artikel yang kebanyakan membahas tentang hubungan suami istri. Karena telah dihinggapi rasa kantuk, Khaira segera memejamkan mata dan terlelap dalam buaian.


Ivan dan Roni sedang menikmati sarapan pagi bersama, ketika  ponselnya berdering. Dengan cepat Ivan mengangkatnya.


“Assalamu’alaikum ….” Ivan memberi salam terlebih dahulu.


“Wa’alaikum salam,” Hari menjawab cepat, “Bos, barusan ada email masuk dari tuan Adam di Lombok.”


“Ya …. “


“Pemda setempat ingin bertemu bos secepatnya. Mereka akan mengadakan rapat jam dua siang. Bos diharapkan menghadiri rapat tersebut berkenaan dengan program Wonderfull Lombok Sumbawa ….”


Kening Ivan langsung berkerut mendengar perkataan Hari. Ia yang sudah mempersiapkan diri untuk kepulangan, kini dihadapkan dengan situasi kerja yang tidak bisa ia hindari, apalagi berkaitan dengan pihak pemerintah setempat  tentu hal tersebut tidak bisa diwakilkan.


“Mereka ingin proses pembuatan film pendek tentang Wonderfull Lombok disegerakan,” Hari terdiam sejenak, “Apa peralatan serta timnya langsung ikut ke sana bos?”


Ivan terdiam sesaat, “Aku dan Roni akan survey di sana. Ku harap tim Indra yang harus on-time. Begitu rapat final, aku akan menginstruksikan secepatnya keberangkatan mereka,” ujar Ivan setelah berpikir sesaat.


Mendengar perkataan Hari membuatnya menghela nafas, tidak mungkin kunjungannya ke Lombok hanya dua hari. Ia harus memastikan bahwa semua akan berjalan lancar. Paling cepat 5 hari waktu yang akan ia habiskan di sana hingga progresnya mencapai 50 persen baru bisa ia lepaskan.


Roni menyadari kegalauan bosnya. Ia tersenyum sendirian membayangkan apa yang ada di dalam pikiran Ivan. Penganten baru ditinggal terus, ha ha ha ….


“Kenapa kamu cengengesan?” Ivan menyadari gerak-gerik Roni yang senyam-senyum sendirian.


“Bos lebih tau apa yang ada di pikiran saya,” jawabnya berdiplomasi.


Ivan akhirnya tersenyum mendengar ucapan Roni, “Tidak mungkin progresnya selesai 3 hari ke depan. Kau tau, aku akan sangat merindukan Rara,” ujar Ivan tanpa rasa sungkan.


“Kenapa nyonya nggak dijemput kemari aja boss … sekalian bulan madu,” saran Roni seketika.


“Akan ku pikirkan,” ujar Ivan sambil mengangguk menyetujui perkataan Roni.


“Pasti seru dan mengesankan.” Roni mulai membayangkan sesuatu yang masih jauh dari pikirannya, tapi ia senang atas kebahagiaan bosnya dan mantan temannya.


Keduanya akhirnya menyelesaikan sarapan. Ivan  teringat sesuatu, “Ron, atur penerbangan kita ke Lombok jam 10. Minta Ronald menyiapkan jet untuk membawa kita ke sana.”


“Kita tidak jadi ke resepsinya jam dua siang bos?”


“Tidak ada waktu. Jam dua aku harus sudah di kantor dinas pariwisata Lombok untuk meeting bersama tim ahli mereka.”

__ADS_1


“Siap bos.”


Ivan tidak ingin membuang waktu terlalu lama di perjalanan jika menggunakan pesawat komersil. Ia tidak tau berapa lama waktu yang akan diperlukan selama di Lombok, tapi ia berusaha mengatur waktu seefisien mungkin.


Tepat jam 9 Ivan dan Roni  yang sudah berkemas untuk persiapan terbang  ke Lombok menyempatkan diri menghadiri pemberkatan Jhony dan Shela di Resorts World Sentosa. Begitu acara pemberkatan selesai, tanpa menunda Ivan berjalan diikuti Roni mendekati kedua mempelai yang sedang berbincang dengan kedua orang tua mereka.


“Hei, kamu belum kembali?” Jhony memandangnya takjub tidak menyangka ia akan hadir.


“Selamat atas pernikahanmu,” Ivan memeluk Jhony, “Semoga langgeng sampai tua. Aku akan kembali ke Indonesia sekarang, sengaja ku sempatkan mampir di hari bahagiamu.”


“Terima kasih banyak bro. Semoga kehidupan pernikahanmu juga sama. Dan selamat menikmati bulan madu yang terlewat,” senyum Jhony membuat Ivan lebih bersemangat.


“Semoga suatu saat kita bisa double date dengan pasangan kita masing-masing,” ujar Ivan tersenyum lebar saat mulai menyalami Shela.


“Terima kasih,” Shela tersenyum sambil menganggukkan kepala.


“Aku senang kau bisa hadir di sini,” ujar Jhony sambil menepuk bahunya saat Ivan dan Roni berpamitan.


Keduanya segera berlalu dari pesta pernikahan Jhony dan Shela setelah bersalaman dengan kedua pengantin dan orangtua mereka.  Perjalanan selanjutnya adalah menuju bandara Changi yang akan membawa mereka langsung ke Lombok.


Di tempat yang berbeda di Jakarta, Khaira sedang memotret perhiasan yang baru dikirim dari Martapura. Berlian yang berasal dari daerah Kaltim ini juga cukup terkenal di Indonesia. Sejak pagi ia menunggu telpon Ivan, tapi sampai detik ini yang ditunggu belum ada beritanya.


Ketukan di pintu bersamaan dengan masuknya Andini sambil membawa selembar kertas putih dan segelas teh hangat membuat Khaira menghentikan aktivitasnya.


“Permisi mbak, barusan ada email masuk dari APEPI.”


“Pesannya?” Khaira tak ingin berpanjang lebar dan langsung pada inti berita yang disampaikan di dalam email yang diterima.


“Terima kasih mbak. Saya akan mempertimbangkannya,” Khaira menganggukkan kepala sambil mengulas senyum.


Ia termenung sesaat, sebelum email diterima ia sudah diberitahu oleh  Mr. Jefry Hartadi selaku ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia yang memintanya untuk mewakili Mr. Jefry dalam menyampaikan kata sambutan pada pameran tersebut. Apalagi kiprah Kara Jewellery dalam memperkenalkan perhiasan dari para pengrajin perhiasan dalam negeri dan membawa hasil karya mereka hingga ke tingkat internasional sungguh sesuatu yang layak ditampilkan.


Ia tidak bisa memutuskan keberangkatannya, statusnya sudah berbeda sekarang. Walau bagaimana pun ia harus meminta izin pada sang suami saat harus meninggalkan rumah, apalagi waktunya lebih dari 3 hari. Khaira merasa bingung.


Ivan dan Roni kini sudah tiba dan bersantai di kafe bandara Internasional Lombok untuk menunggu jemputan dari pihak The Lombok Lodge.


Saat di bandara Changi, Roni langsung reservasi penginapan secara online. Ia tidak ingin bosnya bosan menunggu terlalu lama di bandara. Ivan segera menghidupkan ponselnya untuk memberitahu keberadaannya sekarang pada sang istri.


Tepat jam sebelas siang panggilan vc dari My Sweet Husband berdering. Khaira merasa senang. Ia sekaligus minta persetujuan Ivan untuk menghadiri pameran perhiasan di Bali, karena ia telah mendapatkan kepercayaan dari ketua APEPI sebagai perwakilan untuk menyampaikan kata sambutan sehingga tidak mungkin ia absen kali ini.


“Assalamu’alaikum …. “ Khaira memberi salam dengan penuh semangat.


“Wa’alaikumussalam …. “ Ivan merasa senang melihat wajah istrinya yang sangat ia rindukan, karena sepagi ini banyak yang ia pikirkan sehingga tidak sempat menghubunginya.


“Bagaimana kabar mas di sana?” Khaira menatap suaminya dengan mata berbinar bahagia, terus terang ia sangat ingin memandang wajah dan mendengar suaranya.


“Masih merindukanmu,” ujar Ivan lesu tak bersemangat.

__ADS_1


“Cih!” Roni yang duduk di sampingnya jadi ingin tertawa melihat kelakuan lebay bosnya.


Khaira tersenyum dengan pipi merona. Ivan tidak bisa mengalihkan wajahnya dari ponsel yang memuat wajah sang istri yang begitu ia rindukan.


“Sekarang aku dan Roni berada di Lombok.”


“Lombok?” Khaira terkejut mendengar perkataan Ivan.


“Meeting dadakan dengan pihak yang kemaren makan malam bersama kita,” Ivan menjelaskan pada Khaira agar istrinya tidak merasa khawatir.


“Kapan mas kembali?” rasanya Khaira malu menanyakan hal itu, tapi mau bagaimana lagi dari pada ia penasaran lebih baik ia ungkapkan.


“Sudah tak bisa jauh ya?” perasaan Ivan menghangat melihat rona merah kembali muncul di pipi sang istri.


Khaira tak menjawab, keduanya saling bertatapan berusaha menumpahkan kerinduan dari sorot mata masing-masing yang saling memandang dengan lekat.


“Mas, barusan aku mendapat undangan untuk menghadiri pameran perhiasan se-Indonesia yang diselenggarakan di Bali,” Khaira menatap Ivan penuh harap, “Aku ingin memberitahukan ini pada mas Ivan.”


“Aku tidak mengizinkan.” Tanpa berpikir panjang Ivan langsung memberikan keputusan. Seketika ia dapat melihat perubahan raut wajah istrinya mendengar apa yang ia katakan.


Mata yang tadinya berbinar indah langsung meredup. Khaira terdiam mendengar jawaban suaminya. Lidahnya terasa kaku tidak bisa berkata apa pun lagi. Perasaan senang yang membuncah hilang seketika mendengar perkataan suaminya.


Roni yang mendengar samar-samar percakapan keduanya jadi kesal mendengar suara Ivan yang bernada tinggi saat berkata pada istrinya. Suasana jadi hening seketika.


Ivan teringat dengan peristiwa yang terjadi antara ia dan Khaira sebelum pernikahan mereka, dan ia tidak ingin membiarkan istrinya mengalami hal itu lagi, walau pun pelakunya adalah dirinya sendiri.


“Maaf ya bos, bukannya aku ingin mencampuri urusan internal bos dan nyonya …. “ Roni memandang Ivan yang masih berwajah kaku, “Harusnya bos memberikan ruang untuk nyonya. Yang penting saling menjaga kepercayaan. Itu yang diperlukan dalam sebuah hubungan.”


Ivan termenung sambil menatap wajah Khaira yang tampak sedih.  Perkataan Roni memang benar, tapi berat bagi Ivan melepas istrinya seorang diri tanpa pengawasan darinya. Ia tidak mungkin menceritakan kisah kelam yang mereka lalui bersama di malam pagelaran di Paris. Biar itu menjadi rahasia terindah dalam hidupnya.


“Baiklah mas…. “ suara Khaira mulai terdengar sendu tidak bersemangat, “Jaga diri mas baik-baik. Jangan lewatkan waktu salat. Assalamu’alaikum ….”


Ivan tak bisa mencegah saat Khaira langsung menutup ponselnya. Rasa sedih tiba-tiba hadir menyelimuti perasaan Ivan. Baru saja ia merasa bahagia karena melihat wajah dan senyum menenangkan dari sang istri, tapi  kebahagiaan itu lenyap bersama dengan rasa kecewa yang kini hadir karena membuat Khaira kembali bersedih.


“Padahal jika bos ijinkan, nanti bos dan nyonya bisa bertemu. Jarak Bali dan Lombok tidaklah jauh,” Roni berkata pelan. Ia jadi iba melihat Ivan yang kini resah karena telah melakukan kesalahan dengan melarang Khaira untuk menghadiri undangan pameran perhiasan di Bali.


“Maksudmu?” Ivan menatap Roni dengan wajah yang masih tergambar penyesalan.


“Anggap aja honeymoon. Kan bos bisa meluangkan waktu untuk menemui nyonya.”


Senyum terbit seketika di wajah Ivan. Kini ia benar-benar mengakui perkataan Edward, bahwa bersama Khaira telah membuat otaknya lemot.


“Tumben, otakmu kali ini encer," Ivan berkata dengan penuh semangat, "Bonusmu bulan ini akan ku tambah.”


Perkataan Roni membuat ia merasa senang. Saat tiba di hotel nanti, Ivan akan menghubungi Khaira kembali untuk membicarakan masalah keberangkatan sang istri ke Bali. Dan ia akan menghubungi asistennya yang selama ini mengawal kegiatan Khaira di luar rumah untuk mendampingi sang istri saat berada di Bali, kalau perlu ia akan menambah pengawalan berlapis supaya tidak kecolongan.


Mengingat kejadian di Paris senyum langsung terbit di wajah Ivan. Bagaimana tidak, rencana yang dibuat Edward dalam membantunya mendapatkan Khaira di malam itu telah mengubah dunianya bahkan dirinya.

__ADS_1


Setengah jam  kemudian mobil jemputan dari hotel sudah tiba. Keduanya segera memasuki mobil menuju The Lombok Lodge yang akan mereka tempati selama menginap di Lombok.


*Dukung terus ya\, pasti kalian sudah tidak sabar menunggu adegan pemersatu bangsa khan .... Hayo ngaku\, dan tunjuk tangan.  Author tunggu komen secepatnya\, biar author lebih semangat. He he he ... sayang reader semua. ***


__ADS_2