Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 245 S2 (Teka-teki si Kembar)


__ADS_3

Karena belum menemukan lokasi yang cocok untuk pembangunan rumah sakit kanker anak, akhirnya Ivan mengikuti saran Danu untuk menemui saudara jauhnya yang tinggal di pinggiran kota. Di sinilah Ivan berada.  Kini ia duduk berhadapan dengan ustadz Hanan di pendopo depan rumah yang terasa adem dan segar.


Pertama kali bertemu ustadz Hanan, Ivan  tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ternyata keduanya adalah teman sekelas saat berada di bangku sekolah atas bahkan teman sebangku.


Akhirnya Ivan dan Hanan saling berpelukan karena sudah puluhan tahun tidak saling bertemu dan berkomunikasi. Setamatnya sekolah menengah atas, Hanan langsung melanjutkan kuliah ke Maroko. Otomatis keduanya saling melupakan.


“Tidak ku sangka keinginanmu mengelola pesantren akhirnya terwujud,” ujar Ivan sambil menepuk bahu ustadz Hanan.


“Kamu sendiri ku dengar juga memiliki perusahaan entertainmen terkemuka di negara kita,” ustadz Hanan tak mau kalah memuji keberhasilan  Ivan.


Keduanya tertawa bersama mengingat masa lalu mereka yang sudah puluhan tahun terlewati dengan capaian masing-masing.


“Sudah berapa putramu sekarang?” Ivan bertanya sambil memandang sekelilingnya yang begitu tenang di siang menjelang sore tersebut.


Ustadz Hanan terdiam sambil menghela nafas. Pandangannya menatap kejauhan. Sampai detik ini berita bahagia itu belum ada, tenyata Yang Kuasa belum memberikan keperrcayaan padanya.


“Aku dan Fatimah  sejauh ini masih tetap berdua. Aku yakin Allah punya rencana yang lebih baik untuk kami berdua. Dan kami selalu berprasangka baik pada Allah.”


Ivan terdiam mendengar ucapan ustadz Hanan yang tetap optimis dalam menyikapi perjalanan hidupnya dan sang istri.


“Bagaimana kamu sendiri, tentu diusia yang sangat matang dan kehidupanmu yang mapan pasti sudah memiliki pasangan dan anak,” ustadz Hanan menatapnya dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.


Ivan menghembuskan nafas dengan kuat, berusaha membuang segala beban yang tersimpan di hati. Bayangan wajah Khaira kembali berkelebat di benaknya.


“Hidupku terlalu rumit. Bahkan aku menghancurkan pernikahanku sendiri,” Ivan berkata lirih berusaha membuang kesedihan yang kini mengusiknya kembali.


“Maafkan aku,” ustadz Hanan merasa tidak nyaman mendengar jawaban Ivan, “Semua harus kita kembalikan kepada Yang Kuasa. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita atas izin-Nya jua. Tinggal bagaimana cara kita memaknainya.”


Keduanya terdiam beberapa saat  saling bercengkrama dengan pikiran masing-masing berusaha berdamai dengan segala peristiwa serta kejadian yang telah mereka jalani dalam kehidupan.


“Sudah berapa lama kamu mengelola pesantren ini?” akhirnya Ivan tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya mengingat ia pernah mendengar bahwa ustadz Hanan pernah berkarir sebagai ASN disalah satu kantor pemerintahan.


“Hampir 10 tahun,” jawab ustadz Hanan cepat, “Aku mengakhiri karier sebagai ASN karena almarhum Ayah menginginkan aku meneruskan pengelolaan pondok, sekaligus membantu anak yang kurang mampu untuk tetap melanjutkan pendidikan dan membina mereka hingga menjadi manusia yang bisa berdikari.”


“Itulah dirimu yang ku kenal,” Ivan memujinya seketika, “Dari dulu kamu selalu memikirkan kehidupan orang lain dari pada diri sendiri .... “


“Eh, saking asyiknya bernostalgia masa lalu jadi lupa menanyakan maksud kedatanganmu,” ustadz Hanan menepuk bahu Ivan yang masih terjebak dengan kehidupan pribadinya.


“Aku ingin mencari lokasi untuk membangun rumah sakit kanker anak .... “ Ivan langsung menceritakan maksud kedatangannya.


“Wah, tulus sekali niatmu. Semoga Allah membalas semua perbuatan baikmu,” ustadz Hanan langsung memuji Ivan dengan tulus.


“Aku tidak sebaik yang kau katakan .... “ Ivan berkata dengan getir.

__ADS_1


Tanpa diminta ustadz Hanan, ia langsung menceritakan perjalanan hidupnya hingga kini telah sampai di titik nadir dan membuatnya menyesali semua yang telah ia lakukan sehingga sang istri pergi dari hidupnya.


Ustadz Hanan dengan serius mendengarkan cerita Ivan. Ia terpekur dan berpikir mengingat jalan hidup berliku yang dilalui sahabatnya itu.


“Allah masih sayang padamu, sehingga kamu masih diberikan kesempatan untuk bertobat dan memberikan yang terbaik sesuai kemampuanmu,” ustadz Hanan tau bahwa Ivan dalam kondisi terpuruk dan ia berusaha memberinya semangat, “Ku harap kamu segera menemukan istrimu dan menemukan jalan terbaik untuk pernikahan kalian.”


“Terima kasih atas doamu. Ku harap Allah segera mengabulkannya,” Ivan berkata dengan tak bersemangat. Setiap mengingat Khaira jiwanya terasa mengembara jauh, membuat hatinya lelah ingin segera menemukan tempat berlabuh yang selalu memberikan ketenangan disaat kerisauan melanda.


“Aku memiliki beberapa bidang tanah yang mungkin bisa kamu pilih sesuai dengan luas bangunan yang akan dibuat rumah sakit,” ujar ustadz Hanan sambil membuka ponsel dan menghubungi Mardi asisten pribadinya di kantor  TU pondok.


Taklama kemudian sang asisten sudah datang membawa tumpukan map yang berisi beberapa sertifikat tanah yang dimiliki ustadz Hanan untuk dipilih Ivan sesuai dengan lokasi dan ukuran yang ia perlukan.


Ustadz Hanan segera meletakkan beberapa sertifikat dan menjelaskan lokasi serta keunggulan yang dimiliki setiap lokasi  yang ada. Ia juga memberikan gambaran tentang perkembangan setiap lokasi yang mengalami kenaikan di masa yang akan datang.


“Ku harap kamu bisa merancang master plan dari bangunan rumah sakit itu,” Ivan menatap ustadz Hanan penuh harap, “Aku sudah mendengar keahlianmu dalam merancang bangun dan penataannya sekalian. Berapa pun yang kau sebut akan ku siapkan.”


Ustadz Hanan tersenyum mendengar perkataan Ivan. Ia tau, sahabatnya itu memang sudah tidak memperhitungkan masalah pembiayaan. Soal  uang sejak sekolah Ivan sudah terkenal dengan anak Sultan. Ia tinggal menjentikkan jari, semua keinginannya akan terpenuhi.


“Aku merasa malu jika harus menyebut harga. Seperti dirimu yang ikhlas membangun rumah sakit kanker anak, begitu pun master plan rancangan bangunan rumah sakit itu akan ku desain khusus buatmu.”


Keduanya saling berjabat tangan. Ivan langsung memeluk ustadz Hanan karena terharu mendengar perkataan sahabatnya.


“Eh, Abi lagi peyukan .... “ sebuah suara kenes mengejutkan keduanya yang segera melepaskan rangkulan masing-masing.


“Ada Dede dan Mas, sini ikut Abi …. “ Ustadz Hanan langsung meraih Embun dalam gendongan dan menggandeng Fajar yang berdiri mengikuti adiknya.


“Nggak usah pak Ustadz …. “  Nuri dan Mila  babby sitter   parobaya yang mengikuti si kembar  mencegah tindakan ustadz Hanan.


“Ikut Abi …. “ suara kenes Embun menghentikan Nuri dan Mila yang masih berusaha mengajak si kembar kembali.


“Mas, ikut bu de yok … “ Mila berusaha mengulurkan tangan untuk meraih Fajar yang terus mengikuti langkah Embun.


Fajar menggelengkan kepala dan terus mengikuti langkah ustadz Hanan yang kembali menghampiri Ivan yang kini duduk santai di gazebo.


Tatapan Ivan tak terlepas pada si kembar yang tampak begitu akrab dengan ustadz Hanan. Keduanya berceloteh dengan riang.


“Keduanya sangat akrab denganmu, apa kalian ada hubungan keluarga?” tiba-tiba rasa penasaran mengganggu pikiran Ivan mengingat si kembar pernah bersama keluarga Khaira.


“Keduanya bahkan akan menjadi anak sambungku jika bundanya menerima pinangan istriku,” ujar ustadz Hanan pelan sambil membelai kepala Embun yang kini mulai mencoret kertas yang disediakan ustadz Hanan di hadapannya.


“Atu mau buat petawatt  Abi .... “ Fajar memberikan selembar kertas.


“Sebentar ya .... “ dengan telaten ustadz Hanan  melayani permintaan si kembar. Ia memandang Ivan sekilas, “Maafkan aku, karena urusan denganmu jadi tertunda.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, aku senang dengan anak-anak,” Ivan berkata dengan santai.


Ia memandang Embun dan Fajar dengan lekat. Jantung Ivan berdetak cepat. Ia menyadari ada kemiripan antara wajah si mungil Embun dengan wajah Bryan yang pernah ia lihat di album yang disimpan Claudia. Tatapannya beralih pada Fajar. Ia dapat melihat kemiripan Khaira pada sosok mungil Fajar yang lebih pendiam dengan mata bening dan bulatnya.


“Ya Allah kenapa kedua bocah ini mengingatkanku pada Rara?” Ivan menggelengkan kepala tak percaya dengan penglihatannya.


“Bundanya seorang perempuan yang hebat,” suara pelan ustadz Hanan terdengar di telinga Ivan yang masih memikirkan suasana hatinya yang tiba-tiba melow.


“Apa kamu mulai membandingkan istrimu dengan perempuan lain?” rasa penasaran membuat Ivan bertanya langsung pada ustadz Hanan.


“Enam bulan yang lalu Fatimah memintaku untuk meminang bundanya si kembar. Ia siap dipoligami asalkan bundanya si kembar yang menjadi madunya,” pandangan ustadz Hanan menatap kejauhan.


“Apa kedua bocah itu tidak memiliki orang tua yang lengkap?” Ivan tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya yang begitu membuncah di dada.


Ustadz Hanan menganggguk seketika. Tatapannya beralih pada si kembar yang mulai asyik dengan kesibukannya masing-masing membuat gambar di kertas kosong yang sengaja diletakkan ustadz Helmi asisten ustadz Hanan.


“Ketika  tiga tahun yang lalu ia datang kemari tampak bahwa ia sedang putus asa,” ustadz Hanan  berusaha mengingat saat pertama kali Khaira datang ke masjid dalam keadaan gundah dan nestapa.


Ivan mendengarkan cerita ustadz Hanan dengan serius. Pikirannya masih mereka-reka perempuan yang diceritakan ustadz Hanan.


“Ia ditinggalkan suaminya dalam keadaan hamil muda,” ustadz Hanan berkata pelan sambil menatap si kembar lekat.


Ivan mengerutkan keningnya. Perasaannya mulai tidak karuan.


“Kenapa istrimu menginginkan ia menjadi madumu?” Ivan menggelengkan kepala tak percaya, “Biasanya perempuan sangat alergi dengan istilah itu?”


“Fatimah dan bundanya si kembar sangat dekat. Ia menyayangi ustadzah Aisya seperti saudaranya sendiri. Ia menginginkan aku menjadi ayah sambung bagi si kembar,” kembali ustadz Hanan berkata pelan, “Ia tidak ingin si kembar pergi meninggalkan kami.”


Ivan tertegun, “Ustadzah Aisya?”


Tatapan ustadz Hanan beralih pada Ivan mendengar pertanyaannya yang langsung menyebut nama.


“Kamu mengenal bundanya si kembar?”  ustadz Hanan menatap Ivan serius.


“Tidak. Aku belum pernah mendengar namanya,” dengan cepat Ivan menjawab.


“Fatimah selalu memujinya,” kembali ustadz Hanan terdiam sesaat, “Tetapi saat hatiku mulai tersentuh dengan keberadaan si kembar, aku membulatkan tekad untuk menerima keinginan Fatimah.”


“Kamu sudah menikah dengannya?” Ivan penasaran mendengar kelanjutan cerita ustadz Hanan.


“Sayangnya ustadzah Aisya menolak. Ia tidak bisa melupakan almarhum suaminya. Perasaan cintanya sangat besar sehingga sampai kapan pun ia tidak akan bisa membuka hatinya pada siapa pun.”


Sebelum azan Magrib berkumandang, Ivan dan Danu telah meninggalkan lokasi pondok pesantren al-Ijtihad dengan meninggalkan tanda tanya besar di kepala. Ia masih memikirkan si kembar yang begitu lengket dengan ustadz Hanan. Bagaimana kedua bocah itu pada saat yang lain berada bersama keluarga Khaira dan kini di saat yang sama begitu dekat dengan ustadz Hanan dan tinggal di kompleks yang sangat jauh dari perkotaan. Siapakah si kembar?

__ADS_1


__ADS_2