
Ivan memasuki ruang kerjanya. Aroma parfum wanita yang sangat ia kenal telah menguar dalam penciumannya. Ia tersenyum sinis membayangkan sang pemilik yang sudah dua bulan tidak ia temui karena terikat kontrak dengan brand kosmetik dari luar negeri.
“Apa yang kau kerjakan di sini?” suara sinis Ivan membahana mengejutkan Sandra yang sudah berpenampilan maksimal menggoda. Ia sudah muak melihat wajah Sandra, setiap menatap wajahnya, perselingkuhan keduanya kembali terbayang di benaknya.
“Yang …. “ suara Sandra terasa sangkut di tenggorokan melihat kemarahan yang masih tergambar jelas di wajah tampannya.
Setelah ia dan Bobby tertangkap basah Ivan di apartemen, mereka belum sempat bertemu kembali karena Roni selalu menghalangi keinginan Sandra untuk menemui Ivan, selain itu kontrak dengan brand kosmetik terkemuka membuat Sandra harus berada di Paris selama dua bulan.
“Hubungan kita sudah berakhir begitu kau mulai bermain api,” dengus Ivan dingin.
“Aku tidak pernah mencintai Bobby. Aku hanya mencintaimu.”
“Huh! Aku tidak pernah memakai barang bekas! Jika kamu masih sayang dengan pekerjaanmu, jangan pernah muncul di hadapanku.” Ivan berkacak pinggang dengan mata tajam memandang Sandra yang menatapnya dengan wajah terkejut.
Mendengar ucapan Ivan membuat jantung Sandra berdetak cepat. Ia tau ucapan Ivan seperti vonis hakim yang akan menentukan hidup dan mati seorang pesakitan. Dengan cepat ia bangkit dari kursi. Ia masih sayang dengan pekerjaannya. Dengan wajah angkuh Sandra berjalan meninggalkan Ivan. Ia yakin suatu saat Ivan akan kembali padanya, karena selama ini dialah yang telah memenuhi semua keinginan dan ekspektasi Ivan akan seorang perempuan.
Saat keluar dari ruang kerja Ivan, Sandra berpapasan dengan Roni dan Gisel, seorang model yang beralih karier menjadi sekretaris Ivan begitu mengetahui kalau Ivan dan Sandra sudah tidak memiliki hubungan lagi.
Tapi bukan karena penampilannya yang menarik membuat Roni dan tim memilih Gisel sebagai sekretaris Ivan, tetapi latar pendidikan serta mampu melewati beberapa tes selama seleksi yang diikuti membuatnya mampu mengalahkan kandidat lain hingga akhirnya terpilih sebagai sekretaris Ivan.
Sandra tersenyum sinis melihat perempuan yang sebaya dengannya. Ia mengenal baik Gisel yang tak berbeda jauh dengannya menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan pribadi. Ia tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan Ivan kembali, karena Ivan hanya miliknya.
“Akulah yang akan menjadi perempuan satu-satunya pemilik Ceo New Star …. “ bisik Gisel begitu bersisian dengan Sandra.
Mendengar ucapan Gisel, Sandra menjadi panas. Ia memandang Gisel dengan sorot mata berapi-api. Untung saja posisi Roni sudah jauh dari keduanya. Dengan cepat ia menarik rambut panjang Gisel yang terurai.
“Sampai mati pun kau tidak akan bisa memilikinya,” dengus Sandra tajam. Ia tidak akan menyerah walau apa pun yang terjadi.
“Auhhhhh …. “ Gisel menjerit sambil menahan tangan Sandra yang menggenggam rambutnya dengan kuat.
“Jadi orang sadar diri. Ini baru peringatan pertama.” Sandra melenggang meninggalkan Gisel yang masih meringis menahan sakit di kepala akibat kelakuan bar-barnya.
__ADS_1
Sebelum memasuki ruang kerja Ivan, ia sempat merapikan diri di toilet. Malu dong, memasuki ruang bos impian masa depan dengan rambut awut-awutan seperti singa. Setelah melihat penampilannya yang sudah maksimal Gisel tersenyum puas.
“Kekasih masa depan, i’am coming …. “ dengan memasang senyum sempurna Gisel memasuki ruang kerja Ivan.
Sementara itu di dalam ruangan Roni dan Ivan tampak serius membahas sesuatu, membuat Gisel yang masuk belakangan tidak membuat keduanya berpaling, membuatnya merasa kesal karena sudah berpenampilan maksimal tapi tidak mampu menarik perhatian dua lelaki paling tampan di New Star Corp tersebut.
“Jadi rumah itu sudah kosong tidak ada penghuninya lagi?” Ivan menatap Roni dengan kesal, “Bagaimana kamu bisa kecolongan informasi seperti itu?”
“Maafkan aku bos. Pak Hasan ketua RTnya saja tidak tau. Mereka sengaja menutup informasi kepindahan ibu dan istrinya almarhum.” Roni berkata dengan raut penuh penyesalan karena gagal menjalankan misi untuk memberikan santunan kematian dalam bentuk tabungan dan deposito untuk calon anak yang sedang dikandung istri almarhum.
Ivan bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju jendela untuk mengusir kepenatan memandang wajah Roni yang membuatnya begitu kesal. Ia belum siap untuk bertemu langsung dengan ibu dan istri almarhum. Perasaan berdosa pada dirinya masih sangat kuat. Ia siap menggelontorkan berapa pun biaya untuk santunan, tapi untuk memohon maaf secara langsung adalah hal paling tabu yang belum bisa ia lakukan.
“Jika bos mau, aku akan meminta sesorang untuk menyelidiki mereka hingga ketemu.” Roni menyampaikan idenya untuk membuat Ivan senang, karena itu bukanlah perkara yang sulit bagi Roni yang sudah mengabdi lama pada Ivan.
“Tidak perlu,” potong Ivan cepat. Jika ia mau, tidak perlu Roni membantu, dalam hitungan 24 jam ia pasti akan menemukan tempat tinggal keduanya, “Aku belum siap untuk bertemu keduanya. Biarkan waktu yang menentukan. Jika suatu saat bertemu, aku akan meminta maaf dan mengakui semua kesalahanku hingga menyebabkan Abbas kecelakaan.”
Roni terdiam menatap punggung Ivan yang masih menatap kejauhan. Ia tau, Ivan seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab dalam segala hal. Ia tidak berani berkomentar lagi. Keduanya terjebak dalam keheningan, sibuk bermain dengan pikiran masing-masing. Gisel hanya termangu menjadi obat nyamuk diantara keduanya.
Tidak terasa sudah 100 hari kepergian Abbas. Khaira masih terlena dengan dunianya sendiri. Ia telah melepaskan Abbas, tapi untuk mengikhlaskan ia belum sanggup. Rasa kehilangan masih kuat melingkupi jiwanya. Entah sampai kapan ia sanggup melupakan bayangan Abbas dari pelupuk matanya.
Khaira memandang jemarinya yang telah melingkar cincin berlian mas kawin pemberian Abbas yang tetap akan mengikat dirinya selama-lamanya. Ia termenung memandang cincin yang kini bersanding dengan cincin emas belah rotan, cincin pertunangan mereka yang tidak akan pernah ia lepas sampai kapan pun.
Ketukan di pintu kamar menghentikan lamunan Khaira akan Abbas dan masa lalu mereka yang penuh warna. Ia bangkit dari pembaringan dan memakai jilbab instan yang bergantung di belakang pintu kamar.
“Nak, ada mas mu menunggu di ruang makan.” Bu lla berkata dengan lembut melihat menantunya yang tampak tidak bersemangat.
“Terima kasih bu.” Khaira mengangguk sambil mengikuti langkah bu Ila menuju ruang makan.
Ia mengerutkan jidatnya, melihat ketiga saudara laki-lakinya sedang menikmati sarapan pagi bersama oma, kecuali Junior yang selepas Subuh sudah jogging di taman kota bersama teman-temannya.
Dengan perasaan enggan Khaira menghempaskan tubuhnya menduduki kursi di samping Fatih. Ia hanya mencurahkan air putih ke dalam gelas tanpa berniat mengambil sarapan yang telah terhidang di meja makan.
__ADS_1
Ariq menatap adik perempuan kesayangan mereka dengan lekat. Ia menghela nafas dengan berat. Sulit baginya untuk berkata. Siapa pun yang berada di posisi Khaira pasti akan merasa terpuruk dengan peristiwa terburuk yang ia jalani. Menjalani pernikahan dengan seseorang yang ia cintai dalam keadaan sekarat, dan menjadi istri hanya dalam hitungan jam.
“De, kami kemari karena mbakmu memintanya secara khusus. Nanti malam kita akan berkumpul di rumah mas Valdo. Besok acara aqiqahan putra mereka,” akhirnya Ali membuka pembicaraan karena melihat Ariq yang bungkam begitu melihat Khaira bergabung bersama mereka di ruang makan.
Khaira terdiam. Ia memang sudah mengetahui bahwa mbak Hasya telah melahirkan 5 hari yang lalu. Tapi ia malas untuk keluar rumah. Ia seperti berhibernasi di dalam rumah khususnya kamarnya yang tenang, membuatnya mengingat kenangan yang pernah ia lalui bersama Abbas.
“Aku kan sudah bilang kemarin, cukup sudah kamu menyiksa diri seperti ini. Almarhum Abbas tidak akan senang melihatmu terpuruk seperti ini,” suara Fatih terdengar keras di telinga Khaira membuatnya menatap Fatih dengan raut sendu.
Fatih balas menatapnya dengan tajam, “Semua orang pernah terluka. Semua orang pernah merasa kehilangan, tetapi mereka bangkit. Hidup terus berjalan. Apa kamu akan terus meratapi kepergian Abbas dengan menyiksa diri seperti ini?”
Khaira menatap Fatih dengan mata berkaca-kaca, “Kalian tidak mengalaminya. Kalian tidak pernah berada di posisiku. Bagaimana kalian bisa memahami perasaanku.” Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Khaira. Bibirnya sudah tidak mampu berucap.
Inilah yang dikhawatirkan Ariq. Ia tidak ingin melihat Khaira menangis lagi. Sudah cukup baginya melihat Khaira beraktivitas walau pun hanya di rumah.
“De, apa yang dikatakan Fatih memang benar. Apa kamu tidak memikirkan perasaan kami yang selalu mendukungmu. Lihatlah oma, mertuamu, saudaramu …. “ akhirnya Ariq mulai mengeluarkan suara, “Kamu tau, mbakmu kondisinya setelah melahirkan tidak baik-baik saja. Ia selalu memikirkanmu setiap malam. Setelah melahirkan ia harus diopname karena mengalami eklampsia pasca melahirkan secara sesar.”
Khaira menatap Ariq terkejut. Ia tidak menyangka rasa kehilangan serta perbuatannya membuat saudaranya juga berdampak. Setitik rasa sesal hadir di hati Khaira mengetahui kondisi Hasya setelah melahirkan.
Selama ini Hasyalah yang selalu mendukung hubungan yang terjalin antara ia dan Abbas, disaat semua saudara iparnya menyangsikan perasaan yang ia dan Abbas miliki. Bagaimana ia rela menyaksikan derita Hasya yang selalu menjadi tameng dalam hubungan ia dan Abbas.
“Maafkan aku karena membuat mbak Hasya menderita. Aku akan pergi menemuinya,” ujar Khaira setelah sibuk berkompromi dengan pikiran dan perasaannya.
Senyum tercetak di wajah Fatih mendengar perkataan Khaira. Tatapannya beralih pada Ariq yang menganggukkan kepala dengan senyum tipis yang mengulas di bibirnya. Ia merasa bahagia karena telah berhasil membuka pikiran Khaira.
Ketiganya sudah membicarakan hal ini saat mengunjungi Hasya di rumah bersalin ibu dan anak. Rencana pertama mereka adalah membawa Khaira keluar dari rumah. Jika Khaira bisa diajak keluar, maka hal lain akan mudah dilakukan.
Selama ini sekembalinya Khaira dari rumah Abbas, ia tidak pernah keluar rumah. Berhari-hari ia betah di rumah dan mengurung diri di kamar hingga oma Marisa membicarakannya pada Ariq dan meminta bantuan saudaranya yang lain untuk membuat Khaira kembali beraktivitas seperti hari-hari sebelum kepergian Abbas.
Benar apa yang dikatakan saudaranya. Ia tidak boleh memikirkan diri sendiri. Banyak hati dan perasaan yang harus ia jaga. Sebelum Abbas pergi, kata-kata yang sampai saat ini selalu ia ingat adalah Abbas menginginkan ia bahagia walau pun tak lagi bersama. Mampukah ia meraih kebahagiaan saat Abbas tidak lagi berada di sisinya?
__ADS_1
Dukung terus karya saya ya. Jangan lupa kritik, saran dan votenya untuk menambah semangat dalam berkarya. Terima kasih.