Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 35


__ADS_3

Hani kini mendampingi Faiq yang masih bercengkrama dengan teman sekantornya. Sebanyak 10 orang rekan kantor Faiq datang ke pernikahannya.


“Selamat ya, mbak.” Rudi tersenyum lebar saat menyalami tangan Faiq sambil memandang Hani yang berdiri di samping Faiq, “Saya senang sekali turut menyaksikan hari bersejarah saudara kami ini.”


Faiq menepuk pundak Rudi dengan hangat, “Aku juga sangat berterima kasih padamu. Kau yang telah menyemangatiku selama ini.”


“Dia memang layak diperjuangkan.” Bisik Rudi. “Sebagai sahabat aku bangga padamu.” Keduanya berpelukan erat.


“Kemana kalian akan berbulan madu?” Darwin menatap Faiq dengan raut ingin tau.


“Kita belum ada rencana ke sana, ya kan sayang…” Faiq menatap Hani mesra. “Kalau aku udah resign dari kantor, baru mulai memikirkannya.”


Hani membalas senyuman Faiq. Ia merasa tatapan seorang teman perempuan Faiq sangat tajam padanya, membuat Hani jadi tidak nyaman.


“Mas ingin ku ambilkan makan sekarang? Temannya juga diajak sekalian…”


“Baiklah.” Faiq mengangguk, “Yok, kita nikmati hidangan yang telah tersedia.” Ia mempersilakan rekan sekantornya untuk menikmati hidangan prasmanan yang berjejer rapi di meja panjang.


Karena bosan bermain, Hasya menghampiri Hani dan Faiq yang menikmati makan siang bersama rekan-rekannya.


“Sini bunda suapin.” Hani meraih tangan Hasya yang hendak naik ke pangkuan Faiq. “Biar papa selesain makan dulu ya.”


“Mau cama papah.” Mata bulat Hasya sangat menggemaskan rekan Faiq yang lain.


“Aduh si cantik ini. Bikin om selalu rindu.” Darwin mencubit pipi montok Hasya.


“Eh, Kasiankan dedenya.” Anggi memarahi Darwin. “Makanya cepetan nikah, biar bisa bikin yang kaya gini.”


“Nggak ada yang seberuntung pak Faiq, baru nikah udah dapet yang kayak gini.” Hendro berceloteh semaunya membuat wajah Hani berubah. Suasana jadi hening tiba-tiba.


Faiq merangkul bahu Hani dengan mesra, “Kalian nggak tau perjuanganku untuk mendapatkan keberkahan ini. Dan aku sangat bersyukur, tiada kebahagiaan melebihi apa yang ku dapat dan kuperoleh hari ini.” Ia mencium jemari Hani tanpa memperdulikan sepasang mata yang menatapnya tidak senang.


“Ciye, ciye…” Anggi  bersorak. “Ya Allah, sisakanlah satu untukku seperti pak Faiq.”

__ADS_1


“Aamiin…” Rudi segera mengaminkan.


“Pulang yok. Keburu macet di jalan…” Hesti akhirnya membuka suara. Ia sudah tak tahan kelamaan melihat perlakuan Faiq terhadap Hani.


“Baiklah. Terima kasih atas kehadiran kalian. Saya sangat menghargainya.” Faiq menangkupkan kedua tangannya begitu Anggi dan Hesti berjalan ke arahnya.


Hani menjabat tangan kedua perempuan muda itu sambil menyunggingkan senyum ramahnya. Walau dalam hati kecilnya melihat raut permusuhan tergambar jelas di wajah salah satu perempuan yang menjadi rekan kerja Faiq. Tapi ia berusaha lapang dada dan tidak ingin menebar permusuhan kepada siapapun.


Hasya sudah terkapar di tempat tidur digendong Faiq, saat Hani baru keluar dari kamar mandi, selesai mengambil wudu untuk melaksanakan solat Zuhur. Ia melihat Faiq yang turut merebahkan diri di samping Hasya dengan mata terpejam.


“Mas, zuhur dulu yuk. Keburu waktunya habis….” Hani menepuk bahu Faiq berusaha membangunkannya yang kelihatan lelah.


Faiq membuka matanya, berusaha mengumpulkan ingatannya. Padahal baru sepuluh menit ia terlelap tapi rasanya pulas banget. Ia memandang wajah Hani tanpa berkedip. Hani hanya menggunakan daster rumahan tanpa menggunakan hijab yang biasa menutupi rambut hitamnya yang melewati bahu.


Faiq menahan tangan Hani yang masih berada di bahunya. Ia segera bangun tanpa melepaskan tangan Hani dari genggamannya. “Kamu benar-benar ciptaan Allah yang sempurna.” Faiq mengecup jemari Hani. Tangannya meraih wajah Hani dan memandangnya dengan penuh kasih. “Aku sangat mencintaimu dan anak-anak. Hanya Allah yang tau, bagaimana aku akan menepati janjiku demi kebahagiaan kalian.” Ia mengecup kening Hani dengan mesra.


“Tunggu ya, aku mandi dulu. Mulai saat ini dan seterusnya kita akan salat bareng.” Faiq segera bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan seluruh badannya agar segar kembali.


Malam itu suasana ballroom hotel Horison sangat mewah dan megah karena ada perhelatan akbar resepsi pernikahan putra tunggal pemiliknya. Para tamu dari kalangan pengusaha maupun pejabat banyak yang hadir di resepsi itu.


Resepsi pernikahan keduanya dibuat bertema internasional, sehingga Faiq dan Hani ikut membaur ditengah para tamu undangan. Faiq dengan santai menggendong Hasya yang tidak mau jauh darinya.


Dari kejauhan Adi melihat kemegahan dan kemewahan pernikahan mantan istrinya. Tamu-tamu penting dari kalangan pejabat maupun pengusaha berdatangan silih berganti memberikan selamat kepada kedua mempelai.


Helen tampak tidak senang melihat raut Adi yang tidak bersemangat. Ia hanya menghela nafas berat. Ia dan Linda beriringan mengikuti langkah Adi yang berjalan seperti orang tak bertenaga. Linda sangat memahami perasaan putranya.


Dengan perasaan sedih, Adi menghampiri kedua mempelai. Matanya terpaku melihat mantan istrinya yang sangat cantik dengan pakaian pengantin berwarna gold dilengkapi dengan hijab senada. Begitupun mempelai pria sangat tampan rupawan.


“Selamat atas pernikahan kalian. Semoga langgeng sampai tua.” Adi menjabat tangan Faiq dengan  wajah muram, tapi berusaha menutupinya.


Faiq tersenyum, lengannya merengkuh pinggang ramping Hani, “Sayang, sekarang tuan Aditama adalah saudara kita. Dan saya sangat berterima kasih atas doa tulusnya demi kebahagiaan kami.”


Hani tersenyum menatap Adi sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. “Terima kasih pak Aditama. Saya juga mendoakan semoga pernikahan anda tetap terjaga hingga akhir.”

__ADS_1


Kesedihan yang dirasakan Adi teramat dalam. Setelah bersalaman dengan kedua mempelai ia merasakan sesak di dada. Tidak sanggup menyaksikan perempuan yang pernah menemaninya selama 4 tahun, tetapi tak pernah ia hiraukan.


Selama 10 menit Adi menenangkan diri di toilet pria. Ia membasuh muka dengan air di wastafel.  Tak pernah ia merasakan kesedihan seperti yang kini ia alami. Matanya merah menahan air mata yang ingin tumpah dari sana. Sebagai seorang lelaki ia harus kuat. Ia tidak ingin menumpahkan air mata di malam bahagia  mantan istrinya.


Setelah merasa tenang, Adi segera keluar dari toilet. Ia berjalan menuju lobby hotel, untuk menenangkan diri sebentar, sebelum pamit kepada kedua mempelai. Saat hendak melewati lorong yang sepi, Adi mendengar pertengkaran kecil. Ia menajamkan pendengarannya. Tertangkap suara perempuan dan laki-laki yang sedang bersitegang. Suara perempuan lebih dominan dibandingkan yang lelaki.


“Deg!” Adi tertegun, sepertinya ia mengenal suara perempuan itu. Adi menempelkan tubuhnya di dinding untuk mendengar lebih jelas.


“Helen, maafkan aku atas apa yang terjadi.” Suara Gilang terdengar pelan. Ia tidak ingin orang lain mendengar suaranya.  Sengaja ia mengikuti Helen yang berjalan keluar dari keramaian resepsi pernikahan. Ia tidak melihat  Adi, sehingga ia memberanikan diri mengikuti langkah Helen. Ia harus menyelesaikan urusan mereka, agar hatinya merasa tenang menjalani hidup.


Helen menatap Gilang dengan nanar, “Kau tau Gilang. Engkau adalah orang yang paling ku benci. Kaulah yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku.” Emosi Helen begitu memuncak.


“Kau harus percaya, aku hanya mencintaimu. Tapi aku dijodohkan orang tuaku. Dan aku tidak bisa menolak.” Gilang mengusap rambutnya dengan gusar.


“Kau tau, saat kepindahanmu ke Australia melanjutkan sekolah di sana, aku harus melakukan aborsi, karena telah mengandung anakmu.” Tangis Helen pecah.


Gilang terperangah. Ingatan masalalu terlintas di benaknya. Ia baru satu semester di kelas 1 SMA, tetapi hubungannya dengan Helen sudah terlalu jauh. Dan ia tidak pernah membayangkan bahwa Helen akan hamil muda.


“Kenapa saat kita bersama di Australia kau tidak mengatakan hal itu kepadaku?” Gilang memegang bahu Helen dengan raut tak percaya.


Helen menepiskan tangan Gilang, “Dan bodohnya aku tetap menerimamu, hingga yang kedua kali aku harus menggugurkan janin yang ku kandung karena orangtuamu menolakku…Aku rela memutuskan pertunangan dengan Adi karena telah bertemu kembali denganmu. Tapi apa yang ku dapat...”


Adi terkesiap mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Helen. Darahnya terasa naik langsung ke ubun-ubun dan tak bisa menunggu lebih lama, dengan cepat ia menerobos masuk. Keduanya terperanjat melihat Adi sudah berada di Lorong yang sepi itu dengan wajah merah padam.


“Jadi inilah rahasia terbesar kalian berdua. Sungguh hebat kau, Helen. Gilang… aku salut dengan drama yang telah kalian mainkan. Selama ini kalian berdua telah membodohiku.” Adi berkata dengan penuh amarah


“Apa maksudmu, nak?” Linda yang baru datang terkejut mendengar perkataan Adi. Ia tidak mengetahui sama sekali apa yang terjadi di ruangan itu.


Helen tak bisa menahan airmatanya yang sudah mengalir sejak tadi. Ia menekan dadanya dengan tangan kanan, berusaha menghilangkan rasa sesak yang menyerangnya tiba-tiba.


“Tama, aku benar-benar minta maaf.” Gilang berusaha menenangkan sahabatnya yang tengah di puncak emosi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2