Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 107


__ADS_3

Tangan Faiq begitu kuat menggenggam jemari istrinya. Sedetik pun ia tak ingin beranjak dari sisi Hani.


“Mas, aku ingin ke toilet. Biarkan ibu yang mengantarku.” Hani ingin mencuci wajahnya agar terasa segar.


“Mas akan mengantarmu.”  Ujar Faiq cepat, “Ibu sedang melihat Junior.”


Ia tidak ingin membiarkan siapa pun melayani istrinya, karena ia akan menjadi suami dan ayah siaga. Faiq sudah bersiap untuk menggendong Hani.


Setelah membaringkan Hani kembali di bed. Faiq menumpukkan bantal dan menegakkannya agar Hani bisa bersandar.


“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Faiq sambil menatap lekat mata bening Hani yang memandang kejauhan, walaupun yang ia lihat hanya kegelapan.


“Aku hanya ingin memandang wajah bayi kita, tetapi Yang Kuasa belum mengizinkan aku melihatnya …. “


“Tenanglah sayang, kita akan menemukan donor mata untukmu. Percayalah pada mas, penglihatanmu akan utuh kembali.” Faiq berusaha menyemangati Hani yang tampak sedih.


Hani mengganggukkan kepala. Ia sempat mendengarkan omongan  Hanif dan Marisa tentang tabrakan maut yang menyenggol mobil mereka, dan  keadaan mereka yang sangat kritis.


“Mas, benarkah mobil yang tabrakan di depan kita pengendaranya kritis?”


Faiq terkejut mendengar pertanyaan Hani. Ia tidak ingin membahas masalah itu. Ia khawatir Hani akan terluka jika mengetahui kebenarannya.


“Mas belum mengetahuinya, karena mas fokus sama kamu. Keselamatan kamu dan Junior adalah prioritas utama mas saat ini.” Ujar Faiq menegaskan.


Hani terdiam. Ia  tak berani berkomentar lagi. Rasa penasaran sempat hadir, karena ia mendengar Hanif  menyebut nama Adi sebagai salah satu korban tabrakan.


“Sayang, mas harap kamu jangan banyak pikiran.” Faiq menangkup wajah Hani dengan kedua tangannya. “Mas mencintaimu dan anak-anak.”


Hani merasakan kehangatan saat kecupan lembut suaminya mendarat di keningnya. Faiq kemudian memeluknya dengan mesra menyalurkan kehangatan dari tubuhnya pada Hani yang diam membisu.


Faiq berada di dalam ruangan Aditama. Ia ditelpon Johan karena Aditama telah terbangun dari koma yang dialaminya selama 3 hari.


“Bang Tama tidak usah banyak bergerak. Dokter akan memberikan pelayanan yang terbaik.” Faiq berusaha mencegah Aditama yang ingin duduk.


“Jagalah istri dan anak-anakmu …. “ Adi berkata dengan lirih.


“Aku pasti akan menjaganya, bang.”


Adi menatap Faiq dengan raut sedih, “Bagaimana keadaan Hani?”


Faiq termenung sesaat. Ia tak berani mengatakan keadaan Hani yang sebenarnya pada Adi. Walau pun Adi tidak mengatakan, tapi Faiq tau bahwa  perasaan sang mantan terhadap istrinya terlalu dalam.

__ADS_1


“Tugasmu akan semakin berat …. “


“Apa maksud bang Tama?” Faiq  tidak mengerti dengan ucapan Adi yang dirasakan penuh teka-teki.


“Mantan istrimu memang gila …. “ Adi berusaha menegakkan kepala, tapi kecelakaan yang ia alami telah menyebabkan seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Faiq tercekat. Bagaimana Adi bisa tau bahwa pelaku tabrakan adalah Hesti. Apakah Adi selalu memonitor setiap langkah mereka? Dan ia benar-benar tak habis pikir akan kelakuan Hesti, rekan kerja yang selalu ia anggap baik, tetapi Hesti pula yang berulangkali membuat masalah besar dalam kehidupan rumah tangganya.


“Saat kalian keluar dari restoran, aku juga melihat mantanmu keluar dari tempat yang sama ….” Adi menghela nafas panjang. “Aku melihat gerak-geriknya mencurigakan dan mengikuti mobilnya hingga …. ” Adi tidak meneruskan perkataannya.


Faiq terdiam. Ia tidak berani meneruskan perkataan Adi. Sebegitu pedulikah Adi menjaga keluarganya, yang ia sendiri kadang terlalu percaya dengan orang lain sehingga menggampangkan sesuatu dan lain hal.


“Bukankah aku sudah mengingatkan sejak awal padamu. Basmi kuman sebelum menggerogotimu. Tapi kamu suka bermain dengan takdir …. “


Faiq terhenyak mendengar perkataan Adi. Ia tidak menyangka analisa Adi sangat tepat dan akurat.


“Sekarang nasibmu dipermainkan takdir.” Adi berkata dengan nada lirih, “Aku tidak bisa melihat Hani menderita. Cukup aku yang membuatnya terluka.”


“Bang, kondisimu belum pulih. Kita akan membahasnya nanti, jika kondisi abang mulai stabil.” Faiq ingin memotong perkataan Adi, ia melihat seorang dokter yang mengodenya untuk menghentikan pembicaraan mereka.


“Waktuku tidak lama lagi …. “ Adi berkata dengan lirih.


Faiq menyentuh tangan Adi yang semakin dingin. Ia menahan gemeretak giginya agar air matanya tidak tumpah menghadapi kondisi Adi yang semakin menurun.


Faiq tersentak. Ia memandang Adi yang menatap kejauhan.  Perasaan Faiq kini benar-benar sakit. Adi sebegitunya memperhatikan Hani hingga hal  sekecil apa pun tentang istrinya tidak luput dari perhatian sang mantan.


“Aku tidak ingin seseorang menyakiti ibu dari putra-putriku. Dia lah sumber kebahagiaan mereka. Aku akan mengorbankan nyawaku asal mereka bisa bahagia bersama.”


Faiq merasa hatinya dicubit mendengar ungkapan hati Adi. Begitu  kuat perasaan Adi terhadap istrinya sehingga ia sanggup mengorbankan nyawa untuk keselamatan Hani. Sedangkan ia sendiri?


Selama ini ia terus bersikap atas nama kemanusiaan, dan menganggap setiap orang sama dan menganggap sepele hal-hal kecil hingga mengorbankan keluarganya sendiri.


“Jika terjadi sesuatu hal padaku, aku akan menyumbangkan mataku buat Hani. Lewat matanya aku akan selalu mengawasimu, serta melihat  tumbuh kembang anak-anakku  …. “


“Sebaiknya bang  Tama istirahat dulu …. “ Faiq semakin sedih mendengar ucapan Adi.


“Aku berharap kau tidak akan menyia-nyiakan Hani. Dia perempuan terbaik yang pernah ku kenal. Rasa penyesalan karena telah menceraikannya akan selalu ku bawa hingga akhir hayatku ….”


“Bang, kamu akan sehat. Masih banyak perempuan sebaik Rara. Cepatlah sembuh ….”


“Tidak Za, Hani-lah satu-satunya bidadari terbaik yang pernah ku kenal ….”  Tatapan Adi menerawang jauh.

__ADS_1


Faiq menghela nafas sesaat, “Aku tau. Dia perempuan terbaik yang Allah pilihkan untuk mendampingiku ….”


“Maafkan aku, karena di setiap malam selalu merindukannya ….” Adi berkata dengan lirih.


Dengan susah payah ia memiringkan kepala untuk memandang wajah Faiq. Wajah keduanya saling bertatapan. Faiq dapat melihat tatapan penuh kerinduan yang tergambar di wajah rival utamanya.


Adi berusaha menggerakkan tangannya. Faiq segera menjabat tangan Adi yang semakin dingin.


“Aku merasakan sakit, saat ia terluka karena perbuatanmu. Aku tidak rela melihat ia menangis. Dadaku terasa sesak….”


Faiq  terhenyak mendengar curhat Adi padanya.  Ia tidak bisa menggambarkan  seberapa dalam perasaan Adi pada Hani, sehingga ia tidak bisa melihat Hani terluka.


“Saat aku mengantarkan ia ke rumah sakit karena terjatuh dari tangga, aku merasakan nyawaku terbang, dan kakiku tidak berpijak ke tanah ….”


Faiq makin terpuruk mendengar ungkapan Adi. Ternyata sedalam itu perasaan Adi kepada Hani. Ia sebagai suami merasa malu mendengar curhatan dari sang mantan.


Adi memandang Faiq dengan penuh permohonan, “Aku titip anak-anak padamu …. “ suaranya terdengar makin pelan.


“Bang, kamu akan sehat. Anak-anak masih membutuhkanmu.” Faiq berusaha menyemangati Adi yang semakin lemah.


Adi menggelengkan kepalanya dengan susah payah. Tatapannya semakin redup, dengan tangannya yang tadinya menggenggam tangan Faiq dengan erat semakin mengendor.


“Za …. “ suara Adi nyaris tak terdengar.


Faiq mendekatkan telinganya ke bibir Adi.


“Maafkan aku yang belum bisa mengikhlaskan Hani padamu.” Matanya berkaca-kaca menatap Adi.


Tanpa terasa air mata Faiq menetes. Is mengatupkan giginya atas bawah dengan kuat untuk menahan agar tidak menangis.


“Tapi sekarang, aku ikhlas Hani menjadi milikmu. Jagalah dia ….”


Melihat pandangan Adi yang semakin pudar, dan tangannya yang semakin dingin membuat Faiq teringat akan suatu hal.


“Bang, ikuti kata-kataku …. “  Faiq merasa saatnya telah tiba.


Ia menggenggam kedua tangan Adi dan mulai membimbingnya untuk membaca talkin bersamanya, dilanjutkan dengan kalimat tauhid lainnya.


Linda, Johan, Darmawan bersama Rudi berdiri mematung menyaksikan Faiq yang menuntun Adi yang sedang sakaratul maut.


“Innalillahi wainna ilaihi roji’un …. “ dengan air mata menetes di pipi, Faiq menutup wajah Adi yang tampak tersenyum tenang seperti orang tidur.

__ADS_1


Isakan Linda mulai terdengar mengetahui putranya telah pergi mendahului dirinya.


“Insya Allah bidadari surga telah menyambut bang Tama. Abang orang baik, dan sangat darmawan.” Lirih Faiq berguman dalam hati.


__ADS_2