
Saat Khaira memasuki ruang kerja suaminya, ia terpaku melihat figura besar yang bergantung di dinding ruang kerja Ivan di belakang sofa untuk menjamu kliennya yang datang berkunjung.
Figura itu berisikan gambar dirinya yang sedang duduk bersama si kembar di dekat kolam ikan yang berlokasi di pondok pesantren. Ia tidak tau siapa yang telah memotretnya bersama si kembar. Seingatnya saat itu ia bersantai di suatu senja menemani si kembar dan kejadiannya hampir setahun yang lalu.
Lengan kekar memeluk pinggangnya yang masih berdiri sambil berpikir tentang fotonya dan si kembar. Memandangnya membuat ketenangan di hati siapa pun. Ia yakin, yang memotretnya pasti professional, kualitas gambarnya sangat bagus dengan posisi angle tepat.
“Memandang foto kamu dan si kembar membuatku lebih bersemangat dalam bekerja,” ujar Ivan dengan meletakkan dagunya di bahu Khaira, “Kehadiranmu dan si kembar adalah harta tak ternilai yang ku miliki saat ini.”
“Bagaimana mas bisa mendapat foto itu?” Khaira masih asyik menikmati potret mereka.
“Danu lah yang mengambil gambarmu dan anak-anak. Dari sana juga mas mulai mengikuti keberadaanmu dan si kembar,” ujar Ivan sambil membawanya duduk di sofa ruang kerjanya.
Khaira melihat sekilas ruang kerja Ivan yang tertata apik dengan furniture mewah dan elegan yang menghiasi dalamnya. Ia mengagumi dalam hati penataan ruangan di mana ia berada saat ini.
“Ada yang mas ingin sampaikan padamu,” ujar Ivan pelan.
Ia berjalan meninggalkan Khaira membuka brangkas dan mengeluarkan beberapa map dari dalamnya. Setelah kembali duduk di samping istrinya, Ivan mengeluarkan ponsel dan menghubungi Danu.
“Assalamu’alaikum, Bos,” Danu menjawab dengan cepat.
“Langsung ke ruanganku bersama Atmaja,” perintah Ivan seketika.
“Baik Bos,” dengan sigap Danu mengiyakan keinginan Ivan, “Tumben hanya 30 menit, biasanya sampai 3 jam.”
Pikiran ngeres Danu sesempatnya bekerja. Ia memang sudah berjanji dengan Ivan untuk mendatangkan Atmaja Danureja pengacara muda yang sudah bekerja selama dua tahun terakhir pada keluarga bosnya.
Khaira mengerutkan kening ketika Danu memasuki ruangan bersama lelaki yang membawa tas kerja yang usianya diperkirakan sama dengan suaminya.
“Selamat pagi tuan Ivan,” sapanya sambil menganggukkan kepala pada Ivan dan Khaira yang masih duduk di sofa.
“Pagi tuan Atmaja. Silakan duduk,” Ivan mempersilahkannya duduk di hadapan mereka.
“Dan, tolong siapkan minuman untuk tamu kita,” ia memandang Khaira, “Mau minum apa Sayang?”
“Gak usah Mas,” Khaira menjawab cepat. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun.
“Baiklah,” tatapan Ivan kembali mengarah pada Atmaja, “Kenalkan istri saya Aisya.”
Atmaja menganggukkan kepala dan tersenyum dengan ramah. Baru kali ini ia bertemu dengan menantu almarhumah Larasati. Ia mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas kerja yang ia bawa.
“Sebelum kepergian nyonya Laras, beliau telah menuliskan wasiatnya dan memberikannya pada saya,” Atmaja memulai percakapan dengan serius.
Ivan diam memperhatikan segala tindak-tanduk Atmaja. Ia telah mengetahui semua yang bakal diucapkan pengacara senior yang bekerja pada perusahaan dan keluarganya. Saat si kembar dirawat di rumah sakit, mamanya telah membicarakan masalah aset berupa tanah serta saham-saham miliknya pada beberapa perusahaan yang menjadi rekanannya. Ivan tidak keberatan atas keinginan mamanya. Ia tidak mengomentari semua yang dikatakan mamanya, atas kebahagiaannya yang telah memiliki sepasang cucu kembar.
Almarhumah mengatakan bahwa ia akan menyerahkan semua aset yang ia miliki kepada kedua cucunya. Ia ingin memberikan apa pun yang ia punya kepada si kembar. Laras berharap dengan penyerahan semua miliknya dapat mengurangi rasa bersalahnya yang teramat besar kepada Khaira dan kedua cucunya.
Atmaja segera mengatakan semua yang telah diucapkan Laras dengan menyerahkan semua berkas-berkas untuk ditandatangani Khaira sebagai wali dari si kembar, karena keduanya masih dibawah umur sehingga belum pantas untuk melegalisasi semua administrasi kepemilikan.
“Masss …. “ Khaira menatap suaminya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
Rasanya terlalu berlebihan jika semua milik Laras berada dibawah kuasanya. Suaminya adalah putra tungga almarhumah, Ivanlah yang paling berhak untuk memiliki semua aset peninggalan mamanya.
Ivan menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia menggenggam jemari Khaira dan meletakkan diatas pangkuannya.
“Ini terlalu berlebihan Mas. Kami tidak pantas menerima semua ini,” ujar Khaira pelan.
“Tidak Sayang, kamu dan si kembar memang pantas memiliki semua aset keluarga.”
Tanpa melepas genggamannya di jemari Khaira, Ivan mengulurkan beberapa map yang telah ia susun di atas meja pada Atmaja.
“Ini aset milikku. Aku juga akan mengalihnamakan atas namamu,” Ivan berkata sambil menatapnya lekat.
Ia akan menyerahkan semua aset serta kepemilikan perusahaan atas nama Khaira. Ia memberikan semuanya seperti yang dilakukan almarhumah mamanya agar tenang menjalani hari-hari ke depan karena semua miliknya telah jatuh ke tangan yang tepat.
“Kenapa Mas melakukan semua ini?” Khaira bertanya dengan perasaan bingung, semua terjadi di luar dugaannya.
“Karena kamu istri Mas. Memang sudah selayaknya Mas menyerahkan semua padamu. Apalagi ada si kembar yang menjadi penerus kita …. “
“Ini terlalu berlebihan buatku,” Khaira merasa keberatan dengan semua yang dilakukan Ivan dan almarhumah mertuanya.
“Kamu dan si kembar layak mendapatkan semuanya,” Ivan mengusap bahu istrinya dengan mesra.
Ia tau, walau pun tidak dari hartanya, Khaira telah memiliki aset yang banyak dan akan menjamin kehidupannya, Fajar dan Embun. Tapi mereka adalah keluarganya, siapa lagi yang lebih pantas untuk menerima dan menikmati semua harta yang ia miliki selain istri dan keturunannya.
Atmaja memandang nyonya muda istri bosnya. Baru kali ini ia bertemu dengannya. Selama ini ia hanya mengetahui berdasarkan cerita nyonya besar yaitu Larasati. Pertemuan mereka yang berlangsung selama tiga jam, tidak banyak yang dibicarakan. Intinya nyonya Laras memintanya untuk membuat Surat Wasiat yang menyerahkan semua harta yang ia miliki pada cucu kembarnya.
Ia mengagumi Ivan, seorang pengusaha muda tangguh dan berhasil memiliki perusahaan yang membuat namanya dikenal serta disegani. Dengan kekayaan yang dimilikinya membuat perempuan yang dekat dengannya merasa beruntung.
Ivan memberikan segala kemewahan yang ia miliki tanpa perhitungan, sehingga banyak yang berusaha merebut perhatiannya, walau pun pada akhirnya hanya Sandra yang berhasil menikmati semua kemewahan dari kekasihnya.
Saat itu Atmaja masih mengikuti almarhum ayahnya Indra Danureja yang bekerja pada perusahaan lain. Siapa pun mengenal kedua hot couple tersebut. Dan Atmaja yakin, perempuan itulah yang menjadi pendamping Ivan, karena berita terakhir yang ia dengar, Ivan telah mempersiapkan lamaran mewah untuk sang kekasih.
Mendengar nyonya Laras mewariskan semua harta yang ia miliki kepada cucunya membuat Atmaja merasa khawatir. Ia memang belum pernah ketemu dan mengenal istri bosnya secara langsung. Selama ini Ivan tidak pernah memperkenalkan keluarganya secara langsung.
Dan hari ini mereka bertemu untuk pertama kalinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang menjadi nyonya muda sangat bertolak belakang dengan perempuan yang mendampingi Ivan di masa lalu. Perasaan khawatir yang sempat hinggap di kepalanya langsung sirna begitu memasuki ruang kerja Ivan dan melihatnya duduk berdampingan dengan seorang perempuan yang berpakaian serba tertutup.
Ia merasa heran dengan segala penolakan yang ditampakkan istri bosnya yang ia ketahui bernama Aisya. Perempuan mana pun pasti akan senang dan bahagia mendapat warisan yang sangat banyak. Tetapi yang ia hadapi saat ini sangat berbeda.
“Jangan heran …. “ Danu yang duduk di sampingnya berbisik pelan melihat Atmaja yang masih terpaku melihat pemandangan di depannya.
Ivan berusaha meyakinkan Khaira untuk menerima dan menandatangani semua berkas pengalihan semua aset Ivan dan almarhumah mamanya padanya dan juga si kembar.
“Baru kali ini aku melihat ada penolakan dalam serah terima warisan …. “ Atmaja masih menatap nyonya bosnya dengan perasaan heran, “Perempuan dari planet mana yang menjadi istri tuan Ivan?”
Danu tersenyum mendengar pertanyaan Atmaja yang seperti meremehkan nyonya muda bos mereka, “Tentu kamu bisa melihat penampilannya.”
“Jangan melihat isi dari cover-nya,” Atmaja berkata dengan nada nyinyir, “Atau ia berasal dari … you know-lah ….”
Ivan masih berusaha meyakinkah Khaira untuk menandatangi semua berkas yang ada di hadapannya. Ia tidak ingin menundanya lagi. Lebih cepat lebih baik. Ia tinggal fokus menjalani kehidupan mereka, dan yang paling utama tiga hari ke depan, mereka akan pergi Umroh plus.
__ADS_1
“Mungkin nyonya muda baru kali ini melihat nominal yang sangat besar,” Atmaja masih berargumen dengan dirinya sendiri, “Ternyata istri bos hanya perempuan biasa, jauh dari ekspektasiku tentang perempuan yang akan mendampinginya ....”
Mendengar semua ucapan Atmaja yang tidak ada benarnya tentang nyonya bos membuat telinga Danu merasa gatal. Ia akan menutup mulut Atmaja yang sok tau dan sok paling benar.
“Kamu tidak mengenal nyonya muda yang mendampingi bos,” Danu mulai membuka mulutnya untuk menutup mulut nyinyir Atmaja.
“Kamu mengenalnya?” keduanya terus berbisik dengan nada tegang.
“Ya tau-lah,” Danu berkata cepat, “Nyonya adalah putri dari tuan Faiq dan nyonya Hanifah Az-Zahra. Saudaranya pengusaha kembar ternama tuan Ariq dan Ali Prayoga. Saudara kembarnya tuan Fatih pemilik Horisson Corp. Nyonya Aisya sendiri adalah pewaris Kara’s Jewellery, outlet perhiasan terkenal …. “
Atmaja terperangah mendengar semua perkataan Danu. Ia benar-benar tidak mempercayai semua yang tertangkap indera pendengarannya. Perempuan sederhana yang menjadi istri Ivan, lelaki yang sangat ia kagumi dari mulai ia mengawali karir sebagai pengacara, ternyata memiliki istri yang bukan perempuan sembarangan, tetapi berasal dari keluarga milyuner yang termasuk dalam daftar pengusaha ternama nomor 5 se-Asia Tenggara.
Jadi perempuan ini yang dikenal dengan “Berlian Tersembunyi” di kalangan pengusaha muda saat itu. Ia hanya mendengar bahwa ada perempuan kesayangan dari dua nama pengusaha terkenal yakni Prayoga dan Alfareza.
Ia merasa penasaran dengan percakapan para lelaki dari kalangan atas tersebut. Menurut mereka perempuan tersebut sangat sulit dilacak, karena pihak keluarga telah melindungi dan menutup profil tentang keberadaannya untuk menghindari bahaya dari lawan ataupun rekan bisnis yang memiliki dendam.
Kini ia telah melihatnya sendiri, perempuan yang pernah menjadi pembicaraan hangat para lelaki muda masa itu kini telah menjadi milik Alexander Ivandra, lelaki yang sampai saat ia ini masih dan tetap ia kagumi.
“Baiklah Mas, aku akan menandatangi semuanya,” Khaira menyetujui keinginan suaminya.
Percuma saja ia menolak, akhirnya Khaira mulai menandatangani satu demi satu berkas yang ada di hadapannya tanpa membacanya lagi.
“Tidak dibaca lagi Nyonya?” Atmaja memberanikan diri untuk menyapa istri bosnya.
“Anda lebih paham isinya tuan Atmaja,” Khaira mengulas senyum tipis dibalik cadarnya.
Atmaja terpana. Walau memakai cadar yang menyembunyikan wajahnya, tapi dari mata bening yang menatapnya Atmaja tau, kecantikan tersembunyi sang pemilik.
“Tentu saja istriku benar,” Ivan berkata dengan nada keras. Ia tidak suka pengacaranya memandang Khaira yang sedang menandatangani semua berkas yang ada, “Aku dan almarhumah mama membayarmu sesuai dengan kapasitas pekerjaanmu.”
Atmaja tersadar dengan ucapan Ivan. Ia langsung menundukkan wajah melihat kilat kekesalan yang tergambar di wajah Ivan saat bertatapan dengannya. Ia sadar diri.
Ketukan dari luar ruangan dan suara tangisan membuat Khaira menghentikan aktivitasnya. Voni datang bersama Teguh, masing-masing menggendong si kembar yang merengek karena sudah memasuki jam tidur siang.
"Ayah .... " Embun langsung menggeliat dari gendongan Teguh begitu tiba di hadapan mereka.
"Sini sama ayah, Sayang .... " Ivan meraih Embun dan menggendongnya kemudian diayun perlahan.
Voni menyerahkan Fajar ke pangkuan Khaira yang langsung tersenyum melihat Voni dan mengucapkan terima kasih karena telah membantunya menjaga si kembar selama mereka berada dalam ruangan Ivan untuk membahas masalah warisan Laras.
Atmaja terkesima melihat dua bocah imut yang kini bersama kedua orangtuanya. Ia jadi penasaran dengan kehidupan rumah tangga si bos. Ia tidak pernah mengetahui kisah sebenarnya kehidupan Ivan, lelaki tajir yang telah mempekerjakannya atas rekomendasi almarhum ayahnya.
"Jika telah selesai, kalian boleh keluar dari ruangan ini," suara Ivan tegas menginterupsi.
Danu memberi isyarat pada Atmaja untuk segera membereskan berkas yang telah ditandatangani nyonya muda. Saatnya mereka memberikan kebebasan pada tuannya untuk beristirahat, karena kedua bocah imut telah tertidur dengan nyaman.
Atas saran Khaira, Ivan meminta Danu untuk mentraktir dan membelikan makan siang bagi para pegawainya sebanyak 200 orang, karena mereka pun akan menghabiskan waktu seharian di kantor ini.
***Sayang Otor untuk readerku semua\, dukung terus ya. Like\, komentar dan votenya tetap otor tunggu. Happy weekend dan salam sehat serta bahagia selalu untuk kita semua...."
__ADS_1