Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 301 S2 (Ghibah Asmara si Boss dan Nyonya Muda)


__ADS_3

Ivan menggendong Embun yang diikuti Khaira  membawanya memasuki sebuah ruang pribadi  yang biasa ia gunakan untuk beristirahat  jika merasa kelelahan saat belum sempat pulang ke rumah. Ruangan yang lebih tepat disebut kamar itu  berada di dalam ruang kerjanya.


Kamar pribadi  Ivan  lumayan luas. Ada lemari pakaian dan sofa tunggal yang berada di dalamnya. Khaira memandang sekelilingnya. Ia melihat ada foto pernikahan mereka yang tersimpan di dalam kamar ini.


Ivan segera membaringkan Embun perlahan di tempat tidur. Tatapannya beralih pada Khaira yang juga membaringkan Fajar pada posisi bersebelahan. Hari ini ia merasa lega, karena keinginan mamanya telah ia tunaikan.


Melihat istrinya yang duduk di pinggiran tempat tidur membuat Ivan pun mendekat dan menarik kursi duduk berhadapan dengan Khaira.


“Apa yang kamu pikirkan Sayang?”  Ivan meraih tangan Khaira dan menggenggamnya dengan erat.


Ia dapat melihat raut kesedihan yang terpancar di mata bening istrinya yang  tak bisa disembunyikan.


Khaira memandang suaminya. Ia dapat melihat tatapan penuh cinta tergambar di sana. Ia tidak tau perasaannya saat ini, semua hanya tentang Fajar dan Embun. Tapi ia tidak bisa membohongi diri, bahwa dengan keberadaan Ivan telah membuatnya mulai merasakan ketergantungan. Semua urusan si kembar tidak perlu ia repot melakukannya, Ivan menjadi ayah siaga bagi keduanya.


“Enaknya ngapain ya?” Ivan memandangnya sambil tersenyum, “Si kembar sudah tidur juga. Gak ada yang mau digodain.”


Khaira sudah paham dengan perkataan suaminya. Ia tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.


“Kenapa?” Ivan melihat senyum yang terbit di bibir istrinya.


“Lagi dapet,” jawab Khaira sekilas.


Ivan tertegun, “Wah, kali ini belum beruntung,” Ia langsung tertawa setelah mengungkapkan apa yang tersimpan di benaknya. Ia melirik jam di pergelangan tangan.


“Mas, aku ingin beristirahat bersama anak-anak di sini,” ujar Khaira penuh harap, “Kita jalan-jalannya agak sorean dikit kan…. ?”


“Baiklah,” Ivan menatap istrinya lekat, “Mas akan menyelesaikan semua administrasi bersama Admaja dan Danu. Sebentar lagi udah masuk waktu Zuhur, Mas akan ke mushola sekalian.”


Khaira menganggukkan kepala mendengar ucapan suaminya. Setelah  Ivan menghilang di balik pintu, Khaira segera membaringkan tubuhnya di sisi Fajar.  Dengan suasana tenang dan angin semilir dari ac, membuat Khaira langsung terlelap.


Sementara itu di ruang kerja Danu, Atmaja masih membenahi beberapa berkas yang telah ditandatangani nyonya muda istri bos mereka.


Rasa penasaran Atmaja masih menggantung di benaknya. Selama ini ia tidak pernah mengetahui kehidupan pribadi Ivan. Yang ia tau hanya bosnya telah berpisah dan menjadi duren sawit yang diperebutkan banyak perempuan.


“Dan, kamu pasti paham dengan kehidupan pribadi tuan Ivan …. “ sesempatnya Atmaja bertanya, tapi tangannya tetap fokus dengan berkas yang bertumpuk di hadapannya.


“Sejak kapan kamu jadi kepo dengan kehidupan bos?” Danu membalikkan pertanyaan Atmaja.


Ia sendiri masih menyelesaikan surat-surat perpanjangan kontrak yang telah menggunung di atas meja kerjanya. Tapi sedikit banyak Danu bersyukur karena Ivan mulai rutin dan aktif dengan urusan kantor, sehingga bebannya jadi berkurang walau pun tidak sepenuhnya.


“Aku penasaran dengan Sandra mantannya  yang sangat perfect itu,” Atmaja mulai membayangkan perempuan tercantik yang dekat dengan Ivan saat itu, “Para lelaki sangat memujanya, dan rela memberikan apa pun demi bersama perempuan jelita itu.  Dan ternyata, tuan Ivan lah yang paling beruntung. Dia telah berhasil mendapatkan Sandra.”


“Selera orang bisa berubah. Begitu pun  bos,” Danu berkata pelan.


Atmaja terdiam sesaat. Tatapan mata bening dan teduh dengan suara lembutnya membuat ia teringat perempuan yang diakui Ivan sebagai istrinya. Kalau memang perempuan itu adalah saudarinya sang pengusaha Kembar maka ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan ‘Berlian Tersembunyi’ yang tidak sembarang orang dapat bertemu dengannya.


“Kamu mengenal baik nyonya Ivan?” Atmaja akhirnya tak bisa menyembunyikan rasa penasaran kehidupan asmara Ivan yang akhirnya bisa mempersunting perempuan yang ia ketahui bernama Aisya Setyawan tersebut.


“Tentu saja,” Danu menjawab pasti.


“Walaupun yang tampak hanya matanya saja, aku yakin nyonya adalah perempuan yang cantik,” Atmaja berkata pelan, “Bagaimana kisah asmara tuan Ivan hingga menikah dan memiliki anak bersama nyonya muda?”


Danu hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Atmaja yang sangat penasaran akan kehidupan rumah tangga bosnya. Tapi setelah dipikir-pikir, ia pun sependapat dengan Atmaja bahwa kehidupan asmara bos mereka seperti pelangi penuh warna-warni.

__ADS_1


“Tanya langsung aja sama bos,” Danu malas untuk menanggapi, karena ia tipe yang tidak pernah kepo dengan kehidupan pribadi siapa pun. Apa lagi untuk menceritakan kisah masa lalu bosnya tentu bukan kapasitas dan kepentingannya.


Atmaja menyelesaikan pekerjaannya dan berjalan mendekati meja kerja Danu dan duduk di hadapannya. Ia ingin tau lebih banyak tentang semua kehidupan pribadi bos mereka. Rasa ingin taunya begitu besar, karena ia telah mengikuti kehidupan Ivan sejak awal menjadi pemilik New Star Corp.


“Apa benar tuan Ivan berpisah dengan Sandra karena pernikahan megah dua nama besar di kalangan pengusaha ternama itu?” Atmaja memandang Danu penuh harap untuk meminta kepastian jawaban, “Aku merasa kasian dengan Sandra. Dia pasti sangat terluka …. “


“Cih!” Danu memandang Atmaja dengan sinis, “Kalau gak tau kisah sebenarnya jangan suka mengambil kesimpulan sendiri.”


“Apa tuan Ivan mencintai nyonya dan telah melupakan Sandra? Aku jadi penasaran, apa yang istimewa dari istrinya? Atau karena ia keturunan orang berada, sehingga dengan terjadinya pernikahan akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar bagi kedua belah pihak?” Atmaja memandang  Danu dengan serius, “Sebagai lelaki aku termasuk fansnya Sandra. Dia benar-benar memenuhi kriteria seorang lelaki. Ku pikir tuan Ivan akan menyesal melepas Sandra.”


“Ternyata seleramu rendahan sekali,” Danu menatap Atmaja meremehkan ucapannya, “Jika kamu tau kisah sebenarnya dan mengenal nyonya bos, ku yakin pandanganmu akan berubah.”


Atmaja tersenyum meremehkan ucapan Danu, “Mungkin kita memang beda frekuensi. Dari dulu sampai sekarang pun aku tetap mengagumi Kasandra. Cantik dan menggairahkan.”


“Dari  tadi omonganmu tidak ada yang bermutu,” Danu mendengus kesal, “Mendingan kamu antar pesanan makan siang untuk Bos. Mungkin Bos dan nyonya sudah menunggu di ruangannya.”


Atmaja tidak bisa berkutik mendengar perkataan Danu yang memerintahnya.  Pihak restoran yang dipesan Danu telah mengantarkan pesanan hampir dua puluh menit yang lalu. Voni dan rekan yang lain telah membagikan nasi kotak ke semua pegawai yang ada, sedangkan pesanan khusus untuk Ivan dan istrinya dalam box yang berbeda masih berada dalam ruangannya, karena Danu sudah mengingatkan untuk tidak sembarangan keluar masuk ruang kerja bosnya.


Beberapa saat kemudian Khaira terbangun dari tidurnya. Ia menatap si kembar yang masih terlelap karena kelelahan bermain bersama Voni dan staf yang berada di ruang administrasi.


Ia mendengar suara dari luar kamar.  Khaira tersenyum, ia yakin suaminyalah yang berada di ruang kerjanya. Setelah membersihkan wajah agar lebih segar,  Khaira membuka pintu kamar.


“Apa yang mas lakukan?”  Khaira langsung menegur orang yang sedang menyusun box makan siang di meja sofa.


Atmaja terkejut mendengar suara yang begitu lembut dan menenangkan terasa mengelus daun telinganya. Sontak ia menoleh.


“Masya Allah …. “ Ia terpana memandang wajah ayu dengan rambut hitam tergerai memandangnya dengan mata membulat.


“Astagfirullahaladzim . “ Khaira kelabakan karena telah salah orang, “Maafkan saya ….”


“Apa yang kamu lakukan di sini?” suara tegas Ivan mengalihkan pandangan Atmaja dari pintu kamar pribadinya.


Danu masuk tiba-tiba, “Maafkan saya Bos, saya yang meminta tuan Atmaja untuk mengantarkan makan siang Bos dan nyonya.”


Ia dan Atmaja memang cukup dekat, karena keduanya adalah teman akrab saat SMP. Jadi bukan hal baru keduanya saling curhat dan sharing masalah pekerjaan atau apa pun begitu ditemukan kembali dan bekerja pada orang yang sama yaitu Ivan.


Ivan menatap Atmaja penuh selidik. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi, tapi ia belum bisa menebaknya. Kerutan di dahinya masih tergambar saat memandang Atmaja yang tampak seperti orang bingung.


“Mas sudah kembali dari Mushola?” suara bening Khaira dengan menggandeng Embun dan Fajar menghentikan ketegangan yang tiba-tiba terjadi.


Ivan mengangguk sambil tersenyum. Wajah kesalnya yang tampak saat memandang Atmaja langsung luruh ketika istrinya dan si kembar sudah berada di hadapannya.  Jemarinya terulur membelai kepala Khaira.


“Sayang ayah sudah bangun ternyata,” ia berjongkok menghadap kedua buah hatinya.


Atmaja memandang Khaira yang kini sudah menggunakan hijab dan niqabnya sambil menganggukkan kepala dengan sopan ke arahnya. Ia jadi malu sendiri karena memandang yang bukan mahrom.


“Maafkan kami Bos,” Danu berkata cepat, “Silakan Bos dan Nyonya untuk menikmati makan siang yang telah tersedia.”


“Pak Danu, pak Atmaja dan pegawai yang lain sudah kebagian semua?”  Khaira bertanya langsung pada Danu.


“Jangan khawatir Nyonya, semua sudah mendapatkan jatahnya masing-masing,” Danu menjawab cepat, “Para pegawai sangat berterima kasih atas traktiran hari ini.”


“Terima kasih kembali pak Danu,” Khaira tersenyum tipis, “Jika tidak ada dukungan pak Danu dan semua pegawai yang ada, gak mungkin ayahnya si kembar bekerja sendirian.”

__ADS_1


“Benar Sayang …. “ tanpa sungkan Ivan merangkul pinggang ramping istrinya karena si kembar mulai beraktivitas melihat suasana baru di dalam ruangan kerja yang sangat luas, “Kamu memang anugerah terbaik yang Mas miliki saat ini.”


“Gak boleh pamer kemesraan lho Mas … “ Khaira menatap Ivan dengan serius, “Kasian pak Danu dan pak Atmaja …. “


“Biar mereka cepat mencari pendamping,” Ivan berkata semaunya, “Jadi gak lirik milik orang lain apa lagi atasannya.”


Atmaja tau Ivan menyindirnya. Ia langsung memalingkan muka dan mengikuti langkah Danu yang sudah pamit terlebih dahulu pada bosnya. Ia tak berani mengangkat wajah pada Ivan yang memandangnya dengan tatapan tajam.


Sesampai di dalam ruangan Danu, Atmaja menarik nafas perlahan. Dari tadi ia belum bisa bernafas secara benar.  Pemandangan indah seorang bidadari yang benar-benar telah menghipnotisnya. Suara yang bening dan lembut dengan wajah yang dipandang semakin menawan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan ….


“Astaghfirullahaladzim …. “ Atmaja beristighfar karena mengagumi sesuatu yang bukan miliknya.


“Kenapa wajahmu seperti orang linglung?” Danu langsung mencecarnya yang masih membayangkan wajah ayu istri Ivan.


“Ternyata kamu benar. Aku yang salah,” Atmaja berkata pelan.


“Maksudmu?” Danu merasa bingung dengan ucapan Atmaja.


“Istri tuan Ivan memang terbaik,” Atmaja berkata pelan dengan mata menerawang.


“Jangan katakan kamu jatuh cinta padanya,” Danu menatap Atmaja penuh kecurigaan, “Bisa-bisa kamu digantung Bos di tiang Monas karena berani jatuh hati pada istrinya. Bukan levelmu. Ingat itu!”


“Aku hanya seorang makhluk yang lemah. Tak bolehkah makhluk yang lemah ini mengagumi keindahan ciptaan Allah?” Atmaja berkata dengan penuh kegetiran.


“Kekagumanmu itu beda, ada nafsu di dalamnya,” Danu berkata sinis, “Semenjak bekerja dengan Bos aku yakin kantongmu semakin tebal. Dan aku yakin,  sudah  banyak perempuan yang menghangatkan ranjangmu.”


Atmaja tertegun. Perkataan Danu sangatlah benar. Dengan menjadi lawyer sebuah perusahaan besar membuat pundi-pundi keuangannya semakin meningkat, gaya hidupnya pun semakin meluas dan naik level. Perempuan yang ia inginkan mudah bertekuk lutut, walau pun belum melampaui level Ivan yang sekarang menjadi bosnya.


Di usianya yang hampir 35 tahun, baru kali ini ia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan ia jatuh ditempat yang salah pula. Bisa-bisa ia dikuliti kalau sampai  Ivan tau ia menyukai istrinya.


Dapat ia lihat sikap posesif dan rasa kesal yang ditunjukkan Ivan saat ia sesekali menatap wajah ayu nyonya muda yang terlindung di balik hijabnya. Mata bening dan teduh membuatnya terperangkap di dalamnya.


“Ah tuan Ivan, anda memang sangat-sangat beruntung,” Atmaja berkata pelan, “Perempuan sholeha perhiasan dunia dan menjadi bidadari di surga. Sisakan satu untukku ya Allah ….”


“Kamu tidak mengetahui betapa besar bos mencintai nyonya yang telah memberinya sepasang anak kembar yang cantik dan tampan,” Danu mulai membuka mulut melihat Atmaja yang masih asyik dengan lamunannya.


“Kalian tidak ku bayar mahal untuk membicarakan istriku,” suara menggema Ivan membuat kedua terkejut dan menundukkan kepala.


“Maafkan kami Bos,” Danu berkata cepat, “Tuan Atmaja begitu penasaran dengan Sandra, karena dia adalah pengagum rahasianya.”


Mendengar ucapan Danu, rasa kesal Ivan berangsur lenyap walau pun masih tersisa sedikit. Ia menatap tajam Atmaja yang kini tidak berani mengangkat wajah di hadapannya.


“Jika  sekali lagi aku mendengar kalian berdua membicarakan istriku, jangan harap aku mempekerjakan kalian lagi,” Ivan berkata dengan tegas, “Khususnya anda tuan Atmaja. Lebih baik aku mencari pengacara sepuh yang tidak mempunyai  keinginan terhadap perempuan lagi.”


“Maafkan saya tuan Ivan. Itu tidak akan terjadi lagi.”


Ivan mengulurkan tangannya ke arah Atmaja, yang langsung disambutnya dengan cepat. Ia merasa  cemas menunggu ucapan Ivan selanjutnya.


“Terima kasih atas kerja sama anda tuan Atmaja,” Ivan berkata dengan cengkeraman yang keras di tangan Atmaja.


“Apakah ini artinya?” Atmaja sudah was-was dengan wajah Ivan yang tampak kecut.


“Aku sangat kagum dengan pekerjaan anda. Ku harap kerja sama kita tetap berlanjut selama anda mengingat apa yang telah ku katakan.”

__ADS_1


Atmaja merasa lega mendengar ucapan Ivan. Ia berjanji akan mengingat semua yang telah dikatakan Ivan dan tidak akan memandang nyonya muda lagi walau hanya sedetik.


***Masih suka dengan kisah babang Ivan dan akak Rara\, dukung terus ya ... Jangan lupa\, like komen dan vote serta buktikan rasa sayang pada otor. Selalu otor tunggu. Sayang semua .... ***


__ADS_2