Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 186 S2 (Mulai Ada Rasa)


__ADS_3

Setelah melaksanakan salat Ashar Khaira keluar dari kamar. Ia membiarkan Ivan yang masih tertidur dengan lelap di sampingnya. Saat berjalan ke dapur ia sempat menyapa bi Risma, bi Ani dan bi Giyem yang sedang menyiapkan sayuran dan bahan sea food  untuk membuat menu makan malam.


Ketiga art parobaya tersebut senang dengan keramahan nyonya rumah. Mereka terlibat percakapan ringan sambil bertukar cerita pengalaman masing-masing. Khaira mengakhiri perbincangan dengan ketiga art karena ingin menikmati angin semilir di  taman samping.


Dengan santai Khaira berjalan menuju taman di pekarangan samping rumahnya. Ia mengagumi penataan interior maupun eksterior rumahnya. Ivan benar-benar memperhitungkan semua pengerjaan tempat tinggal mereka secara mendetail, sehingga setiap sisi halaman begitu indah dan menarik untuk di pandang.


“Selamat siang, mbak penghuni baru ya?” sebuah suara bernada ramah mengejutkan Khaira.


Ia memandang ke samping mencari arah suara.


“Astaghfirullahal adjim …. “ Khaira beristighfar dalam hati melihat penampilan seksi seorang perempuan muda yang mungkin seusia dengan mas Ariq.


“Panggil aja tante Ratna seperti tetangga kita yang lain,” ujarnya ramah dengan senyum yang tak lekang dari bibir merahnya.


“Ya, tante. Saya Rara …. “ Khaira hendak mengulurkan tangan tapi tante Ratna tidak menjawabnya.


“Sudah tau kok. Mas Ivan udah cerita banyak tentang kamu,” jawabnya sok akrab, “Kita sering cerita saat mas Ivan melihat progress pengerjaan rumah ini. Rumahnya bagus ya, fasilitasnya lengkap lagi.”


Khaira mengerutkan kening, merasa tidak nyaman melihat penampilan tante Ratna yang hanya menggunakan blouse  tanpa lengan di atas lutut. Memperlihatkan kegemoy-an bodi dan kulit mulusnya.


“Suamimu orang yang menyenangkan. Tante senang berbincang dengannya,” dengan santainya tante Ratna memasuki pekarangan Khaira melalui pintu samping yang  agak rendah dan bisa dibuka dengan mudah membatasi kedua buah rumah megah itu.


Khaira hanya menghela nafas sambil mengurut dada melihat tante Ratna yang dengan santai duduk di kursi taman tak mempedulikan pahanya yang tersingkap karena hembusan angin membuat blousenya terbang ke mana-mana.


“Sayang ….. “ terdengar  suara Ivan memanggilnya membuat Khaira semakin tidak nyaman, khawatir dengan pemandangan di depan mata.


“Eh, mas Ivan.  Sore-sore  gini enak nyantai di sini ya, adem ….” suara  tante Ratna terdengar manja.


Ivan hanya menganggukkan kepala sekilas. Ia segera duduk merapat pada Khaira, tangannya ia letakkan di bahu istrinya.


Tante Ratna menatap keduanya penuh kekaguman, “Kalian memang pasangan yang serasi, tante jadi iri. Pengantin baru mah emang lagi anget-angetnya.”


Khaira hanya tersenyum tipis. Sebenarnya ia tidak nyaman dengan perbuatan Ivan yang terus mengelus pundaknya tanpa mengacuhkan omongan tante Ratna.


“Mbak Rara kegiatannya apa?” karena tidak mendapatkan tanggapan Ivan akhirnya tante Ratna mengalihkan perhatian pada Khaira.

__ADS_1


“Hanya membantu oma saya tante,” jawab Khaira singkat. Rasanya enggan ia menanggapi pertanyaan tante Ratna, tapi ntar dibilang tidak menghargai tamu.


“Apa nggak ikut suami ngantor?” tante Ratna kembali mengalihkan pandangan pada Ivan yang masih fokus menatap Khaira dengan lekat melihat komunikasi istrinya dengan perempuan yang mungkin usianya lebih tua 4 tahun darinya.


“Passion saya dan mas Ivan beda tante.”


Mendengar panggilan Khaira padanya membuat hati Ivan langsung menghangat. Ingin rasanya ia melompat kegirangan mendengar suara lembut Khaira saat menyebut namanya. Kalau saja tidak ada tante Ratna, akan ia hujani kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya.


“Sabar, sabar ….. “ monolognya dalam hati.


Khaira merasakan usapan Ivan di bahunya berhenti tetapi rangkulannya membuat  Khaira tidak bisa berbuat apa-apa, hingga tubuh keduanya menempel seperti prangko.


“Memangnya usaha apa yang digeluti oma-nya?” tante Ratna menatap Rara dari ujung rambut ke ujung kaki, “Dagang on-line ya?”


Ia cukup kagum dengan kecantikan alami dengan mata bening berbinar pada perempuan muda yang jadi tetangganya itu. Sangat sederhana dalam penampilan, bahkan tidak terlihat memakai perhiasan yang berlebihan, hanya ada cincin kawin walaupun dilihat secara kasat mata tampak harganya tidak murah. Wajarlah lelaki yang usianya lebih muda darinya itu menempel pada istrinya. Padahal melihat penampilan dirinya biasanya mata para lelaki langsung meleng ke arahnya.


Tapi tidak pada lelaki muda yang sejak tiga bulan yang lalu bolak-balik datang melihat kesiapan rumahnya.  Hanya sapa dan basa-basi biasa yang terjadi, sehingga tante Ratna jadi penasaran perempuan seperti apa yang membuat lelaki muda tetangganya tidak pernah menatapnya lebih dari tiga detik. Kini ia melihat sendiri sang bidadari penguasa hati tetangga barunya itu.


Khaira tersenyum tipis mendengar nada sok tau dari bibir menor tante Ratna. Ia sempat melirik Ivan yang menatapnya dengan kening berkerut mendengar ucapan tetangga sok taunya.


“Lumayanlah tante, dari pada ngganggur,” jawab Khaira sambil tersenyum tipis.


Khaira tersenyum tipis, “Saya percaya pada Allah yang telah memberikan jodoh terbaik untuk saya. Semuanya saya kembalikan pada Allah, karena Dia-lah Maha pembolak balik hati.”


Perasaan Ivan tersentuh mendengar ucapan istrinya. Dengan spontan ia mengecup bahu Rara yang berada dalam rangkulannya tanpa mempedulikan pelototan mata Khaira yang memandangnya sekilas.


“Iya sih,” tante Ratna tercenung sesaat. Terdengar helaan nafasnya, “Tante juga kadang ada rasa khawatir melepas mas Iqbal yang bekerja sebagai chef di kapal pesiar mewah. Tiga bulan sekali baru pulang ….”


“Pantesan ….. “ pikir Khaira dalam hati, “Kenapa nggak cari pekerjaan di dalam negeri saja tante. Banyak lho hotel mewah yang membutuhkan  chef profesional ….”


“Benar. Tante dan mas Iqbal sudah mendiskusikannya sebelum keberangkatannya kemaren. Suami tante juga telah memasukkan lamaran pada satu hotel syariah terkenal. Tinggal tunggu panggilan saja.”


“Semoga dilancarkan tante,” Khaira berkata dengan tulus.


“Terima kasih dek Rara,” tante Ratna merasa nyaman saat berbicara dengan tetangga barunya yang tampak ramah.

__ADS_1


Walau harus ia akui melihat penampilan perempuan yang lebih muda darinya dengan pakaian serba tertutup ada sedikit ketidaknyamanan dalam dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia memang menyukai gaya berpakaian bebas sedari muda. Dan suaminya tidak pernah komentar dengan penampilan dirinya.


“Besok suami tante akan kembali.  Mas Iqbal pasti senang mempunyai tetangga baru. Selama ini ia kasian pada tante yang selalu ditinggal sendiri kesepian …. “


Khaira hanya menganggukkan kepala tidak menimpali perkataan tante Ratna yang memang seperti perempuan yang kurang kasih sayang akibat merindukan suami yang bekerja jauh di negeri orang.


“Tante pulang dulu deh. Maaf ganggu pengantin baru yang lagi hot-hotnya,” tante Ratna segera bangkit dari kursi dan berjalan dengan gaya mengundang mata fokus memandang.


Khaira mengerling Ivan yang sempat memandang sekilas. Kedua mata saling bertaut. Khaira memandang Ivan dengan bibir mencibir. Ia tau setiap pikiran laki-laki yang melihat pemandangan menyegarkan di depan mata pasti akan travelling ke mana-mana.


Sementara Ivan menatap Khaira dengan bingung, melihat senyum meremehkan terbit di bibir penuh milik istrinya. Ia jadi geleng-geleng kepala menyadari apa yang membuat istrinya bersikap seperti itu.


Khaira bangkit dari kursi dengan perasaan kesal. Ia tidak tau apa yang terjadi dengan perasaannya, rasa kesal yang tidak beralasan. Tapi lengannya di tahan Ivan membuatnya tidak bisa melanjutkan langkahnya.


“Mau kemana?” Ivan menatapnya lekat tanpa melepaskan pegangannya. Ia melihat kekesalan tergambar di sana.


“Masuk, males di luar pemandangannya buat nggak nyaman,” jawab Khaira datar.


Ivan mengu*** senyum mendengar jawaban istrinya. Raut kekesalan masih nampak di bening mata Khaira.


“Siapa bilang nggak nyaman, malah menyegarkan. Jarang kan liat vitamin yang bikin mata melek seperti tadi,” Ivan malah memancing di air keruh.


Khaira melotot menatap suaminya. Ia menghempaskan tangan Ivan yang masih kuat menahan lengan kanannya. Tapi pegangannya begitu kuat membuat Khaira tidak bisa bergerak. Hati Khaira merasakan nyeri. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya ia ingin menangis.


Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba hatinya merasa sakit? Kenapa ia tiba-tiba merasa kesal dan ingin marah? Perasaan yang tidak pernah ia alami saat bersama Abbas. Dan kini bersama lelaki batu yang membuatnya tidak tenang, dengan sikap pemaksanya dan suka berbuat sekehendak hati tanpa melihat situasi dan kondisi.


Khaira mematung sambil menekan dadanya yang terasa sakit. Setiap teringat Abbas membuat air matanya kembali ingin terjun bebas. Ia berusaha melepas tangan Ivan dengan tangan kirinya.


Ivan terkejut melihat perubahan wajah istrinya. Dengan cepat ia berdiri dan langsung memeluk Khaira dengan erat. Ia tidak menyangka gurauannya mendatangkan kesedihan pada perempuan yang membuatnya telah berjanji untuk selalu menjaga jiwa dan raganya.


“Maafkan aku,” Ivan berkata dengan cepat.


Ia merasakan isakan Khaira yang menangis dalam pelukannya. Ia menepuk bahu istrinya berusaha menenangkan. Dadanya sudah terasa lembab karena kaos yang dipakainya sudah basah karena tumpahan air mata Khaira.


“Maafkan papa sayang, karena bikin mama sedih ya,” Ivan berbisik lembut sambil menghujani kepala istrinya dengan kecupan hangat.

__ADS_1


Ia tidak melepaskan pelukannya hingga suara isak Khaira berhenti. Ivan merasakan Khaira yang kini mulai berusaha melepaskan diri darinya.  Dengan santai ia menggenggam jemari Khaira dan membawanya kembali ke rumah. Tanpa penolakan Khaira mengikuti langkah suaminya hingga ke kamar mereka.


***Dukung vote\, like \, kritik\, dan saran karya aku ya. ...***


__ADS_2