Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 42


__ADS_3

Begitu sampai di gerbang rumah, kebetulan Karman masih terjaga dan sedang bermain kartu bersama dengan Bagong, satpam rumah, Udin dan Kusno tukang kebun dan pekerja di rumah ibunya. Dengan berlari Faiq langsung ke lantai dua menuju kamarnya dan Hani. Ia melihat lampu masih menyala, ternyata Hasya tidur di kamar mereka.


Faiq langsung mengangkat Hasya dan memindahkan ke kamar Ariq dan Ali yang sudah tertidur pulas.


“Lia, tolong titip dedek ya…” Faiq melihat Lina yang terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba di kamar si kembar.


“Baik, pak.” Tanpa banyak bertanya Lina langsung membaringkan Hasya di tempat tidur tunggal yang berada di samping si kembar yang sudah tertidur dengan pulas.


Tanpa membangunkan Hani, Faiq langsung menuntaskan hasratnya tanpa kelembutan seperti biasa. Ia sudah tidak mampu lagi menahannya. Pikirannya benar-benar di luar kendali. Ia tidak tahu berapa dosis yang telah diberikan Hesti sehingga tidak ada rasa lelah dalam dirinya.


Hani yang masih terlelap, terkejut merasa beban berat menimpa tubuhnya. Ia  susah untuk  bernafas. Dengan perlahan Hani membuka mata, alangkah terkejutnya ia melihat tubuh besar Faiq sudah berada di atasnya dan menyadari bahwa pakaian bawahnya sudah terlepas.


“Mas…” Hani memanggilnya lirih.


Tapi Faiq tetap meneruskan aksinya. Kekuatannya benar-benar luar biasa. Hani hanya terdiam mengikuti ritme permainan suaminya. Ia tidak menyangka bahwa Faiq berada di bawah pengaruh obat perangsang sehingga  kekuatannya berlipat-lipat. Jam 4 subuh baru Faiq menyelesaikan aktivitasnya. Kini ia terkapar di samping Hani dengan raut tenang.


Hani memandang wajah suaminya dengan senyum tipis. Ia membelai wajah Faiq yang masih tertidur pulas. Rasa sakit di daerah kewanitaannya sangat mengganggu Hani. Badannya terasa remuk akibat permainan panas mereka. Dengan pelan ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri ia kembali ke kamar dan membereskan pakaian Faiq yang tak berbentuk di lantai kamar mereka.


“Mas, sudah subuh. Salat yuk!” Hani membelai pipi Faiq dengan lembut, namun belum ada pergerakan dari Faiq. Tampaknya tenaga Faiq benar-benar terkuras akibat pertempuran mereka.


“Mas …” Hani menepuk-nepuk pipi Faiq. Rasanya ia malu untuk melakukannya. Tapi Faiq adalah suaminya dan pahala baginya jika menyenangkan suami. Dengan pelan Hani mengecup bibir suaminya.


Ternyata Faiq sudah terbangun, tapi ia ingin melihat sampai di mana usaha Hani untuk membangunkannya. Dengan cepat ia menahan tengkuk Hani dan memperdalam ciuman mereka, membuat Hani terkejut. Pipinya merona menahan malu.


“Sudah wangi istriku ini. Jadi pengen lagi…” mata Faiq berkedip nakal.


“Waktu subuh udah mepet, mas. Ntar rejekinya dipatok ayam, lho.” Hani berusaha menahan jemari Faiq yang kembali bergerilya menyusuri gamis Hani mencari spot favoritnya. Ia dapat melihat tatapan gairah dari wajah tampan suaminya.


Faiq meraih jemari Hani dan menciumnya penuh perasaan, “Habis subuh ya.” Ia merayu Hani dengan manja.


Hani mengangguk sambil menahan senyumnya. Ia akan menuruti kemauan Faiq selama kondisinya dalam keadaan fit.


Dengan perasaan senang Faiq tersenyum sambil mengecup kening Hani. Ia berjanji tidak akan merahasiakan apapun terhadap istrinya serta kedua orang tuanya. Dengan cepat ia bangkit dari pembaringan. Saat sarapan nanti ia bertekad akan menceritakan kejadian yang menimpanya.


“Mas…” Hani menggelengkan kepala melihat Faiq yang cuek berjalan ke kamar mandi tanpa menutupi tubuhnya dengan sehelai benangpun.


Saat sarapan pagi semua sudah berkumpul di meja makan, suasana menjadi ramai. Ariq dan Ali sudah siap untuk pergi ke sekolah TK. Kini mereka sudah menempuh TK B, dan tahun depan akan mulai memasuki sekolah dasar.


“Papa udah puyang?” Hasya yang baru selesai dimandikan pengasuhnya  baru melihat kehadiran Faiq dan langsung berlari naik ke pangkuannya.

__ADS_1


“Ya sayang papa yang udah wangi.” Faiq menghujani si mungil dengan kecupan ringannya. “Dede mau papa suapin?”


“Dede udah becal.”  Hasya menunjukkan peralatan makan miliknya yang serba pink.


“Wah, pintar kesayangan papa.” Faiq memberi isyarat pada Lina agar segera membawa Hasya dari ruang makan.


Faiq menyudahi makannya dengan cepat. Padahal rasa lapar masih menderanya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia tidak ingin ada kesalah pahaman yang akan terjadi antara ia dan Hani. Faiq berharap kedua orangtuanya serta Hani paham dengan kondisi yang ia hadapi.


“Kamu nggak ke kantor hari ini?” Marisa mulai membuka perbincangan. “Tinggal berapa lama lagi kamu berkantor di sana?”


Pertanyaan demi pertanyaan  mengalir mulus dari bibir Marisa. Ia heran karena sudah jam tujuh lewat Faiq masih berpakaian santai belum menggunakan dinas hariannya.


Faiq meraih segelas air putih yang sudah disediakan Hani. Ia meminumnya hingga tandas tak bersisa. Setelah semua menyelesaikan sarapan paginya, Faiq meminta agar mereka tidak meninggalkan meja makan, karena ia akan menceritakan masalah penting yang sedang ia hadapi.


“Sayang, aku akan jujur padamu tentang satu hal.”  Faiq mulai menata kalimatnya ia tidak ingin Hani berprasangka buruk padanya.


“Apa ada masalah besar, nak?” Marisa mulai kembali merecoki Faiq. Melihat raut Faiq yang serius, ia yakin permasalahan yang dihadapi anaknya bukan perkara ringan.


“Aku terpaksa menikahi Hesti rekan sekantorku.”


“Dar!”  Petir seolah menyambar di siang bolong. Ketiganya terkejut mendengar ucapan Faiq. Tiada angin tiada hujan perkataan Faiq benar-benar di luar dugaan.


“Apa kamu menghamilinya lagi?” Marisa menatapnya dengan tajam, matanya mulai menyala menahan emosi yang sudah diubun-ubun.


“Astagfirullahaladjim, bu. Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku telah mempunyai istri yang ku cintai.” Faiq berusaha  menenangkan ibunya.


Mata bulat Hani melongo mendengar pengakuan Faiq. Ia tak percaya kebahagiaan sempurna yang baru saja ia raih, kini akan terganggu dengan hadirnya orang ketiga. Ia berusaha menahan kepedihan yang kembali menggores hatinya yang pernah terluka. Ia menekan dadanya yang terasa nyeri tiba-tiba. Satupun kata tak mampu Hani ucapkan.


Melihat kondisi Hani yang terdiam tanpa suara membuat Faiq khawatir. “Maafkan aku sayang. Ini di luar kendaliku…” Faiq bersimpuh di kaki Hani dengan perasaan sedih melihat wajah berduka istrinya. Dengan pelan Faiq mulai menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya hingga harus berada di situasi tersebut.


Darmawan manggut-manggut setelah Faiq mengakhiri ceritanya. “Apa kau yakin Hesti mau berpisah denganmu setelah 40 hari kepergian ayahnya?” Darmawan menatap Faiq yang masih bersimpuh di hadapan Hani.


“Dia tak akan bisa menolak, karena kami berjanji disaksikan keluarga besar Hesti.” Faiq berusaha meyakinkan Hani dan kedua orangtuanya, “Aku tak ingin berpisah denganmu dan anak-anak. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja.”


Marisa turut merasakan kesedihan menantunya. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun, karena semua sudah terjadi. “Semoga saja kedepannya tidak terjadi apa-apa.”


“Kamu harus tetap bertanggung jawab, walaupun dia hanya istri sirimu.” Darmawan mengingatkan  Faiq agar tidak menelantarkan Hesti.


“Aku akan memikirkannya ayah. Begitu aku menjatuhkan talak padanya, aku akan mencarikan sebuah rumah sebagai bentuk tanggung jawabku.”

__ADS_1


Dengan raut sedih, Hani meninggalkan ruang makan dan ingin kembali ke kamar.  Mengetahui  Faiq menikah telah membuatnya shock, walaupun pernikahan itu bukan keinginannya, tetap saja itu menyakitkan.


Hani enggan untuk ke kantor, persendiannya terasa lunglai. Sebelum berjalan menuju kamar ia melihat Hasya yang bermain bersama Lina di ruang keluarga. Ia menghampiri keduanya tanpa berbicara. Airmatanya jatuh tak terbendung. Hani memeluk Hasya untuk menguatkan hatinya yang terluka.


Walaupun ia tau, Faiq tidak mencintai Hesti, tetap saja rasa sakit itu datang menderanya. Istri mana yang tidak berduka mengetahui suaminya menikahi perempuan lain, disaat mereka baru saja mereguk manisnya madu pernikahan. Dengan gontai ia menggendong Hasya dan memeluknya dengan erat membawanya menuju kamar si kembar.


Kini Hani ingat kejadian jatuhnya figura pernikahan mereka ternyata bertepatan dengan pernikahan Faiq dan rekan sekantornya. Ia berusaha menguatkan hati dan menghibur diri sendiri bahwa pernikahan mereka akan baik-baik saja. Toh, Faiq akan segera menceraikan Hesti setelah 40 hari kepergian ayahnya.


“Rara sayang….” Ketukan di pintu kamar si kembar menghentikan lamunan Hani. Ia tak mempedulikan matanya yang sudah bengkak, karena terlalu banyak menangis. Untung saja Hasya barusan tertidur, jadi Hani ikutan berbaring menemaninya di kamar itu.


Karena pintu tak dikunci, Faiq masuk dengan mudah. Melihat  Hani yang berbaring membelakanginya membuat Faiq merasakan kesedihan luar biasa. Ia yakin, bayang-bayang luka masa lalu kembali membayangi Hani. Ia turut membaringkan diri di samping Hani, dan memeluk pinggang ramping itu dengan perasaan berkecamuk.


“Aku tau, semua ini menyakitimu. Aku juga sakit melihatmu seperti ini, sayang.” Faiq mencium pucuk kepala Hani. Aku yakin kita berdua akan kuat menjalani semua ini.” Faiq menggenggam tangan Hani dengan posisi tetap memeluknya dari belakang.


Hani mengelus tangan Faiq dengan lembut. Ia harus kuat, karena semua di luar keinginan suaminya. Ia harus kuat membantu suaminya menghadapi masalah ini. Mereka akan berjuang bersama. Hani membalik badannya, kini mereka berdua berhadapan.


Faiq menatap wajah istrinya dengan penuh cinta, “Percaya padaku, kita akan melewati ini bersama. Kita akan saling menguatkan.”  Faiq mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Hani.


“Aku akan tetap setia mendampingimu, mas.” Hani membalas tatapan Faiq dengan raut penuh keyakinan. Ia melihat kedalaman mata hitam pekat Faiq, hanya ada cinta yang tulus tergambar di sana.


Faiq mengusap bibir Hani dengan jemarinya. Wajahnya semakin dekat, akhirnya bibirnya mendarat dengan lembut dan mulai menyapu bibir ranum milik istrinya. Ia memberikan *******-******* kecil, hingga akhirnya Hani membalasnya. Mereka saling mencurahkan perasaan rindu dengan saling membalas ciuman mesra.


“Papa dan unda ladi apa?” Hasya yang terganggu mendengar suara aneh mengusap-usap matanya yang masih mengantuk berat.


Faiq buru-buru melepas pelukannya. Dengan cepat keduanya bangun dari pembaringan. “Bunda lagi sakit mata. Tuh lihat, mata bunda merahkan?” Faiq menunjukkan mata Hani yang masih bengkak pada Hasya.


“Unda tenapa nangis?” Hasya masih melihat bekas air mata di pipi Hani.


“Papa nakal, gangguin bunda terus.” Hani mencubit tangan Faiq yang kini merangkulnya dengan mesra di depan Hasya.


“Yok kita jemput si kembar. Udah jam pulang sekolah.” Faiq segera berdiri, “Sekalian kita bawa mereka main ke mall. Udah lama juga nggak bawa anak-anak ke sana.”


“Baiklah. Aku ganti baju dulu.” Hani mulai melangkah menuju kamar mereka, belum sempat ia membalik badan, tangan Faiq menahannya. “Nggak usah dandan. Gitu aja udah cantik. Ntar banyak mata keranjang yang melirik di luaran sana.”


“Ah, kamu mas.” Hani tersenyum mendengar ucapan Faiq.


Melihat wajah istrinya yang kini sudah tersenyum kembali membuat Faiq merasa lega. Ia tidak sanggup menyaksikan perempuan yang ia cintai menjatuhkan air mata di hadapannya, apalagi dengan kesalahan yang telah ia perbuat walaupun itu di luar kendalinya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2