
Merasa mendapat balasan istrinya membuat Ivan tambah semangat. Tangannya mulai bergerilya ke mana-mana, sontak Khaira menjauhkan wajahnya dengan rona merah di kedua pipinya. Matanya menatap Ivan dengan kesal. Dengan cepat Ivan memeluk istrinya untuk menenangkannya. Baru saja ia merasa bahagia karena Khaira mulai membalas perlakuannya.
“Maaf …. “ Muti yang mendadak ingin ke toilet yang berada di pantry terkejut melihat bosnya yang dalam posisi berpelukan. Ia ingin berbalik, tapi Ivan menahan langkahnya.
“Tidak masalah. Silakan,” Ivan berkata santai sambil menggandeng tangan Khaira menuju ruangan yang biasa ia tempati saat makan di kafe ini.
Khaira tersenyum dengan perasaan tidak nyaman pada pegawainya itu. Rasanya ia ingin menyembunyikan diri di mana pun yang tidak ada manusianya. Muti menundukkan kepala saat Ivan dan Khaira melewatinya.
“Hidangan sudah siap bos,” Budi mengacungkan jempol ke arah ruangan tempat mereka menyediakan makan siang untuk Ivan dan Khaira.
“Terima kasih,” jawab Ivan sambil menganggukkan kepala.
“Kalian tidak makan sekalian?” Khaira merasa heran melihat Budi, Rani serta Gita di luar ruangan yang akan ia dan Ivan tempati untuk makan siang bersama.
“Kami makannya di belakang aja,” ujar Budi sambil melirik Khaira memberi tanda akan tatapan horor dari suami bosnya.
Khaira tidak mengerti arti tatapan Rudi. Ia masih berusaha membujuk Rani dan Gita agar menemani mereka. Ia masih ingin menikmati kebersamaan dengan pegawainya sambil menceritakan banyak hal.
“Sayang, aku ingin segera menikmati menu yang telah mereka hidangkan,” suara Ivan membuat Khaira tersadar bahwa ia tidak sendiri.
“Minumnya apa tuan?” Budi menawari Ivan minuman, karena mereka memang belum menyiapkan minuman yang akan disajikan pada saat makan bersama.
“Lemon ice,” jawab Ivan cepat. Ia tidak ingin berbasa-basi dengan pegawai istrinya, keinginannya datang ke kafe ini hanya makan siang bersama dengan Khaira, yang lain tidak.
Ketiganya segera berlalu meninggalkan Ivan dan Khaira. Tanpa berkata apa pun Ivan langsung menggandeng tangan istrinya memasuki ruangan dan menutup pintu dengan rapat. Ari sudah menunggu ketiganya dengan wajah tegang.
Saat kedatangan Ivan, ia sudah sempat bersitegang dengan suami bosnya itu. Kearoganan Ivan terhadap Ari masih sama, karena ia yakin dari pengamatannya bahwa manajer kafe tersebut menyimpan perasaan terhadap istrinya.
Ivan yang sedang bertemu dengan klien di sebuah restoran mewah, mendadak meminta Roni dan Gisel untuk menjamu kliennya yang berasal dari Surabaya itu. Dari aplikasi ia melihat pergerakan Khaira yang menuju kafe miliknya. Ia merindukan menikmati makan di kafe apalagi ditemani istri tercinta, tentu sesuatu yang sangat membahagiakan.
“Mana istri saya?” begitu berhadapan dengan Ari tanpa basa-basi Ivan langsung menanyakan keberadaan Khaira.
“Silakan duduk tuan. Sambil menunggu mbak Rara anda ingin menikmati minuman apa?” Ari berusaha bersikap ramah pada suami bosnya.
“Aku hanya ingin bertemu istriku,” jawab Ivan tegas. Ia tidak suka berbasa-basi apalagi dengan lelaki yang memiliki perasaan khusus pada istrinya.
“Saya akan memanggil mbak Rara yang berada di pantry,” Ari bangkit dari kursinya.
“Tidak usah. Saya yang akan ke sana,” tanpa mempedulikan tatapan sinis Ari, dengan cepat Ivan melangkah menuju pantry.
Melihat kehadiran Ivan di pantry membuat Gita dan Rani yang bersiap memindahkan masakan ke dalam wadah saji terpaku dan takjub. Seumur-umur mereka bekerja bersama almarhum Abbas, baru kali ini Ceo tampan tersebut memasuki ruang pantry.
Merasa ruangan mendadak hening, Budi segera mencari tau. Ia terkejut melihat Ivan yang berdiri dekat pintu mengamati kegiatan Khaira. Ia pun terkejut, setelah menikah dengan bosnya baru kali ini ia melihat Ceo arogan itu berada di pantry tempat mereka meracik bumbu, dan mengreasikan menu-menu baru.
__ADS_1
Selama almarhum Abbas masih hidup, jangankan untuk menyapa mereka, mengobrol pun tidak pernah Ivan lakukan. Kedatangannya ke kafe semata-mata hanya ketemu Abbas dan mengobrol di ruangan kantornya serta main perintah agar semua keinginannya segera terpenuhi. Abbas seorang lelaki yang murah hati tidak pernah menolak apa pun yang diperintahkan Ivan padanya. Ia selalu menuruti dengan senang hati. Budi terenyuh mengingatnya.
Dengan telunjuknya Ivan memberi isyarat agar meninggalkan ia dan Khaira di ruangan pantry tersebut. Perasaan hangat menyelimuti hatinya melihat sosok yang telah ia rindukan sedang memasak dengan menggunakan apron melindungi gamis yang ia pakai.
“Wah, suami mbak Rara orangnya romantis ya …. “ Gita bercerita dengan suara bersemangat, “Jadi pingin satu yang seperti itu.”
“Mimpi nggak usah ketinggian neng,” ujar Rani sambil mencubit lengan Gita yang masih terjebak dengan lamunannya.
“Namanya juga usaha mbak,” jawab Gita santai, “Liat perlakuan tuan Ivan, lama-lama bisa meleleh juga hati mbak Rara. Aku aja jadi baper lihatnya.”
“Lelaki sombong dan arogan seperti itu bikin kamu baper?” Ari mendengus tak senang mendengar ucapan Gita, “Banyak lelaki yang lebih baik dari tuan Ivan.”
“Ih, mas Ari mah bikin kita kesel aja,” Gita mendelik tidak senang mendengar komen Ari, “Siapa yang bisa nolak, orang tajir melintir.”
Melihat hawa panas yang terjadi antara Gita dan Ari membuat Rani dan Budi geleng-geleng kepala. Walaupun Ari tidak pernah mengungkapkan perasaannya, tapi mereka yakin bahwa orang kepercayaan Abbas itu jatuh hati pada bosnya sendiri.
“Sudah, ayo kita makan di dapur,” Budi menengahi keduanya, “Berhubung pelanggan udah mulai sepi.”
Sementara di dalam ruangan Ivan masih sibuk dengan ponselnya membalas chat Roni yang mengirimkan email perpanjangan kontrak dengan beberapa perusahaan distributor makanan luar.
Budi mengetuk pintu dan masuk membawakan dua gelas lemon ice yang menyegarkan. Ia merasa aneh, karena ruangan tampak hening. Ivan yang sibuk dengan ponselnya, sedangkan Khaira hanya terpaku menatap menu di meja.
“Makasih mas,” Khaira menyunggingkan senyumnya sambil menganggukkan kepala. Ia menyusun minuman di hadapan Ivan, dan langsung meminum miliknya.
Ivan menatap interaksi keduanya sekilas. Ia melanjutkan mengetik di ponselnya dengan raut datar.
“Mas makannya pake apa?” Khaira agak kesal karena sudah hampir lima belas menit Ivan masih sibuk bermain dengan ponselnya.
Ivan hanya menatap sekilas tanpa menjawab, kembali sibuk dengan ponselnya. Ia merasa kesal karena klien yang makan bersama Gisel dan Roni ingin bertemu kembali dengannya sebelum kembali ke Surabaya.
Melihat sikap Ivan yang dingin membuat Khaira merasa kesal. Kalau tau begini mendingan ia ngumpul di belakang makan bersama pegawainya di pantry. Sambil menghela nafas Khaira bangkit dari kursi dan bergegas untuk melangkah ke luar ruangan.
Dengan cepat Ivan menarik tangan Khaira, membuatnya terkejut. Padahal Ivan masih sibuk dengan ponselnya.
“Mau kemana?” tanya Ivan pelan sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
“Selesaikan saja urusan mas Ivan. Aku mau ke belakang,” jawab Khaira dengan malas.
Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Ivan. Tapi tangan kokoh itu seperti mengandung lem tidak melepasnya dengan mudah.
Ivan kini tersenyum lembut. Ia dapat melihat sorot kekesalan yang tergambar di mata bening istrinya. Dengan perlahan ia menarik tangan Khaira agar kembali duduk bersamanya. Tidak ada penolakan. Khaira kini kembali ke kursi dengan wajah masih kesal.
“Maaf ya sayang,” Ivan mengambil alih pembicaraan melihat Khaira yang diam tak bergeming.
__ADS_1
Dengan santai ia mulai mengisi nasi di piring yang berada di hadapannya tak lupa cumi asam manis dan udang goreng tepung yang mulai agak dingin. Ivan mengisi lagi satu piring di hadapan Khaira.
“Nggak usah,” tolak Khaira. Ia sudah kehilangan selera makannya.
“Sedikit aja ya, temani aku,” Ivan akhirnya mengisi piringnya hanya separo dari yang berada di hadapannya.
Melihat Ivan yang mulai menikmati hidangan yang tersedia, membuat kekesalan Khaira langsung menguap. Akhirnya ia pun menikmati makanan yang telah diambilkan Ivan untuknya. Ia tak dapat menahan senyum melihat Ivan yang menghabiskan lauk pauk yang tersedia.
“Kenapa?” Ivan menatapnya heran melihat senyum yang kini terbit di wajah istrinya yang tadi tampak kesal.
“Lihat mas Ivan makan, kaya nggak makan udah seminggu,” jawab Khaira tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
Akhirnya Ivan pun tersenyum mendengar perkataan istrinya. Tangan kirinya meraih jemari Khaira yang sudah terlipat di atas meja karena sudah mengakhiri makan siangnya. Tanpa mempedulikan penolakan istrinya ia merem** jemari Khaira dengan lembut.
“Kenapa makannya sedikit?” tanya Ivan penuh perhatian.
“Udah keburu kenyang,” Khaira menjawabnya sambil berusaha melepas jemarinya dari genggaman Ivan.
Tak lama kemudian Ivan mengakhiri makan siangnya dengan perasaan puas. Dengan masih menggenggam jemari Khaira kini Ivan menatap wajah istrinya lekat.
“Dari sini kamu akan langsung pulang?” tanya Ivan penuh perhatian. Ia menghabiskan lemon ice yang masih utuh miliknya
“Aku masih ingin memeriksa pembukuan kafe ini,” ujar Khaira pelan.
Ivan memandang ke luar sekilas. Dari tempatnya berada ia dapat melihat sosok Ari yang memandang mereka berdua dengan intens. Senyum meremehkan terbit di wajah Ivan melihatnya. Ia yakin sampai kapan pun Khaira nggak mungkin membalas perasaan pegawainya, karena ia tau, istrinya adalah tipe perempuan setia yang tidak mudah berpaling pada laki-laki lain.
“Ayo,” Ivan menarik Khaira agar segera bangkit mengikutinya.
Begitu Khaira berdiri, ia langsung memeluknya erat. Rasanya tak puas ia menghabiskan waktu makan siang bersama sang istri. Kalau saja kesibukan di kantor tidak menunggunya, ia ingin menemani Khaira seharian ini di kafe.
“Mas, nggak enak diliatin orang.” Khaira memprotes perbuatan Ivan. Ia merasa risih karena ruangan tempat mereka berada hanya dibatasi kaca putih, dengan tirai transparan sehingga segala gerak-gerik mereka bisa dilihat dari luar.
“Santai saja. Toh mereka tau kalau kita suami istri,” jawab Ivan acuh tak acuh.
Dengan cepat ia menundukkan wajahnya segera mendaratkan bibirnya pada telaga madu yang mengerucut karena kesal mendengar jawabannya yang tidak mempedulikan sekelilingnya.
Khaira terkejut dengan perbuatan Ivan. Ia tidak bisa mengelak karena Ivan langsung menahan tengkuknya dan mengeksplor apa yang ada di dalam telaga madu favoritnya. Setelah puas mencurahkan segenap rasa yang ada, Ivan segera mengakhiri ciumannya.
“Nano-nano,” goda Ivan sambil membelai bibir Khaira yang agak bengkak karena ulahnya dengan jemarinya.
“Mas Ivan sih …. “ Khaira memandangnya dengan wajah kesal.
Senyum langsung terbit di wajah Ivan melihat sikap Khaira yang kini mulai santai menghadapinya. Tidak ada lagi ketegangan dan kekakuan atas sentuhan yang ia lakukan. Walau pun Khaira belum sepenuhnya membalas semua sentuhan yang ia berikan, tapi ia yakin jalan menuju puncak akan semakin terbuka.
__ADS_1
***Maaf ya\, author masih sibuk tugas negara\, jadi belum bisa double up. Tapi tetap author usahakan untuk melihat perjuangan Ivan meraih cinta Khaira. Dukung terus ya ....***