
Saat selesai makan malam tatapan Adam mulai berubah pada Khaira. Ia mengerutkan keningnya beberapa kali sambil berusaha mengingat sesuatu. Hingga akhirnya senyum terbit di wajahnya karena berhasil mengingat apa yang sejak awal sudah mengganggu di pikirannya.
“Mohon maaf kalau saya salah,” ujar Adam saat sudah menyelesaikan makan sambil mengelap mulutnya dengan sapu tangan.
Ivan merasa aneh mendengar perkataan kliennya, apalagi tatapan Adam begitu intens memandang wajah Khaira yang baru saja selesai menikmati dessert.
“Ada masalah tuan Adam?” Ivan merasa tidak senang dengan perbuatan Adam.
“Anda nyonya Rara Setiawan kan?” Adam langsung menatap Khaira.
“Anda mengena istri saya?” Kini Ivan yang terkejut mengetahui bahwa kliennya mengenal istrinya bahkan ada nama Abbas di belakang nama istrinya.
Khaira menatap Adam dengan raut bingung. Ia memandang Ivan yang mukanya mulai berubah tegang dan kaku.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Khaira tak bisa menyembunyikan rasa penasaran mendengar Adam mengenal dirinya bahkan menyebut nama belakang Abbas pada namanya.
Meri terkejut mendengar bosnya mengenal sosok perempuan yang memang menarik untuk dilihat dari sisi manapun.
“Di kalangan pengrajin berlian di Lombok nama anda begitu dikenal. Bahkan foto anda sebagai pemilik Kara Jewellery mereka pajang di bengkel tempat pengolahan berlian.”
Ivan merasa tidak senang mendengar ucapan Adam tentang ketenaran istrinya, apalagi sampai foto Khaira dipajang. Ia tidak ingin orang memandang wajah istrinya dan menjadikan foto istrinya menjadi obyek fantasi yang sekarang lagi ngetrend di sosmed.
“Saya mengenal Mas Dewo. Beliaulah yang jadi pemasok berlian untuk gerai kami,” akhirnya Khaira mulai menanggapi pembicaraan Adam.
“Benar,” jawab Adam cepat, “Pengrajin berlian di Lombok sangat mengidolakan anda. Selama ini pengusaha lain menawar berlian Lombok dengan harga di bawah standar. Tapi begitu Dewo melakukan kerja sama dengan anda, mereka sangat diuntungkan.”
“Anda terlalu melebih-lebihkan tuan. Itu memang harga standar untuk berlian yang masih kasar. Karena saya juga dibantu rekan saya kang Asep di Bandung. Beliaulah yang memperhalus segala perhiasan berlian yang saya pasok dari pengrajin se-Indonesia.”
Kini Meri terkejut mendengar percakapan keduanya. Ia tidak menyangka perempuan muda yang ia remehkan adalah pengusaha berlian dan pemilik gerai perhiasan terbaik. Ia jadi malu sendiri karena telah menyepelekannya sejak awal melihat kedatangannya tadi.
“Mereka sangat bersyukur dan beruntung bisa bekerja sama dengan anda,” ujar Adam penuh kekaguman.
“Saya hanya membantu mereka. Jika saya mengajukan penawaran di bawah standar, tentu itu sangat merugikan. Sementara mereka menghidupi keluarga, menyekolahkan anak-anak mereka. Dan saya tidak ingin mengambil keuntungan yang terlalu besar, saya ingin orang yang bekerja untuk saya bisa menikmati hidup dengan normal walau pun tidak berlebihan, yang pasti cukup untuk biaya kehidupan mereka.”
“Saya sangat mengagumi kepribadian dan cara pikir anda,” Adam merasa senang dengan pembicaraan mereka, “Ternyata anda lebih cantik aslinya dari pada di poto yang saya lihat nyonya Setiawan.”
Ivan semakin menegang mendengar ucapan Adam. Ia tidak tau, kenapa hatinya tiba-tiba terasa panas dan semakin panas mendengar lelaki yang sudah hampir setengah abad itu memuji iatrinya tepat di hadapannya.
__ADS_1
“Tuan Adam, tampaknya makan malam ini harus segera kita akhiri. Hari juga semakin larut,” Ivan sudah tidak bisa berkompromi dengan perasaanya apalagi melihat Khaira yang tampak antusias melayani pembicaraan yang memang sudah menjadi bidangnya.
“Wah, baru saja pukul setengah sepuluh ….” Adam melirik jam di pergelangan tangannya. Ia sangat tertarik dengan perbincangan yang terjadi dengan istri kliennya yang ternyata bukan perempuan biasa.
“Sayang, besok aku ada meeting jam 8 pagi.” Ivan mulai menatap Khaira dengan sorot tajam.
“Maaf tuan Adam. Saya dan suami pamit,” Khaira akhirnya memahami sorot suaminya, ia tahu bahwa Ivan terganggu dengan percakapan yang terjadi antara dirinya dan klien suaminya itu.
“Baiklah nyonya Setiawan,” Adam tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan santun, “Sangat menyenangkan malam ini bertemu dengan anda.”
Ivan menjabat tangan Adam dengan wajah datar saat mereka berpamitan. Tanpa mengucapkan basa-basi ia langsung menggenggam jemari Khaira dengan erat dan berlalu dengan langkah cepat.
Ketiga pegawainya yang masih bercengkrama di luar private room terkejut melihat wajah tegang Ivan yang berjalan cepat tanpa menyapa mereka. Hanya Khaira yang tersenyum sambil menganggukkan wajah pada ketiganya yang menjadi bingung atas sikap sang bos.
Sesampai di kamar mereka Ivan dengan kasar membuka jas dan melemparnya ke sembarang tempat. Khaira tidak mengerti dengan sifat sang suami. Padahal sudah sebulanan ini ia mmelihat perubahan yang sangat mencolok pada sikap suaminya. Ia tidak tau penyebab yang membuat Ivan bersikap seperti itu.
Khaira menuju walk-in closet untuk mengambilkan baju kaos oblong serta celana pendek suaminya. Ia tau, Ivan tidak senang tidur menggunakan piyama. Ia tipe bebas dan tidak suka keterikatan pada hal-hal sepele.
Saat kembali ke kamar Khaira hanya geleng-gelang kepala melihat perbuatan Ivan yang melempar semuanya ke sembarang tempat. Dengan sabar Khaira membereskan kekacauan yang diperbuat sang suami yang kini keberadaannya tidak ia ketahui.
Saat berdo’a, Khaira tiba-tiba merasakan kesedihan menghampiri lubuk hatinya yang terdalam. Ia merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap Ivan yang kembali kaku. Bukannya ia tak merasakan bagaimana Ivan menarik tangannya dengan kasar dan menyeretnya saat keduanya meninggalkan private room Le Cartier tadi.
“Ya, Allah kenapa hatiku sesakit ini?” Khaira mengelus dadanya berusaha mengurangi rasa sesak. Di saat dirinya mulai merasa nyaman, dan mulai membuka hati terhadap suaminya tiba-tiba sifat Ivan berubah. Kini tanpa sadar bayangan Abbas kembali hadir dengan senyumnya yang menenangkan.
Ia kembali teringat, selama menjalin hubungan dengan Abbas, tidak pernah ia merasakan kesedihan. Bersama Abbas hanya ketenangan dan kegembiraan tanpa ada rasa yang mengganggu dan menyesakkan dada. Tapi sekarang, selain jantungnya yang selalu berdebar saat berdekatan, dan melihat sikap Ivan yang tidak pedulian membuatnya merasa sedih dan sakit hati. Ia tidak tau apa kesalahan yang ia perbuat sehingga Ivan mengacuhkannya.
Sementara itu Ivan masih menenangkan diri di ruang kerjanya. Ia tidak tau, kenapa kemarahan terasa bergolak di dadanya. Siapa yang patut disalahkan atas apa yang terjadi. Apakah Adam yang dengan sok akrabnya memanggil istrinya dengan panggilan nyonya Setiawan? Ataukah Khaira yang meladeni percakapan Adam dengan antusias tanpa mengklarifikasi kebenarannya”
Baru kali ini ia merasakan hatinya terasa panas. Rasanya ia ingin membalikkan meja kerja yang ada di hadapannya untuk melawan rasa marah yang begitu kuat ia rasakan. Ivan duduk lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi. Matanya terpejam. Ia menghela nafas dengan berat, berusaha membuang emosi yang terasa menyesakkan dada.
Memang berat perjuangannya untuk meluluhkan hati sang istri. Kini disaat Khaira mulai terbuka dan bisa menerima kehadirannya haruskah ia menurutkan emosi yang tidak berdasar. Akal sehat akhirnya kembali setelah Ivan duduk menenangkan diri. Ia sadar, semua bukan kesalahan Adam atau pun Khaira. Kesalahan terbesar ada pada dirinya yang belum bisa mengontrol emosi.
Ivan mulai berpikir jernih dan berusaha mencari alasan yang kuat untuk membuat hatinya tenang. Ia mengingat kembali dari awal rentetan peristiwa sebelum pernikahan mereka.
Wajar jika Adam memanggil Khaira dengan sebutan nyonya Setiawan, bukankah saat itu Khaira memang janda Abbas Setiawan. Dan Khaira terlibat percakapan dengan Adam, itu memang konteksnya sebagai seorang pengusaha bukan perempuan penggoda.
Ivan akhirnya menggelengkan kepala menyadari kebodohannya yang tidak bisa mengontrol emosi. Padahal ia sudah berjanji untuk berubah. Ia teringat pesan Hasya, bahwa hanya laki-laki yang bersifat seperti Abbaslah yang bisa membuat Khaira luluh dan menyerahkan hatinya.
__ADS_1
Kembali ke kamar Ivan melihat pakaian sudah disiapkan di sofa tunggal yang berada di dalam kamar. Ia segera membuka celana panjang yang masih melekat di tubuhnya, menyimpannya di keranjang dan berganti dengan kaos oblong dan celana pendek yang sudah tersedia. Kamar sudah tampak hening.
Ivan ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan segera melaksanakan salat Isya. Setelah melaksanakan salat ia menuju pembaringan. Tampak Khaira sudah terlelap. Ia melihat genangan air masih tersisa di pelupuk mata istrinya.
Timbul rasa penyesalan karena kembali membuat istrinya bersedih. Ivan mengangkat kepala Khaira dan meletakkan di lengannya. Ia menatap istrinya lekat sambil menghapus sisa-sisa air mata yang ada. Dengan sepenuh hati ia mencium kening Khaira.
“Maafkan aku karena membuatmu menangis,” Ivan berkata dengan pelan sambil membelai rambut istrinya dengan lembut.
“Aku belum bisa mengontrol emosi. Aku marah melihat lelaki lain memandangmu. Bahkan aku kesal karena lelaki itu menyebut nama orang lain di belakang namanu,” Ivan berusaha mengungkapkan apa yang tersimpan di hatinya.
“Benar kata Edward. Jatuh cinta padamu membuatku jadi bodoh. Saking bodohnya aku mencemburui orang yang telah meninggal. Entah kenapa aku sangat cemburu pada almarhum Abbas, padahal aku telah memilikimu ….”
Khaira yang belum terlalu lelap, terbangun dan merasakan apa pun yang dilakukan suaminya. Ia masih memejamkan mata ingin mendengar semua alasan yang akan disampaikan Ivan.
“Aku tidak tau, kenapa aku bisa jatuh cinta padamu. Sihirmu begitu kuat, membuatku tidak bisa berpikir dengan normal.”
Kembali Ivan mendaratkan kecupan di kening istrinya dengan segenap perasaan.
“Padahal saat Abbas menceritakan dirimu dengan semangat aku selalu mengejeknya, dan meremehkan perempuan pilihannya.” Ivan tersenyum mengingat kembali saat-saat itu, “Mungkin aku termakan sumpahku sendiri.”
Khaira berusaha menahan nafas mendengar pengakuan Ivan. Tapi ia tidak bisa terus berpura-pura. Ia langsung membuka mata.
Ivan tersenyum melihat Khaira membuka mata. Ia sudah curiga saat nafas Khaira berpacu lebih cepat dari biasa. Dan ia harus berterus terang, sehingga semuanya menjadi benderang.
“Kamu mau memaafkan suamimu yang bodoh ini?” Ivan menatapnya dengan lekat.
Khaira tidak menjawab. Tapi matanya lurus menatap mata hitam gelap sang suami, ingin melihat kesungguhan yang terpancar di sana.
“Entah masih perlu berapa lama buatmu untuk membuka hati pada lelaki bodoh ini,” Ivan tak mengalihkan tatapannya.
Khaira meletakkan jari telunjuknya di bibir Ivan. Sambil tersenyum tipis. Perasaan lega langsung menghampirinya mendengar pengakuan Ivan. Ia langsung memeluk tubuh Ivan dan menyorokkan kepala di leher suaminya.
Tentu saja hal itu membuat Ivan menegang. Tapi kembali lagi ia harus melatih kesabaran. Ia harus membiasakan Khaira merasa nyaman di dekatnya. Stok kesabaran masih banyak ia siapkan, mengingat iatrinya baru mengalami keguguran, tentu masih perlu waktu untuk kembali bercocok tanam demi menebar benih unggul yang akan menjadi cikal bakal Ivan Junior.
Ivan tersenyum menyadari apa yang bersarang diotaknya. Tapi perasaannya lega karena kesalah pahaman yang membuat Khaira bersedih telah mereka selesaikan. Kini ia langsung memeluk tubuh istrinya saling berbagi kehangatan di malam yang semakin larut.
*** Ha ha ha ... semangat to. Komentarnya jangan lupa ....***
__ADS_1