
Setelah keluarga Hesti makan siang, mereka kini duduk dengan santai di ruang keluarga. Faiq, Hani beserta ketiga anaknya duduk bersama menghadapi keluarga Hesti. Dengan bangga Faiq memperkenalkan si kembar dan Hasya pada tamu-tamu mereka.
“Mas Ariq, mas Ali gih salim sama nenek, om dan tante ya…” Hani meminta si kembar untuk bersalaman dengan tamu mereka.
“Atu mahu itut talim…” dengan gaya imutnya Hasya mengikuti gerak-gerik si kembar.
Faiq dan Hani saling melempar senyum. Genggaman tangan Faiq di jemari Hani tidak lepas. Ia ingin menunjukkan keharmonisan dalam rumah tangganya. Dan berharap Dewi serta Hesti menyadari hal itu.
“Selama proses penyembuhan Hesti, saya akan menyewa seorang perawat untuk melayani segala keperluannya.” Tutur Faiq menghapus keheningan yang terjadi.
Dewi dan Hesti saling memandang dengan wajah tak mengerti. Mereka tidak senang mendengar ucapan Faiq.
“Bukankah nak Faiq bisa merawatnya sendiri. Nak Faiq kan suaminya?”
Faiq tersenyum menanggapi perkataan Dewi, “Maaf bu. Saya dan Hani sudah sepakat. Jam 7 pagi hingga jam 4 sore, Susi akan datang untuk mengurus segala keperluan Hesti.”
Raut kesal tergambar di wajah Hesti dan Dewi, harapan mereka sudah melambung jauh, ternyata Faiq sudah memikirkan segalanya dengan cepat.
“Ibu akan menyetujui semua keputusanmu.” Dengan terpaksa Dewi mengikuti perkataan Faiq, “Apa boleh ibu menginap di sini, selama Hesti masih dalam perawatan?”
Faiq memandang istrinya dengan lekat, berusaha mempertimbangkannya. Hani mengangguk sambil tersenyum pada Faiq.
“Baiklah, bu.” Faiq menganggukkan kepala setelah mendapat persetujuan Hani.
“Terima kasih, nak Faiq. Kamu memang menantu yang dapat ibu andalkan.”
Hani dan Faiq turut mengantar kepergian saudara Hesti yang akan pulang kembali ke rumah mereka.
Di dalam kamar tamu, Hesti dan Dewi terlibat perbincangan yang serius. Mereka berdua sepakat agar Hesti tetap menjadi istri Faiq walau apapun yang terjadi.
“Ibu bisa melihatkan bagaimana sikap mas Faiq terhadap jendes itu…”
__ADS_1
“Ya, ibu tau. Tapi kamu harus percaya sama ibu. Apa pun akan ibu lakukan agar Faiq segera melegalkan pernikahan kalian.”
“Aku sangat mengharapkan itu, bu. Akan lebih baik kalau aku hamil keturunannya, maka mas Faiq tidak akan mungkin menceraikanku.”
“Ibu setuju.” Dewi memandang Hesti sekilas, “Bagaimana kakimu, apa sudah bisa digunakan untuk berjalan?”
“Masih terasa nyeri, mungkin karena memarnya masih ada. Tapi sudah bisa dijalankan sedikit demi sedikit.”
“Jangan sampai nak Faiq mengetahui hal itu. Kamu tetap gunakan kursi roda jika beraktivitas di luar kamar ini.”
Hesti mengangguk menyetujui usul ibunya. Senyum kecil terbit di bibirnya. Ia membayangkan akan segera mendapatkan pengakuan dari Faiq, dan mereka tetap menjalani ikatan sebagai suami istri.
“Kalau perawat itu datang, ikuti saja aturan mainnya. Biar nak Faiq dan istrinya tidak curiga.” Ujar Dewi yang dibalas anggukan Hesti.
Malam ini Faiq dan Hani sudah berada di peraduan. Sebelum tidur keduanya memulai percakapan ringan.
“Bagaimana kabar restoranmu dan WO-nya apa lancar terkendali?” tanya Faiq sambil membelai rambut Hani yang berbaring di dadanya.
“Kamu memang istri the best.” Faiq mulai menghujani kecupan di kepala Hani. “Bagaimana kabar Hanif dan Wulan, apa mereka sudah memberi kabar tentang tempat usaha baru mereka?”
Hani menggelengkan kepala, “Hanif selalu punya ide gila. Dia tidak puas dengan tempat usaha yang sekarang. Ku dengar ia pindah kota, dan sedang merintis usaha sendiri bersama rekan barunya.”
“Wah, bagus itu. Kamu dan Hanif memang punya otak bisnis yang kuat. Bisa membaca situasi.”
Tangan Faiq mulai menelusup membelai perut Hani yang rata. Lama-kelamaan tangannya sudah tidak bisa dikondisikan, mulai mencari sesuatu yang hangat dan empuk.
“Apa kita program sekarang untuk menambah anggota baru keluarga?” Faiq bangkit dari pembaringan. Ia mendekatkan wajahnya pada Hani. Matanya menyusuri keindahan ciptaan Allah di depannya. Turun pada mata bening yang menenggelamkannya ke telaga yang tenang.
Bibirnya mulai menyapu bibir Hani yang begitu menggoda. Tangannya berhenti menjelajah karena telah menemukan spot favoritnya, dan berdiam di sana asyik dengan kegiatan senam jari untuk melemaskan jemarinya yang kaku bekerja seharian. Hm….
“Rasanya mas udah nggak sabar pengen lihat malaikat kecil bersemayam dan tumbuh di sini…” Faiq menyingkap blouse yang digunakan Hani. Kecupannya turun pada perut Hani yang masih rata dan datar.
__ADS_1
Pandangannya turun pada garis halus melintang yang ada di bawah perut Hani. Ia membelainya dengan lembut.
“Kenapa ada luka goresan di perutmu?” Faiq bertanya dengan hati-hati. Baru kali ini ia melihat garis memanjang itu.
Tangan Hani meraih jemari Faiq yang masih membelai luka itu.
“Ini bekas operasi sesar melahirkan si kembar.” ujar Hani pelan. Ia mengingat proses melahirkan si kembar yang penuh perjuangan. Hanya ada almarhum ayah, ibu serta Hanif yang mendampinginya, karena Adi berada di luar kota.
Air mata Hani kembali menetes saat menceritakan bagaimana peristiwa lahirnya si kembar tanpa didampingi seorang suami. Hanif lah yang mengazani kedua putranya. Setelah tiga hari baru Adi kembali dan melihat putra mereka bersama mamanya.
Hani teringat wajah Adi yang tampak terharu menyaksikan darah dagingnya untuk pertama kali. Ia merasa bersyukur, sikap Adi lebih hangat dengan adanya si kembar dalam kehidupan mereka. Sehingga perasaan yang ia tahan untuk tidak jatuh cinta pada perhatian Adi akhirnya jebol. Ia jatuh cinta untuk pertama kali dengan suaminya sendiri.
“Sayang…”
Hani terkesiap, tubuhnya serasa diputar. Ia memandang wajah tampan Faiq yang kini berada di bawah, dengan posisi tubuhnya di atas suaminya.
Senyuman menawan Faiq membius Hani. Ia tau apa yang diinginkan suaminya. Dengan membuang rasa malu, Hani melepas satu demi satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia ingat pesan Mawar untuk menjadi ‘sesuatu yang beda’ dalam memuaskan suami, karena itu adalah ladang pahala bagi seorang istri. Yang tak pernah ia lakukan selama bersama Adi, dengan penuh kesadaran ia melakukannya sebagai bentuk pengabdian istri untuk memberikan kepuasan pada suami.
Tips singkat, padat, efektif dan efisien yang didapatnya dua hari yang lalu dari Mawar tentang bagaimana memberikan service plus pada suami telah ia terapkan. Walaupun dengan muka merah seperti tomat masak, dengan serius Hani mendengarkannya. Pelajaran baru yang sangat berharga bagi dirinya.
“Masya Allah sayang…” Faiq memejamkan mata merasakan kebahagiaan yang membuncah. Tak pernah ia merasakan kepuasan seperti yang diberikan Hani malam ini, membuatnya ketagihan.
Hani mengulum senyum mendengar ucapan suaminya. Mata beningnya tak berkedip menatap mata hitam Faiq. Keduanya bertatapan dengan mesra dalam gelora cinta yang hangat membara.
“Sekarang mas ambil alih kendali.” Faiq menggulingkan tubuh Hani dengan posisinya yang memimpin.
Malam kian larut, tapi tak mengendorkan semangat pasangan muda yang sedang merasakan kenikmatan surga dunia dalam manisnya ikatan pernikahan dengan pasangan halalnya.
__ADS_1